Misi Cinta CEO Tampan

Misi Cinta CEO Tampan
51. Gairah


__ADS_3

Key beringsut dengan pelan menangkap gelagat aneh, Raffael, dengan sedikit menjauhkan tubuhnya. Wajahnya memerah dengan hati yang mulai berdebar-debar.


"Apakah kau sedang berpikiran nakal, sayang?!"


"Kau yang terlalu mesum!"


"Malam ini Mami, Papi, dan aku akan menginap di Mansion, "jadi bersiaplah," Raffael menautkan sebelah alisnya dengan kerling mata nakal.


"Apa!!"


"Take it easy dear, memangnya apa yang sedang kau pikirkan, hemm?"


"Tidak tahu! Kau sangat menyebalkan!" Key melengos menampakan dadanya yang naik turun karena kesal.


"Dengar baik-baik, sayang, besok kita semua bersaksi di pengadilan, "dan kita akan pergi bersama-sama," jelasnya. Tangan Raffael menggenggam tangan Key dan mengalirkan hawa hangat yang menempel pada telapak tangan keduanya.


"Bicaralah yang jelas, jangan membuatku__"


"Itu, karena pikiranmu yang sudah mulai nakal, sayang."


"Itu karena kau yang memulainya!"


"Sekarang, aku ingin melihatmu yang memulainya, cara," goda Raffael nakal.


"Raffael!"


"Baby!" Raffael menunjuk bibirnya dengan jari telunjuknya.


"Tidak mau!"


Raffael terkekeh mendengarnya. "Benarkah? Waktu itu, kau bahkan tidak


berhenti menyebut namaku, amour."


"Aaaa.. !! Sudah ku duga ujung-ujungnya kau sangat mesum!" Key beranjak, tetapi dengan lembut Raffael menarik kembali tangannya dan menyuruhnya untuk duduk.


"Mau kemana?" bisiknya.


"Bukankah Papi dan Mami akan datang?" Aku ingin menyiapkan makanan untuknya.


"Tidak perlu repot-repot. Ada pelayan yang menyiapkan semua," Raffael memeluk Key dengan sayang.


Namun kemudian hatinya mendadak


gerah, saat terdengar ponsel, Key, kembali menyala dan menampakkan nama Andreas tertera di sana.


"Apakah dia sesering itu menelpon?" Sepertinya aku harus mengganti nomormu," tangannya dengan cepat mematikan ponsel milik, Key.


"Aku jarang mengangkatnya, "lagi pula, Ia hanya menelpon."


"Sampai kalian lupa waktu? Apakah Dia tidak tahu kau milikku?!" tohok Raffael jengah. Genggaman tangannya terurai pelan.


"Jangan marah lagi. Aku mohon...."


Raffael terdiam. Suasana hatinya mendadak buruk. Tangan key mengusap


pelan Wajah Raffael dan dengan ragu mendaratkan kecupan manis pada bibir pria itu.


"Cup"


"Aku cuma mencintaimu,"ucapnya merajuk.


Raffael menatap kelam wajah,Key, yang memerah. Dia sudah merendahkan dirinya di hadapan, Raffael. Dan Pria itu hanya diam mematung menatapnya.


"Kita baru saja berbaikan, apakah kita akan salah paham lagi?Jangan marah


aku mohon ...."


Raffael mengulum senyum menatapnya.


Dan sesaat kekesalannya menjadi hilang.


Tangannya menarik, Key, ke pangkuannya dan menghujaninya dengan ciumannya yang bertubi-tubi di wajahnya.

__ADS_1


"You Will Always be mine," bisiknya lirih.


"Boleh aku tanya sesuatu?" telunjuk Key menahan bibir Raffael.


"Tentu!" Raffael mengangkat wajahnya, menyasar netra indah itu dengan dalam dan menghentikan aksinya.


"Kenapa kau begitu cemburu pada Andreas? Sungguh, selama ini dia tidak


bicara apapun padaku, "kenapa kau berpikiran dia suka padaku?"


Raffael melonggarkan pelukannya dan menatap kelam pada wanitanya itu.


"Dia mencintaimu, bahkan lebih dari itu."


Key menggeleng pelan. "Tidak seperti itu, kau terlalu sensitif, honey."


Raffael menelan salivanya kasar. "Dia bahkan, sudah menyediakan tempat untuk melamarmu," terang Raffael dengan nada cemburu.


"Apa!" Key menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


"Malam dimana aku tidak mengijinkanmu pulang dan kita mulai menjalin hubungan."


"Maksudmu?"


"Maaf, mungkin aku terlalu egois, tetapi


itu kenyataanya. Andreas mencintaimu seperti halnya aku. Jordan mengetahui semuanya, "bahkan malam itu dia berniat melamarmu. Dia sudah membooking tempat yang penuh dengan


namamu.


"Melamar ku?! Saat itu, dia mengajakku menghadiri pesta pernikahan rekan bisnisnya."


"Mungkin sehabis itu, dia akan memberikan kejutan, untukmu."


"Kenapa? Apakah kau berubah pikiran?" Raffael menatap Key yang mendadak diam dengan cemburu. Mungkin kau


berpikir, aku sangat jahat, "karena membatasi pertemuanmu dengannya malam itu?"


"Kenapa kau berpikir seperti itu?" Key memeluk sayang tubuh yang sedang cemburu itu.


Seandainya aku tidak mendengar waktu itu?" Senyum Key sedikit mengembang, setengah meledek. Sementara Raffael bergeming dengan wajah datarnya.


"Aku sudah berjanji, akan mengatakan keesokan harinya, "apapun jawabanmu."


"Hemmm..."


"Kamu tahu, aku tertekan dengan kenyataan, bahwa keluargamu hancur, karena campur tangan papa ke kantor


Antara, Key."


"Sudah jangan dibahas lagi, "semua itu, tidak akan pernah mengubah apapun yang terjadi dengan kita."


Andreas berniat melamar ku? dan menyiapkan kejutan malam itu, pantas saja dia sangat kecewa saat itu, "di rooftop."


"Aku cemburu, sayang, karena sedikit saja, dia tidak pernah menyakitimu."


Key mengeratkan pelukannya dan merasakan usapan lembut pada bahunya. "Berhenti menyalahkan diri sendiri, "kau tidak pernah menyakiti atau pun menghancurkan keluargaku. Justru aku berterimakasih untuk semuanya. Berapa kali aku harus mengatakan padamu, Raffael?"


"Kau tidak perlu menghadirkan seluruh isi dunia, hanya untuk mencintaiku. Aku tidak mengukur semuanya dari itu."


Keduanya saling menatap dengan dalam.


"Itu bentuk rasa syukur,ku, "karena kau sudi memberikan hatimu padaku terlepas___"


"Cukup, Raffael!"


"Jangan pernah di ingat. Apakah kau masih mengingat sesuatu?"


"Sesuatu?" Manik mata keduanya kembali bertemu dan menatap dengan sangat lekat.


"Terimakasih sudah memaksaku untuk jatuh cinta padamu saja," Key menyunggingkan senyumnya.


"Bahkan kalau kamu tidak mau, aku akan terus memaksamu."

__ADS_1


"Dasar pemaksa. Tetapi, aku tetap saja mencintaimu."


"Aku sudah bicara jujur, kalau kau berubah pikiran setelah ini, "aku baru


akan berhenti, tetapi setidaknya, aku bahagia bisa mengupayakan sesuatu


pada keluargamu dan orang yang paling aku cintai,"ujar Raffael lirih dengan menatap lurus ke depan.


Key menggeleng dan memejamkan matanya merasakan Raffael semakin erat memeluknya. Dadanya mendadak sesak, mendengar ucapan, Raffael.


"Jangan bicara seperti itu, dan berhenti berpikir seakan-akan kau tidak pernah melakukan apa-apa untuk ku. Itu tidak


adil untukmu, Raffael. Aku yang masih penuh kekurangan untuk bersamamu."


"Thanks for everything .... "ucapnya kembali lirih.


"Justru aku yang harus mengejar ketertinggalanku untuk sejajar denganmu."


Raffael menggeleng pelan dan melakukan balas dendam manis pada bibir merah milik, Key. Waktu terlalu indah untuk dilewatkan. Netra indah itu hanya sanggup untuk terpejam, menikmati kenakalan-kenakalan manis yang Raffael


ciptakan.


Cinta sudah mengungkapkan sebuah kejujuran. Hati keduanya terasa lebih ringan dan tanpa beban. Setelah sekian lama hati mereka tersandera oleh perasaan dan pemikiran masing-masing.


Gaung cinta terdengar begitu indah, mengisi ruangan yang terdengar sunyi.


Tiada suara yang paling menggetarkan


jiwa melebihi saat napas keduanya tidak berhenti untuk mengaku cinta dan mengklaim kepemilikan mereka dengan


penuh perasaan.


"I believe that God Created you for me to love, cause He knew I,d love you the best ( Saya yakin Tuhan menciptakanmu untuk aku cintai karena dia tahu, aku paling mencintaimu)


Bisikan Raffael sangat menggetarkan hati, Key dan membuat matanya seketika


berkaca-kaca.


"Pasti akan menagis lagi?"


Key menggeleng. "Aku sangat bahagia," ucapnya penuh haru.


"Honey stop it, Mami mungkin sudah tiba," suara lirih Key menyadarkan


Raffael, saat Pria itu tanpa ampun tidak berhenti untuk memperlakukannya dengan manis.


"Belum, sayang. Jasson belum meneleponku. Sebentar saja, aku masih ingin seperti ini," Pria itu hanya memejamkan matanya dan kembali memeluknya dengan hangat dan mengatur napasnya dan sekuat tenaga,


menghalau pikiran yang terus provokatif


mengisi otaknya.


Bayangan peristiwa mencekam kemarin,


benar-benar mengubah semua pemikiran, Raffael. Pria itu, tidak akan mempercayai siapapun bersama Key saat keluar rumah, termasuk ke persidangan besok.


Diam-diam, bahkan Raffael sudah mensterilkan jalan yang akan dilewati


oleh keluarganya dan meminta aparat keamanan untuk siaga penuh. Raffael


tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri, kalau sampai kejadian itu terulang, terlebih ada orang-orang terkasihnya yang sedang bersamanya.


Key dalam bahaya, dan dirinya sendiri yang akan menjaganya.


"Apakah ada yang sedang kau pikirkan?"


______________________


Catatan penulis:


Sahabat tersayang 🌹


Jangan lupa untuk like dan komennya, ya.

__ADS_1


terimakasih.


__ADS_2