Misi Cinta CEO Tampan

Misi Cinta CEO Tampan
87. Semua karena cinta


__ADS_3

Raffael berjalan mendekat dan berdiri begitu lama di belakangnya. Wanita itu tidak menyadari kehadirannya. Pria itu menoleh sekitar dan tidak mendapati siapapun. Key terlihat kalut dengan dress santai hitam selutut tanpa motif. Mukanya begitu muram, senyum pada wajahnya lenyap seketika menyisakan awan hitam yang menghias Wajahnya.


Tangannya bergerak gelisah antara ingin menelpon atau tidak, bahkan sesekali terdengar napasnya yang berat penuh kegelisahan. Key harus kembali menelan kekecewaannya, saat ponsel Raffael kembali tidak aktif. Sejak ada peneror itu Raffael memilih mengganti nomornya dan hanya orang-orang terdekatnya yang tahu, tetapi tidak dengan, Key.


Apakah kau masih marah padaku? Tidak berniatkah Kau menelpon? Apakah setelah ada penyerangan itu, kamu kembali berubah pikiran? Raffael...," batinnya pilu. Tangannya menutup wajahnya yang kembali terisak dengan penuh penyesalan. Wanita itu memutar tubuhnya berniat kembali ke kamarnya, tetapi netra indahnya yang sembab oleh air mata, dikejutkan dengan kehadiran Raffael yang sedang menatapnya, berdiri mematung dengan tatapan yang sulit untuk dijabarkan.


"Raffael...!" teriaknya tanpa pikir panjang, berjalan setengah berlari dan bersujud dikakinya. Wanita itu menumpahkan air matanya. Tangisnya seketika meledak untuk sebuah kata maaf. Yang sesaat membuat Raffael, membeku merasakan aliran darahnya terasa berhenti seketika.


Pria itu berpikir, Key akan memeluknya tetapi diluar dugaannya, Wanita itu melalukan hal yang sangat tidak disukainya dan membuatnya ikut tersakiti. Sampai dunia runtuh pun Ia, tidak ingin melihat seorang wanita, menghiba, bersujud di kaki seorang anak manusia. Dia yang akan memuja wanita itu dengan segala keindahannya, ketulusanya, bukan membiarkannya merendahkan diri dihadapannya.


Terkutuk kau, Raffael...makinya pada diri sendiri. Pria tampan itu darahnya kembali berdesir melihat reaksi, Key dibawah kakinya. Dengan sorot terluka, Raffael pun meluruhkan tubuhnya, berjongkok dan mengangkat tubuh yang menghiba itu. Lalu memeluknya dengan sayang untuk duduk di sofa dan membiarkan, Key, menangis sejadi-jadinya dipangkuannya.


"Raffael, aku benar-benar minta maaf." Suaranya terdengar parau karena isak tangis dari bibirnya. Bayangan kekacauan menjelang hari pernikahan dan bukan tidak mungkin bisa terancam batal memenuhi pikirannya. Wanita itu dihantui oleh rasa bersalah. Apalagi setelah ada ledakan bom low explosive di Kantor Antara, benar- benar membuatnya sangat panik dan memikirkan nasib pernikahannya.


Raffael kembali merapatkan pelukannya. Tidak disangkannya, Key akan berreaksi di luar dugaannya dan membuatnya benar-benar ikut terluka dan menyesal. Bisikan lembut dari bibirnya terdengar samar-samar karena lidahnya yang mendadak terasa kelu.


"Sayang. Aku mohon... jangan seperti ini. Berjanjilah untuk tidak melakukan hal bodoh seperti tadi, "mungkin aku terlambat memaafkanmu, tetapi hati ini, selalu punya sejuta maaf untukmu." Raffael mengusap punggungnya yang bergetar dan ikut merasakan nyeri dalam hatinya.


Apa yang dipikirkan oleh wanita cantik dihadapannya ini. Bahkan kesakitan yang pernah dialami karena ulah pamannya di masa lalu, sedikitpun tidak membuat Raffael untuk berpikir sejauh itu.


Ya, Tuhan, Cara, "apa yang sedang kau tunjukkan padaku. Raffael merasa dirinya begitu egois.


"Baby, Please, jangan menangis lagi. Aku yang seharusnya minta maaf, sayang, sudah terlalu keras padamu," Tangannya mengusap air matanya dengan pelan, sesaat, Key mendongakkan wajahnya mencari kebohongan dari ucapan pria yang berada dihadapannya itu, tetapi yang terlihat hanya sebuah ketulusan yang terpancar dari sorot mata kelamnya.


"Aku yang bersalah, maafkan aku."


"Sussstttttt...," telunjuknya menyentuh bibir yang sedikit bergetar, dengan mata sembab dan kembali Raffael memeluknya dengan sayang. Pria itu terdiam sesaat dan mengusap pucuk kepalanya dengan pelan. Ucapan Andreas tetang Clara benar-benar mengusiknya dan terdengar masuk akal, mengingat beberapa waktu yang lalu wanita itu datang kerumahnya secara terang- terangan dan Raffael enggan untuk menemuinya.


Ya, Tuhan, setiap saat aku menyalahkannya, Tuhan akan dengan cepat menampar wajahnya, menunjukkan siapa dirinya. Kalau terbukti Clara dalang semuanya, Ia juga ikut andil dalam kekacauan ini, dan apakah dirinya pernah bercerita pada Key? Oh, Tuhan.


"Raffael...."


"Let's forget it all, baby.


Key mengangguk pelan. "Ada ledakan dikantormu, apakah___"


"Tidak perlu dipikirkan, pelakunya sudah tertangkap dan sedang dalam penyelidikan pihak yang berwajib," potongnya cepat dan kembali merapatkan pelukannya.


"Kau mengetahuinya, sayang?"


"Jasson memberitahuku. Please jangan salahkan dia, karena aku mendesak ingin ke butik, dia terpaksa memberitahuku."

__ADS_1


"Dasar, nakal."


"Aku berpikir, aku harus bekerja untuk mencari udara segar."


"Kau adalah pewaris sah Tirta Wijaya group, "apakah uang yang aku tranfser tidak cukup?" protesnya.


"Bukan begitu maksudku. A____ aku hanya, berpikir kau tidak peduli lagi padaku, Raffael."


Key beringsut turun, saat menyadari baju Raffael yang basah oleh air matanya dan tertunduk malu duduk disampingnya. Raffael memang sudah memaafkan, tetapi bayangan wanita yang menemani Raffael malam itu sangat menggelitik hatinya dan beranggapan Raffael benar- benar menduakannya.


Benarkah Raffael mengkhianati kepercayaannya?


"Apa yang kau pikirkan, Cara? Kau berpikir terlalu jauh," Pria itu tersenyum dan mencubit hidungnya yang memerah dengan masih sedikit terisak.


"Dasar cengeng he..he..," godanya.


"Kau sangat marah padaku waktu itu, bahkan menyuruhku pergi dan kau mengaku____"


"Aku menyuruhmu kembali ke Mansion," belannya.


"Tetapi kau___"


Wanita itu menatapnya dengan sedikit ragu dan membuat Raffael mengernyitkan dahinya karena penasaran.


"Malam itu, "benarkah kau bermalam dengan_____"


"Itu hanya akal-akalan ku saja, menyadari kau akan datang...." ujarnya dengan nada rendah.


"Terus pakaian **** itu?! protesnya.


"Itu milikmu. Aku menyediakanya untukmu. Mitha yang memesannya, karena aku tidak tahu ukurannya," lirikan sekilas, Raffael sukses membuat, Key merona karena malu dan sangat bodoh tidak pernah bertanya sedikitpun pada Mitha. Raffael terpaksa memenuhi kebutuhan Key karena Pria itu gemas uang yang di transfer ke rekeningnya tidak pernah disentuhnya.


"Kau percaya begitu saja?" Dengan nada suara tidak terima.


"Kau sangat marah padaku, bahkan membiarkan ku, kembali ke mansion, aku berpikir kau sudah tidak mau melihat ku,


dan semudah itu menggantikan ku. Kau benar-benar sangat menakutkan, kalau sedang cemburu," ucapnya sedih diikuti oleh pelukan hangat pria itu kembali. Raffael tidak berhenti mengumpat dalam hati, karena sudah sangat keterlaluan dan lepas kontrol saat sedang marah.


"Kamu tahu, aku memang sangat jelek kalau sedang cemburu.Tetapi selebihnya, aku akan sangat manis, "bukankah begitu, sayang?" bisiknya dengan mencuri kecupan singkat dibibirnya.


"Kau tetap saja menakutkan," balasnya merajuk yang diikuti oleh tawa ringan

__ADS_1


Raffael yang mendengarnya.


"Baby, aku lapar sekali," menyadari, Key yang sedikit salah tingkah.


"Kau masih menginginkan masakanku?" tanyanya seraya mengerucutkan bibirnya. Ia masih ingat, Raffael, bahkan tidak mau hanya sekedar untuk menyentuhnya saja.


"Aku memakannya malam itu sepulang dari bertemu___"


"Sudahlah. Jangan dibahas lagi," dengan mimik yang tidak suka.


Key tersenyum mengingat Raffael yang diam-diam menyusup ke Mansion.


"Malam itu, kau juga diam-diam datang ke kamarku, kan? heee...


"Kau!!! Raffael melebarkan matanya karena setahunya Key tertidur malam itu.


"Aku terjaga, saat kau memelukku, "kamu pikir siapa yang sanggup membeli parfum semahal itu, kalau bukan dirimu."


"Sangat pintar, harusnya kau memanggilku malam itu. Karena aku benar- benar lelah dan mengantuk," Raffael menautkan sebelah alisnya dengan tatapan nakal.


"Ogahhh!" Menyebalkan!" sungutnya.


"Oooooohh ....!!!!"


"Itu salahmu, karena tidak mengatakan sesuatu. Lagi pula aku bosan melihatmu berbicara, di saat aku tertidur. Sesekali aku ingin kau meminta maaf, saat mata ini terbuka," tunjuknya dengan sedikit merajuk.


Raffael meraih pundaknya dan kembali mengusapnya dengan sayang. "Aku sudah pernah katakan, saat aku marah jangan semua kau masukan ke dalam hatimu."


"Bagaimana caranya, Raffael? Ucapan yang terlanjur keluar, tidak semudah itu untuk ditarik kembali dan tetap saja akan teringat dan masuk di dalam hati. Seperti halnya saat kamu mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari orang lain, "apakah semudah itu terlupa dari ingatanmu?"


"Ok. Ok. Aku minta maaf. Aku bersalah, sayang, terlepas apa yang sudah aku ucapkan. Baby, tetapi aku lapar sekali, seharian aku belum makan," Raffael meringis memegang perutnya yang keroncongan dan membuat Key terkikik menatapnya.


"Tuan muda kelaparan?" untung saja aku memasakanmu, walaupun kamu tidak datang."


"Sayang, aku bersungguh- sungguh?" Keduanya lalu berjalan menuju dining room untuk mengisi perutnya yang sudah melakukan protes minta di isi.


______________________


Catatan penulis:


Sahabat tersayang ๐Ÿ˜˜

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan like dan komennya,ya. Terimakasih ๐Ÿ™


__ADS_2