
Raffael tersenyum tipis dan perlahan mematikan panggilannya. Lalu sebelah tangannya memasukan ponselnya ke dalam saku celananya.
"Kau?" Dengan ragu melangkah mendekat. Malam itu Key sangat cantik
dengan blazer tebal warna putih model
kimono. Raffael tidak berhenti untuk mengagumi kecantikannya, terlepas dengan apa saja yang melekat pada tubuhnya.
Less is more. Hal sederhana pun kalau sudah menempel pada tubuhnya, terlihat
sangat menawan dan elegan. Tidak perlu
makeup tebal, tatanan rambut wah, tetapi
kekurangannya itu adalah kelebihan yang
membuatnya terlihat semakin menawan.
"Apakah Nova marah kepadamu?"
Wajahnya mendadak mendung. Dia memang pantas untuk dipersalahkan. Gara-gara urusan keluarganya, Raffael menomorduakan Nova dan selalu menjadikan dirinya prioritas utama.
Kalau dia ada di posisi itu, pasti juga akan salah paham dan mungkin juga akan merasa cemburu.
"Aku sudah bilang, jangan dipikirkan. Apakah kau sudah mau tidur?"
"Tidak bisa seperti itu, Raffael. Kau harus
bisa membedakan mana sahabat dan cintamu. Apakah kau pernah berpikir kalau itu ada diposisimu? Kekasihmu lebih mengutamakan orang lain dari pada
diri kamu sendiri.
Raffael terpaku sesaat dan menatapnya
dengan sangat lama.
Tentu saja Aku tahu. Karena alasan itu, aku menjauhkanmu dengan, Andreas.
Key berjalan menuju balkon dan berpegangan dengan pagar besi, untuk
berdiri sejajar dengan Raffael. Rasa perih
dalam hatinya mulai dia abaikan. Toh, seiring berjalannya waktu semua pasti terjadi.
Raffael pergi dari hidupnya dan mempunyai kehidupannya sendiri. Ia yang harus mulai tahu diri. Dalam berjanji, selepas kasus Tirtawijaya group selesai, ia akan melepaskan cintanya untuk pria itu.
Kenapa kau selalu menasehatiku tentang hubunganku dengan Nova? Apakah itu artinya kau tidak ada perasaan apa-apa
padaku?
Raffael menatapnya kecewa mulai insecure dengan dirinya sendiri. Apapun alasannya dia tidak siap
untuk ditolak. Lama keduanya terdiam
sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Aku yang salah. Coba kamu pikirkan, kalau Nova tahu aku menginap di sini menikmati fasilitasmu dan memakai baju yang kamu belikan ini," tunjuknya pada diri sendiri.
"Belum, esok hari tinggal di Mansion mu, aku benar-benar seperti benalu yang___"
"Cukup! Aku tidak mau mendengarnya lagi."
Raffael mendesahkan napasnya kecewa "Aku rasa kamu tahu alasannya.
semua demi kebaikanmu dan keselamatan keluargamu."
Key mengalah. Ia sudah tidak berniat lagi mendebat Raffael atau dia benar-benar akan marah padanya.
"Maafkan aku ...."
Seharian pikirannya terkuras oleh ego yang dipaksakan oleh Raffael. Semua hanya tentangnya saja, caranya dan inginnya. Memang semua tujuannya baik, tetapi itu sangat berlebihan menurutnya.
Key membatin.
__ADS_1
Tangannya menyalakan tombol on pada ponselnya. Seharian dia telah mematikannya. Selain ingin menikmati hari liburnya, Ia tidak ingin memikirkan apapun di saat sedang tidak bekerja.
Sejenak wanita itu lkembali tertegun. Puluhan kali Andreas menelpon, bahkan ada pesan dari orang tuanya kalau Pria itu datang ke rumahnya dan beberapa pesan darinya di samping beberapa pesan dengan nada mencemaskanya
Benar saja, belum lima menit ponselnya
aktif, sebuah panggilan masuk tertera pada layarnya.
Andreas datang ke rumah? Ada apa?
"Selamat malam, maaf aku baru mengaktifkan, ponselku," jawab Key dengan suara mengambang.
Raffael melirik Key sekilas yang sedang menerima panggilan masuk dan kembali
menatap pekatnya malam.
Terdengar Bos-nya itu mencecar dengan beberapa pertanyaan, tentang bagaimana keadaannya, tetapi tak satu pun t berkaitan dengan pekerjaannya.
"Kau datang ke rumah? Aku baik- baik saja, terimakasih telah mencemaskanku," ucapnya pelan.
Darah Raffael langsung berdesir, tidak perlu satu kali untuk bertanya, Ia sudah bisa menebak suara yang terdengar samar-samar karena Key berdiri dekat di sampingnya.
Andreas datang ke rumah, Key. Mungkinkah besok juga akan datang
ke mansion? Tidak, mansion itu sangat rahasia untuk keluarga Key.
"Raffael, aku mengantuk. Aku permisi dahulu. Ia berbalik dan berniat pergi ke
kamar yang telah disediakan oleh pria itu yang berada di samping Privet room milik
Raffael.
"Tunggu sebentar. Andreas datang ke rumah di saat kau libur?" Raffael berjalan mendekat berdiri di hadapannya dengan dahi bertaut. Keduanya tangannya kembali mengepal tersembunyi di sebalik saku celananya.
"Iya. Hanya sekedar tanya keadaanku."
"Key?" tanyanya ragu.
Wanita itu menegakkan kepalanya dengan matanya mengejab indah.
"Ada apa," jawabnya lirih.
Tentu saja pernah, dan orang itu adalah
kau, Raffael.
"Maksudmu?" tanyanya dengan sorot mata sendu.
"Dengan Andreas ataupun dengan yang lainnya?" Dengan dada bergemuruh, pria itu menajamkan telinga menanti sebuah jawaban perasaan was-was.
"Ti__ Tidak pernah." Walaupun dengan sangat menyesal, Ia mengatakan itu. Sesak itu kembali menyandra hatinya, karena merasakan hal yang berlawanan dengan apa yang diucapkan.
Raffael memejamkan matanya sebentar. Tangannya kembali meremas emosional di sebalik saku celananya. Telinganya tidak siap mendengarkan penolakan. Sekarang sudah jelas di antara mereka tidak pernah terjalin suatu hubungan apapun itu.
'Lama- lama aku seperti pengecut.'
Raffael tak lantas akan menyerah. Seumur hidupnya dia cuma memikirkan wanita itu saja dan bisa melakukan apa saja demi wanita itu.
Secerah harapan kembali terbit,
saat mengingat, Andreas. Setidaknya Key juga tidak mencintainya. Itu artinya
dia dan karibnya itu sekarang sama-sama
sedang berjuang memenangkan hati putri tunggal Tirta Wijaya itu.
Raffael tersenyum miris menertawakan diri sendiri. CEO ANTARA sekelas dirinya, ternyata juga tidak bisa
memikat seorang wanita yang dikenalnya
sejak lama. Key yang sesaat lalu fokus menatap gelap malam akhirnya memutuskan pergi dari hadapan Raffael.
"Good night. Kamu juga beristirahatlah"
"Hemm ..."
__ADS_1
Pria itu hanya sanggup menatap punggung indah yang sedang bergerak menjauh. Hatinya tersenyum menyadari malam ini Key tidur di samping privet room yang sangat dekat dengan kamarnya.
Harusnya aku menyeretmu ke ranjang ku.
Raffael mendesah panjang mendapati kegilaannya.
πππ
Dengan menyapukan pandangannya, Key
langkahnya terayun pelan menuju walk in closet, karena penasaran dengan apa yang telah disediakan oleh pelayan itu untuknya.
Beberapa potong gaun malam, pakaian tidur, bathrobe, makeup favoritnya dari brand ternama dan beberapa pasang sepatu serta sendal santai Yang sangat pas dikakinya.
Wanita itu langsung dahinya berkerut dengan bola mata menyala terang mendapati keberadaan lingerie **** berwarna hitam dan merah menyala, yang mengalirkan hawa meremang, hanya dengan membayangkannya saja.
"Menyebalkan! Pasti kau yang memerintahkannya."
Langkahnya beranjak ke kamar mandi untuk menggosok gigi dan tanpa berniat berganti pakaian, Key merebahkan tubuhnya.
Hari ini semua sangat berkesan, Perlakuamu yang sangat manis tetapi juga sangat menyebalkan, begitupun betapa hangatnya keluarga besarmu saat menyambutku. Seandainya saja....
"Raffael ... "bisiknya lirih. Sampai kapan aku akan berhenti menangisimu?" Lalu kemudian sejenak mengingat Andreas.
Key menggeleng pelan. "Menggeser Raffael dan memasukkan Andreas dalam hatinya? Bahkan hatiku tidak sesiap itu, walaupun tidak dipungkiri Pria itu sangat baik padanya.
"Bukankah Raffael juga luar biasa baik?" Tetapi tetap saja bukan cinta, aku tidak
akan berandai-andai kali ini. Kembali dipeluknya guling itu untuk menumpahkan air matanya dalam sepi.
Malam sunyi, musim dingin yang telah datang dan terkadang disertai dengan hujan ringan kembali terdengar. Raffael gelisah dalam hatinya, sangat sulit untuk memejamkan matanya. Kedatangan Jordan beberapa saat yang lalu membawa bukti baru yang tidak kalah menyayat hatinya.
"Diduga Tirtawijaya hancur karena berani mengucurkan dana segar di awal berdirinya Antara, karena konflik keluarga yang tidak bisa dihindarkan. Saat Papi memutuskan untuk keluar rumah." Bibir Raffael bergetar.
Kenapa menuggu lima tahun kemudian dia menghancurkan Tirtawijaya group?
Karena Antara meroket dan mengancam
keberadaannya. Walaupun tidak mutlak
dana dari keluarga besar Key, karena ada dana pinjaman dari bank dalam jumlah yang tidak main- main saat itu.
"Keluarga Dave dan Danu purba berkomplot, itu artinya ada kedekatan khusus di antara mereka."
Dengan tangan terkepal meredam amarah, Raffael melihat beberapa foto kebersamaa Nova dan Dave, pada sebuah club malam. Hampir setiap malam sejak kepulanganya dari Sydney.
"Sudah jelas wanita itu ada keterkaitannya dengan Danu purba."
Berarti secara tidak langsung, keluarganyalah yang ikut andil membuat Tirtawijaya hancur dan membuat Key sangat menderita.
Raffael merasakan dadanya yang mendadak sesak. Pria itu meluruhkan tubuhnya karena mendadak kakinya ikut lemas. Entah kenyataan apa lagi yang akan dilihatnya setelah hari ini, benar-benar membuatnya sangat frustasi.
"Siallll!" teriaknya keras. Matanya memerah dan rahangnya mengetat. Ia pejamkan matanya untuk menahan rasa sakit yang menusuk hatinya. Keringat dingin membanjiri tidak peduli cuaca yang sedang dingin saat itu.
Dia dari awal memang mencurigai Dave terlibat, tetapi dengan motif dana yang mengucur ke Antara membuat Raffael begitu terguncang.
"Key, maafkan keluargaku." Rasa sakit itu menyeruak dalam dada, mengingat nama wanita itu. sekarang dia mulai berpikir apakah dirinya pantas untuk bersanding dengan wanita itu.
Papi dan Mami? Apakah mereka siap mendengar kenyataan ini?
"Apakah kau sudah tidur? Aku berjanji akan mengembalikan semua hakmu.
Kalau perlu aku akan memberikan beberapa perusahaan milikku atas namamu, tidak peduli aku tidak memiliki
apapun."
Raffael berjalan pelan menunju privet room dan dengan ragu menekan tombol
rahasia. Seketika lift yang warnanya tersamarkan dengan warna tembok itu
terbuka dan memperlihatkan seorang wanita yang tertidur pulas dengan blazer
yang masih melekat pada tubuhnya.
___________________
__ADS_1
Sahabat tersayang πΉ
Jangan lupa tinggalkan like dan komennya, ya! Terimakasih π