Misi Cinta CEO Tampan

Misi Cinta CEO Tampan
89. Kuasa cinta


__ADS_3

"Tunggu aku di sana." Andreas, melepaskan panggilannya dengan sedikit tergesa, saat itu juga dia check out dari ressort tempatnya menginap. Marcedes Maybach miliknya membawanya meluncur lebih cepat dari biasanya dan membuat para bodyguardnya kocar-kacir mengikuti dibelakangnya.


Suasana semakin terasa tegang, saat pintu mobil terbuka, diikuti oleh seorang Pria turun menampakkan wajahnya dengan kaca mata hitam, menatap para bodyguard yang sedang berjajar menyambutnya. Pria- pria bertubuh tinggi besar dengan memakai pakaian serba hitam, terlihat membungkukkan badannya menyadari kedatangannya.


"Selamat datang Tuan Muda, Andreas Alterio Wiratama," sapanya dengan kembali membungkuk.


"Hemm... ," tatapan matanya membawa pada Donny yang sudah menunggu di pintu masuk dan bergegas mempercepat langkahnya. Pria itu mengikuti instruksi sang asisten hingga langkahnya berhenti pada sebuah ruangan yang tidak cukup luas di Basemant bawah tanah.


Seorang wanita dengan pakaian minim, rambut warna Cooper duduk dengan tangan terikat. Donny sengaja tidak menyumpal mulutnya, karena Andreas ingin mendengar pengakuan wanita itu. Clara memang sahabatnya tetapi Andreas curiga Ia sengaja memata- matainya.


"Andreas!!! Lepaskan! Sejak kapan kau berubah seperti mafia!" Suaranya memekik keras saat matanya dengan berkilat amarah menangkap kedatangannya.


Plok...plok..plok... Andreas bertepuk tangan dan berjalan lebih mendekat dengan menatapnya tajam. Langkahnya pelan dengan hentakan kaki penuh penekanan dan berhenti tepat dihadapan Clara dan memperhatikanya dari ujung kepala hingga kakinya.


"Dan sejak kapan kau berubah menjadi iblis betina?!" sinis, Andreas. Matanya berkilat bahkan terdengar giginya gemerutuk menampakkan rahangnya yang mengeras. Pria kalem itu merasa sudah saatnya harus bertindak tegas.


"Apa maksudmu! Jangan sembarangan. menuduh."


"Aku belum bicara, tetapi kau sudah merasa tertebak, "katakan padaku apa maksudmu mengirim bunga pada, Key dengan mengatasnamakan namaku."


"Aku tidak melakukan itu! Jangan sembarangan menuduh! Lepaskan, Andreas!" jeritnya memekankan telinga.


"Dengar baik-baik, cuma kamu yang tahu perasaanku padanya dan malam itu, disebuah club aku melihatmu. Kamu pikir aku mabuk dan tidak ingat apa-apa?" Bisiknya sinis. "Kamu salah besar. Cuma kamu yang menawariku sebuah kerjasama yang menjijikkan itu dan mencoba mengancam Key di Mansion. Berani sedikit saja kau menyentuhnya, jangan salahkan aku, kalau aku bisa bertindak yang tidak pernah kau bayangkan, Clara." ancamannya dengan mata berkilat- kilat.


"Andreas! Kau gilaaaa..!!!"


"Apakah tidak sebaliknya, Nona Clara?" Pria itu sedikit menarik dirinya ke belakang dengan kening berkerut.


"Dasar pengecut!!!!!"


"Diammmm...!!"Bentak Donny yang berdiri di sampingnya.


"Mulut mu ini hanya berguna untuk bicara Jujur, "jadi jangan sekali-kali berani mengumpat Tuan muda, Nona. Atau selamanya aku yang akan memaksamu tidak bisa bicara," Hardik Donny berang.


"Kau bodoh, Andreas! Kau mencintainya tetapi tidak mau berkorban, pantas saja


Wanita itu tidak melirikmu, kamu tidak ada apa-apanya dibanding dengan Raffael! Kau sangat menyedihkan!" Wanita itu terus menggesek-gesekan tempat duduknya, hingga terdengar decitan dari besi yang sedang beradu dengan lantai, memberontak minta di lepaskan.


"Donny!! Sumpal mulut kotornya!!" Andreas pun berlalu pergi.


"Hey... lepaskan aku!!"


Ha..ha..ha. sebentar lagi kau akan tahu keduanya hanya akan tinggal nama, Andreas. Key... kau tidak akan pernah mendapatkan Raffael, kalau aku juga tidak bisa.


🍁🍁🍁


Raffael membawa Key menuju area rooftop yang lainnya. Dari sini mereka bisa melihat, bagaimana seorang manusia luar biasa melukis gedung- gedung megah pencakar langit yang memperlihatkan hampir seluruh penjuru kota.


Bahu Key berjengit kaget saat menyadari, Raffael memeluknya dari belakang. Untuk sepersekian detik Pria itu meletakkan dagunya di atas pundaknya pada wanita yang sedang menatap takjub view yang terlihat dari atas gedung.


Jantungnya berdegup kencang dengan menahan napas yang terasa mulai tidak beraturan. Badannya seketika meremang saat, Pria itu dengan lembut menyusuri leher jenjangnya, dan menikmati aromanya dengan sensasi napasnya yang menghangat, menimbulkan gelayar aneh yang mendadak membuat otaknya tidak bisa berpikir jernih.

__ADS_1


"Baby," bisiknya lirih. "Aku tidak ingin dihari pernikahan kita, kau memakai bola mata palsu."


"Bola mata palsu?" tanyanya tanpa menoleh.


"Softlens yang sangat aneh itu," Jelasnya sambil tersenyum kecil. "Aku ingin memastikan dihari itu, melihatmu bahagia terpancar dari matamu, tanpa ada penghalang sedikitpun," ujarnya dengan mencium pipinya gemas.


Key tersenyum mendengarnya. Ada rasa bahagia yang membuncah dalam dirinya. Sebentar lagi hari istimewa itu akan tiba, membayangkannya saja sudah membuatnya begitu nervous.


"Baiklah, aku akan bilang kepada MUA yang akan merias ku."


"Sayang, semua akan berawal dari tempat ini.Tempat yang akan menjadikan aku, kamu, adalah kita."


"Hemmm... Key menahan suaranya saat dirasakan hembusan napas hangat itu begitu lembut kembali menyapu leher jenjangnya. Raffael menghirup kuat- kuat aroma vanilla Lace yang setiap saat menguji gairah dalam dirinya, dengan merapatkan pelukannya dan kembali berbisik lirih.


"Cara, mi amour. If someone asked me to describe you in just one word, I'd say Amazing."( Wahai cintaku, Jika seseorang memintaku untuk mendeskripsikan kamu, hanya dalam satu kata, aku akan berkata "Luar Biasa" ).


Key tersenyum mendengarnya dan dengan lembut memutar tubuhnya. Kedua iris mata mereka saling bertemu


dengan tatapan memuja.


"And If someone asked me to describe you in just one word, I'd say "My Hero."


( Dan Jika seseorang memintaku untuk mendeskripsikan kamu hanya dalam satu kata, aku akan berkata "Pahlawanku" ).


Keduanya lalu tersenyum dan menyatukan kening mereka dengan sayang. "CARA Del amour.


"Hemm.... Kamu benar-benar sangat romantis."



"Lupakan semuanya disaat kita sedang seperti ini." Raffael lalu memutar badannya kembali dan merentangkan kedua tangannya. Angin bertiup kencang membuat rambut hitamnya bermekaran indah. Menciptakan gelombang yang meliuk- Liuk, seakan tidak ingin kehilangan setiap moment indah mereka, keduanya tidak berhenti untuk menciptakan suasana romantis.


"Cara!!! Aku mencintaimu!" teriaknya keras.


"Raffael!! Aku juga mencintaimu!" balasnya tak mau kalah. Keduanya tertawa bahagia menikmati hari yang berlalu dengan begitu cepat. Angin kembali bertiup begitu kencang menerbangkan angan cinta keduanya yang sebentar lagi menjadi nyata.


Raffael kembali memutar tubuhnya sehingga saling berhadapan untuk menatap wajah cantik itu. Rambutnya, matanya, kulit indahnya dan wajah cantiknya terasa pas semua untuknya. Key yang merasakan Raffael lebih intens menatapnya, hanya mampu menuduk dengan debar tak biasa. Magnet cinta itu mengirimkan sinyal kuat yang terpancar dari tatapan mata yang kelam, menarik dirinya untuk hanyut dan sesaat terasa mematikannya.


Sehingga setiap jengkal tubuhnya rasanya tak kuasa menolak, menikmati sapuan lembut yang mengabsen di bibir merahnya dengan deru napasnya yang memburu. Begitu dalam dan penuh perasaan, kabut gairah melingkupi dua sejoli yang sedang terbakar asmara. ******* halus memekik syahdu keluar dari bibir mereka, disaat sentuhan indah itu membakar hasrat dalam dirinya.


Semakin membara, hingga dalam kesadarannya Raffael menarik tubuh ramping itu kepangkuannya. Sofa besar di atas rooftop menjadi saksi betapa bara cinta keduanya telah siap untuk saling membakar. Key bergetar dan tubuhnya terasa lunglai, saat merasakan degub jantung Raffael yang memompa menempel dengan begitu ketat pada tubuhnya dan menghujaninya dengan ciuman panas yang bertubi-tubi, sehingga menghadirkan sensasi yang luar biasa.


"Kita akan pulang, sayang," bisiknya. Sementara Key membenamkan wajahnya yang masih memerah di dada bidang Raffael. Pria itu khawatir tidak bisa mengendalikan dirinya dan susah payah menghalau pikiran- pikiran yang terus memprovokasinya untuk berbuat lebih.


Perlahan tangannya menggendong pujaan hatinya itu dengan begitu romantis, yang masih terlihat lemas melalui lift khusus menuju mobil mewahnya yang terparkir dibasemant hotel. Suasana tampak sepi dan begitu lengang, karena semakin dekat menjelang pernikahannya. Raffael sengaja mensterilkan keadaan pasca ada sebuah ledakan dan pihak Hotel sudah tidak sedang menerima tamu. Ingin rasanya Ia menarik wanitanya itu kedalam kamar hotel yang sepi dan kenyataan ini membuatnya mengerang frustasi.


Kendalikan dirimu, Raffael. Tinggal sebentar lagi dia akan seutuhnya menjadi milikmu.


Key begitu malu menyadari betapa lemahnya dirinya dalam kuasa cinta Raffael. Raffael dengan segala amarahnya, cintanya dan kuasanya menyatu begitu menyihir dirinya. Pria tampan yang begitu mudah menumpahkan air matanya, tetapi dalam sekejap juga bisa melambungkan seluruh angannya, dengan cinta yang luar biasa.


Raffael merapikan rambutnya, yang sedang duduk disampingnya. Wajahnya terlihat sendu memerah menahan rasa malu. Raffael tersenyum kecil menyadari, Key yang masih dejavu dengan perlakuannya.

__ADS_1


"Apakah kau menginginkan lebih, sayang?" godanya dengan senyum yang dikulum, yang hanya dihadiahi sebuah pukulan kecil pada lengan Raffael, yang sedang menunduk memasangkan seatbelt padannya.


"Me too, baby," bisiknya kembali nakal.


"Fokuslah untuk menyetir."


"Ok! Raffael menyambar bibirnya dengan lembut yang sudah bagai candu dan dengan cepat meluncur dengan deras menuju kesebuah restoran terdekat, karena keduanya hanya menikmati minuman saja saat di cafe rooftop. Hari sudah mulai sore mereka berniat untuk menikmati bebek merah pada sebuah restoran oriental.




"Jangan terlalu banyak makan sause cabe, kau tidak biasa," nasehatnya. Dengan segera jemarinya menyingkirkan sambal merah khas negeri tirai bambu yang selalu jadi favoritnya dari hadapan, Raffael dan menyeka keringatnya yang mulai merembes.


Raffael yang mulai fokus dengan makanannya, sepasang netranya tiba-tiba, dikejutkan dengan gerak-gerik seseorang yang berpura-pura membaca harian surat kabar, dengan menutupi wajahnya.Ia berpura-pura tidak menyadari hal itu, lalu pria itu menunduk dan meliriknya dengan tajam. Key yang sedang menikmati makan tidak tahu, bahwa ada seseorang yang sedang memperhatikanya dengan gerak-gerik yang mencurigakan.


πŸ“© Raffael


Ada seseorang yang mencurigakan mengikutiku disebuah restoran dengan insial CW di sebuah Plaza pusat kota," sebuah pesan singkat kepada jasson terkirim yang tengah siaga menempatkan beberapa anak buahnya diberbagai titik yang dianggap rawan. Kemudian Raffael mengirimkan foto orang tersebut yang berhasil dibidiknya dengan begitu cantik dengan ponsel canggihnya berikut share lokasinya.


"Apakah ada urusan penting?" Tanya key yang memperhatikan Raffael menghentikan makannya.


"Cara, lanjutkan makan mu," Pria itu bergeser duduk disampingnya, yang sebenarnya bertujuan untuk melindunginya.Tangannya meraba sesuatu dalam jaketnya, yang digunakan dengan dalih menaruh ponselnya. Raffael menyunggingkan senyum saat dirasakan senjata api andalannya dengan ratusan peluru tersimpan didalamnya berada pada tempatnya.


"Sayang, aku mau itu," dalihnya ingin disuapin. Dia tidak kehilangan fokus dengan buruannya. Seseorang yang menggunakan topi warna hitam itu sesekali terlihat menulis sebuah pesan. Tetapi tidak lama kemudian empat orang anak buah jasson, masuk pura-pura menjadi pelanggan pada restoran yang sama dan duduk saling berhadapan dengan terhalang satu bangku yang memisahkan.


πŸ“© Raffael


Perhatikan mereka dan jangan lupa kabarkan kepada yang lainnya," perintahnya melalui pesan singkat. Lalu dirinya memberi kode rahasia berupa body language bahwa dirinya akan meninggalkan tempat tersebut.


Raffael dan key melangkah keluar beriringan. Tangannya menggamit pinggangnya untuk melindunginya. Key yang tidak menyadarinya, merasa itu adalah kebiasaan manis yang sering Raffael lakukan padanya dan tersenyum sama manisnya saat menatapnya.


Sebuah mobil mewah yang dikendarainya menjemputnya dengan tepat waktu dalam kuasa Jordan. Raffael tersenyum menatap Jordan yang berpikir cepat.


"Kerja yang bagus," pujinya.


"Jordan kau menjemput kami...?"


"Iya, Nona,Tuan muda sedang mengantuk," candanya dan membuat, Key kembali melirik, Raffael.


"Apa karena kekenyangan, kau mendadak mengantuk?" ledeknya dengan senyum smirk.


"Hemmm... cepatlah masuk."


Tuan muda ada dua orang pengendara motor gede, sedang mengikuti dibelakang mobil Tuan muda, "harap, berhati-hati, kami sedang mengikutinya dari belakang." Raffael yang sengaja memasang headset handsfree pada telinganya, mendengar setiap pembicaraan, Jasson tanpa membuat Key curiga sedikitpun.


Kurang ajar siapa yang sedang bermain-main denganku.


_____________________


Sahabat tersayang 😘

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan like dan komennya, ya! Terimakasih.πŸ’“


__ADS_2