
Key makin tersipu saat dengan begitu intens, Raffael kembali memandanginya.
Pria itu memperlakukan dirinya seperti
kaca yang seolah takut retak.
"Aku akan menghukummu kalau tidur dengan menangis lagi!"ancamnya. Tangan Raffael membelai lembut rambutnya seperti sedang menidurkan seorang anak kecil.
Tak dipungkiri, perasannya yang terlalu sedih membuat alam bawah sadarnya ikut merasakan kesakitan.
"Itu tidak akan terjadi. Apakah kamu sering melihatku menangis saat tidur?" tanyanya ragu-ragu, seiring debat yang jantungnya tak karuan. Raffael duduk di pinggir ranjangnya sementara dia dalam posisi tidur membelakanginya.
"Saat di butik dan malam ini. Apakah ada yang kamu pikirkan? Sekarang ada aku di sini. Bukankah kamu yang mengajariku
untuk berbagi." Tangannya tidak berhenti untuk tidak membelai rambut indahnya.
"Sekarang tidak akan lagi. Pergilah ke kamarmu," usirnya kembali halus.
"Aku bertanya, cara?" protes Raffael.
Wanita itu hanya tersenyum mengingat kebodohannya. "Aku menangisimu, aku berpikir kamu tidak pernah mencintaiku dan benar-benar akan menikah dengan Nova." Wajah cantik itu bersemu merah dengan kejujurannya.
Mendengarnya Raffael membalikkan badannya dan melihat kejujuran di mata itu lalu kembali memeluknya dengan sayang.
"Apakah kau tidak berniat merebut ku, baby?" Jakun **** Raffael terlihat naik turun dengan napas hangatnya yang menyapu wajahnya.
"Kamu melakukan banyak hal untukku, jadi aku juga akan melakukan banyak hal untuk kebahagiaanmu. Karena aku sadar kamu tidak bahagia denganku," suara sendu Key begitu menyayat hati Raffael.
"Sorry, sayang!Aku menyakitimu," bisiknya.
"Kembalilah ke kamarmu!" Key menarik selimutnya sebatas leher dan berbalik tidur dengan posisi membelakanginya.
Raffael terkekeh melihatnya. "Apakah kau
setakut itu sayang, tenang saja, aku akan pelan-pelan," godanya nakal.
"Raffael!" panggilnya galak.
"Ok.Ok!" Ternyata tuan putri masih galak sekali." Sebuah ciuman sayang kembali mendarat di keningnya.
Raffael berlalu. Malam benar-benar sudah larut. Key yang sudah dilanda kantuk berat, tidak bisa untuk tidak
segera terlelap dengan mimpi indah. Begitupun Raffael, pria itu terlelap begitu
damai dan dengan menyunggingkan senyum.
Wajahnya terlihat lebih rilex, karena beban yang ditanggung selama ini
benar-benar terlepas dari pikirannya.Ada Key dalam hidupnya, membuat semangatnya tumbuh berpuluh kali lipat dalam dirinya. Bersama wanita itu Raffael memimpikan segalanya.
Pagi menyapa, setelah mengumpulkan kesadarannya, Key bergegas melangkah membersihkan diri. Berjalan pelan-pelan
menuju walk in closet dan meraih dress
berwarna abu-abu dan sweater warna putih sudah cukup membuatnya tetap stuning pagi itu.
langkah terayun ke Pantry. Senyumnya tersungging tipis. Dengan cekatan tangannya meracik bahan untuk
pancake stroberi. Pelayan yang sedang melihatnya hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Nona, biar para koki saja yang membuatnya. Nyonya besar dan Tuan
muda bisa marah kalau melihat Nona menyiapkan makanan sendiri."
Key tersenyum.Tidak apa-apa ini cuma sedikit saja. Bibi bantu saya saja untuk membereskan dapur saja, ok," perintahnya.
"Baik, Nona. Dalam sekejap pancake telah siap dan terhidang dengan lezat
__ADS_1
di meja. Nyonya Wijaya yang baru turun
dari lantai atas terlihat kaget, tapi juga tidak bisa menutupi rasa bahagianya."
"Sayang, kamu sudah bangun?" Nyonya besar itu kaget melihat hidangan yang sudah tersedia di meja.
"Selamat pagi, Mi." Seperti biasa dengan menyunggingkan senyuman.
"Pagi, sayang. Kamu cantik sekali pakai baju ini." lalu seperti biasa nyoya besar akan memeluknya dengan sayang.
"Hemm ... pancake stroberi dan crepes? Raffael dan papi sangat menyukainya, tetapi kamu tidak perlu repot-repot. Ada
koki yang siap memasak di sini, kamu tinggal pesan saja, yang kamu suka," jelasnya dengan membelai lembut pipi Key.
Para pelayan yang masih berjejer hanya bisa mengangguk hormat dan minta maaf melihat Nona mudanya sibuk sendirian.
"Sayang, kamu dan Raffael bersahabat sejak lama. Mami lihat kalian saling mendukung, saling peduli dan saling menyayangi satu sama lain. Apakah
tidak bisa kalian ada hubungan lebih?"
Key terpana, wajahnya mendadak dipenuhi oleh Rona merah. "Apa yang mami katakan ?"
"Menangkan hati, Raffael, sayang. Mami tidak ingin Raffael menikah dengan orang
yang belum lama di kenal." Mimik muka Nyonya besar terlihat sedih. Sementara Key hanya bisa senyum-senyum saja melihat ekspresi wanita yang melahirkan Raffael.
"Key, sayang. Apakah anak Mami kurang tampan?" Netra beliau menyelisik wanita cantik itu dan menggenggam tangannya.
"Semua orang tahu, Raffael anak mami sangatlah tampan," celetuk Raffael terlihat dengan senyum cerah menuruni
anak tangga.
mendapati makanan kesukaannya dengan tidak sabar berniat untuk mencicipinya.
Serentak terdengar gelak tawa mereka.
Raffael dan Key saling menatap dan tersenyum. Nyona besar mengambil tempat duduk di samping Tuan besar.
Sementara Key berjajar dengan Raffael
di sampingnya.
Ya, Tuhan, mereka berdua serasi sekali.
Bagaimana bisa mereka berdua tidak ada ketertarikan sama sekali.
Key berdiri menyodorkan piring kecil berisi pancake ke arah Tuan dan nyonya
besar, lalu kemudian Raffael yang duduk di sampingnya. Sementara pelayan yang
lain sibuk menuangkan minuman ke gelas-gelas mereka.
Pemandangan ini membuat Nyonya dan Tuan besar tersenyum bahagia dan berdoa dalam hati mereka berjodoh.
"Hemm ... enak sekali," guman Tuan besar, begitupun Raffael merasa ada yang berbeda dengan pancake hari ini.
"Ini, Key yang membuat, Pi, Raffael, enak,kan?" jelas Nyonya Wijaya dengan
semangat.
"Apa! Kau mempersiapkan sarapan sendiri?" kaget, Raffael sejenak meletakkan garpu yang berada di tangannya sambil menatap intens,Key, yang duduk disampingnya."
"Tidak apa-apa. Aku senang melakukannya,"jawabnya. Tangannya mengusap lembut lengan Raffael dan pemandangan itu membuat Nyonya besar tersenyum menatapnya.
__ADS_1
"Ohh! Tidak seharusnya, kamu repot-repot, sayang.Tapi Papi sangat berterimakasih, ini benar-benar sangat enak dan Papi sangat suka." Mimik muka Tuan besar tidak bisa menutupi rasa enak yang sedang menggoyang lidahnya,
dan tangannya kembali meraih crepes dan meminum segelas susu yang sudah disediakan.
*****
Pagi itu selepas sarapan dengan berat hati nyonya besar melepas Key kembali
ke Mansion. Seperti biasa Nyoya besar
akan memeluknya dengan erat. Rasa sayangnya kepada Key sangat natural.
Raffael yang melihatnya tersenyum dan merasa bahagia.Hal itu tidak luput dari penglihatan Jordan yang pagi datang
ke kediaman Wijaya.
"Bos, bahagia banget, Nona Key menginap di sini?" Jordan bertanya dengan bisikan lirih.
Raffael melirik sekilas Jordan dan meminta kunci mobilnya. "Jordan, pagi ini aku ingin menyetir sendiri saja."
"Kamu yakin, Raffael?"
"Hemm ...."
Jordan yang menangkap isyarat aneh, seperti biasa menelpon anak buahnya untuk mengawal Raffael dari jauh. Pagi itu Raffael ingin menghabiskan waktunya bersama Key dan menikmati sebuah kebersamaannya tanpa ada gangguan dari siapapun.
Dengan tidak berhenti menatap takjub Key yang sedang duduk disampingnya, Raffael mulai menjalankan mobilnya pelan- pelan. Perempuan itu hanya menggunakan sweater dan dress abu-abu dengan kerah potongan V yang agak rendah bagian depan, mengekspos tubuhnya yang tinggi semampai. Hal yang beberapa saat yang lalu juga di puji oleh Nyonya besar Wijaya.
Tidak berlebihan, tetapi paling disukai oleh Raffael. Entah apa saja yang digunakan dan dilakukan oleh wanitanya itu selalu terlihat istimewa di matanya.
"Sayang, apakah kamu kurang tidur?" Raffael menatap mata key yang sendu dan tersenyum mengingat kejadian semalam. Sebelah tangannya terulur menggenggam tangan Key dan sebelah tangannya lagi dengan lamban menyetir.
Key tersenyum. "Raffael apakah mansionnya masih jauh?" Pagi itu udara masih terasa dingin. Green viwes yang di
tawarkan cukup membuat wanita itu berdecak kagum. Mobil Raffael menembus pagi, meluncur memasuki kawasan menghijau dengan pemandangan alam yang masih sangat alami.
"Kau membeli Mansion di sini?" Mulutnya
mengangga tak percaya. Kawasan yang sangat exclusive dan hanya orang-orang
tertentu saja yang sanggup membelinya.
Seketika ia mengingat The manor di holmby hills los angeles California Amerika serikat. Hunian kaum elit dan juga pesohor paling mahal yang berada di negeri Paman Sam dengan desain menyerupai kastil Perancis modern.
Rumah megah yang memiliki ruang menonton yang luas, basemant ruang bawah tanah, ruang bermain boling, tiga ruangan untuk membungkus hadiah, dua garasi yang masing-masing bisa menampung empat mobil. lapangan tenis, kolam renang, carport yang bisa memuat 16 mobil, serta lahan parkir yang bisa menampung 100 mobil. Luar biasa bukan?
Raffael tersenyum. "Apakah kau suka, sayang. Bukankah tuan putri bermimpi tinggal di kastil?" Ini untukmu," ujarnya dengan senyum yang di kulum.
"Kau mengingatnya? Itu hanyalah khayalan masa remajaku, Raffael. Kau tidak harus mewujudkannya. Key benar-benar terharu. Manik matanya mengejap Indah, dan seketika tampak berkaca-kaca.
"Pasti mau menangis lagi."
Key semakin tersipu. Apalagi saat mereka turun, Raffael menggandeng tangannya dengan romantis menikmati pemandangan alam yang serba alami yang masih berkabut.
Keduanya tak berhenti saling menatap dengan penuh cinta dan kekaguman. Melangkahkan kaki mereka dengan pelan saling menggenggam tangan, menikmati pagi yang menyapa semesta.
___________________
Sahabat tersayang 😘
Jangan lupa untuk like dan komennya, ya.
Terimakasih dear 😊
__ADS_1