
Di kediaman pribadi, Raffael
Raffael turun dari mobilnya dengan dengan bantuan Jordan membukakan pintu mobil. Pria itu mengendong tubuh Key yang terlihat pucat pasi, lemas dan shock pasca serangan. Langkahnya tergesa diikuti oleh Jasson dibelakangnya, yang dengan cekatan tangannya membukakan pintu kamarnya lalu membaringkannya dengan pelan.
Ia menahan langkahnya untuk tidak langsung ke Mansion, dan merasa perlu menjernihkan pikirannya. Melakukan sesuatu agar masalah ini bisa terredam, paling tidak sampai hari pernikahannya.
Raffael benar-benar murka dan tidak akan pernah mendengar penjelasan apapun dari pelaku, dan bersumpah akan membumihanguskannya di balik penjara.
Seakan tahu Bosnya butuh sebuah privasi, Pria kekar itupun berlalu.
Ia tidak ingin melihat keluarga besar menjadi cemas dengan keadaan, Key dan membiarkannya untuk istirahat sebelum kembali ke mansion. Di rumah megah yang masih kental dengan desain kastil modern Prancis itu, semua anak buahnya bekerja keras. Saat itu juga, Raffael, memasang target pelaku terungkap dan sedang menunggu kabar dari pihak yang berwajib secepatnya.
"Baby, please tell me something?" bisiknya lirih. Hatinya hancur melihat pemilik netra indah itu bergeming tak merespon ucapannya dan hanya menatapnya dengan pandangan kosong.
Menyadarinya Raffael langsung mendekapnya dengan sayang. Memberikan kekuatan dan tidak berhenti menyemangatinya dengan untaian kata cintanya yang luar biasa. Lama keduanya terdiam berperang dengan pikiran masing-masing. Key masih sulit percaya dengan apa yang terjadi dan terus berpikir, ini masih ada kaitannya dengan teror Rosa Alba yang mengatasnamakan, Andreas. Mengingatnya perempuan itu, mendadak dihantui rasa bersalah yang tidak berkesudahan dan kembali terisak dipelukan, Raffael.
"Kenapa menangis lagi?" Baby,
hey... semua sudah berlalu dan aku berjanji tidak akan pernah terjadi lagi, ok."
Perempuan itu menggeleng lemah dengan air matanya yang terus mengalir.
"Ma_maafkan aku..."ucapnya lirih.
Raffael yang mengetahui arah pembicaraannya, menggeleng. Tidak tahan dengan pemandangan itu, kembali dia membawanya ke dalam pelukannya kembali.
"Berjanjilah, jangan ucapkan kata itu lagi. Aku yang bersalah, sayang. Maaf harus melihat kenyataan ini. Lupakan semua, kita harus bahagia, ok? Sekarang, tidurlah."
"Kau mau kemana? Jangan pergi."
"Aku tidak akan kemana-mana, Istirahatlah. Nanti malam, aku akan mengantarkanmu ke Mansion." Pria itu mengurangkan niatnya untuk ke kamar mandi, saat menangkap ketakutan diwajahnya dan mengusap keringat dingin pada wajahnya yang masih pucat yang masih terasa basah. Raffael melirik walk in closet dan mengambilkan baju ganti untuknya, yang malah membuat wanita itu tersipu malu.
"Kamu bisa mengganti pakaian dulu, sayang."
"Tidak perlu, Raffael. Nanti juga kering sendiri."
"Baby, nanti kamu sakit."
Key menggeleng pelan. Dia sangat canggung pulang dengan baju berbeda, apalagi mengingat banyak anak buah Raffael di dalam rumahnya. Bagaimanapun dia belum terikat sebuah pernikahan dengannya dan tidak ingin membuat orang berpikir yang tidak-tidak. Pria itu lalu memberikan segelas air putih hangat dan membantu meminumkannya.
"Jangan terlalu dipikirkan. Lupakan, baby, kita harus bahagia. Bersabarlah sampai hari pernikahan kita, setelah itu kita akan bersama-sama, ok?" bisik Raffael seraya mengusap lembut pipinya, dan menyeka sisa air matanya.
Hatinya begitu enggan untuk meninggalkannya seorang diri. Ia berniat mendatangkan seorang psikolog dan dokter kalau Key menunjukkan trauma dan ketakutan yang serius.
Perlahan Raffael ikut membaringkan tubuhnya disisinya dan mendekapnya dengan sayang. Key yang tidak berdaya, begitu pasrah dengan perlakuannya. Wanita itu di cekam ketakutan luar biasa dan hanya akan nyaman saat Raffael berada disisinya saja.
"Tidurlah, aku akan menjagamu," bisiknya yang diiringi oleh anggukan lemah. Netra mereka kembali bertemu, tangan Pria itu terulur, membelai rambut indahnya dan mengusap wajah yang masih sembab oleh air mata. Key tidak begitu banyak bicara sejak kejadian itu dan membuat Raffael cemas melihatnya.
"Selamat tidur, Baby," Raffael melepaskan genggaman tangannya perlahan dan melangkah pergi ke kamar mandi. Badannya terasa lengket dan otaknya seketika memanas. Raffael tidak berhenti mengumpat, mengeluarkan sumpah serapahnya di dalam hati. Demi Tuhan kalau bukan alasan Key ada bersamanya, sekarang ingin rasanya dia mencabik- cabik peneror itu.
"Siall," desisnya tajam menahan amarah.
"Aku tidak bisa tinggal diam. Jelas sekali mereka mengincar kamatianku dan juga, Key."
Raffael keluar dari kamar mandi dan berganti pakaian. Ia melihat Key meringkuk tidur miring dengan selimut tebal sebatas leher, Raffael yakin kekasihnya tertidur dan membuatnya lega. Lelaki itu merangkak naik ketempat tidur dan kembali mencium keningnya dengan sayang. Baru setelah memastikan, Key benar- benar tertidur dia melangkahkan kakinya keluar kamar.
"Tuan muda apakah Nona sudah lebih baik?"
"Hemmm... setidaknya dia bisa tertidur dan itu lebih baik dari pada harus mengingat peristiwa itu."
"Jordan tingkatkan keamanan."
"Tenang saja, Bos. Aku memberlakukan sistem keamanan berlapis kepada tempat dan semua orang yang terlibat diacara pernikahan. Dan Bos harus tenang dan bahagia," hiburnya.
"Siapa mereka?"
"Masih dalam penyelidikan,Bos."
"Kenapa lama sekali, Jordan?" balas Raffael jengah.
"Bersabarlah, Bos. Kasihan Nona, kalau melihat kita panik seperti ini."
"Hemmm... aku mengerti."
__ADS_1
ππππ
Andreas geram mendengar Raffael kembali diserang.
"Aku harus bertidak. Beraninya mereka kembali mencatut namaku. Kurang ajar!!"
"Astagaaaa...!! Drama apalagi ini?" Andreas menjambak bagian belakang kepalanya dengan kasar. Tidak di sangkanya semua semakin runyam.
"Donny! Selidiki siapa dalang penyerangan BOS, ANTARA. Beraninya dia kembali menyebut namaku, dan paksa Clara untuk bicara apapun caranya. Cepattt..!! perintahnya dengan berang dan mematikan teleponnya dengan kasar.
"Raffael pasti semakin membeciku! Pasti ada oknum tertentu yang ingin membuat hubunganku dengannya semakin memburuk," batinnya gusar.
"Siapa dia..? Clara... atau ada pihak lain?
Wanita itu sungguh sukar ditebak. Kalau terbukti dia, ini benar-benar luar biasa. Tetapi kalau ada seseorang yang berdiri dibelakangnya, tidak bisa dibiarkan..!!"
"Apa yang harus aku lakukan?" Andreas memutar otak dan akan kooperatif kalau pihak kepolisian melakukan pemeriksaan.
"Bagaimana bisa kedua pelaku tembakan itu menyebut namaku?"
"Arghhhhhhh.....!!!"
Andreas semakin geram mendengar laporan dari anak buahnya. "lagi dan lagi namaku disebut. Ini tidak bisa dibiarkan."
Ting...
π© Andreas
Aku terpaksa memenuhi Panggilan pihak yang berwajib atas tuduhan yang mengarah kepadaku.Tetapi demi Tuhan aku sama sekali tidak terlibat. Akan aku buktikan semua." Pesan itu membuat Raffael kacau balau dan sekaligus begitu geram. Kalau saja Key Tidak sedang bersamanya, dirinya sudah tidak perlu berhitung dua kali untuk menemuinya sekarang juga.
π© Raffael.
Jangan banyak bicara. Aku sudah terlalu muak menunggu. Jangan memancing ku berubah pikiran, Andreas. Kau harus secepatnya membuktikan, atau___"
Raffaell sama sekali tidak bisa mengistirahatkan pikirannya. Beruntung nyonya Wijaya melarang untuk beberapa saat bertemu, Key. Jadi kondisi ini luput dari perhatian keduanya, setidaknya sampai pernikahannya selesai dihelat.
Bukan Raffael kalau gentar dengan semuanya. ANTARA GROUP memegang kendali atas segalanya. Media, properti, finansial, berada dalam genggamannya. Seakan tidak lelah untuk menggurita ANTARA terus mengepakkan sayapnya dengan menanam saham disejumlah sektor penting lainnya. Tetapi keselamatan orang- orang yang dicintainya adalah yang menjadi pertimbangannya.
πππ
Malam menjelang di Mansion
"Kau adalah cucu lelaki satu-satunya dari keluarga Tirta Wijaya. Jadilah prisai yang melindungi keluargamu. Belajar yang benar." mengingat Ferdi yang masih berstatus sebagai salah satu mahasiswa disebuah Universitas terkemuka .
"Baik kakak," jawabnya patuh.
"Dahulu aku juga seperti itu, bahkan keadaannya jauh lebih pelik dari saat ini. Aku percaya padamu jangan kecewakan kakakmu." ucapnya menasehati.
"Jadilah lelaki yang tangguh dan berani selama itu benar. Mereka akan selalu mencari celah kita, kalau kita berada digaris yang salah tetapi sebaliknya," ujarnya tegas. Sementara Ferdi diam duduk menyimak setiap petuah yang diberikan oleh Raffael, walaupun dalam hatinya rasanya butuh kekuatan super untuk seperti dengan calon suami kakak sepupunya itu.
Dirinya berharap Ferdi adalah pemimpin masa depan yang akan berdiri berdampingan dengannya, mengingat dia adalah adik sepupu, Key, dan cucu lelaki satu-satunya dikeluarga Tirta wijaya bersaudara.
"Baik, kak. Mohon kiranya untuk membimbing saya," jawabnya kembali sopan. Keluarga Tirta Wijaya dididik dengan penuh kesederhanaan, kejujuran dan cinta kasih. Kebersamaan dalam keluarga adalah segalanya itulah yang membuat nyonya Wijaya semenjak dahulu sudah menaruh hati kepada, Key.
Wanita lembut, penyayang dan bisa sangat tegas tetapi tidak mengurangi sisi lembutnya dan bisa menjadi penyeimbang Raffael yang cenderung keras kepala dan semaunya sendiri.
Bahkan Nyona besar senantiasa dicekam ketakutan, karena sejak kecil Raffael selalu dihadapkan dengan ketidak Adilan. Masalah -masalah besar diluar kemampuan menyergapnya diusianya yang masih sangat muda. Dan takut mengubah karakter Raffael yang sukar untuk dikendalikan. Tetapi sejak dekat dengan Key apa yang dicemaskan hilang. Perempuan itu bisa mengontrol, Raffael yang sering lepas kendali dengan kelembutan yang dimilikinya.
Malam itu setelah mendengar peristiwa penyerangan dari Raffael, Ferdi tinggal di Mansion. Pria muda itu mendalami teknik beladiri, menembak jitu dan kebugaran di bawah pimpinan, Jasson. Raffael sengaja menghadirkan orang-orang terdekatnya supaya Key tidak kesepian dan sesaat bisa melupakan peristiwa yang menegangkan, yang sangat disesalinya diam-diam olehnya. Dan berniat mendatangkan teman-teman dekatnya di Mansion.
Maafkan aku, menjelang pernikahan kita, kau harus mengalami peristiwa ini. .
"Kembalilah," perintahnya kepada Ferdi dan Raffael Pun berlalu.
πππ
"Aaaaaa....... Raffaelllll...!!!!"
Sebuah mimpi buruk membuatnya terbangun dengan keringat dingin yang membasahi wajah dan tubuhnya. Key
duduk terdiam menatap nanar dengan bibir bergetar. Peristiwa buruk dan membuatnya bergidik ngeri itu begitu mengguncang jiwanya dan mulai hadir menyapa dalam mimpinya. Beruntung dia adalah wanita yang Kuat. Key tidak bisa berbagi karena tidak ingin membuat orang tuanya cemas dan itu alasannya dia mencoba kuat.
"Nona sedang bermimpi buruk," Mita menghampiri, Key dan memberikan teh hangat padanya.
"Terimakasih".
__ADS_1
"Jam berapa ini Mitha?" tanyanya kebingungan yang masih disertai rasa gemetaran. Sepasang netranya menoleh kesekitar. Key tertidur selapas makan malam dengan keluarga dekatnya.
"Pukul 22.00 malam nona."
"Hemm...
"Nona baik-baik saja?" Mitha mengelap wajahnya yang bermandikan keringat dingin dengan handuk kecil ditangannya.
"Tidak perlu repot-repot. Biarkan aku sendiri saja. Tangannya mengambil alih handuk kecil untuk menyeka wajahnya.
"Kau istirahatlah, sejak tadi kau menungguku," perintahnya.
"Nona, tidak apa-apa sendiri?"
"Sudahlah. Tidak apa-apa. Pergilah."
"Kalau perlu sesuatu jangan sungkan untuk memanggil saya, Nona." Key mengangguk pelan.
"Selamat malam, Nona."
"Malam, Terimakasih."
Key menatap layar monitor yang terletak dimeja kamarnya. Raffael sengaja menaruhnya untuk membuatnya lebih tenang. Jasson dan anak buahnya yang sedang berjaga terekam dengan jelas melalui kamera CCTV yang terhubung dengan layar monitor tersebut.
"Siapa mereka yang menyerang, Raffael? Apakah segenting itu pasca Tirta Wijaya group kembali padanya?" Perempuan itu mendesah pelan. Tidak dipungkiri sejak kasus lama itu diungkap kembali, banyak pihak-pihak yang terancam yaitu keluarga Dave dan Darriel sastra negara.
"Apakah ada pihak lainnya? Siapa dia?
Kompetitor dalam berbisnis ?" Atau __"
"ANDREAS?!"
"Ahh! Tidak. Tidak mungkin. Dia memang mencintaiku. Aku sangat mengenalnya. Tetapi aku rasa dia tidak akan seceroboh ini." Key bermonolog sendiri. Sebagai pengusaha kaya raya tidak dipungkiri banyak musuh yang mengintai mewarnai persaingan di dunia bisnis. Ibarat semakin tinggi pohon makin tinggi pula angin yang bertiup dan saat ini yang sedang dihadapi.
Key mencoba untuk kembali memejamkan matanya. Bayang-bayang penyerangan kembali menghantuinya. Sekuat tenaga dia menepikan peristiwa horor yang berharap hanya sekali dalam hidupnya.
Itu adalah kriminalitas tinggi yang bisa melenyapkan nyawa dalam sekejap. Beruntung Raffael menerapkan pengamanan yang terbaik untuk semua fasilitas yang dimilikinya termasuk mobil yang dinaikinya," batinnya.
Perempuan cantik itu beranjak dari tempat tidurnya dan meraih ponselnya untuk memeriksa berbagai situs berita. Key bernapas lega setidaknya Raffael punya kuasa untuk meredam peristiwa ini, sehingga mereka tidak berani memuatnya. ANTARA memang mendominasi media besar dan berpengaruh dan ini keuntungan sendiri bagi Raffael. Walaupun dirinya yakin banyak sekali yang melihat peristiwa itu.
"Kau, seakan begitu paham bahwa tantangan dimasa depan sangat tidak ringan, pasca terlepasnya ANGKASA GROUP, yang belakangan ada kaitannya dengan kehancuran TIRTA WIJAYA GROUP." Diusapnya foto yang tertera dilayar ponsel miliknya. Tidak dipungkiri disaat seperti ini, dia sangat merindukan sosok yang senantiasa menjaganya itu.
"Kau harus baik-baik saja. Tidak seorang pun berhak untuk melukaimu," tekatnya dia sendiri harus menjadi wanita yang kuat mendampingi, Raffael. Dan terus menerus menyemangati diri sendiri.
"Aku harus fokus dan mencoba biasa saja. Ini adalah trik mereka yang tidak menginginkan kedamaian dalam hidupku. Apalagi gerbang pernikahan yang sudah didepan mata," ujarnya pelan dan berlalu untuk kembali memejamkan matanya kembali, walaupun dirinya tidak yakin bisa kembali tertidur.
Aku harus kuat. Tantangan kedepan tidaklah ringan, aku harus lebih tegar. Musuh akan tersenyum melihat dirinya lemah.
"Ya, Tuhan, mudah-mudahan hamba kuat," doanya dengan sepenuh hati.Hanya dengan mendekatkan diri kepada sang pencipta, semua akan terasa ringan dan hati menjadi lebih damai. Malam itu dia menghabiskan waktunya untuk bermunajat kepada sang pencipta. Doa terucap dari bibirnya, hanya sang pencipta sebaik-baiknya pelindung bagi semua hambanya.
"Lebih lega," bisiknya ringan dan kembali duduk termangu dalam heningnya malam.
Raffaell tersenyum memperhatikan key yang sedang terduduk. Dia memperhatikan segala gerak-geriknya, tanpa sepengetahuannya.
"Aku percaya kau perempuan yang kuat."
"Honey..,"Key sedikit terkejut tetapi dirinya yakin pasti Raffael akan menegoknya setiap saat melalui pintu rahasia.
"Apakah kau merasa lebih baik," tanyanya sambil mendekat lalu duduk untuk mengusap keningnya.
Key mengangguk pelan.
"Aku hanya ingin memastikan orang yang aku cintai baik-baik saja. Ingatlah semua yang indah-indah."
"Itu yang sedang aku lakukan." Sejujurnya mengingat pernikahannyalah yang membangkitkan semangat hidupnya."
"Apa yang sedang kamu bayangkan, Cara?" Raffael sedikit menggoda Key supaya sejenak bisa melupakan peristiwa yang sangat disesalinya. Sedikitnya dia merasa lega karena masih melihat senyum itu dalam wajahnya.
Blusshh.....
Wajahnya memerah lalu menunduk .
"Aku hanya ingin tahu." Raffael kembali tersenyum menatap wajahnya yang memerah dan mengelusnya pelan.
"Menikah dengamu dan hidup bahagia." jawabnya malu-malu. Keduanya tersenyum dan harus seperti itu. Hingga sebuah notifikasi pesan dari Donny membuat Raffael melebarkan matanya.
___________________________
__ADS_1
Catatan penulis:
Sahabat tersayangπ jangan lupa untuk like dan komennya, ya?" terimakasih.π