
Key memalingkan wajahnya yang merona, dan menghindari tatapan menggoda, Raffael yang terbaring di atas tempat tidurnya.
"Tidurlah, baby. Apa yang sedang kau cari? Kalau kamu butuh sesuatu beli saja. Untuk apa mengacak-acak barang seperti itu? Raffael menyipitkan matanya melihat Key dengan beberapa benda kesayangannya ditangannya.
"Aku bisa membelikan lebih banyak dan lebih bagus dari itu..."ujarnya dengan nada rendah.
"Bukan tentang harganya, Raffael, "tetapi kenangan yang terkandung didalamnya.
"Memangnya seberapa penting? Raffael membuka matanya lebih lebar dan memperhatikan sesuatu ditangannya, dengan mengerutkan dahinya. Miniatur sebuah kastil mewah. Senyum Pria itu seketika terbit di sudut bibirnya, itu adalah hadiah perpisahan darinya di masa sekolah, saat menyadari Raffael begitu mencintainya diam-diam. Namun sayang, kehancuran perusahaan keluarga besarnya membuat dia mengurungkan niatnya karena merasa tidak pantas untuk, Key, yang saat itu mentereng dengan kesuksesan Tirta Wijaya Group. Saat itu juga kehidupan Raffael berubah total menjadi pribadi kaku, dan sangat dingin. Raffael dan orang tuanya harus merintis usaha dari nol, setelah melepas Angkasa group untuk menghindari perpecahan dalam keluarganya. Mengingat hal itu, Raffael tidak sabar untuk cepat sampai ke pulau B.
"Darimu," senyumnya tidak kalah manis saat tangannya menunjukkan sesuatu pada, Raffael yang di ikuti oleh senyum pria itu lagi.
"Terimakasih sudah menyimpannya, sayang. Jangan bilang kau juga menyimpan sesuatu darinya."
Wajahnya menoleh Raffael sekilas dengan mengerucutkan bibirnya. Mereka berdua memang tidak satu sekolah dengan Andreas. Tetapi mereka bersahabat, ketika menimba ilmu di sebuah Universitas yang sama saat berkuliah. Perlahan tangannya memisahkan sesuatu dari tempatnya dan menyimpannya ditempat terjauh. Sebuah foto kebersamaannya dengan, Andreas saat bekerja di kantornya disingkirkannya dengan pelan-pelan.
"Tidurlah, sudah malam."
Wanita cantik itu beranjak dan sesaat terdengar gemericik air terdengar dari kamar mandi. Key keluar dengan baju tidur berbentuk kimono, kemudian mengambil posisi tidur dengan membelakangi, Raffael. Pikirannya sejenak berkelana. Peristiwa demi peristiwa yang beberapa hari ini terjadi silih berganti melintas dalam pelupuk matanya. Ia tersenyum mengingat hari bahagianya dengan segala keromantisan Raffael, namun kemudian, wajahnya kembali tegang bila mengingat peristiwa horor itu. Hatinya juga sedikit gelisah ketika bayang-bayang perselisihan Raffael dan Andreas yang bahkan, Andreas sendiri tidak menghadiri pesta pernikahannya belum juga usai.
Aku tidak ingin karena keberadaanku keduanya berselisih terus-menerus. Aku sangat berharap, suatu saat kau akan menemukan seseorang yang bisa memahamimu, Andreas.
Napasnya menjadi tercekat, seperti ada beban yang ingin Ia dilepaskan. Andreas sempat diperiksa oleh pihak kepolisian, dan bagaimana Clara bisa tahu tentang perasaanya, cukup mencubit isi hatinya. Dengan gelisah Ia membalikkan tubuhnya, karena merasa janggal dengan Raffael yang mendadak diam dan melihat matanya yang sudah terpejam, tetapi Key yakin ia belum tertidur.
"Apakah kau sedang menunggunya, sayang?" Dengan mata yang terpejam.
"Menunggu?" Key terlihat bingung dengan pertanyaan, Raffael dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar tetapi tidak menemukan apapun.
Hari sudah malam dan rasanya aku sedang tidak menunggu sesuatu batinnya.
"Apa yang sedang kau cari?" Raffael sedikit membuka matanya menatap kearahnya yang terlihat bingung. Pria itu menarik tubuhnya dan memeluknya dengan hangat.
"Kau mengerjaiku?"
"Nona, yang gagal lowding, he..he.."
"Raffael...."
"Hemmmm...
"Menyebalkan...!"
"Siapa bilang?"
"Aku."
__ADS_1
"Tetapi tetap saja kau mencintaiku." Raffael mencubit hidungnya gemas.
Keduanya lalu tertawa bersama, namun kemudian suasana kembali hening. Key menatap wajah tampannya yang kembali terpejam, namun Ia yakin Raffael tidak benar-benar tidur.
"Thanks for everything."
"For...?"
"Karena sudah sudi untuk bermalam disini."
Kembali pria itu merapatkan pelukannya dengan melingkarkan tangannya untuk memeluk tubuhnya. "Ini juga rumahku. Kenapa kamu berpikiran seperti itu?" dengan mimik sedikit heran seraya mendekatkan wajahnya, seakan meminta
penjelasan.
"Tuan muda biasanya tidak pernah mau bermalam tanpa persiapan apapun, itu saja."
"Kau salah besar. Semua keperluan kita ada dimobil bersama, Jordan. Termasuk baju-baju kita, baby."
"Kau mempersiapkannya semua?" Kenapa tidak membangunkanku waktu itu? Dan kenapa tidak dibawa masuk saja?"
"Tuan putri sangat kelelahan tadi sore, lagi pula ada Mitha yang membantuku," Goda Raffael seketika membuat rona memerah di wajahnya. Key kembali tersipu mengingat, Raffael yang begitu, berhasrat menginginkannya dan tertidur seperti orang mati, saat Ia terpaksa harus membopongnya untuk pergi kekediaman Keluarga besarnya.
"Baju-baju kita? Berapa banyak?" Kita cuma menginap semalam saja, Raffael,"
protesnya.
"Sepertinya suasananya kurang mendukung. Apakah tidak sebaiknya lain kali saja, aku takut, Raffael," pintanya dengan lembut, karena tidak ingin membuatnya tersinggung.
"Jangan salah paham, aku sangat suka kau mengajakku pergi, tetapi aku lebih nyaman kita sekarang di rumah saja," Key membalikkan badannya lalu perlahan mendekap Raffael dan menyusupkan kepalanya untuk mencari kenyamanan.
"Jangan marah padaku. Aku juga merindukan itu," suaranya sedikit merajuk. Key takut mengecewakan, Raffael yang sudah mempersiapkan segalanya.
"Cuma kepulau B. Kita akan refreshing sejenak di sana.Tempatnya Sangat nyaman, tenang dan jauh dari polusi udara. Kau pasti menyukainya."
"Pulau B?" Key berfikir sejenak lalu mendongakkan wajahnya yang mempertemukan manik mata mereka untuk saling menatap dalam diam.
"Kita butuh suasana baru untuk sementara waktu. Percayalah akan membuatmu jauh lebih baik."
Iris matanya terlihat semakin kelam. "Tidak terlalu jauh, Jordan sudah menyiapkan privet jet untuk perjalan kita besok, jadi semua lebih aman. Kamu tidak perlu cemas. Tempatnya sangat exclusive, tidak sembarang orang boleh masuk, cuma ada kita berdua dan para pengawal," jelasnya lagi. Hatinya berharap kali ini, Key tidak akan menolak pergi bersamanya bisa gagal total kejutan darinya.
"Dimanapum asal denganmu, aku merasa lebih baik. Terserah padamu saja. Aku ikut bersamamu. Kau selalu penuh kejutan, aku jadi penasaran," jawabnya pasrah.
"Bersabarlah menunggu pagi."
Key mengangguk pelan lalu tersenyum sambil menatap kembali Raffael. Sudah diduganya Raffael akan naik privet jet untuk urusan perjalanan bisnis atau urusan pribadi lainnya.
__ADS_1
"Tidurlah, karena aku tidak janji untuk mengistirahatkanmu, besok setibanya disana."
Plakkk
"Auww! Baby, kau galak sekali."
"Kau begitu mesum."
"Kau menyukainya, sayang. Lihatlah," Pria itu membuka bajunya memperlihatkan perut sixpacksnya, dengan sedikit memutar memperlihatkan punggung bagian belakangnya. Key melotot tidak percaya, tetapi kemudian tersipu malu menyadari ada bekas cakaran tangannya
"Baby, apakah kau ada salep rasanya sedikit perih." pintanya dengan sedikit meringis.
"Sorry honey, apakah aku senakal itu," Wajahnya seketika memerah apa lagi saat Raffael tertawa mengejeknya.
"Baby, ini biasa dilakukan oleh pemula sepertimu, aku luar biasa, bukan?" goda Raffael. Key begitu menggemaskan dengan pipinya yang kembali merona malu, perlahan tangannya mengambil salep dalam kotak P3K dan mengoleskannya secara pelan-pelan.
"Apakah sangat sakit?"
"Tidak apa-apa sayang, justru aku sangat suka kau seperti itu."
"Raffael...!!"
"Baby....?"
"Sudah selesai. Aku mengantuk," sungutnya kesal, karena Raffael terus menggodanya. Tangannya menarik selimut sebatas lehernya dan tidur dengan membelakanginya.
"Ok. Ok tidurlah."
Malam terasa sepi, badannya bergerak gelisah dengan mata sulit terpejam. Ia melirik sekilas Raffael yang kebetulan juga masih terjaga dan sedang menatapnya romantis. Dia sengaja tidak tidur lebih dulu, karena Raffael khawatir Key akan bermimpi buruk tanpa sepengetahuannya.
"Kau sudah berjanji padaku, akan mimpi indah saja, saat bersamaku." Raffael kembali menatapnya dengan dalam. Key yang terlihat salah tingkah tersenyum malu-malu, lalu membalikkan badannya kembali untuk tertidur. Pundaknya sedikit berjengit, saat dengan mesra, Raffael kembali memeluknya dari belakang dan menggegam jemarinya untuk menegaskan bahwa malam ini ada dia bersamanya. Ia sudah tahu, Raffael memergokinya saat mimpi itu datang kembali dan pura- pura tenang saat Raffael mencoba menenangkan dalam tidurnya.
"Good night, baby."
"Night, Honey."
Raffael mengendus aroma vanila Lace yang sudah laksana candu untuknya dengan sedikit mengusap- usap jemarinya lalu mencium pucuk kepalanya dengan lembut. Wanita itu tidak berhenti bersyukur dalam hati ada Raffael yang sangat menjaganya dan mencintainya. Tubuh dan hatinya sudah sangat tergantung padanya dan terkadang kekhawatiran yang tidak beralasan bermain- main di kepalanya. Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya? Mengingatnya saja seperti terlepas sebagian hatinya. Dengan perlahan dia membalikkan tubuhnya kembali menatap Raffael.
"I love you."
Raffael tersenyum mendengarnya dan dengan begitu lembut menyatukan bibirnya dengan sangat lama. Key membalasnya dengan begitu indahnya dengan menahan tengkuk, Raffael untuk memperdalam ciumannya.
"I love you too, baby." Keduanya sepakat untuk tidur karena keesokan harinya mereka harus berangkat pagi- pagi. Mereka ingin menghabiskan waktu dengan sangat indah dan Raffael ingin semuanya terasa sempurna begitu tiba di sana.
_____________________
__ADS_1
Catatan penulis:
Sahabat tersayang ๐ jangan lupa untuk like dan komentarnya, ya. Terimakasih ๐๐