
Bayangan tentang wanita itu, membuat senyum Raffael dengan sorot mata yang sulit untuk dijabarkan. Ditatapnya foto yang tertera pada kartu nama tersebut. Kemudian dia menekan interkom yang terletak di mejanya.
"Jordan ke ruanganku sekarang."
Tak lama berselang, postur tegap Jordan
memasuki ruang kebesaran CEO ANTARA dengan ekspresi penuh tanda tanya.
"Ada yang bisa saya bantu kembali, bos?" Jordan melangkah dan duduk dihadapan, Raffael.
"Hemm ... apakah perintahku sudah kau jalankan?"
"Tentu saja, Bos! Anak buah Jasson yang bertugas mengawasi Nona Key. Dan juga Nona Nova begitu dia tiba."
"Lakukan semua sesuai rencana yang aku perintahkan. Saya tidak mau terjadi sesuatu terhadap keduanya." Jordan mengerutkan dahinya tak mengerti dengan jalan pikiran Raffael.
"Oh, ya, aku ingin pulang lebih awal. Saya ada janji untuk mencari cincin tunangan."
"Dengan nona, Key?"
"Iya."
"Apakah Bos juga mau menikahi keduanya?" telisik Jordan bingung.
"Sudah aku katakan beberapa kali, Nova adalah kekasihku, sementara Key adalah sahabatku. Apakah semua kurang jelas?"
"Maaf, Bos! Saya hanya bingung dengan
sikap Bos saja."
"Apanya yang membuat kamu bingung?"
Raffael menyipitkan matanya. Sudut bibirnya sedikit terangkat membentuk senyuman tipis, yang membuatnya seakan terlihat baik-baik saja.
"Bagaimana saya tidak bingung. Bos terlihat sangat marah, saat Nona Key
bersama Tuan muda, Andreas. Apakah
ketika berkencan nanti, Bos juga butuh nona Key untuk menemanimu," ejek Jordan sambil terkekeh.
"Tidak ada yang lucu, Jordan!"
"Bos, Anehhh! Benar-benar sangat aneh! Apakah Bos sedang bermain teka-teki?"
Sebelah alis pria itu terangkat. "Terserah kamu saja!" jawab Raffael cuek. Tangannya kembali sibuk dengan
layar monitornya.
"Cari info seputar orang ini. Kirimkan informan terbaik yang bisa dipercaya. Dan ingat jangan sampai meninggalkan
jejak apapun itu." Sebelah tangannya terulur meraih amplop coklat besar dan
menyodorkannya di hadapan Jordan.
"Pelajari berkas itu di ruangamu, dan Jangan banyak bertanya."
Tangan Jordan dengan cepat meraih amplop itu dan kembali ke ruangannya dengan perasaan tidak mengerti. "Apa!!"
Mata Jordan melotot seakan ingin keluar dari kelopaknya.
Tangannya gemetar meraih beberapa berkas rahasia satu persatu dan mempelajarinya dengan serius. Sekarang dia tahu, apa yang membuat Raffael angin-anginaan, gampang marah dan terkesan tidak masuk akal tersebut.
"Ini benar-benar gila! Benar-benar sangat gila!!"Napasnya mendadak menjadi sesak, dengan dada yang semakin bergemuruh. Jordan manggut-manggut setelah mendapatkan ide, dari mana ia harus memulai pekerjaan tersebut.
****
Seorang perempuan dengan tinggi semampai, cantik, berkulit putih, ber rambut panjang lurus tampak berjalan tergesa-gesa. Sesekali jemarinya merapikan rambut indahnya.
Beberapa kali sepasang kaki jenjangnya tersandung trotoar, membuatnya meringis kesakitan. Tangannya menggenggam segelas minuman dan sesekali menyesapnya karena kehausan.
"Dari mana saja?" Raffael memindai
__ADS_1
wajah cantik yang sudah berdiri di hadapannya.Key, wanita itu terlihat sangat menggemaskan ketika menyesap minum nya. Netra indahnya terlihat sendu namun tetap terlihat sangat indah.
"Aku mampir butik sebentar, untuk berganti pakaian. Aku baru saja pulang
kantor. Maaf membuatmu menunggu," jelas wanita itu setelah melepas sedotan dari bibirnya.
"Kenapa tidak meneleponku. Aku bisa menjemputmu." Wajah Raffael berpaling kesal.
"Tidak perlu. Bukankah letak kantormu begitu dekat dengan butikku."
"Kenapa harus berlarian seperti itu?"
Raffael tetap saja tidak tega dan
tanpa sengaja mengusap dahinya yang
bercucuran keringat. "Seperti anak kecil," ejeknya sambil terkekeh.
Key tersipu. "Aku haus dan keluar butik sebentar untuk membeli minuman," jawabnya. Bibir mungilnya melepas sedotan sekali lagi dan menunjukkannya kepada, Raffael. Hari ini Pria itu ada janji dengannya untuk membantunya mencari cincin tunangan.
lima belas menit berselang.
"Saya ingin perhiasan dengan harga terbaik di toko ini," ucap Raffael tanpa basa-basi. Membuat pelayan toko tergesa mengeluarkan koleksi perhiasan terbaru mereka. Seakan sadar siapa yang telah datang para pelayan itu membungkuk hormat.
"Silakan Tuan muda dan Nona. Ini adalah
koleksi terbaru dan terbaik kami."
"Key, aku membutuhkan cincin tunangan. Apa yang cocok menurutmu?" Raffael tiba- tiba membisik. Napas hangatnya menyapu telinganya dan seketika membuatnya meremang.
"Bagaimana bisa, kau tidak melibatkan, Nova untuk membeli cicin di moment sepenting ini?" tanyanya kembali bingung.
"Aku ingin semuanya menjad benar-benar surprise untuknya. Besok dia kembali."
"Kamu tenang saja, aku membawa contoh cincin milik Nova, kamu tidak perlu khawatir. Menurutmu perempuan akan menyukai yang mana? Aku tahu, kamu punya selera fashion yang bagus."
Bukanya menjawab Key termenung sesaat, melihat beberapa model dan harga cincin yang sangat jauh dari jangkauannya. Apalagi untuk kondisi seperti saat ini. Bahkan walaupun hidup berkecukupan ia bukan maniak barang-barang mewah seperti di hadapannya.
Netra indahnya mengedarkan pandangannya. Dan manik matanya seketika menangkap sebuah cincin berlian the perfect pink, yang terkesan glamour dengan desain yang simpel berbentuk hati.
"Hemmm ... sepertinya ini bagus." Jemari Key menunjuk cincin berlian warna pink berbentuk hati, lalu menatap manik mata Raffael untuk meminta persetujuan. Entah kenapa dia menjadi berandai-andai, namun dengan segera ia menguasai perasaanya.
Sekalipun ini tidak nyata, aku sangat bahagia. Rasa ini, pergilah, aku tidak sanggup merasakannya sendiri. tahukah kau ini sangat menyakitiku.
"Woww!! Sudah ku duga, kamu memilki selera fashion yang tidak mengecewakan."
Raffael tersenyum sambil menatapnya. Tangannya merogoh saku celananya untuk mengambil cincin Nova. Namun pelayan toko itu terlanjur memasangkan cincin berlian itu pada jari manis milik, Key.
"Cincin ini sangat cocok di jemari calon istri Tuan muda. lihatlah, Nona semakin
terlihat sangat cantik dan begitu sempurna," pujinya.
"Emmm ... tetapi, saya bu___"
"Benar sekali! Ini sangat cocok untuk nona ,Key," potong Raffael cepat, yang direspon manik mata indah itu memelot tak terima. Entah suatu kebetulan apalagi, cicin Nova sama persis dengan ukuran jemarinya membuat Raffael tersenyum sempurna.
"Raffael____"
"Tolong aku," bisiknya lirih membuat para pelayan itu tersenyum melihat interaksi keduanya.
"Bagaimana bisa, kau tidak mengajak calon istrimu, untuk momen sebesar ini? Kau benar-benar tidak romantis dan payah," sungutnya saat meninggalkan toko perhiasan ternama di kawasan pusat perbelanjaan Kota itu.
"Maaf." Raffael berjalan mensejajarkan diri dengan wanita cantik itu.
"Jangan marah padaku".
"Apakah kau tidak berfikir, saat mereka melihat pernikahannmu nanti, mereka
akan berfikir, aku adalah seorang mantan yang terbuang?" Key mengerucutkan bibirnya dengan gemas sekaligus kesal karena sifat lelaki itu.
"Heeee...," Raffael terkekeh geli mendengarnya.
__ADS_1
"Tidak lucu, Raffael," sungutnya dengan
wajah cemberut."
"Kamu boleh memilih barang yang kamu suka, termasuk cincin seperti yang aku beli. Karena itu janganlah pulang dahulu."
"Terimakasih, Tetapi aku tidak sedang membutuhkannya." Raffael terpana saat kembali beradu kontak mata dengan pemilik mata indah itu. Wajahnya terlihat sendu merenggut senyum manis Key sesaat lalu.
"Aku sungguh-sungguh."
"Aku juga tidak sedang mengaggapmu main-main, Raffael."
Raffael kembali terpana.
Bagaimana bisa di dunia ini ada orang yang menolak barang dengan harga fantastis, bahkan harganya tidak akan habis tuju turunan.
"Kau yakin tidak menyesal kesempatan tidak akan datang dua kali!"
Key cuek bahkan tidak menunjukkan minat sama sekali. "Nona Key!"
"Ada apa?" Ia memutar badannya lelah dan berhenti sesaat untuk menoleh Raffael yang berjalan di belakangnya.
"Ambillah sesuatu, sebagai ucapan terimakasihku," perintahnya dengan tulus.
"Aku ikhlas menemanimu. lagipula kalau aku pamrih, apakah kau tidak takut, suatu saat kau mengajakku kembali, aku akan membuatmu bangkrut."
Raffaell terkekeh mendengarnya. "Aku tidak akan bangkrut. Aku sangat tampan dan menghasilkan ratusan milyar
dalam sekejap," jawabnya sombong.
"Sombong!" balas Key tidak terima.
"Saat kau keriput nanti, kau tidak akan menghasilkan sebanyak itu," bibirnya
mencebik ke arah Raffael.
"Tetapi simpananku sudah sangat banyak," kekeh Raffael geli. Key menatapnya tak percaya. CEO ANTARA itu bisa tertawa dengan lepasnya.
Apakah kau sebahagia itu, Raffael. Besok Nova datang, bisa jadi ini adalah pertemuanku yang terakhir denganmu.
"Ada apa?" Raffael saat mendapati rona wajahnya yang mendadak berubah.
"Ah, Tidak!"
"Ti___Tidak. Tidak ada apa-apa. Ayo kita kembali."
"Kamu benar-benar tidak ingin membeli sesuatu?" Dengan perasaan sedikit kecewa, akhirnya menyerah. Akhir-akhir ini Key menjaga jarak dengan nya dan sulit sekali untuk menerima bantuannya.
Semburat senja telah menampakkan wajahnya.Tanpa terasa petang telah tiba dan akhirnya mereka kembali pulang, Saat jet darat Buggati bolide 1850 warna biru milik Raffael itu meluncur dengan derasnya membelah Metropolitan kota J.
Mungkin, hari ini tidak akan pernah terulang. Karena itu, sekecil apapun
kehadiranmu ada, aku akan membuatnya
berharga.
The perfect pink cincin berlian untuk pertunangan Raffael dan Nova.
Bugatti bolide: 1850 warna biru hitam milik Raffael.
_______________
Catatan penulis:
Sahabat tersayang, jangan lupa untuk like dan komennya, ya! Maaf kalau visual tidak sesuai expectasi. Untuk visual Key
dan Raffael next ya๐
__ADS_1
Terimakasih ๐๐