Misi Cinta CEO Tampan

Misi Cinta CEO Tampan
24. Kejutan dipagi hari


__ADS_3

"Raffael? Untuk apa kau membawaku kemari?" Key menghentikan langkahnya


dan menatap horor ke arah pria yang terlihat cuek itu.


"Sudahlah! Jangan banyak bertanya, mereka telah menunggu kita!" Raffael


meraih tangan Key dengan lembut tetapi


dengan genggaman yang begitu kuat."


"Ikuti saja perintahku. Jangan membuatku malu, please," bisiknya begitu ****.


Seakan tahu siapa tamu kehormatan yang telah datang, siang itu rumah mode kenamaan itu mengistirahatkan para langganannya, hanya untuk menyambut putra Mahkota ANTARA GROUP tersebut.


"Selamat datang Tuan muda dan juga Nona." Beberapa karyawan serentak membungkukkan badan, memberi hormat melihat kedatangan keduanya.


Key terpana dengan kemegahan Ivanka fashion. Gaun-gaun wewah terdisplay dengan sangat menawan dan begitu elegan. Namun yang lebih membuatnya terkejut, adalah bagaimana cara mereka menyambut Raffael dan dirinya kali ini.


"Selamat siang." Raffael memamerkan senyumnya, yang seketika membuat para karyawan tersebut di buatnya melting


"OMG! Ini malaikat atau seorang anak manusia? Yang perempuan sangat cantik dan yang pria sangatlah tampan. Seperti pangeran dari negeri dongeng," bisik salah satu karyawan.


Sebelum akhirnya mereka mempersilakan keduanya duduk di salah satu sofa mewah yang berada di ruang tamu kehormatan rumah mode tersebut.


"Tuan muda kami sudah menyiapkan koleksi terbaru dan terbaik kami. Silakan Tuan dan Nona memilih, semoga berkenan. Nyonya Ivanka tersenyum menyambut dan mempersilakan langsung keduanya.


Dengan kebingungan yang belum mereda Key menatap Raffael dengan penuh tanda tanya. "Apa yang kau lakukan?" Tangannya menyikut lengan Raffael dengan pelan setengah berbisik menyadari ada sesuatu yang


janggal terjadi.


"Ikutin saja perintahku."


"Mari, Nona."


"Ohh, terimakasih." Dengan sopan dan menampilkan senyum yang tidak kalah menawan, Key mengangguk.


Perempuan yang tetap cantik di usia setengah abad itu, dengan ramah menggerakkan sebelah tangannya


untuk mempersilakan.


"Nyonya, maaf, saya ingin bicara dengan Raffael sebentar."


"Silakan, Nona."


Tangannya menarik Raffael ke sudut ruangan dengan banyak pertanyaan, sementara pemilik rumah mode tersebut hanya tersenyum melihat interaksi keduanya.


"Apa maksudmu, mengajakku kemari?" protesnya.


"Sudahlah. Pilihlah mana saja yang kamu suka. Aku sudah bilang, aku tidak suka dengan sebuah penolakan, Nona," ancam Raffael dengan menampilkan senyum tetapi dengan tatapan mengancam.


"Bukankah kamu yang menyuruhku, untuk tidak menunda hari bahagiaku. Aku ingin


kau menghadirinya dengan gaun yang sangat pantas," jawabnya enteng.


"Gaun?"


"Iya. Gaun untuk menghadiri hari bahagaiku. Kamu tinggal memilihnya di sini."


Deg....


Hari bahagia, jadi Raffael membelikan gaun ini untuk hari bahagianya padaku?


"Pilihlah. Jangan banyak membantah," perintahnya dingin dengan tatapan yang


mengintimidasi.

__ADS_1


"Raffael! tapi ini sangat berlebihan.


Gaun ini bahkan lebih pantas kamu persiapkan untuk Nova calon mempelaimu. Semua ini lebih tepat disebut gaun untuk seorang pengantin perempuan, bukan untuk seorang tamu undangan sepertiku," protesnya kesal.


"Aku sudah katakan, kamu pantas mendapat ini semua. Apakah kamu sudah lupa, bahwa kamu tidak akan mempermalukan diri kamu sendiri dipestaku nanti," bisik Raffael tepat di telinganya.


"Aku masih waras. Apakah aku senaif itu untuk mempermalukan dirku sendiri?"


Bagaimana tidak, gaun yang terdisplay semuanya lebih cocok dipersiapkan untuk pesta sekelas Royal wedding,


membuat wanita itu tidak habis pikir.


"Nona, aku adalah orang terkaya di Negara ini dan tamu undanganku tentu bukan orang sembarangan. Aku ingin semua yang datang menjadi terkesan."


"Harusnya kau tidak mengundangku, "karena aku bukanlah orang penting, ataupun orang kaya." Key membalas sengit.


Raffael menarik napasnya kesal. "Nona


Tirtawijaya, aku tidak suka mendengar


sebuah penolakan ... "ujarnya pelan dengan penuh penekanan.


Key termangu menatap gaun-gaun yang terdisplay dengan luar biasa mewahnya


Netra indahnya menyelisik satu


persatu gaun dan fokus ballgown berwarna putih dan dengan malas melangkah pasrah.


Gaun putih identik dengan warna gaun pengantin, tetapi aku bukanlah calon pengantin, walaupun aku datang dengan orang yang paling aku cintai seumur hidupku, batinnya sedih.


Wajah cantik itu berubah sendu. Baginya ini semua adalah moment yang sangat menyakitikan, walaupun dalam sekilas pandang mereka tampak sempurna laksana putri dan seorang pangeran. Bahkan Key dibuatnya tersipu dengan segala bentuk pujian dari beberapa karyawan di situ.


"Saya mengerti, tanpa gaun ini pun Nona sudah sangat cantik, tapi apakah Nona tidak bahagia dengan surprise dari Tuan Muda," goda nyonya Ivanka sambil tersenyum.


"Terimakasih," lirihnya sambil tersenyum.


Seketika rona merah memancar di kedua pipinya. Raffael yang mendengar pujian itu ikut tersenyum dan tanpa sadar memuji dari dalam hatinya.


"Tuan muda sangat beruntung."


"Emm ... Nyonya. Mak__ maksud ku, saya ...."


"Tentu saja Nyonya," Potong Raffael cepat. "Saya sangat beruntung. Pangeran tampan sepertiku, sudah seharusnya beruntung, bukan? Bahkan Nona Key sangatlah tergila-gila kepadaku," seloroh Raffael dengan menautkan sebelah alisnya, yang membuat orang terpana, bahwa putra Mahkota Antara itu bisa bersikap seperti itu.


Key memelototkan kedua bola matanya menatap horor. Dia tidak menampik bahwa dirinya mencintai Raffael dengan setulus hatinya, tetapi cara bercandanya


sudah sangat kelewatan.


Kalau saja tidak memandang sebuah kepantasan, ingin rasanya dia berteriak kencang di hadapan semua orang, bahwa mereka adalah pasangan fake.


Perlahan dia kembali melangkahkan kakinya menuju deretan gaun mewah itu menahan geram.


Jangan bermimpi, key. Ini tidak nyata.Biar pun ini tidak nyata, tetapi setidaknya aku bahagia pernah ada moment seperti ini bersamamu. Dasar Raffael egois.


Tangannya meraba gaun yang mencuri hatinya. Setetes bening air matanya tanpa sadar keluar dari kelopaknya tanpa sepengetahuan Raffael.


"Ini saja, Nyonya. Saya akan coba dan tolong bantu saya untuk fitting," pintanya kepada salah seorang karyawannya.


"Raffael, bagaimana menurutmu?"


Raffael, pria itu tersenyum dan berjalan


menghampirinya. "Aku sudah bilang, pilih saja yang kamu suka," bisiknya. Hawa hangat dari napas yang beraroma mint menyapu wajah yang sepersekian detik mengalirkan sensasi meremang.


"Nona ini sangat cocok untukmu, sebentar akan saya bantu untuk fitting.

__ADS_1


Kalau ada yang belum sesuai biar saya perbaiki kembali."


Bener saja, karena Raffael selama tidak pernah mengajaknya untuk mengukur bentuk tubuhnya.


Key mematut dirinya di depan cermin besar yang menampakkan seluruh lekuk bagian tubuhnya dengan menampilkan sisi kiri dan kanan bentuk tubuhnya. Entah sebuah kebetulan atau bukan ball gown luxury and Georgeos warna champagne dengan sequins of the shoulder begitu kelihatan sangat memikat di tubuhnya.



"Astaga! Nona benar-benar kelihatan sangat cantik," puji Nyonya Ivanka dengan mata berbinar. Ini ada dua warna, champagne dan gold silver," jelasnya lagi. Namum pilihan Key jatuh ke warna champagne kelihatan lebih terang dan tidak misterius.


CEO Antara Group itu speechless. Saat gerak memutar dari Nona Tirtawijaya itu memperlihatkan dirinya dengan balutan gaun mewah yang terlihat mengembang.


Sekali lagi Wanita cantik itu sedikit memutar tubuh dan berlenggak lenggok laksana model yang beraksi di atas catwalk. Dengan beberapa kamera mengabadikan momen tersebut.


"Perfect!" Raffael memuji dengan senyum puas. Kedua manik hitam legamnya menatap ekpresif, Key yang tersipu.


Ini tidak nyata, sadarlah, key! Raffael hanya ingin melihatmu sempurna dipesta


pernikahannya.


Hatinya kembali bergemuruh setiap mengingatkan dirinya sendiri, begitu tersadar hanya kosong tanpa mimpi apapun di sana.


Belum puas, karena mengagumi kecantikan dan keanggunannya, Ivanka fashion akhirnya memintanya untuk memperagakan beberapa model gaun mewahnya untuk kemudian didokumentasikan.


****


Sore menjelang, Raffael bukannya mengantarnya pulang tetapi malah mengajaknys ke kediaman Nonya Wijaya dengan dalih orang tuanya itu ingin bertemu dengannya.


Key yang sangat menghormati keluarga Wijaya, paling tidak bisa menolak kalau sudah berurusan dengan Nyonya Liliana.


"Kenapa kamu tidak bilang, kalau akan mengajakku ke rumah?!' protesnya. Hari ini Raffael sudah memaksakan seluruh


kehendaknya yang membuatnya malas


untuk beradu argumentasi, karena semua


pasti sia-sia dan akhirnya hanya menurut saja.


"Aku tahu, kamu pasti memikirkan buah tangan untuk orangtuaku. Tidak perlu repot-repot, tapi kalau kamu merasa malu


aku sudah membeli sesuatu." Tangan Raffael menunjuk parcel buah yang terletak di jok belakang mobil mewahnya.


"Kau merencanakan semuanya?"


"Hemm ...."


"Sudahlah. Bilang saja itu darimu. Cukup,kan?" tanya pria itu sambil tersenyum.


Key terpana. Fitting gaun mewah, ke rumah Raffael. Seperti calon menantu yang akan bertemu dengan calon mertua saja.


Kenyataan ini begitu menyayat


hatinya dan terasa semakin perih. Tetapi ada yang membuat Ia heran, keluar dari ivanka fashion tadi tiba-tiba Raffael menyuruh seorang bodyguard untuk menutupi wajahnya begitpun, Raffael menggunakan masker untuk menghindari beberapa wartawan yang menangkap keberadaanya.



___________________


Sahabat tersayang ๐Ÿ˜˜


Jangan lupa like dan komennya,ya!


maaf visual terbatas dan terimakasih


sudah berkenan mampir ๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2