
Rembulan malam bersinar malu-malu dari balik awan membuat, Key, diam terpaku menatap langit malam pada sebuah bangunan yang menjulang tinggi menyerupai sebuah menara pada sebuah palace. Raffael menggapit pinggang rampingnya dan mendekap hangat dari belakang tubuhnya, menempatkan dagunnya pada bahunya yang indah. Aroma musk membuat kesan maskulin pada tubuh yang senantiasa peduli dengan kebugaran tubuhnya itu. Raffael menggenggam tangannya dengan lembut dengan senyum yang senantiasa di kulum.
"Sangat indah, bukan?" Anggukan kepalanya dan binar terang kedua netra indahnya, sudah cukup menyiratkan, Key sangat terpukau dengan pemandangan indah malam itu. Ia menoleh sekilas Raffael dan menempatkan tubuh keduanya untuk saling berdiri berhadapan, dengan jemari tangan saling bertautan, dan tatapan saling memuja keduanya. "Kita akan di sini selama kau mau," jelasnya tanpa berniat melepas fokus dari netra indahnya.
Kepalanya menggeleng pelan. "Kalau kau menunggu aku bosan di sini, itu tidak akan terjadi. Tempat ini terlalu indah tetapi, ada istana cinta kita yang akan kesepian menanti kita," jawabnya seraya menggerak-gerakan jemarinya yang masih saling bertaut, memperlihatkan senyumnya yang membuat keduanya semakin yakin, ini adalah tempat yang tepat untuk setiap moment indahnya. Sesekali keduanya mendongakan wajahnya, menatap rembulan malam yang seakan mengerti bahwa ada sepasang insan yang sedang kasmaran dan di mabuk cinta.
Semilir angin malam berhembus dengan lembut mengalirkan hawa dingin yang sedikit menusuk kulit dengan kerlip-kerlip bintang menghias pekatnya malam. lampu-lampu warna warni berkedip- kedip diantara hamparan tiruan alam yang menghijau yang sedang tenggelam oleh malam, menciptakan daya magis yang sulit terbantahkan.
"Tidak perlu cemas, penjagaan pulau ini sangat ketat. Disetiap perbatasan ada sebuah pangkalan udara, dan setiap saat ada helicopter yang sedang berpatroli," jelas, Raffael, seakan tahu apa yang sedang dipikirkan olehnya. Tidak dipungkiri selain masih sangat alami pulau yang hanya dihuni oleh kaum tertentu itu, juga terkesan sangat exlusive, hening dengan damai. Sangat cocok untuk seseorang yang ingin menyepi untuk mengganti suasana hatinya.
"Apakah kau tahu, saat ini aku merasa berada disebuah negeri dongeng. Aku paling suka lokasinya, ternyata semua benar -benar sesuai expectasi. "Raffael yang mendengarnya kembali merapatkan tubuhnya dan mengusap lembut punggungnya. "Ini kenyataan, sayang," balasnya dengan bisikan kecil. Napas hangatnya menyapu daun telinga, Key dan menciptakan gigitan kecil di sana yang membuatnya seketika meremang.
"Aku benar-benar masih merasa seperti mimpi, ada kamu disisiku yang diam-diam mencintaiku dan mewujudkan semua mimpiku." Key sedikit melonggarkan pelukan Raffael dan menengadahkan wajahnya menatap iris kelam, Raffael yang begitu pekat tetapi ada kelembutan di dalam sana lalu mengecup bibirnya dengan lembut.
"Thank you so much, Honey..."
"Hemm... Pria itu tersenyum. Tidak salah dia membawanya ke sini untuk mengubah suasana hatinya sejenak. Dia ingin setiap saat membuka matanya, suasana baru yang akan dilihatnya. Dengan lembut tangannya merapikan, anak rambutnya yang menjuntai diantara temaram malam karena terpaan cahaya rembulan berselimut mega- mega yang sedang berarak- arak.
"Berhentilah menatapku, Cara, karena aku tidak sanggup menolak sihir cintamu itu," Seketika rona merah diwajahnya terlihat begitu menggemaskan.
__ADS_1
"Raja gombal, sudah tahu aku begitu memujamu, tetapi kau masih saja suka cemburu," ledeknya. Tangannya menekan dengan gemas dada Raffael seketika membuat keduanya larut dalam tawa bahagia bersama.
"Sudah malam sebaiknya kita tidur. Angin malam sangatlah tidak baik," sebuah ciuman hangat dan bergelora di bibirnya menjadi penutup malam menatap bintang dan bulan saat itu.
"I love you, baby..."
πππ
Di tempat terpisah, Andreas bergeming menatap malam yang sama di tempat berbeda, dengan kedua tangannya yang tersembunyi di balik saku jaket kulitnya yang berwarna gelap. Berbeda denganya, walaupun malam memperlihatkan sejuta keindahannya, tetapi hanya ada kegelapan dalam hatinya. Rembulan dan bintang sama sekali tidak bersinar baginya, semua terasa pekat untuknya. Senyumannya pudar seketika bahkan dia sendiri lupa, kapan terakhir kalinya Ia bisa tersenyum dengan begitu lepasnya.
Sesekali terdengar hembusan napasnya yang terasa berat. Andreas belum merasa tenang karena belum bisa bertemu dengan, Raffael. Tetapi setidaknya ada kelegaan dalam hatinya sebuah bukti menunjukkan, bahwa dia bukan pelaku penyerangan itu dan dengan sedikit membuka tabir kepada Jasson tetang, Clara. Wanita yang nekat menghalalkan segala cara, yang sampai sekarang masih bagai mimpi baginya. Bagaimana bisa rasa cinta yang menumpuk bisa berubah kebencian yang sangat susah untuk dinalar.
Semudah itukah hati manusia berubah. Mungkinkah hatinya suatu saat nanti juga
cepat berubah? Ia ingin merasakan netral kembali perasaannya untuk istri sahabatnya itu. Bagaimanapun Andreas ingin keadaan kembali seperti semula, walaupun belum ada tanda-tandanya untuk mengarah ke sana. Hatinya tetap saja terluka dan merasakan iri dengan kebahagiaan mereka. Ia ingin merasakan seperti itu, tetapi hatinya masih keras kepala memuja wanita yang bukan miliknya.
"Key, mungkin sekarang kau sudah berbahagia. Jangan memintaku untuk melupakanmu saat ini, karena itu tetap saja masih sulit," Andreas masih merasakan perih setiap mengingatnya, bahkan sejujurnya dirinya belum sanggup menatap netra indah itu, untuk sekedar bertemu dan meminta maaf atas kegaduhan yang telah terjadi. Apa yang akan dipikirkan oleh wanita itu, saat bertemu dengannya benar-benar membuat Andreas merasa terhimpit hatinya.
"Iya, aku salah dengan perasaanku saat ini, tapi itulah kebahagiaanku. Sampai semesta sudi untuk menutup luka yang pernah ada karena ketidakhadiranmu." Senyumannya, canda tawanya, sifat cerewetnya membuat Andreas tersenyum seorang diri mengingatnya. Kalaupun ada sesuatu yang sangat disesalinya adalah kesalahpahamannya dengan Raffael. Sungguh Ia juga merasa berdosa pada wanita yang sangat dicintainya, karena menumpahkan air matanya menjelang hari pernikahannya dan lagi-lagi, Andreas merutuki kebodohannya atau memang dia tidak pantas untuk bersanding dengan wanita itu karena kecerobohannya.
__ADS_1
Langkah kakinya membawanya bergegas masuk ke dalam kamarnya kembali. Segelas wine kembali menemaninya dalam dinginnya hati. Sesuatu yang jarang sekali dilakukannya, mendadak sering menjadi teman sepinya. Tetapi Andreas sepakat pada dirinya, Ia akan minum saat di rumah saja. Suatu hal yang sangat, Key, tidak sukai bahkan Ia akan memarahinya kalau mengetahuinya.
Andreas tersenyum mengingatnya. Tangannya menimang-nimang gelas itu dan memutarnya dengan pelan. "Aku kembali kangen dengan ocehanmu itu," senyumnya terlihat getir. "Mulai saat ini, aku akan mencoba membiasakan diri tanpamu," ujarnya lirih dengan rasa yang masih saja sama.
Sebagai CEO dari perusahaan yang terkemuka, nyatanya tidak semua bisa digapainya. Andreas Alterio Wiratama selalu menjadi magnet tersendiri bagi kaun hawa tak ubahnya Raffael, tetap saja merasakan patah hati saat mencinta. Jatuh cinta ternyata sangat keras kepala, tidak pandang bulu dengan siapa dan keadaannya seperti apa. Cinta tetap saja terasa menyiksa terlepas ada kebahagiaan yang indah terselip di sana.
"Sekarang aku tahu,kenapa cinta itu sangat bodoh... "Andreas menertawakan dirinya sendiri menatap nanar segelas wine yang ada dalam genggamannya . "Kau benar Clara, aku adalah Pria lemah. Aku lemah untuk seorang wanita yang aku cintai," ledeknya sambil terkekeh. Matanya mulai terasa berat hingga dirinya tertidur dengan menelungkupkan wajahnya pada sebuah meja yang terletak di sudut kamarnya.
πππ
Pagi menjelang,sorot matahari menerpa wajah, Key, yang masih terbaring dalam pelukan hangat Raffael. Badannya terasa remuk redam, Raffael benar-benar tidak berhenti menginginkannya. Key tersenyum mengingat percintaan panas mereka dan menutup wajahnya yang memerah seketika.
Beginikah rasanya seorang wanita yang sudah menikah," batinnya. Ditatapnya wajah pulas Raffael yang sedang mengungkungnya dengan lengan kokohnya.
"Masih pagi, sayang, sebaiknya kita tidur kembali," perintahnya ketika merasakan pergerakan kecil tubuhnya. Dengan malas dan suara yang sedikit masih serak Raffael kembali memeluk tubuh rampingnya. Gerakan skin to skin yang menjalarkan kehangatan pada keduanya, yang pada akhirnya memilihnya untuk kembali terlelap karena rasa lelah yang mendera keduanya.
___________________________
Catatan penulis:
__ADS_1
Sahabat tersayang π jangan lupa untuk tinggalkan like dan komennya. Terimakasih dear π