
Raffael mendapati Key diam mematung di depan kamar utama mansion. Ia menangkap keraguan wanita itu untuk masuk. Sebuah hand bag kecil masih tersampir dibahunya.
Raffael memelankan langkahnya dengan sedikit menahan hentakan kakinya. Mengulas senyum tipis lalu berjalan lebih dekat dan lebih dekat lagi kearahnya.
Pundaknya berjengit kaget, saat dirasakan ada yang memeluknya dari belakang. Aroma musk yang menguar dari dalam tubuhnya, tidak perlu untuk berpikir satu detik pun untuk menebak, siapa yang sedang menenggelamkan wajahnya diantara bahu indah miliknya. Dan menghirup kuat-kuat aroma vanilla Lace diantara leher jenjangnya.
Untuk sepersekian menit hanya keheningan tercipta, diantara keduanya
tanpa ada yang berniat berubah posisi. Darah Key berdesir halus laksana sebuah sengatan listrik yang merajai setiap sel-sel darahnya. Tubuhnya mulai meremang seketika membuat kedua kakinya terasa melemas.
Oh dewi cinta, sihir cinta apa yang sedang kau tawarkan padaku.
Keduanya saling memejamkan matanya.
Menikmati sensasi yang ditawarkan oleh
semesta yang terasa begitu indah dan terasa memabukkan.
Hingga dirasakan dagu Raffael yang tertahan di bahunya dengan cukup lama.
Sebuah kecupan kecil mendarat dengan
lembut tepat dipipi sisi kanannya, sukses membuat key tersipu dan kembali menawarkan rona merah diwajahnya.
"Beberapa saat yang lalu, kau terlihat nakal sekali, "mana keberanianmu itu,
sayang," bisiknya ****. Napasnya terasa
hangat dan memburu menerpa daun telinganya mengalirkan sensasi yang
tidak bisa dijabarkan.
Raffael memutar badannya dengan pelan, membuat kedua manik mata mereka saling mengunci. Matanya berkabut gairah melihat bibir Key yang merekah, namun sesaat kemudian dia mengerang frustasi saat terdengar langkah kaki seseorang mendekat.
Seorang pelayan datang dengan nampan ditangannya yang sedang membawa minuman untuknya.
"Tuan muda dan Nona, maaf mengganggu. Silakan di minum," Tangan
wanita itu sedikit bergetar meletakkan gelas di atas meja dan buru-buru berlalu.
Key terkikik melihat Raffael yang merasa kesal. "Tuan muda mesum, "Ini hukuman bagimu," langkahnya terayun pelan untuk meraih segelas orange juice dan meminumkannya kepada Raffael.
Pria itu menyeruput minumnya tanpa
melepas fokus dari wajah cantik yang
sedang berdiri dihadapannya. Sementara
Key hanya senyum-senyum melihat expresi kesal Raffael.
"Thanks goodness, aku selamat, tuan muda. Anda sedang tidak beruntung," Kerling mata indahnya yang menawan
membuat Raffael mengumpat di dalam hati.
Hatinya semakin menjadi kesal, saat sebuah panggilan telepon masuk kembali
mengusiknya dan membuatnya terlihat
semakin sibuk berbicara dengan rekan
bisnisnya.
Sementara wanita itu masuk ke dalam kamarnya memandang sekitar ruangan. Barang-barang miliknya tersusun dengan
rapi. Setangkai bunga mawar putih ( Rosa Alba) terlihat di sudut mejanya.
Dan ingatannya kembali kepada seseorang yang menaruhnya di
ruang bekerjanya setiap hari.
Key menggeleng pelan dengan pikiran
tidak nyaman. "Aku harap dugaanku salah, aku sedang tidak ingin menyakiti
__ADS_1
hati siapa pun itu."
"Astagaaaa!" Tangannya terangkat menutup mulutnya dengan manik mata yang membola.
"Aku berjanji akan menemani Andreas untuk menghadiri pesta pernikahan rekan
bisnisnya Minggu ini. Aku akan resign sebentar lagi, mudah- mudahan dia tidak
mengulur- ulur waktunya."
Tangannya menekan pelipisnya dengan keras, mencari cara untuk membatalkan
janjinya itu. Bagaimanapun hatinya sudah
terikat oleh Raffael dan tidak pantas rasanya berjalan berduaan dengan pria
yang lainnya, mengingat itu bukanlah acara kantor.
"Apa ada yang kau pikirkan?" Sebuah suara menginterupsi ditengah-tengah keheningan kegundahannya hatinya.
Tangan Raffael mengambil setangkai
mawar putih dan menampakkan dahinya
yang berkerut. "Dari kapan kau menyukai
mawar putih?" Ekor matanya melirik Key yang sedang duduk di sofa pojok kamarnya.
Aku tidak tahu, setiap hari ada orang yang menaruh di meja kerjaku.
Darah Raffael terasa mendidih, dia sudah bisa menebak itu adalah pemberian, Andreas.
"Kau menyukainya? Bahkan kau sampai
membawanya ke rumah?" tanyanya mulai
tidak ramah. Kemudian dengan kasar Raffael melemparkannya ke tong sampah.
"Yang menaruh office boy, Honey, untuk sekedar penyegar ruangan dan aku mengambilnya beberapa tangkai saja, karena baunya yang enak. Aku tidak menyangka anak buah jasson akan membawanya kemari," jelasnya lagi.
yang asyik menata beberapa barang miliknya.
"Yang menyuruh?" Wanita itu sepontan menoleh dengan dahi berkerut.
"Iya. Kali saja Andreas yang menyuruhnya, "Bukankah dia juga sangat perhatian padamu?" tebaknya dengan jengah.
"Aku akan mengatakan kita sedang menjalin kasih. Aku tidak suka kita bersembunyi, "bukankah itu yang seharusnya terjadi?"Jadi aku tidak perlu
berpikir keras, setiap saat untuk menolak kebaikannya," ucapnya tanpa menoleh.
"Setidaknya dia tidak akan berani untuk
menyuruhmu memakaikan dasinya lagi," ketus Raffael.
"Apa itu setiap hari?" Raffael menatapnya
curiga.
Key menggeleng pelan. Ia tahu Raffael sedang cemburu. "Itu bukan pekerjaan
sekretaris, aku melakukanya sekali, "itupun karena ada accident kena tumpahan air, dan dia sedang menerima
telepon."
Raffael mengepalkan tangannya. Kalau
saja Andreas bukan sahabatnya, ingin rasanya ia sudah melayangkan bogem
mentah untuknya.
Key datang menghampiri Raffael yang duduk menyender di sofa kamarnya.
Dan tangannya mengelap keringat Raffael yang tampak kesal.
"Kita baru saja jadian sehari saja, apa harus kita salah paham seperti ini?" Key
__ADS_1
merajuk duduk dengan malas di samping, Raffael. Pria itu tersenyum masam dan
mengacak rambutnya dengan sayang.
"Sorry,baby. Aku kembali dahulu ada Jordan menunggu," ucapnya. Dia sedang
tidak ingin memikirkan apapun kecuali
kebahagiaan wanitanya itu.
"Kamu pulang kemana?"
"Rumah pribadiku saja, yang dekat dengan mansion," jawabnya masam.
"Mami menunggumu!" protesnya.
"Besok siang aku akan mengantarkan mereka kemari, sudah saatnya mereka tahu semuanya, lagi pula aku sadar posisiku sudah tergantikan oleh mereka, sekarang, "rupanya," lirik Raffael sekilas dan tersenyum di sertai gelengan kepalanya.
"Maksudmu?"
"Mami lebih menyayangimu, dari pada aku," Kekeh Raffael.
"Hemm ... kamu tahu, berapa kali mami menelponku?" Padahal baru saja kita dari sana.
Raffael menunjukkan puluhan kali missed call dari nyonya Wijaya yang menanyakan keadaan keluarga besarnya dan juga wanita cantik itu.
"Aku memang sangat beruntung. Aku punya pangeran tampan dan juga calon mertua yang sangat perhatian. Aku akan cuti besok. Aku juga sudah memutuskan untuk resign," seketika senyum Raffael terbit diwajahnya.
"Kamu bersiaplah, begitu masalah ini bergulir dan mami tahu kau adalah calon
menantunya, "Kau harus membantuku mengangkat teleponnya," seloroh Raffael sambil tertawa.
"Terimakasih. Kamu juga berhati-hatilah."
Siang itu Raffael meninggalkan Mansion dengan tergesa walaupun ada perasaan malas untuk meninggalkan Pujaan hatinya.
Ya, Tuhan, Raffael, bersabarlah. Sebentar lagi kau akan melihatnya setiap hari bahkan memakannya setiap saat kau mau.
๐๐๐
Sementara ditempat terpisah terlihat
Andreas sedang termenung. Key sangat sulit dihubungi dan juga mendapat laporan bahwa keluarganya tidak berada
di tempatnya lagi.
Andreas bukanlah orang yang tanpa kekuatan, bahkan dia bisa mengerahkan
siapa saja untuk mencari seseorang yang
diinginkannya.
Pria itu tampak berpikir keras dengan menekan pelipisnya dengan sangat kuat.
Wajahnya semakin mendung saat dia datang ke Butik dan tidak menjumpai wanita itu di sana.
"Apakah kau sedang ada masalah?" Hatinya semakin gundah saat Key mengirim sebuah pesan tiba-tiba untuk mengambil cuti tahunannya yang tersisa.
Dan minta maaf tidak bisa menemaninya
untuk datang kepernikahan rekan bisnisnya.
Tetapi begitu dihubungi, ponselnya kembali tidak aktif. Hal ini membuat Andreas menyisakan banyak tanya dalam benaknya.
"Aku harus mencari tahu apa yang terjadi." Terlebih beberapa hari ini ada
laporan dari anak buahnya, ada seseorang dengan gerak-gerik mencurigakan mengawasi kediaman keluarga besarnya.
______________________
Sahabat tersayang ๐น
jangan lupa untuk like dan komennya, ya!
__ADS_1
Terimakasih.