
Bunyi denting jarum jam yang berputar begitu cepat sedikit mengusiknya untuk melirik. Bagaimana putaran itu merangkai detik, permenitnya menghadirkan sebuah waktu. Waktu yang diharapkan akan mengubah derai air mata menjadi tawa bahagia.
Rambutnya tergerai indah, tampak termenung menatap jendela kaca yang didesain sangat megah di area perkantoran WIRATAMA GROUP.
Senja dengan begitu indahnya mulai menembus langit sore dengan cahaya kemerah-merahan. Senyumnya terukir sempurna, namun sesaat kemudian wajahnya berubah menjadi sangat sedih.
"Ambang batas waktu kembali tiba.Tidak ada yang bisa mengubah apa pun. Cintanya tidak nyata, itu artinya semua penantianku juga sia-sia?" Dia berujar lirih.
Wanita itu adalah Key, perempuan cantik, berkulit putih, hidung mancung si pemilik tubuh semampai 170cm. Begitu banyak hari yang dilalui, tetapi Ia tidak tahu berapa banyak waktu yang menyapanya dengan senyum. Berapa banyak langkah yang menghadirkan sebuah harapan dan berapa banyak waktu yang terlewati dengan sia-sia.
Menghela napas yang dibiarkan perlahan, haruskah dia tetap mematri harapan? "Orang bilang harapan itu selalu ada, tetapi saat ini adalah batas waktu aku harus mengerti, bahwa bersamamu itu hampir tidak mungkin. Bukannya menyerah, tetapi aku sadar kapan harus berhenti."
Dipejamkan matanya sejenak untuk menghalau tetesan kristal bening yang mulai merangsek memaksanya keluar.
"Kala jatuh cinta akan sesesak ini, aku tidak akan membiarkan hatiku mengukir satu nama yaitu namamu, Raffael."
Ada retakan patah yang meluas dalam hatinya. Ada sesuatu yang hilang pada dirinya. Yaitu, harapannya. Hatinya terasa teremas, saat menyadari dia harus mulai melepaskan perasaannya secara pelan-pelan untuk, pria itu. Sahabatnya juga cintanya.
"Ini salahku memelihara rasa ini padamu," bisiknya lirih menyalahkan diri sendiri. Kembali netra itu terpejam. Berharap akan mengurangi rasa sakit di hatinya.
Tiada pisau yang menancap tanpa meninggalkan luka, tetapi luka yang tiada terlihat adalah luka yang sangat sulit untuk disembuhkan. Matahari yang mulai tenggelam pun seakan ikut larut mengubur dalam-dalam perasaan cintanya untuk, Raffael.
"Betapapun cinta ini mungkin hanya untukmu, biarkan hanya waktu yang tahu." Sepasang kaki jenjangnya beranjak malas kembali menuju kubikelnya. Ia menyeka air matanya, berharap tiada seorangpun yang tahu. Ditatapnya meja kerjanya dengan setumpuk pekerjaan yang siap menantinya.
"Melelahkan."
Jemarinya kembali sibuk menari-nari di atas tuts-tuts komputer yang tetap menyala, mengabaikan Andreas yang luput dari pandangannya sedang menatapnya dari jauh. Ingin sekali rasanya dia tenggelam dalam pekerjaannya dan sejenak melupakan kegundahannya. Menyepi seorang diri untuk mendamaikan hatinya, hingga sebuah notifikasi dari layar ponselnya memaksanya untuk berhenti sejenak.
📩 Andreas.
Aku tunggu di lobby kantor. Malam ini tidak perlu lembur kerja.
Dengan segera tangannya berkemas. Jemarinya dengan cekatan merapikan berkasnya dan bergegas memasuki lift khusus Karyawan untuk menuju lobby.
"Aneh. Beberapa saat yang lalu masih di dalam ruangannya dan sekarang dia sudah di lobby?" protesnya lirih. Sepasang kaki jenjangnya bergerak lincah memburu waktu, mengabaikan beberapa pasang mata yang melihatnya sedang tergesa.
Tampak dari jauh Andreas sedang tersenyum menatapnya yang sedang berjalan menghampirinya. Kedua tangannya terselip di antara ke dua saku celananya. Posturnya yang sempurna, menambah kadar maskulinnya begitu terpancar di wajahnya. Andreas Alterio Wiratama, Pria tampan dengan tinggi 182 cm, CEO WIRATAMA GROUP.
"Aku akan mengantarmu pulang," tawarnya begitu wanita itu yang kini sudah berdiri dihadapannya.
"Te___terimakasih. Sebaiknya tidak perlu repot-repot. Bukankah kau sangat sibuk?" tolaknya sedikit gugup. Menolak secara halus dengan mengulas senyuman.
"Saya tidak merasa direpotkan, Key, lagipula bukankah kau tidak membawa mobil hari ini?" Andreas bertanya dengan memaku tatapan dari sepasang netra hazelnya .
Bibir wanita cantik itu terdiam dengan napasnya yang dibiari teratur. Baginya perhatian Andreas semakin hari semakin berlebihan dan membuatnya sedikit canggung. Hari itu, Ia segaja tidak membawa mobil dengan alasan sedang ada di bengkel.
"Saya bisa naik Taxi. Sudahlah tidak perlu repot-repot. Aku benar-benar berterimakasih padamu," tolaknya sekali lagi dengan halus.
"Tidak apa-apa. Sejak kapan kamu begitu formal dengan saya, saat diluar jam kantor,Key?" Pria itu tersenyum disudut bibirnya dengan memajukan langkahnya. Sejak beberapa saat yang lalu Ia menangkap kegelisahan sang Sekretaris. Wanita cantik itu paling tidak bisa menutupi kesedihannya, saat ada yang sedang dipikirkannya.
"Mulai besok akan ada sopir yang menjemputmu. Aku harap kamu mau memakai fasilitas mobil dari kantorku," perintahnya.
"An____Andreas, bukan begitu maksudku." Aku han___"
"Tidak ada penolakan. Kau membutuhkan itu," potongnya cepat tidak ingin dibantah.
"Apakah kau sedang dalam masalah?" Memasang mimik serius, Andreas ingin tahu.
"Tidak ada. Aku hanya sedikit kurang enak badan," jawabnya berbohong . Wanita itu menundukkan kepalanya, memikirkan sebuah alasan dengan memainkan jari-jarinya.
"Besok kamu boleh mengambil cuti. Maaf. Beberapa hari ini banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikan. Ada beberapa laporan penting yang harus diselesaikan untuk bahan meeting minggu depan," jelasnya tanpa berniat melepas fokus dari wajahnya.
__ADS_1
Sedikit mengangkat kepalanya bibir wanita itu tersenyum tipis. "Kau ini ada-ada saja. Aku hanyalah seorang karyawati yang sedang bekerja di kantormu. Tidak seharusnya seorang, Bos meminta maaf kepada karyawannya, dengan alasan pekerjaannya sangat banyak. Bukankah itu kedengaran sangat lucu?" protesnya tak enak hati. "Aku tidak masalah dengan semua itu, Andreas.
Pria itu terkekeh pelan mendengarnya. "Di luar kantor kita tetap sahabat,K-e-y!" jelasnya dengan penuh penekanan.
Kepala sang Sekretaris itu hanya mengangguk mengiyakan dan kembali berucap tulus sekali. "Tetapi bagaimanapun kau adalah atasanku sekarang, Andreas..." ujarnya lirih.
"Tetapi sekarang kita di luar kantor, tidak ada atasan dan bawahan di sini, hmm," jelas Andreas dengan senyum dikulum yang membuat Key tidak bisa berbuat
apa-apa.
"Baiklah," ucapnya pasrah.
"Ok, seperti itu kedengarannya lebih baik,kan?"
Langka kaki keduanya berjalan beriringan menuju area parkir. langkah kecil nan pelan yang bergerak seirama menuju mobil pribadi milik pria itu. Sesaat membuatnya terpaku bertepatan sebelah tangan kekar si, pria tampan itu terulur membukakan pintu mobil untuknya.
"Terimakasih." Lalu bergegas masuk.
Suasana kembali hening. Ucapan Raffael beberapa saat yang lalu sangat menganggu hatinya. Key sangat risau di balik sikapnya yang dibuat untuk setenang mungkin.
Raffael ingin memperkenalkan orang terkasihnya padaku. Itu artinya selama ini tiada tempat bagiku sedikit saja dalam hatinya," batinnya perih. Kenapa aku terjebak dengan perasaan yang tidak seharusnya seperti ini?
"Apakah kau baik-baik saja?" suara Andreas menginterupsi di tengah keheningan yang tercipta. Diliriknya Key yang terdiam duduk disampingnya sedang menatap arah jalanan.
"A____aku. Aku, baik-baik saja." Key tergagap begitu tersadar dari lamunannya dan cepat-cepat memperbaiki suasana hatinya.
"Sebaiknya kita makan dahulu, supaya setelah sampai dirumah kamu bisa langsung beristirahat," tawar Andreas. Tangannya bergerak cepat membelokkan stir mobilnya menuju sebuah restoran khas Eropa, bahkan saat wanita itu belum mengangguk setuju lebih dahulu.
"An___ Andreas.Tidak perlu repot-repot. Aku baik-baik saja," tolaknya hati-hati.
"Aku mohon, jangan menolakku lagi ... "ujarnya lirih tanpa menoleh.
Malam itu mereka berdua menikmati hidangan western ala negeri Pizza Italia. Fettuccine carbonara menjadi pilihan mereka berdua. Hal ini sejenak mengingatkan Key tentang makanan kesukaan Raffael.
"Kenapa? Apakah kau tidak menyukainya?" netra hazel itumenatap heran, melihatnya tidak berselera menikmati makannya.
"Bu___bukan begitu maksudnya. Ini sangat enak dan aku suka," jawabnya
gugup dan mulai untuk menyuap.
"Kamu bisa memilih menu yang lainnya, bila tidak berselera," perintahnya dengan. tangan yang kini terulur menyodorkan daftar menu ke hadapannya.
"Tidak perlu, Andreas. Aku menyukainya.
Sungguh ini sangat enak."
Dengan menatapnya Expresif tampak manik mata itu menyorot dengan dalam, tetapi tersimpan kelembutan di sana. "Aku hanya tidak ingin kau terlihat semakin kurus, saat bekerja di kantorku." Kali ini Andreas menatapnya dengan lebih intens. Hatinya berdenyut perih melihat Key yang terlihat lebih kurus dari biasanya. Sebagai putri tunggal dari salah satu mantan konglomerat ternama, wanita muda itu begitu bijak dan tegar menerima roda kehidupan yang berjalan tidak sesuai dengan keinginannya.
"Setelah ini kita ke dokter," ajaknya
Uhukk! Key tersendak dengan perhatian sang atasan.
"Pelan-pelan saja, Key!" Sepontan tangannya mengusap punggungnya dengan lembut, lalu menyodorkan segelas air putih dan meminumkannya.
"Terimakasih, aku baik- saja. Saya rasa tidak perlu ke dokter. Aku hanya perlu istirahat saja," jawabnya seraya mengelap bibirnya. Key sedikit menggeser bahunya, saat menyadari tangan Andreas yang masih mengusap punggungnya.
"Ma____maaf" Andreas menarik tangannya dengan pelan, setelah melihat ketidaknyamanan dari sang bawahan.
"Tidak apa-apa," balasnya canggung.
"Kau yakin baik-baik saja?" Andreas masih ingin memastikan.
__ADS_1
Mengangguk pelan sekali lagi, wanita itu masih tampak tersipu malu. "Aku baik-baik saja. Terimakasih."
"Untuk...?" Andreas tersenyum menatapnya yang terlihat canggung.
Wajahnya menjadi sedikit memerah dan ia menyukai rona wajah seperti itu.
"Kau ini ada-ada saja." Keduanya lalu saling menyelami manik mata keduanya dan sama-sama tersenyum.
Sungguh, di dunia ini tidak akan aku temui tatap mata terindah, melebihi saat aku menatap matamu.
Andreas tidak mampu lagi untuk berpaling. Key sedikit mengalihkan pandangan, menyadari iris hazel itu kian intens menatapnya dengan cara tidak biasa.
"Aku akan memberimu cuti tiga hari." Akhirnya kalimat itu yang keluar dari bibir si, Bos. "Gunakanlah untuk beristirahat," sambungnya dengan nada rendah lalu menyudahi makannya. Mendengarnya, Key menghentikan makannya sejenak.
"Saya rasa itu juga tidak perlu. Bukankah
besok adalah hari Sabtu dan Minggu?" Rasanya cukup untukku beristirahat dua hari. Terimakasih atas pengertiannya."
Andreas kembali tersenyum walaupun sedikit kecewa. "Tidak apa-apa, Key. Istirahatlah," perintahnya lagi. Wanita itu kembali terdiam. lagi dan lagi ada perasaan tidak enak hati menyergapnya. Sepanjang perjalanan keduanya memilih irit bicara, hingga sebuah mobil mewah keluaran Marchedes Maybach warna metal itu meluncur deras dan berhenti tepat di pinggir jalan depan rumahnya, Andreas menahan tangannya yang ingin membuka pintu.
"Tunggu sebentar."
Pria itu keluar lebih dulu dan membukakan pintu mobil untuknya.
Ya,Tuhan, kenapa dia mendadak manis sekali.
"Terimakasih banyak, Andreas. Mampirlah jika berkenan," tawarnya sopan.
"Lain waktu saja, aku ada urusan sebentar. Salam untuk kedua orang tuamu." Hatinya terasa damai melihat sang bawahan terlihat baik-baik saja.
"Maaf, merepotkanmu. Sekali lagi hati-hati di jalan, ya."
"Pasti," jawabnya dengan tersenyum tulus.
"Selamat beristirahat, Key. Kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk memberitahuku," pintanya. Memperhatikan dengan seksama mimik wajah itu, Andreas mematri ingatannya kuat, sebelum kemudian melangkah dan berlalu.
"Terimakasih untuk semuanya!" teriaknya kecil. Andreas menghentikan langkahnya sejenak dan menoleh sekilas lalu kembali tersenyum dengan kepalanya yang mengangguk pelan.
Bergegas ingin masuk ke dalam rumahnya, setelah memastikan mobil Andreas menghilang dari pandangannya, sepasang netra indahnya terhenyak. Baru saja kakinya hendak melangkah, Ia kembali dikejutkan dengan decitan suara mobil yang meluncur dengan begitu deras melintas di hadapannya.
Bugatti la voiture noire warna hitam, bukankah itu mobil milik, Raffael?
Key mendesah pelan. "Ada apa denganmu? Apakah kau benar-benar tidak tahu aku berdiri di sini?" ujarnya dengan mimik sedih. Berlahan melangkahkan kakinnya untuk masuk, wanita itu dihadirkan dengan pemandangan kedua orangtuanya yang sedang menonton siaran berita pada sebuah stasiun TV.
"Sayang,kau sudah pulang?" Nyonya Tirtawijaya menyambut tangan putrinya dan mengusap lembut rambutnya.
"Ma,pa,maaf, saya pulang terlambat. Ada urusan kantor mendadak," beritahunya.
"Papa yang minta maaf, karena membuatmu harus bekerja, sayang." Tuan Tirtawijaya terlihat sangat sedih lalu ikut memeluk putrinya.
"Papa tidak boleh bicara seperti itu, yang terpenting sekarang papa banyak istirahat begitu juga dengan mama," nasihat Key dengan bijak.
"Mandilah lalu makan malam bersama." Tuan Tirtawijaya memperhatikan wajah lelah sang putri.
"Saya sudah makan malam, pa. Kebetulan barusaja Andreas mengajakku makan malam," jelas Key sambil melepas pelukan kedua orangtuanya.
"Baiklah,Sayang. Kalau begitu cepatlah mandi dan beristirahat."
Kembali menyeret langkahnya ke kamarnya, tubuhnya terasa letih bak tak bertenaga. Pikirannya melayang, pada esok pagi dan janjinya bertemu dengan Raffael. Entah apa yang ingin dibicarakan selain memperkenalkan orang terkasihnya, mengingat pria itu seketika membuat hatinya kembali terasa perih.
"Raffael ..." ujarnya lirih.
__ADS_1