Misi Cinta CEO Tampan

Misi Cinta CEO Tampan
5. Sang penjaga vs sang penjahat


__ADS_3

Raffael menghabiskan waktunya untuk bekerja di kantor. Mengendalikan ANTARA GROUP benar-benar menyita seluruh waktunya.


Tenaga dan pikirannya terkuras untuk semua urusan pekerjaan. Bahkan tak jarang dia harus bermalam


di kantor. Jordan yang melihatnya hanya menggeleng, saat Raffael tiba-tiba memerintahkan untuknya pulang lebih dulu.


"Pulanglah, tidak perlu menungguku. Aku akan pulang lebih larut dari biasanya," perintahnya tanpa menoleh. Fokusnya tertuju pada satu titik yaitu layar monitor yang tetap menyala di mejanya.


"Istirahatlah. Semua urusan kantor sesuai rencana. Beberapa proyek besar juga berhasil mendapatkan benefit


yang luar biasa. Bahkan prospeknya sangat bagus untuk ke depannya. Para Karyawan juga penuh sukacita, kau menaikkan premi polis asuransi untuk menunjang kesejahteraan sosial mereka," jelas Jordan panjang lebar.


"Saham perusahaan juga menunjukkan tren positif di tengah persaingan bisnis yang semakin menggila."


Jordan menjada ucapnya sebentar, "Kepemimpinanmu di ANTARA GROUP


menghadirkan sentimen positif, membuat mereka percaya untuk melakukan investasi jangka panjang, khususnya disektor finansial."


Raffael tersenyum perasaan lega langsung memenuhinya.


"Kau memang bisa diandalkan," pujinya tulus. "Terimakasih, semua berjalan lancar berkat dirimu."


"Sekarang, saatnya kau menyenangkan dirimu, Tuan muda. Kalau kau seperti ini,


bisa-bisa kau akan sakit," nasehatnya.


"Sudah berapa kali aku harus mengatakan, panggil namaku saja saat


cuma ada kita berdua."


Jordan mengangguk hormat, sekarang


dia benar-benar tidak berminat untuk menggoda, Raffael. Wajah tampan itu terlihat sangat letih, penuh beban dan lebih suka menyepi menghabiskan waktunya berkutat dengan pekerjaannya.


"Baiklah, Raffael, sebaiknya kau pulang


malam ini, kasian Nyoya besar begitu


mencemaskanmu."


Meskipun terlahir dari status sosial yang berbeda, Jordan dididik dengan nilai moral dan kejujuran yang sangat tinggi.


Sifat ini menurun dari orang tuanya yang menjadi orang kepercayaan Tuan besar,


Bimantara di masa lalu..


Karena dedikasi dan loyalitasnya, Jordan menempuh pendidikan di tempat yang sama dengan, Raffael. Dengan biaya dari perusahaan. Tidak heran kemampuannya Juga sangat mumpuni saat, Raffael memberikan kepercayaan kepadanya.


"Saya akan pulang lebih larut. Kalau kau ingin pulang lebih dahulu, silakan."


Bukan Jordan kalau tidak setia pada Tuannya. Bahkan dia sering diam-diam mengawasi Raffael dari jauh. Menjaga keselamatan pewaris tunggal ANTARA GROUP serasa lebih berat dari menggendlikan sebuah perusahaan.


"Aku akan menunggumu?" jawabnya pasti. Ditatapnya Raffael yang


termenung sesaat.


"Apakah ada yang mengganggu pikiranmu? Tidak biasanya kau


bermalam di kantor saat perusahaan


sedang baik-baik saja." Jordan menuggu Raffael untuk bicara tetapi,Tuan mudanya tersebut hanya membisu.


"Perlu kau ketahui, orang - orang yang


mencoba menyusup ke perusahaan tempo hari sudah dalam pengawasan


Jasson, dalam ruang bawah tanah. Dan tidak perlu khawatir, hal itu tidak berpengaruh apapun," jelasnya lagi.


"Paksa mereka untuk bicara dan


jangan sampai semua mencuat kepermukaan," perintah Raffael tegas.


Diembuskan napasnya dengan kasar


lalu dengan perlahan dia mematikan


layar monitornya.


Jordan terkekeh mendengarnya. "Bagaimana bisa ada yang berani memblow up masalah itu, kalau semua media yang berpengaruh dalam genggamanmu sekarang, Raffael."

__ADS_1


"Paksa untuk bicara, apa motif semua ini..." ujarnya dengan nada rendah.


Pria itu kembali termenung, seperti memikirkan sesuatu . "Jordan, apakah ada kabar dari, Key?" tanyanya sedikit ragu yang di sambut sebyi smirk Jordan.


"Nona pernah menanyakanmu, pada saat kalian bertemu beberapa saat yang lalu. Nona ingin memastikan apa kau pulang dengan selamat pada waktu itu."


"Hemm ...."


"Kenapa tidak mencoba untuk menelpon?" tanya Jordan menyelidik.


Kali ini tidak benar-benar berniat untuk menggoda Raffael lagi.


"Dia sedang bersama, Andreas?"


Senyum lebar Jordan langsung terlihat. "Kau benar-benar peduli dengan nona, Key?"


"Aku memikirkan keselamatannya saja."


Bukan Raffael kalau tidak pandai mencari alasan.


"Tuan muda, Andreas akan menjaganya"


"Aku tahu. Jangan dibahas lagi."


Jordan dibuatnya bingung dengan sikap, Raffael. Dia peduli tetapi dia tidak peka


dengan perasaannya sendiri.


Tidak menutup matanya, selama mengenal, Raffael, Nona muda putri


tunggal, mantan penguasa properti tersebut adalah satu-satunya perempuan yang dekat dengan sang Bos. Karena itu rencana pertunangannya dengan Nova


membuatnya menyimpan tanda tanya besar.


"Kita balik kantor sekarang." Raffael tak berkesempatan menoleh, yang diikuti oleh Jordan di belakangnya. Hari sudah malam yang terlihat hanya beberapa security yang sedang berjaga.


*****


Gejolak perusahaan yang sedang terjadi membawa kegundahan Dave pada level tingkat tinggi. Trennya menurun signifikan. Ia harus


memutar otak untuk melakukan penyelamatan dengan cepat. Pikirannya


mendadak buntu dan membuat Marco menjadi sasaran kemarahannya.


Gebrakan meja yang sangat keras, terdengar memekakan telinga. Rahangnya mengeras, dengan sorot mata yang menakutkan.


Terdengar bunyi gemeretak dari gigi yang saling beradu. Suasana rumah terasa mencekam membuat Marco menciut. Baginya melawan Dave saat marah sama halnya menjemput sebuah kematian.


"Katakan, bodohh! Apa saja yang kau lakukan, sehingga kau kecolongan seperti itu!"


"Tidak semudah itu menyusup ke kantor


ANTARA, Bos! Mereka mempunyai


orang - Orang yang luar biasa. Seluruh data perusahaannya dilindungi oleh server yang luar biasa pula," jelas marco


memberanikan diri menatapnya.


"Tapi itu bukan alasan, kalau Raffael tidak bisa dimusnahkan," desisnya dengan senyum menunjukkan wajah setannya.


"Cari kelemahan, Raffael. Hancurkan ANTARA !!" perintahnya dengan suara mencekam.


"Dave!" panggil lelaki paruh baya dengan


memegang sebatang rokok di tangannya. Kakinya menuruni anak tangga dan mendekat pada putranya.


"Tidak semudah itu menghancurkan Raffael. ANTARA sekarang di atas segalanya. Hati-hati, jangan gegabah,"


periingat pria tentang usia 70 tahun dengan mengembuskan asap rokok tinggi-tinggi.


"Itu salahmu, karena kau juga tidak


becus memimpin ANGKSA GROUP," ejek


lelaki itu.


Dave melangkahkan kakinya mendekat.


Apakah papa pikir, papa mampu memimpin perusahaan? Apakah papa lupa, bagaimana cara papa mengambil alih ANGKASA GROUP di masa lalu." Dave mengejek tak mau kalah.

__ADS_1


"Jangan bersikap kurang ajar dengan orang tua, Dave! Semuanya papa


lakukan untuk membahagiakanmu."


Pria paruh baya tersebut terlihat sangat


marah dan kecewa. Sorot matanya menawarkan kemarahan yang menakutkan.


"Kalau Dave tidak mampu memimpin perusahaan, itu menurun dari papa


yang notabene bu____"


"Stoop!! Hentikan ucapanmu!'


Kali ini pria itu benar-benar murka


kepada putra kesayangannya itu.


"Aku bicara kebenaran,pa ...." ujarnya rendah.


"Ku akui, papa bersalah, tetapi papa hanya berniat membuat Bimantara


kluar rumah. Selebihnya dia sendiri yang


menyerahkan semuanya. Cari kelemahan, Raffael, karena untuk urusan pekerjaan, kau tetap tidak akan sebanding dengannya," ejeknya belum berakhir.


"Itu karena, kebodohanku menurun dari papa."Dave melangkah pergi. Rasanya percuma semua orang saling menyalahkan.


"Dasar anak tidak tahu diuntung."


lelaki itu akhirnya juga berlalu dan duduk


di gazebo rumahnya yang terlihat mewah.


"Apakah karma benar-benar berlaku untukku? Sepuluh tahun lalu, Keluarga


Bimantara bukanlah apa-apa, setelah ia melepaskan ANGKASA. Sekarang


mereka di atas segalanya."


Di kediaman keluarga besar Tirtawijaya.


Key merebahkan tubuhnya yang terasa penat. Berulang kali dilihatnya layar ponsel yang berada pada genggamannya. Wajahnya menyiratkan


kekecewaan yang tidak bisa disembunyikan.


Banyak orang yang tidak ingin hidup dengan sebuah kenangan, karena cuma


akan membuatnya menoleh ke belakang dan mengingat masa lalu.Tetapi juga banyak orang yang merasa lebih hidup


karena sebuah kenangan, karena hidup


seperti kertas kosong tanpa coretan bagaikan raga yang tidak bernyawa.


"Apakah kau, baik-baik saja. Kenapa kau membuatku tidak bisa berhenti sedikit saja untuk tidak memikirkanmu."


Kembali terbangun dan membuka


jendela kamarnya. Tampak bintang berpendar dengan begitu indah. langit malam menampakkan keindahannya, seakan semesta terlukis hanya untuk


menawarkan sebuah keindahan saja.


Saat sedang asyik menatap gelap


malam, tidak sengaja Ia melihat mobil yang sedang terparkir tidak jauh dari rumahnya. Namun dengan secepat kilat


mobil itu melaju saat menyadari ada orang yang menangkap keberadaanya.


"Siapa dia?" gumannya dan cepat-cepat menutup jendela kamarnya.


_____________


catatan penulis:


Sahabat tersayang, jangan lupa


untuk like dan komennya untuk


novel gejeku ini, ya😊 .

__ADS_1


visual menyusul harap bersabar 😘


Terimakasih, sahabat tersayang😘


__ADS_2