Misi Cinta CEO Tampan

Misi Cinta CEO Tampan
44. Birunya Cinta


__ADS_3

Kenyataan yang sedang berada dihadapannya, membuatnya begitu shock. Ketukan pintu berkali-kali, Andreas


abaikan. Hatinya membutuhkan waktu jeda, sekedar untuk menatap netra indah itu. Berbagai memori, kenangan manis, saat kebersamaan keduanya tergambar


jelas di pelupuk matanya.


Andreas menertawakan kebodohannya sendiri. Tawanya terlihat sumbang memperlihatkan wajahnya, yang tampak frustrasi.


"Apa yang sedang kau rencanakan, Raffael? Kenapa harus menarik Nova ke dalam kehidupanmu, kalau sejak dahulu kau mencintai, Key? Dan kenapa kau tidak mengikat, Key dalam hubungan yang jelas setelah sekian lama?"


Ketukan pintu terdengar sekali lagi, kali ini diikuti oleh suara yang sangat familiar berdengung di telinganya. Dengan segera


Ia berpura-pura menyibukkan diri dan mempersilakan, Key, untuk masuk.


Andreas terlihat serius di depan layar laptopnya, tanpa menoleh. Suatu hal


yang berbeda dari biasanya, Andreas akan memamerkan senyum, disaat Key


masuk ke ruangannya.


"Pak Andreas, Jam makan siang sudah lewat, saya sudah pesankan makan seperti biasanya. Dan jam dua siang ini, ada klien yang menawarkan diri ingin bertemu di kantor," Tangannya menaruh makanan kesukaan Andreas di meja, yang terdapat sofa memanjang dan menambahkan minuman matcha green tea latte hasil racikannya sendiri




Kau memang tidak pernah berubah, Key.


Bukan salahmu mencintai, Raffael. Tetapi


aku yang salah karena terlalu banyak berharap.


Termakasih, tunda lain waktu saja, aku sedang tidak ingin bertemu dengan siapapun, kecuali yang sudah ada janji


sebelumnya," jawabnya dengan sedikit berpikir dengan wajah yang tidak bersemangat.


"Baiklah, saya akan konfirmasikan."


Tubuhnya berputar hendak melangkah keluar, sebelum akhirnya, terhenti, karena pertanyaan lirih Andreas.


"Kau tidak pesan makanan untukmu?" terlalu naif bagi Andreas bisa makan seorang diri dan membiarkan, Key kelaparan.


"Aku sudah makan siang. Terimakasih.


Saya permisi dahulu, kalau tidak ada


yang diperlukan lagi," balasnya dengan tersenyum.


"Key?!"


"Iya."


"Terimakasih."


Andreas seperti kehilangan kata-kata. Ingin sekali rasanya dia mengajak Key


makan siang, tetapi ada jarak yang mulai


membentang. Perempuan itu sekarang


sudah terikat dengan Raffael, sahabatnya


juga rekan bisnisnya.


Andreas tersenyum melirik minuman hasil racikan tangannya, yang akan selalu


dirindukan olehnya. Dan beranjak untuk


makan siang setelah Key berlalu.


Mungkin, ini adalah terakhir kalinya aku minum matcha green tea buatanmu.


Dengan malas Andreas menikmati makan siangnya seorang diri, dan mencicipi beberapa suap saja. Makanan

__ADS_1


yang biasanya selalu di puji kelezatannya


itu, mendadak tidak diterima oleh mulut dan lidahnya dan benar- benar tidak membuatnya berselera sama sekali.


Beberapa saat yang lalu, dunia seakan menawarkan kesempatan, bahwa kau akan bersamaku.


Andreas menggeleng pelan. Tidak dipungkiri, saat Raffael mengumumkan


pernikahannya, kesempatan untuk memenangkan hati Key sangat besar dan


dia begitu yakin sekali. Tetapi semuanya hanya sandiwara, Raffael. Walaupun dia belum menanyakan tentang siapa Nova,


tetapi dia meyakini perempuan itu hanya


diperalat Raffael untuk maksud tertentu.


"Luar biasa, kau, Raffael. Haruskah kau mengelabuhi semua orang, untuk semua itu?"


Andreas menatap Key, melalui celah kaca transparan, yang menghadap ke ruangannya. Perempuan itu selalu menyunggingkan senyum dan terlihat bersemangat, untuk menyelesaikan pekerjaannya.


Sebuah pemandangan yang tidak


akan dijumpainya lagi olehnya, dan


mendadak menghadirkan kehampaan di dalam hatinya.


"Apakah kau sebahagia itu? Pantas saja kau menutup rapat-rapat setiap sudut hatimu, karena kau sebenarnya mencintai, Raffael. Dari kapan, Key?"


Andreas menyandarkan kembali kepalanya di sofa, sebelum tangannya menekan interkom dan memanggil Donny untuk menghendel semua pekerjaannya.


Pikiran Andreas sangat kacau dan begitu


sulit untuk berkonsentrasi, dia memilih


untuk memejamkan matanya, walaupun sedetik saja pikirannya tidak berhenti memikirkan Key di sudut hatinya.


🍁🍁🍁


Raffael berjalan mondar-mandir di dalam ruangannya. Bayangan Andreas sedang


"Apakah mereka berbicara sangat dekat


seperti orang berpacaran?" Astaga! Raffael, kendalikan dirimu.


Beberapa kali terdengar tarikan napasnya yang berat dan menenggak air minumnya dengan cepat.


"Empat tahun Key bekerja dengan Andreas kau tahan-tahan saja! Kenapa mendadak jadi sangat aneh begini?!" Raffael menyugar rambutnya dengan


kasar dan meraih ponselnya. Menelpon


jasson yang menuggu, Key, bekerja, dari area kantor Wiratama group.


"Bos! Keep calm, tidak ada yang berani


macam-macam dengan wanita mu!" Nona hanya mencintaimu. Buktinya empat tahun lamanya bekerja di kantor itu, hati nona, Key, tetap saja untukmu," hibur Jasson di ujung telepon.


Jasson hanya bisa menggeleng dan terkekeh geli mendapati Tuan mudanya


yang mendadak posesif dan jadi korban budak cinta level akut.


"Sepertinya pekerjaanku akan bertambah


berat saja. Saat Tuan muda dan Nona menikah, "Bukan tidak mungkin siang malam, Tuan muda akan mengurung nona Key sepanjang harinya, dan tidak membiarkan seekor nyamuk pun mengigit kulitnya."


Pria tinggi besar itu, tertawa seorang diri, menikmati secangkir moca lattenya di sebuah restoran, yang tidak jauh dari area perkantoran Wiratama Group.


"Tuan muda, Tuan muda, misi cintamu, memang luar biasa dan berpotensi menimbulkan tsunami pada diri Tuan muda, Andreas. Apalagi saat Jordy memberi tahu Andreas, sebelumnya sudah membooking tempat untuk dinner romantis dengan kekasih Tuan mudanya itu, pada sebuah restoran paling mewah di kawasan pusat kota."


"Kalau di pikir-pikir, Tuan muda Andreas, kasihan juga. Empat tahun menahan perasaannya dan berakhir sengsara," ucapnya tidak habis pikir.


"Mereka sama-sama tampan, kaya raya, dan mencintai satu wanita yang sama. Alamat Akan ada perang cinta segitiga yang berkepanjangan sepertinya," guman


Jasson sesekali sambil menyeruput moca latte hangat yang berada di tangannya.

__ADS_1


Waktu beranjak begitu cepat, tetapi terasa sangat lama bagi Raffael. Bahkan tidak jarang Jordan menjadi sasaran kemarahannya, saat membayangkan kebersamaan Key dan Andreas dalam satu kantor.


Jordan sangat mengenal Tuan mudanya itu saat bad mood atau sedang bahagia.


Apa saja bisa diberikan padanya saat suasana hatinya sedang baik dan sebaliknya dia bisa uring-uringan tidak jelas walaupun, pekerjaannya sudah begitu sempurna menurutnya.


"Tuan muda baik-baik saja?" Saat dilihatnya, Raffael duduk di kursi kebesarannya dengan muka yang tertekuk.


"Handle semua pekerjaanku hari ini. Apakah surat pengunduran diri Key sudah siap?" Matanya menatap tajam Jordan yang masih berdiri dihadapannya.


"Tinggal menandatanganinya, Tuan muda."


"Bagus!" Sore ini, Key akan datang ke kantor, sepulang kerja. Persiapkan dan taruh di ruangan ku," perintahnya.


"Baik, Tuan muda."


"Raffael!"


Jordan tersenyum, dia tetap saja terkadang lupa untuk menyebut


nama itu atau dirinya yang terlalu sopan


pada Tuan mudanya.


Raffael terlihat seperti memikirkan sesuatu. Menyadarkan kepalanya dengan mata terpejam dan menarik napasnya dengan dalam.


"Jordan apa yang disukai wanita dan


membuatnya tetap bahagia, yang tidak ada kaitannya dengan uang, barang mewah dan sejenisnya," tanyanya sedikit ragu.


Jordan menutup mulutnya dengan telapak tangannya dan sesaat kemudian tawanya pecah yang membuat Raffael sedikit kesal mendengarnya.


"Untuk Nona, Key?!"


"Siapa lagi!" Nadanya sedikit meninggi.


"Raffael, semua sudah lebih dari cukup apa yang kau lakukan. Bahkan luar biasa.


Nona mencintaimu tanpa syarat, makanya Nona tidak melulu menoleh hartamu."


Raffael menegakkan bahunya. Dengan Kedua siku tangannya yang bertumpu


pada atas meja. Dahinya mengernyit dengan mata sedikit menyipit.


"Wanita hanya butuh kenyamanan, saat bersama orang yang dicintainya, karena itu, jangan terlalu posesif yang sesekali, akan membuatnya terasa sesak untuk bernapas. Dan jangan pula sekali-kali kau tidak mempercayainya, Raffael," nasihat Jordan.


Raffael terdiam, mencerna kata-kata, Jordan. "Aku tidak mengekangnya, semua aku lakukan untuk keselamatan


dia, "lagipula aku ingin seorang wanita, yang tinggal di rumah saat kita menikah nanti.


Jordan mengangguk. "Saya mengerti, Raffael.


"Kamu ingat, apa yang terjadi dengannya karena ulah Paman, sudah lebih dari cukup, dia menderita selama ini."


Wajahnya mendadak mendung, Raffael insecure dengan dirinya sendiri. Apalagi saat Key didekati oleh Andreas orang yang tidak pernah menorehkan luka untuk keluarganya. Rasa bersalahnya tidak lantas terhapus begitu juga, walaupun semua orang memahami, Raffael tidak bersalah dalam hal itu.


"Raffael, Nona tidak pernah sedikitpun, punya pikiran untuk menyalahkanmu!" Jangan pernah membahasnya di depannya, "itu akan membuatnya sangat kecewa," tegasnya.


"Aku mempercayainya lebih dari diriku sendiri, Jordan. Hatinya terlalu tulus. Karena sifatnya itu, aku sering merasa


bersalah. Aku benar-benar tidak bisa tidur nyenyak sebelum mengembalikan seluruh aset Tirtawijaya yang ada dalam


Kendali NAM GROUP.


"Itu tidak akan lama lagi, percayalah. Dengan bukti yang kita miliki, kemungkinan besar, kita akan memenangkan perkara ini di pengadilan," tegas Jordan begitu yakin. Ditepuknya bahu Tuan mudanya yang sering kali terlihat resah.


VISUAL JORDAN



___________________________


Sahabat tersayang 🌹

__ADS_1


jangan lupa untuk tinggalkan like dan komentarnya, ya?! Terimakasih πŸ™


__ADS_2