Misi Cinta CEO Tampan

Misi Cinta CEO Tampan
40. Terbongkar


__ADS_3

Malam itu di mansion dua keluarga besar sedang berkumpul. Kedatangan kakek Adiyaksa wijaya membuat Tuan besar Bimantara penuh suka cita menyambut kedatangannya. Maklum sejak orang tuanya meninggal, beliau sudah menganggapnya seperti orang tua sendiri.



Namun sayangnya beliau memilih untuk


menyepi dari hingar bingar ibu kota dan menghabiskan masa tuanya di sebuah


pemukiman yang masih sangat alami,


dan mencintai tanaman dengan berkebun


sebagai hiburan di masa tuanya.


Lama mereka bercengkrama hingga tujuan dari awal mereka berkumpul di


utarakan, Raffael. Pria tampan itu menggenggam tangan Nyonya besar dan


perlahan mulai menceritakan semuanya. Sementara Key berada di samping kedua


orang tuanya yang duduk bersebelahan dengan nyonya besar dan juga Tuan besar.


Nyonya Wijaya seketika tubuhnya meluruh, dengan tangan bergetar. Tatap matanya kosong dengan pandangan matanya yang nanar. Sementara Tuan besar Bimantara, menangis dengan memegang dadanya yang terasa sesak.


Beliau berpikir Raffael hanya akan membongkar kasus Tirta wijaya group


saja, karena kekerabatan yang terjadi di antara keluarga besarnya dan keluarga Tuan Tirtawijaya.


Tetapi kenyataan bahwa Bayu, kakaknya terlibat dengan motif dana yang mengalir ke Antara membuat jiwanya terguncang. Apalagi kenyataan bahwa Bayu adalah anak yang di adopsi oleh kedua orang tuanya, membuatnya terasa lebih sakit


tidak hanya sebuah pengkhianatan saja.


Bayang-bayang kematian orang tuanya, membuat Tuan besar mencoba untuk


menguatkan hatinya.


"Ya, Tuhan, Paman, ini kenyataan apalagi. Saya harap saya cuma bermimpi," tubuh Tuan besar nyaris limbung dan duduk dengan sedikit terhuyung jatuh di sofa.


"Tirta, saya mohon maaf yang sebesar- besarnya," ucapnya dengan menangis.


Beliau hendak bersujud dikakinya. Tetapi


Dengan cepat Tuan Tirtawijaya beranjak mencegahnya dan merangkul beliau yang menangis dan ikut menangis secara bersama-sama.


"Tidak, Bimantara. Kau sama sekali tidak bersalah, kau juga korban ketamakan dan


sifat serakah, Bayu kakak angkatmu itu."


"Kalau saja waktu itu, aku tidak datang padamu Tirta____"


"Tidak. Tidak. Bimantara, aku yang menawarkannya padamu, kau sama sekali tidak bersalah," Kedua Tuan besar


itu kembali saling menguatkan satu sama lain.


"Bimantara, saya minta maaf baru bisa bicara padamu sekarang ini. Menghadapi


mereka tidaklah mudah, tetapi putramu, Raffael, benar-benar mewujudkan semua


mimpi orang tuamu. Sudahlah jangan terlalu bersedih, semua sudah berlalu, sekarang saatnya mereka mendapatkan


apa yang sedang ditanamnya."


Sesepuh keluarga Wijaya yang sudah kenyang makan asam kehidupan itu, terlihat tegar dan bijaksana, walaupun


dahulu juga sempat sangat terpuruk.


Sementara Kedua nyoya besar itu tidak bisa berkata-kata. Keduanya merasakan


kelu di bibirnya. Bahkan Nyoya Wijaya berkali-kali hilang kesadaran dan membuat Raffael panik dan berteriak ketakutan setengah mati.


Pemandangan yang begitu menyakitkan,


kenyataan ini membuat Raffael begitu terluka melihatnya, tetapi juga merasa bahwa beban yang ditanggungnya lepas


tidak bersisa.


"Key! apa yang terjadi dengan Mami! kenapa mami diam saja!" teriak Raffael panik.


"Angkat ke kamar, Raffael, cepat!" perintah Key. Wanita itu berlari mengekor di belakang Raffael yang sedang membopong Nyonya Wijaya.


Key memeriksa nadi Nyonya Wijaya dan


mengoleskan minyak beraroma kuat di antara lubang hidung beliau, pelipis dan


kedua telapak kakinya.


"Mami hanya pingsan. Tidak perlu cemas sebentar lagi akan siuman," hiburnya. Wanita cantik itu bahkan meletakkan kepala Nyonya besar di pangkuannya dan


menepuk-nepuk pipinya dan memanggil

__ADS_1


namanya. Sementara Raffael terlihat frustasi dan menjambak rambutnya kuat-kuat untuk melampiaskan semua amarahnya.


"Sialan kau Paman!" Aku benar-benar tidak akan mengampunmu!"


"Arghhhh...!!! Sialan!! Raffael meninju tembok hingga tangannya berdarah.


Key, yang melihatnya beranjak setelah membaringkan tubuh Nyonya besar dan


memeluk Pria itu.


"Apa yang kau lakukan?!" Ini tidak akan


menyelesaikan masalah," Key menyeka


darah yang bercucuran dengan jari tangannya, dan kembali menenangkan Raffael.


"Tidak akan terjadi apa-apa! Semua akan baik-baik saja! Ingat, tidak seperti ini, menghadapi kondisi mami, Raffael!" Wanita itu mengambil kotak P3K dan memakaikan perban dengan cepat untuk menghalau darahnya. Key tidak berani


menyalahkan,Raffael, karena Ia sadar, selama ini kekasih hatinya itu menyimpan


kesakitannya sendiri. Tidak seperti ini menghadapi Raffael, Key sangat mengenalnya. Wanita itu akan memeluknya dan mengusap bahunya untuk menenangkannya.


"Duduklah, aku akan membangunkan mami," tangannya memegang bahu Raffael dan menyuruhnya untuk duduk


di pinggir ranjang."


"Mami hanya pingsan. Percayalah. Sebentar lagi akan siuman, jangan berbuat bodoh," nasihatnya.


Wanita itu kembali memangku nyonya besar dan mengajak Raffael untuk memanggil namanya. Pria itu tidak bisa


mengendalikan perasaannya dan bersiap


memanggil dokter. Sementara di ruang tamu Kakek Adiyaksa menguatkan kedua


Tuan besar yang pernah berjaya pada


masanya itu dengan wejangan- wejangannya dengan suasana penuh haru.


"Sampai kapan lagi, Key!" Bahkan ini sudah sangat lama. Aku tidak akan bisa


memaafkan diriku sendiri, kalau sampai terjadi apa-apa pada mami," Raffael rahangnya mengeras dengan mata memerah. Iris matanya menatap cemas


berbaur perasaan bersalah. Tangannya dengan cepat menyambar ponselnya dan


berteriak dengan kencang, karena dokter yang dipanggilnya belum juga datang.


"Raffael, kendalinya dirimu!" Tidak seperti ini, sayang. Lebih baik kita berdoa dan membangunkan mami bersama-sama.


karuan sambil menunggu dokter datang.


"Mami, aku mohon, mami bangun," Key memegang nadi tangan pada wanita itu


dan menciumnya berkali-kali.


"Apakah mami tidak sayang pada Raffael Tuan besar dan Key?"Semua orang mencemaskan mami, tetapi mami sepertinya tidak sayang lagi pada kami," wanita itu sedikit terisak menatap wajah Nyonya besar yang terpejam pucat di atas pangkuannya.


Key berpikir keras, apa yang bisa membuat alam bawah sadar Nyonya Wijaya itu, tergerak dan merespon panggilannya. Dengan penuh keyakinan wanita cantik itu tersenyum dalam hati, bahwa kali ini akan berhasil.


Sementara Raffael, terlihat semakin cemas dan kali ini berdoa dalam hatinya.


Matanya tidak bisa berpaling sedikit saja,


melihat usaha kekasih hatinya.


"Mami ingat, bahwa melihat Raffael menikah dengan key adalah doa dan


keinginan terbesar mami selama ini?


Itu, tidak akan lama lagi, mami. Putra tampan Mami, memberikan kejutan cinta


yang luar biasa untuk, Key. Tetapi kalau


mami, tidak bangun, apakah mami tega,


membiarkan kami di pelaminan tanpa mami?" bisiknya dengan sedikit terisak. Tangannya menggenggam erat tangan Nyonya Wijaya dan menciumnya berkali-


kali.


Raffael berjalan mendekat, bahwa dia juga mempunyai keyakinan, kali ini akan berhasil.


"Key benar, mami. Sebenarnya Key adalah orang yang ingin Raffael nikahi selama ini, bisiknya ditelinga wanita yang


melahirkan dan membesarkannya itu.


Sebuah gerakan kecil terasa, diikuti dengan kelopak mata yang membuka pelan-pelan. "Key, Raffael, sayang?


Mami ada di mana, apa yang sedang terjadi?" tanyanya lemah.


Perlahan-lahan Nyonya besar mengumpulkan kesadarannya, setelah

__ADS_1


berhasil mengingat semua, dengan cepat wanita itu bangun dan memeluk Key dengan erat dan kembali menangis.Rasa


sayang wanita berwibawa itu berkali-kali


lipat dari yang dirasakannya.


"Sayang, Apakah kau masih mencintai mami?" tanyanya dengan derai Air mata.


Key tersenyum dengan menahan Air matanya. Dia tidak meragukannya nyonya besar sangat menyayanginya dan


terkadang terasa sangat berlebihan.


"We always love you, mam" jawabnya keduanya dengan tulus.


"Nyonya besar meraih tangan Raffael dan menyatukannya dengan tangan Key."


"Kalian berdua sudah berjanji akan menikah dalam waktu dekat, mami


bisa mendengarnya dan itu alasan kenapa mami mau bangun," ujarnya sedikit merajuk.


Raffael dan Key saling menatap dan tersenyum lalu mengangguk.


"Anak nakal ini, memang hobby, membuat mami jantungan, sayang. Kalau dia macam- macam kita serbu rame-rame saja,ok," seketika membuat mereka bertiga tertawa bersama-sama.


"Kenapa kau pakai acara mau menikahi


Nova segala!" Tangan nyonya besar


sedikit memelintir kuping Raffael.


"Aduhh! sakit,mam," Raffael meringis kesakitan .


"Nova anak darriel, mam. Semua demi untuk mencari bukti, untuk membongkar kasus Tirtawijaya," jelas Raffael. Hatinya terasa lega setelah Nyonya besar siuman


dan terlihat baik- baik saja.


Nyonya Wijaya tersenyum. "Key, pasti dia juga mengejutkanmu, sayang. Terimakasih kamu bersedia menjadi bagian dari keluarga mami, terlepas apa yang__"


Key dengan cepat memeluk wanita itu dan melarangnya untuk berucap apapun.


"Sekarang aku tahu, Raffael benar- benar tergantikan olehnya,mi! Pria tampan itu


memamerkan senyum cerah. Beban luar


biasa dalam otaknya keluar dan terasa menjadi semakin ringan.


Nyonya besar tersenyum. "Karena kau diam-diam sangat mencintai Key, sehingga kau bisa seperti ini," tebaknya.


"Terimakasih, sayang, mami tidak sabar ingin melihat kalian menikah dan menimang cucu," ujarnya kembali merajuk.


"Secepatnya, mam," Raffael tersenyum smirk menatap key, yang seketika diikuti oleh tatapan horor wanita itu.


lama mereka bicara, lalu turun ke bawah. Seorang dokter telah datang.


Dengan sedikit menahan kesal, Raffael menyapanya dan menyilakan untuk


memeriksa kedua orang tuanya dan juga orang tua, Key. Hal ini membuat kedua Tuan besar itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Hey anak muda! Kau sudah melamar putri Tuan Tirtawijaya, kenapa kau diam-diam saja! Protes Tuan besar kesal.


Tetapi beliau tidak menutupi rasa bahagianya.


"Maaf, Bimantara. Saya melangkahimu. Saya benar-benar tidak bisa menolak niat baik putramu, kalau sudah berurusan dengan putriku," Tuan Tirta wijaya melirik keduanya lalu tersenyum


"Kita akan menjadi besan, Tirta," ujarnya berbahagia. Seorang dokter yang


sedang memeriksa beliau hanya bisa


menahan senyum mendengarnya.


"Lain kali, saya mohon, lebih cepatlah sedikit, saat aku memanggilmu," perintah Raffael tegas kepada sang Dokter.


"Maaf, Tuan muda. Baiklah."


Malam itu sebuah tabir rahasia terungkap. Walaupun terasa menyakitkan, tetapi mengetahuinya dan


menyiapkan hati dan menerima, adalah sebaik-baik cara untuk menerima garis takdir yang maha kuasa.


Ditempat terpisah Andreas gelisah mencerna setiap ucapan Raffael, hatinya mendadak kacau. Seketika kejutan yang


disiapkan hancur berantakan. Hatinya


tidak sabar untuk bertemu dengan perempuan itu, sebelum benar-benar


resign dari kantornya dan berniat untuk


menanyakannya sendiri.


________________________

__ADS_1


Sahabat tersayang 😘


Komentarnya dan jempolnya aku tunggu ya! Terimakasih.


__ADS_2