
"Apakah aku membuatmu menunggu?"
suara yang datang tiba-tiba dan tak asing itu, membuatnya terkesiap membuyarkan lamunannya sesaat lalu.
Tubuhnya terasa membeku begitu wajah tampan Raffael menatapnya dengan tatapan yang sulit untuk dijabarkan. Rahang tegas yang dihiasi oleh jambang halus, hidung mancung, tubuh proporsional 185 cm dengan tatapan matanya yang tajam, seketika membuat syarafnya melemas. Namun dengan segera Ia menguasai perasaannya.
"A__ aku. Aku juga baru saja sampai," jawabnya gugup seketika menyadarkan dirinya.
"Kau sendirian saja?" tanya'nya heran. Netra indahnya menyelisik memandang sekitar, tetapi tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan orang yang ingin diperkenalkan oleh Raffael.
"Hemm." Raffael duduk lalu meneguk blackccurant juice yang sudah dipesan tadi di hadapannya. Restoran di Pusat kota J terlihat lengang.
"Bukankah kau berjanji akan memperkenalkan gadis pujaanmu itu," tatap Key menyelidik, sambil berharap ini adalah sesuatu yang tidak akan pernah terjadi.
"Iya, tapi tidak sekarang. Nova masih di Sydney, mungkin Minggu depan."
Deg.
Jadi benarkah?
Hanya bisa mengangguk pelan, menikmati hatinya yang berdenyut sakit, bibir itu mengumam pelan.
"Jadi namanya Nova?" lirih bibirnya samar. Hatinya seperti teriris. Raffael adalah sahabat yang senantiasa ada untuknya, karenanya Ia menjadi pribadi yang lebih kuat saat badai kehancuran TIRTA WIJAYA GROUP sebuah perusahaan properti menghantam seluruh sendi kehidupan keluarga besarnya dan menjungkir balikkan alur kehidupan keluarga Tirta Wijaya di titik terrendah.
"Iya," jawabnya singkat. "Aku berharap kalian bisa akrab."
Mengangguk sekali lagi, sekuat tenaganya menenangkan kembali perasaannya. Degub jantungnya yang bertalu-talu cukup menyiksanya.
Tuhan, beginikah rasanya patah hati? Kenapa mencinta terasa sangat menyakitkan. Jatuh cinta sendirian. Key membatin dalam pilu.
"Bagaimana dengan pekerjaanmu? Apakah Andreas memberikanmu gaji dengan sangat layak?" Raffael
menyipitkan matanya, memperhatikan wanita yang sudah puluhan tahun dikenal mendadak diam.
"Tentu saja!"
"Benarkah?"
"Apa maksudmu, Raffael?"
"Saya sudah bilang puluhan kali, pindahlah ke kantorku! Aku akan menggajimu dengan sangat pantas," perintahnya seperti biasa. Suara Raffael cukup tegas kali ini.
"Raffael___"
"Stop, Key!" Aku sudah tahu jawabannya," potong Raffael cepat dengan mengangkat sebelah tangannya.
Key terdiam menunduk dan menjadi beku mencoba mencari alasan. "Bukan begitu maksudku. Semua tidak seperti yang kau pikirkan ...." ujarnya lirih. Sorot matanya berubah sedih, melemahkan hati Raffael untuk tetap selalu melindungi wanita itu. Seorang sahabat yang sudah dikenalnya sejak bangku sekolah menengah atas.
"Kau bisa bekerja di kantorku yang bergerak dalam bidang media, itu pun jika kau berminat," imbuh Raffel mengulang dengan ekpresi memohon.
"Bukankah kau juga tidak mau?" tebaknya menatapnya lelah.
Mencoba mencari celah atas situasi ini, wanita itu menundukkan wajahnya
Ia kembali bingung harus menjawab apa, supaya Raffael tidak tersinggung.
"Selama ini kamu sudah terlalu banyak berbuat lebih untuk keluargaku.Jangan tersinggung. Aku tidak sedang bicara hutang budi. Jadi aku mohon mengertilah."
Raffael menatap dengan dalam dan tajam. Entah kenapa perasaannya campur aduk saat menatap netra indah itu sedikit berkaca-kaca.
"Aku hanya tidak ingin melihatmu kesulitan dan seperti ini," suara Raffael mengudara, lalu memberikan secarik bukti bahwa wanita itu telah menggadaikan mobilnya untuk biaya perawatan orang tuanya.
Hanya bisa menunduk lesu, bibir Key semakin terasa kelu dan kaku. Netranya menatap nanar lembaran putih yang disodorkan oleh Raffael. Dia tidak mengerti dari mana sahabatnya itu mendapatkan bukti itu .
"Raffael ...."gumamnya lirih lalu menunduk setengah berpaling malu.
"Aku tidak mau melihatmu seperti ini. Kenapa kau sangat keras kepala. Apakah kau tidak bisa sedikit saja berhutang padaku, kalau kau sangat malu untuk meminta?" Raffael yang dibuatnya kecewa karena Key selalu menganggapnya seperti orang lain terlihat kesal.
"Aku mohon. Jangan marah padaku. Aku hanya tidak ingin menyusahkan banyak orang," jelasnya dengan bibir bergetar.
"Apakah aku kelihatan sangat menakutkan,Key!" tegas Raffael. Hatinya tidak tenang setiap melihat wajah cantik itu menghadapi kesulitannya sendiri. Raffael tidak menyukainya, saat Key tertutup dengan semua permasalahannya dan dia menyukai wanita yang bergantung padanya.
"Apakah kau tidak percaya padaku? Berapa kali aku harus mengatakan padamu? Mobilmu sudah aku tebus dan orangku sedang mengantarkannya ke rumahmu. Kalau kau merasa berhutang padaku, kembalikan jika kau sudah mempunyai uang," tandas Raffael dengan kecewa dan berdiri berlalu pergi.
"Raffael, tunggu!" suara Key terdengar memekik dan bergegas mengekor kaki Raffael yang berjalan mendahuluinya
"Raffael! Aku mohon. Maafkan aku!" Setengah berlari, tangannya meraih lengan kokoh itu sampai berhenti. Keduanya saling menatap dalam diam.
"Maafkan aku." Key melepas pegangan tangannya perlahan dan kembali berjalan mensejajari Raffael.
"Kita akan kemana?" Key yang memasang wajah bingung oleh sikap Raffael yang kini tetap bergeming sedikit terseok.
"Menurutmu?"tolehnya dengan menautkan sebelah alisnya.
__ADS_1
"Kau bilang kita bertemu di sini untuk memperkenalkan pujaan hatimu itu, tetapi ternyata tidak jadi. Apakah aku boleh pulang lebih dahulu?" tanyanya hati-hati.
Raffael tersenyum masam. "Pulanglah, Nona! urusan kita sudah selesai," tegas Raffael.
Rasa nyeri dalam hatinya, membuat langkah kakinya berhenti dan membiarkan Raffael tetap berjalan. Tanpa terasa air matanya kembali menetes. Entah kenapa setiap ucapan dan tindakan pria itu begitu mudah membuatnya bersedih dan melankolis.
Merasakan tidak ada pergerakan yang mengiringinya, Raffael menolehkan kepalanya ke belakang. Dilihatnya Key yang diam terpaku di tempatnya dan dengan gerakan memutar, tubuh pria itu berjalan mendekat lalu diraihnya jemarinya dengan lembut.
"Kau benar-benar tidak ingin pulang bersamaku?" tanya Raffael kesal tanpa melepas genggaman tangannya bahkan kali ini mencengkeramnya.
"Kau sendiri yang menyuruhku untuk pulang." Key kembali tertunduk dengan sedih.
Raffael menggelengkan kepalanya gemas dan membuang napasnya yang terdengar berat.
"Apakah hanya Andreas saja yang berhak mengantarmu pulang?" tanya Raffael dingin.
"Dia yang memaksa, Raffael ...."
Suasana hening kembali tercipta untuk beberapa menit hingga sampai ke mobilnya. saat ini pria itu mulai menyetir. Key memilih diam. Begitu banyak hal yang ingin dibicarakan padanya, tetapi mulutnya seakan terkunci.
"Besok, aku ingin kau membantuku mempersiapkan pesta kejutan untuk Nova." Raffael melirik Key yang duduk terdiam di sampingnya.
"Pesta kejutan?" Seketika hatinya kembali terasa nyeri.
"Hemm ... minggu depan dia kembali,aku ingin semuanya menjadi surprise untuknya."
Gurat bahagia jelas terpancar di wajahnya, mungkin saat ini adalah senyum paling indah yang sedang Raffael tunjukkan padanya. Kenyataan ini membuat Key semakin merasa tersisih.
Jelas saja kau lebih memilih Nova dibandingkan aku. Siapa sudi mencintai perempuan susah sepertiku. Orang yang banyak menyusahkanmu. Raffael, sekalipun aku belum pernah bertemu dengannya, tetapi aku bisa merasakan cinta yang luar biasa yang sedang kau tunjukkan padanya.
Memindai diam-diam wajah Raffael yang sedang fokus menyetir. Ia mulai berfikir untuk menjaga jarak dengannya. Semua Ia lakukan untuk menyelamatkan hatinya. Perasaan yang sudah bertahun-tahun bersemayam dalam hatinya, akan Ia kubur dalam-dalam.
"Ada apa? Kenapa diam saja?" Raffael menoleh sekilas dan kembali fokus menyetir.
"Aku sedang berfikir pesta kejutan apa yang sedang kau rencanakan?"
Raffael tersenyum sambil menolehnya sekilas. "Nanti kamu juga tahu. Aku cuma ingin mencari tempat terbaik saja. Apakah kau ada ide?"
Wanita itu tampak berpikir setelah terdiam. "Apakah kau sudah sangat mengenal Nova? Maksudku, mungkin kamu bisa mencari tahu apa yang menjadi kesukaannya."
"Aku bertemu baru berapa kali saja, tetapi aku langsung jatuh cinta padanya."
Secepat itukah dia merebut hatimu, Raffael. Sekarang aku tersadar, aku tidak akan memaksakan waktu untuk mengatakan bahwa kau mencintaiku," lirihnya hanya sanggup mengalun dalam hati.
"Hey!" Raffael melambaikan tangannya di depan wajah Key yang sedang terdiam.
"Apakah kau ada ide?"
"Berikan apa saja untuknya yang membuat Nova bahagia."
"Contohnya?"
"Apa saja yang disukainya."
Raffael tersenyum mendengarnya.
"Hem ... dia sangat cantik, glamour, ****, fashionable dan sedikit manja." Kembali pria itu menoleh ke arah Key yang tampak memandang lurus ke depan.
"Dia menyukai sesuatu yang mewah dan high class. Berikan padanya surprise party yang mewah dengan hadiah yang paling istimewa. Pasti dia akan suka," saran Key tanpa menoleh.
"Hadiah paling istimewa?"
"Perhiasan,mobil mewah, baju-baju branded dan segala sesuatu yang bisa menunjang penampilannya, pasti dia suka. Bukankah itu sangat mudah untukmu?" imbuhnya dengan menoleh agak malas.
Raffael terkekeh. "kamu yakin?"
"Tentu saja."
"Tetapi kau tidak menyukai hal seperti itu? Bukankah kau adalah putri dari keluarga Tirta Wijaya yang sempat berjaya pada masanya?"
"Aku mohon jangan membahasnya," pintanya dengan mimik sedih.
Kembali pria itu mematri sebuah senyuman. Masih segar dalam ingatan Key pernah berada di puncak tertinggi. Merasakan bagaimana bergelimang kemewahan di era ke emasan TIRTA WIJAYA GROUP. Tetapi hal itu tidak membuatnya lupa untuk berpijak. Dia tetap menjadi sosok yang sangat sederhana dan dermawan jauh dari kata bermewah-mewah apalagi menghamburkan uang.
"Itu sudah berlalu Raffael, dan aku tidak mengukur segalanya dari itu. Semua orang mempunyai cara pandang yang berbeda, begitupun dengan Nova. Aku cuma menduganya saja. Bisa jadi aku salah, karena orang yang paling tahu kebenarannya adalah Nova sendiri."
"Mungkin saja, begitu," balasnya singkat.
"Pintarlah sedikit saja. Seperti saat kau mengendalikan ANTARA. Kenapa kau mendadak jadi bodoh untuk urusan cinta dan wanita?" tukas Key sedikit mengejek.
"Aku sudah katakan, aku tidak paham bagaimana menyenangkan wanita, kecuali dengan uangku." Pria itu tersenyum smirk.
Key melirik sinis Raffael.." Ya, bahagiakan dia dengan uangmu,Tuan Muda! Bukankah aku sudah sarankan seperti itu? Mobil mewah, rumah mewah, barang branded dan___"
__ADS_1
"Dan?" tanya Raffael sambil mengerutkan dahinya.
"Yang terpenting untuk seorang wanita adalah ketika sepenuhnya ada dalam hati pria yang dicintainya. Itu lebih dari apapun, bahkan melebihi uang -uangmu itu," ejek Key menatapnya sinis.
Raffael tercengang.
"Tetapi tidak berlaku untuk perempuan atau lelaki yang tidak tulus mencintai pasangannya," ceramahnya lagi.
Pria itu menatap Key dengan tersenyum "Apakah itu juga berlaku untukmu?"
"Sudahlah, Raffael. Jangan membuatku seperti dokter cinta! Fokuslah untuk menyetir. Satu hal lagi, kalau Nova tulus mencintaimu, dia akan menghargai apapun yang kau berikan padanya."
Raffael terkekeh mendengarnya kali ini. "Baiklah tuan putri."
Bibir wanita itu tampak mengerucut.
"Kita tidak boleh menilai orang dari luarnya saja ..." ujarnya pelan. Kamu tahu kekayaan yang melimpah terkadang menjadi boomerang yang menghancurkan semuanya. Keluargamu, keluargamu pernah merasakan itu semua," nasehatnya kembali bijak.
"Semua sudah berlalu dan kau tidak sendiri," hibur Raffael. Tangannya terulur,meraih jemarinya dan menggenggamnya untuk memberikan kekuatan. Keduanya saling menatap dengan ekpresi yang tidak pernah dimengerti.
Apakah kau juga akan menggegam tanganku seperti ini, suatu saat aku terjatuh dan sudah ada orang yang mengisi ruang hatimu.
Key tersenyum. "Terimakasih."
"Kita pernah berada di titik terendah. Kamu ingat sepuluh tahun yang lalu? Apa yang menimpa keluargaku?" Raffael sedikit mengingatkannya.
"Aku berada di titik sekarang, karena persahabatan kedua orang tua kita dan bantuan dari keluargamu juga."
"Itu tidak benar, kamu seperti sekarang karena karena kau dan Tuan Bimantara memang berkompeten untuk mengelola perusahaan." Key tidak menutup mata dengan pencapaian fantastis pria itu.
"Teruslah memujiku, Key, " kata Raffael melepas tangannya perlahan dan kembali fokus menyetir.
"Aku bicara kebenaran, Raffael."
"Itu sebabnya kau selalu menolak bantuanku, karena kau menganggap bahwa Om Tirtawijaya tidak pernah punya andil pada awal berdirinya ANTARA GROUP? Dengan mimik kecewa.
"Kalian berdua yang sangat hebat dan bisa bangkit dari keterpurukan," balasnya apa adanya. Memang benar ada bantuan kedua orang tuanya tetapi itu tidak mutlak. Keluarga Raffael mengembalikannya di kemudian hari.
"Kalau kau selalu memberiku kemudahan, aku takut suatu saat kau tidak ada, sahabatmu ini akan menderita dan menjadi gila! Key berseloroh sambil tertawa.
"Jadi selama ini kau berpikir seperti itu?"
"Itu kebenarannya, Raffael. Apakah selamanya kau akan mengurusiku?"
Dengan membuang napasnya kasar kembali pria itu bersuara. "Aku tidak sejahat itu Key."
"Ini bukan perkara jahat atau bukan.Tentu saja sahabatku ini, adalah orang yang sangat baik." Key memuji dengan senyum terkembang sempurna menoleh Raffael yang sedang fokus menyetir ikut melebarkan senyumnya.
Keduanya kembali saling menatap. Raffael menyasar wajah perempuan yang sedang berada di sampingnya.
Sesaat kemudian dia kembali mengingat peristiwa di masa lalu yang membuat keluarganya hancur berantakan, begitupun keluarga Key yang sampai sekarang masih menjadi tanda tanya besar untuk dirinya.
"Jangan pernah merasa sendiri, selama aku masih hidup, kamu tidak boleh kesulitan, tetapi kau sangat keras kepala dan malah memilih bekerja untuk Andreas!" protesnya.
"Sudah. Jangan dibahas lagi. Fokuslah untuk menyetir."
Key tidak mau mematik kesalahan pahaman lagi. Baginya Raffael memang sahabatnya, tetapi terkadang dia kesulitan membaca arah pikirannya dan hatinya. Seperti sekarang ini, dia harus merasakan getirnya jatuh cinta sendirian. Semua perhatiannya tulus, pengorbanannya tidak main-main,
tetapi itu bukan cinta melainkan persahabatan yang mereka jalin dan yakini.
Saat suasana kembali hening, netra indahnya menangkap sesuatu yang janggal. Sebuah Lamborgini Aventador terus mengikutinya. Dengan sengaja dia menurunkan kecepatannya berharap mobil itu menyalipnya, tetapi ternyata mobil itu terus menjaga jarak dengannya, hingga pada akhirnya dia sengaja berhenti di bahu jalan. Hentakan keras seketika membuat Key kehilangan keseimbangan.
"Raffael...!! Apa yang terjadi!" teriak Key.
Dave, ada apa dia mengikutiku.
Mobil itu melintas dengan deras saat Raffael mengerem mendadak.
"So____sorry. Apakah kau baik-baik saja?" dilihatnya key dengan napas tersengal, wajahnya pucat. Rasa takut memenuhi wajahnya.
"Sudah aku bilang, fokuslah untuk menyetir.Jemarinya merapikan anak rambut yang berantakan karena Raffael yang mendadak menghentikan mobilnya.
"Kita putar balik. Urusan Nova biar Jordan yang mempersiapkan semuanya," beritahunya. Pria itu mengulurkan satu botol air mineral untuk meredam kecemasannya.
"Apakah ada masalah serius?"
Menggelengkan kepalanya sekali lagi, Raffael kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan menggila.
Menjadi pewaris tunggal setelah orang tuanya mempercayakan ANTARA GROUP di tangannya dan diam-diam merangkul sebagian besar karyawan TIRTA WIJAYA GROUP di masa lalu yang terancam kehilangan pekerjaannya, akibat menghindari PHK besar-besaran membuat Key sangat menghormati keluarga pria di sampingnya itu.
Dave, boleh jadi 10 tahun yang lalu, aku adalah anak ingusan yang kau benamkan kedasar bumi, tetapi aku sekarang adalah ANTARA GROUP.
___________
__ADS_1
Catatan penulis:
Sahabat tersayang Jangan lupa like dan komennya,ya.Take care, jaga kesehatan.Terimakasih 🙏🙏