
Memelankan langkahnya dan menoleh sekali lagi, sebelum pada akhirnya membuat Andreas benar- benar meninggalkan pulau itu dengan Donny yang sudah setia menunggu di Mobilnya.
"Jalan Donny."
"Tuan muda, apakah kau baik-baik saja?"
Sedikit menatapnya heran dengan kepala menoleh ke belakang, mendapati Andreas yang sedang duduk di jok mobil mewah dengan memainkan ponselnya.
"Aku tidak apa-apa."
Donny terdiam dan tidak ingin bertanya lagi. Semenjak penantian cintanya berujung pada kekecewaan, pria tampan itu lebih banyak diam dan memasang muka yang lebih tenang, walaupun garis kesedihan itu belum sepenuhnya luntur dari wajahnya.
Syukurlah. Setidaknya aku tidak melihatnya lagi, minum dan merancu yang tidak jelas. Kalau Tuan besar tahu bisa gawat.
Melaju dengan kecepatan penuh menuju ke sebuah bandara di pulau B dan memutuskan untuk kembali pulang lebih cepat, karena sepenuhnya, Andreas benar- benar ingin fokus kembali dengan pekerjaan yang belakangan sangat menguras pikirannya.
Hatinya yang bergejolak ternyata tidak hanya menimbulkan dampak yang serius pada pekerjaannya, serta hubungan baiknya dengan Raffael. Namun demikian, sedikit demi sedikit ia mulai memperbaikinya. Walaupun keadaan belum seperti semula. Terlebih Key wanita yang pernah sepenuhnya bertahta dalam hatinya, belum bisa ia temui untuk sekedar minta maaf karena kekacauan yang dibuat oleh Clara.
"Aku pasti bisa." Andreas bergumam tanpa sepengetahuan, Donny.
Pria itu menatap lepas ke arah luar jalanan. Sekedar menyemangati dirinya sendiri. Senyum tipis ia sunggingkan di bibirnya, hingga sebuah privet jet telah menunggunya diikuti oleh beberapa bodyguard yang biasa mengawalnya mengikutinya dari belakang.
Malam itu juga penerbangan yang sangat nyaman membawanya kembali ke Ibu Kota. Kehidupan harus tetap berjalan, terlepas seberapa berat keadaan pernah memporak-porandakan hatinya. Untuk ketenangan hatinya, pria itu memilih tinggal dengan kedua orangtuanya. Setelah sebelumnya lebih suka tinggal sendiri di kediaman pribadinya.
Tuan Wiratama tersenyum melihat putra sulungnya kembali ke rumah dan berjalan menghampirinya.
"Andreas ... kamu sangat yakin ingin memegang kendali perusahaan yang ada di L.A?"
Andreas mencari sumber suara orang yang sangat dikenalnya dengan sedikit menyunggingkan senyumnya.
"Kenapa? Apakah papa meragukan' ku?" Tangannya mematikan layar monitor dan menutupnya dengan pelan.
"Tentu saja tidak, sayang. Papa hanya terkejut saja dengan keputusanmu yang tiba-tiba," selidiknya menangkap perubahan pada wajah putranya.
"Saya tidak pernah bermain-main dengan keputusanku, papa. Kecuali papa menginginkan Stevi yang berada di sana untuk menjadi pimpinan masa depan."
"Oh, tentu saja tidak. Adikmu itu masih duduk di bangku kuliah. Papa ingin dia menyelesaikan pendidikan terlebih dahulu ...." ujar beliau dengan nada rendah dan duduk di sampingnya.
__ADS_1
Andreas menarik napasnya pelan. Sekuat tenaga dia menyembunyikan permasalahan yang sedang dihadapinya. Termasuk perusahaan yang sempat tergoncang karena masalah pribadinya.
"Sekretarismu itu, hemm ... maksud papa putri Tuan Tirtawijaya menikah, kenapa kau tidak menghadirinya? Bukankah kalian bersahabat dekat dari dulu?"
Andreas tersenyum dan memasang wajah dengan setenang mungkin.
"Aku ada urusan pekerjaan di luar kota. Papa tenang saja, aku sudah bilang pada Raffael dan Key." Andreas berbohong pada orangtuanya. "Lagi pula bukankah papa sudah datang ke pernikahan mereka," jelas Andreas dengan tetap menyunggingkan senyumnya.
"Yah! Karena papa merasa aneh saja. Seberapa penting urusan pekerjaanmu itu, sampai kau tidak bisa datang ke pernikahan mereka berdua." Dengan sedikit memajukan wajahnya menatap serius, Tuan Wiratama ingin mendengar penjelasan, Andreas.
Oh my God! Mudah-mudahan papa tidak curiga dengan beberapa projek yang Raffael batalkan dengan tiba-tiba.
"Andreas," suara berat pria paruh baya itu menegurnya dengan penuh selidik. Kembali ke rumah yang diharapkannya, akan mendapatkan ketenangan ternyata malah terkena introgasi dari sang papa.
"Kalian sedang tidak dalam masalah bukan? Aku mendengar Raffael membatalkan beberapa projek penting Wiratama group. Ingat, nak! Papa mempunyai hubungan yang sangat baik sebelumnya dengan Tuan Bimantara," jelasnya. Dahi pria itu berkerut menangkap kejanggalan yang terjadi, berikut defisit perusahaan yang sempat bergejolak akhir- akhir ini.
Andreas berdiri dan memeluk orang yang sudah membesarkannya itu.
"Papa tidak perlu cemas. Iya, Raffael ingin mencari suasana baru, tetapi dia sangat koperatif membayar penalty karena pembatalan itu. Tentang defisit perusahaan itu, semua kecerobohan ku, papa. Tetapi semua bisa diatasi. Karena baru saja Wiratama Group mendapatkan projects besar yang sangat prospek untuk existensi perusahaan ke depan. Aku harap, papa tidak terlalu mencemaskan hal itu."
"Papa sudah tahu semuanya, Andreas! Kamu pikir walaupun papa sudah pensiun, papa lupa untuk memonitor pekerjaanmu saat di perusahaan." Tuan Wiratama terkekeh dan menepuk bahu putranya.
Andreas mengangguk. Memang itu kenyataannya. Itu adalah pertolongan Raffael walaupun tidak terucap sepatah kata pun dari mulutnya.
"Tetapi papa harap, kamu akan ke L.A setelah kondisi perusahaan benar- benar sangat kondusif." ucapan yang seketika membuyarkan lamunan Andreas.
Andreas terdiam dan kembali duduk di kursinya. Dalam hati dia membenarkan ucapan orang tuanya. Untuk apa dia memimpin perusahaan yang ada L.A kalau Wiratama group sedang dalam masalah.
Itu sama saja aku tidak berkompeten untuk memimpin perusahaan.
"Andreas ...?!" panggil Tuan Wiratama
menangkap keterdiaman sang putra.
"Aku pastikan semua akan kembali seperti semula. Papa jangan memikirkan apa pun." janji Andreas meyakinkan.
"Papa percaya kamu mampu untuk melakukan hal itu. Tetapi kapan kamu akan menyusul Raffael?" Topik yang tiba-tiba melenceng membuat Andreas tersenyum getir di dalam hati.
__ADS_1
"Papa..? Andreas tertawa kecil memperlihatkan bahwa dia seolah baik-baik saja.
"Papa bertanya serius, Andreas. Sudah seharusnya kamu memikirkan urusan pribadimu dan menikah. Kamu mencari yang seperti apa lagi? Raffael menikah dengan sekretarismu itu, apakah kau tidak tertarik dengan Putri tuan Tirtawijaya sebelumnya?" Selidiknya dengan menautkan sebelah alisnya.
"Papa!"
"Romansa bos dan sekretaris sudah biasa terjadi di kantor... dia sangat cantik, pintar dan kepribadiannya juga bagus. Papa benar- benar terlambat menyadarinya, karena papa terlalu banyak menghabiskan waktu di luar negeri. Bimantara beruntung." Menggoda dengan tawa renyahnya membuat Andreas salah tingkah.
"Papa bisa saja." Mendengarnya membuat hati Andreas merasakan nyeri tanpa disadarinya.
Tuan Wiratama terkekeh, "Sungguh kalau itu terjadi, papa tidak masalah. Key memenuhi kualifikasi untuk menjadi calon menantu papa sebenarnya. Tapi semua keputusan ada padamu, nak! Kamu yang akan menjalani kehidupan ini ke depannya. Sudahlah. Mulai sekarang pikirkan urusan pribadimu. Papa benar- benar ingin melihatmu menyusul Raffael. Papa istirahat dulu dan jangan tidur terlalu larut," Tuan Wiratama mengusap bahu Andreas pelan dan berlalu.
Mencerna apa yang diucapkan oleh orang tuanya, seperti membuka luka yang sepenuhnya belum tertutup. Tetapi Andreas memaksa untuk menutupnya.
Tentu saja Key sangat memenuhi kualifikasi papa. Karena selama ini sebenarnya hanya Key yang Andreas cintai.
Andreas mendengkus pelan dan menyandarkan kepalanya pada sandaran kursinya. Matanya terpejam. Sekuat apapun dia mencoba melepaskan Key ada saja yang tertinggal seperti enggan untuk berlalu dari hatinya. Tetapi menyadari Key selama ini hanya mencintai Raffael, membuatnya memantapkan hati untuk Move on dari wanita cantik itu.
Terlebih bukankah dia sudah menikah.
Semua tentang Key sudah ia hilangkan. Kecuali memori dalam otaknya yang terkadang sangat tidak tahu diri mengingat wanita yang statusnya sebagai istri sahabatnya itu.
Andreas beranjak dan menatap keluar dari balkon rumahnya. Gelapnya malam sepekat hatinya.
Ya, Tuhan. Patah hati ternyata tetaplah serumit ini.
Getaran ponselnya mengagetkannya dan buru-buru mengangkat panggilannya. Suara melengking dari ujung teleponnya
membuat dahinya berkerut. Mengingat pemilik suara itu.
________________________
Sahabat tersayang ๐
Terimakasih yang masih setia
membaca. Jangan lupa jaga kesehatan.
__ADS_1
Maaf, ya, up datenya lambat karena RL
๐