
"Apakah kau kedinginan, sayang?" Raffael yang merasakan tangan Key membeku dalam genggamannya menjadi merutuki dirinya sendiri, karena tidak menyiapkan baju tebal untuknya. Dia telah memaksa,
Key menginap di kediaman Wijaya untuk menghindari, Andreas. disamping untuk
menghindari mata-mata yang sedang
mengintai keluarga besarnya.
Wanita itu tersenyum lalu menggeleng.
"Ada kamu disisiku, jadi aku tidak akan
membeku," jawabnya dengan tersenyum
malu.
"Rupanya kau sudah berani untuk menggodaku, cara," Raffael menautkan sebelah alisnya yang diiringi oleh cubitan
kecil dari Key dilengannya.
"Supaya wajahmu tidak tertekuk terus," ejeknya.
Raffael terkekeh mendengarnya. Lalu keduanya memutuskan untuk berjalan berkeliling menikmati keindahan alam
mansion. Padang rumput yang tertata rapi, pohon-pohon yang menghijau
berjejer dengan apik membuat nuansa
alam yang terasa begitu kental.
Semilir angin pagi, yang disertai dengan kicauan burung-burung yang sedang
terbang, membuat langit dengan mega-
mega yang bergerak seirama menjadi semakin indah.
Udara masih sangat alami terasa segar mengisi kerongkongan yang terasa sesak. Suasana sangat tenang jauh dari hingar bingar ibu kota yang biasanya, menyajikan gedung- gedung tinggi sebagai panorama utama.
Key merentangkan kedua tangannya
menghirup udara segar alam bebas sebanyak-banyaknya. Begitu sensual perempuan itu memejamkan matanya. Raffael yang melihatnya dibuatnya gemas dan dengan jahil mengangkat tubuhnya lalu memutarnya dengan tanpa ampun.
"Aaaaaaaa......"
"Raffael.....!!" pekiknya keras. Rambutnya
yang Indah bergelombang bermekaran,
terlihat berantakan membuat, Key terlihat semakin ****. Hal ini membuat Raffael harus menelan salivanya dengan kasar. Bibirnya merekah dengan napas sedikit tersengal dan matanya terpejam dengan
degub jantung yang berpacu sangat kencang, membuat pikirannya kembali terprovokasi gairah terpendamnya dengan hanya melihatnya saja.
"Kau, benar- benar membuat jantungku seakan berhenti berdetak," sungutnya. Raffael menarik puncak kepalanya dan
menyenderkan dibahunya.
"Apakah kau sangat bahagia?"
"Kenapa bertanya?" Bahkan aku sangat berterima kasih, kau memaksaku untuk
jatuh cinta padamu saja," jawabnya dengan sedikit merajuk.
Raffael mencubit gemas dagunya yang lancip. "Sekarang kamu tahu pemaksa yang menyebalkan ini, sangatlah pandai
membuatmu bahagia?" Raffael mengedipkan sebelah matanya yang membuat Key kembali tertawa.
"Karena bahagia itu menurutku sangat sederhana, Raffael. Kita berbicara,
bersenda gurau, saling menggoda, sudah
cukup membuat kita bahagia."
Raffael merengkuh tubuhnya untuk menyandar di dada bidangnya. Seketika
Key merasakan detak jantungnya yang
berpacu dengan cepat.
Raffael mencium pucuk kepalanya dan mengabsen sisi wajahnya yang sedang
__ADS_1
terpejam menikmati debaran jantungnya.
Hembusan napasnya yang lembut menyapu bibirnya yang merekah dan menautkannya dengan begitu lembut dan sangat dalam.
"I love you"
Hamparan rumput yang halus dan menghijau menjadi alas permadani
keduanya untuk saling memadu kasih.
Menikmati keindahan alam yang jarang
ditemukan di pusat kota.
"Aku ingin, kau resign dari kantor Andreas
... "ujarnya pelan tanpa expresi.
Key mendongakkan wajahnya dan menatapnya dengan heran. "Resign?"
"Hemmm ... aku, tidak meminta apapun
itu, kecuali berhentilah bekerja dengan sistem yang terikat dengan kantor tertentu.
"Aku bisa memberikanmu apa saja, jadi
untuk apa terlalu capek untuk bekerja?"
"Tetapi aku masih bisa bekerja di butik,kan?"
"Boleh," jawabnya datar dengan memandang lurus ke depan.
Key terdiam. Raffael memang tidak pernah mendukung keputusannya untuk
bekerja di Wiratama Group. Saat ini Ia tidak punya pilihan. Mengingat apa yang
sudah dilakukan Raffael untuknya membuat Key menjadi lemah.
"Jordan sudah mempersiapkan surat permohonan pengunduran dirimu, besok
kau tinggal menanda tanganinya dan orangku akan mengantarnya kesana."
Pria tampan itu hanya menatap lurus ke depan, seolah hanya bicara dengan angin
lalu saja.
"Tapi, Raffael, masih banyak pekerjaan, yang harus saya selesaikan, sebelum resign," protes Key bingung.
"Kenapa? Apakah kau keberatan?"
Aku akan membayar kompensasinya kalau Andreas merasa dirugikan," jawabnya tegas. Ekor matanya sedikit
melirik Key yang terlihat bimbang.
"Kau bisa mengendalikan usahamu itu
dari Mansion. Aku sudah mempersiapkan segalanya, termasuk ruang mendesain."
"Bukannya aku keberatan, tetapi ini berkaitan dengan tanggung jawab pekerjaan."
"Baiklah. Tetapi apa boleh aku bekerja tiga hari saja, setidaknya aku bisa membereskan semua pekerjaaku dan berpamitan dengan Andreas.
Raffael tampak berfikir.Tiga hari tidaklah
terlalu buruk, tetapi jasson yang harus mengawalnya," batinnya.
Tetapi mengingat Andreas yang bersikap
manis pada,Key, membuatnya tidak nyaman dan tetap saja cemburu.
Lama keduanya diam berkelana dengan pikiran masing-masing. Key sedang mencari cara untuk menyampaikan keinginannya untuk resign.
Matahari semakin tinggi, Raffael mengajaknya untuk masuk ke dalam
mansion.
"Kau pasti mengeluarkan uang yang tidak
sedikit untuk membeli ini semua." Sepasang netranya mengedarkan pandangannya sebelum masuk ke area utama mansion.
Tampak para bodyguard berjaga. Jasson dan anak buahnya memberi hormat.
__ADS_1
"Selamat datang Tuan muda dan Nona," sapanya dengan membungkukkan badannya."
Jasson tersenyum mendapati mereka
bergandengan tangan dengan sangat
mesra.
Misi cinta Tuan muda sudah dimulai rupanya.
"Terimakasih, jasson."
Langkanya pelan dengan memandang dalam Mansion yang sangat luas dan
luar biasa megah dengan berbagai fasilitas yang tersedia.
Para pelayan berjejer memberikan salam
kepada Tuan dan nona mudanya. Dua orang yang sangat dicintainya sedang
duduk santai dengan harian surat kabar
ditangannya.
"Papa, mama!" Mereka berpelukan dengan haru.
"Kau sudah datang, sayang,Key, Raffael," sapa Tuan Tirtawijaya dengan bahagia.
"Raffael, terimakasih, nak."
"Sama- Sama, pa! semoga semua senang tinggal di sini."
"Iya, panggil papa dan mama sekarang, "bukankah Key juga begitu memanggil
kedua orang tuamu," Tuan Tirtawijaya mengedipkan matanya menggoda putri semata wayangnya.
"Papa dan Raffael sudah sukses mengelabuhi, Key. Papa menang," ucapnya dengan senyum bahagia.
"Papa cuma menjalankan perintah, sayang," jawabnya sambil melirik Raffael
yang sedang tersenyum."
Raffaell berjalan mengelilingi kedalaman mansion diiringi dengan Key yang berjalan disampingnya.
"Raffael, kapan kita jujur kepada mereka, tentang hubungan kita?"
"Secepatnya, sayang. Saya tidak ingin membuat mama sedih. Walaupun mungkin papa dan mama akan merasakan hal yang sama seperti aku, saat mendengar ini semua." Raffael meremas jemari tangan key dengan lembut.
"Kenapa membahas itu lagi, aku tidak suka mendengarnya lagi. Raffael, semua
akan melakukan seperti yang papa lakukan, kalau ada teman bisnis yang lagi
menghadap kesulitan. Sudahlah. Justru
keluargaku yang berterima kasih padamu. Karena kekuatan Antara berkat
dirimu papa, punya keberanian."
"Aku sudah mempunyai tekat yang kuat
sejak Dave menginjak-injak harga diriku. Semua demi cintaku padamu. Karena itu, apapun yang terjadi aku akan terus memaksamu jatuh cinta hanya padaku saja," senyumnya terlihat sangat manis.
Key seperti berdiri diantara untaian bintang-bintang. Sebuah mimpi yang
menjadi kenyataan.
"Terimakasih, kau terbaik," pujinya tulus.
Ia menjinjitkan kedua kakinya dan meraih tengkuk Raffael dan mengecup bibirnya dengan sayang dan berlari meninggalkannya.
Raffael tersenyum menatap ulah pujaan hatinya itu, "Gadis nakal, bersiaplah untuk
menbenam sebentar lagi, sayang."
__________________________
Sahabat tersayang ๐
Jangan lupa untuk like dan komennya, ya!
Terimakasih ๐
__ADS_1