
Key beranjak dari pangkuan Raffael dan berlari menjauh dengan tertawa puas. Sementara Raffael hanya bisa merapatkan giginya menahan geram sekaligus gemas, karena Key terus berlari dengan cepat menjauhinya.
"Cara ...!! Apa yang kau lakukan! Beraninya kau bermain-main denganku. Aku tidak akan memberimu ampun," teriaknya tidak terima dan dengan cepat mengejar Key yang terus menjauh dengan sesekali menoleh kebelakang untuk menggoda dan menertawakan Raffael dan berlari kembali begitupun seterusnya.
"Cara, berhenti! Itu sangat berbahaya! Jangan berlari seperti itu! Kau sedang___"
Ahhh! Sial, mana mungkin aku akan
berteriak memberitahu kalau dia sedang datang bulan. Benar-benar memalukan. Bagaimana kalau ada yang mendengar," umpat Raffael dalam hati.
"Cara..!! Berhenti..!!"
"Apanya yang berbahaya?" Kau ada-ada saja," Key membungkuk dengan kedua tangan bertumpu pada kedua lututnya. Napasnya tersengal karena kelelahan. Rasa nyeri diperutnya sedikit terasa lalu dengan perlahan Ia duduk dengan menunggu Raffael yang terus mengejarnya.
"Apakah cuma sejauh itu, kemampuanmu, cara?" Raffael tersenyum mengejek dengan melangkahkan kakinya pelan-pelan, semakin dekat dan terus mendekat. Senyumnya menyeringai seperti seekor harimau yang hendak menerkam, hingga tangan kokohnya akhirnya berhasil menjangkau Key yang sedang duduk menyender pada sebuah pohon, dengan menatap hamparan perkebunan teh yang menghijau. Raffael duduk mensejajarkan dirinya dan memberikan pundaknya untuk bersandar.
Key terdiam menahan nyeri yang semakin terasa beruntung dirinya sudah meminum vitamin yang diresepkan dokter Josep untuknya.
"Kau baik-baik saja," Raffael yang menyadari raut wajah tidak biasa, Key mempertajam penglihatannya untuk memastikan bahwa, tidak terjadi sesuatu pada pujaan hatinya.
"lelah," jawabnya berbohong sambil nyengir kuda, menahan nyeri diperutnya. Tangannya meraba dengan pelan sekedar untuk meredam kram perut yang tiba-tiba datang sedikit menyiksa.
"Istirahat di sini saja dulu," pintanya dengan menampakkan wajah yang dicoba untuk biasa saja. Key tidak ingin Raffael cemas berlebihan, lagi pula Ia yakin akan mereda dengan sendirinya dengan cara beristirahat.
"Kau kenapa? Apakah terasa sakit lagi?" Raffael menatapnya serius, sebelah tangannya ikut mengusap lembut perutnya. Dirinya begitu khawatir key akan jatuh pingsan lagi.
"Ini hanya kram biasa saja, karena aku habis berlari dengan kencang, heee. Aku lupa kalau aku sedang ___"
Raffael yang menyadari arah pembicaraan Key menatap tajam setengah mengancam.
"Cara, aku sudah katakan, disaat seperti ini jangan berlari seperti yang kau lakukan tadi. Aku sudah bilang itu berbahaya." Raffael merasa kecolongan dan dengan pelan membuang napasnya dengan kasar.
"Raffael, aku hanya ingin mengingat sedikit saja masa remajaku. Bermain di taman, bercanda riang dengan teman-teman," Mimik wajahnya sedikit memelas yang seketika bayangan masa remaja,Key, yang dirundung duka masa lalu, akibat ulah paman Bayu membayang dipelupuk matanya dan mengendorkan kekesalannya.
Raffael mengangguk paham. "Jangan diulangi lagi..." ujarnya pelan.
"Apakah sangat sakit?" dirinya ingin memastikan Key tidak apa-apa.
"Sedikit reda, ini biasa saja untuk seorang wanita. Sudahlah jangan melihatku seperti itu. Aku baik-baik saja," Dengan sedikit menunduk menghindari tatapan elang, Raffael dengan perasaan malu sementara, Raffael semakin intens menatapnya.
"Apakah setiap bulannya kau merasakan itu?" Tanya Raffael ingin tahu.
Key mengangguk pelan.
"Bahkan tidak hanya diriku, tetapi semua wanita dewasa merasakannya. Sudahlah. Jangan berlebihan," dengan sedikit memalingkan wajahnya untuk menghindari rasa tidak nyaman dalam dirinya, karena Raffael yang tidak berhenti menatapnya dengan serius.
"Ini hanyalah siklus wanita, Raffael. Tidak akan sebanding dengan apapun, sakitnya bila dibandingkan dengan perjuangan seorang ibu yang sedang melahirkan anaknya."
Raffael terdiam mencerna ucapan, Key dan kembali memandang wajah cantiknya. Dirinya sendiri tidak ingin sedikit saja melihat Key terluka apalagi kesakitan.
Betapa seorang perempuan itu luar biasa. Menahan sakit disetiap bulannya dan berjuang untuk melahirkan seorang anaknya ke dunia.
Hening sesaat, Raffael tidak bisa membayangkan, suatu saat momen istimewa mereka menjadi orang tua tiba, akan menyakiti pujaan hatinya.
"Aku mencintaimu," bisiknya lirih. Keduanya lengannya merengkuh tubuh ramping miliknya dan merebahkannya di atas pundaknya. Dirasakan usapan pelan pada pucuk kepalanya diantara hembusan angin sore sudah sangat terasa dingin menusuk.
"Berjanjilah kau akan selalu baik-baik saja," Keduanya meresapi setiap momen indah, sebelum mereka melepas status lajangnya dengan bicara dari hati ke hati. Bagaimanapun nantinya keduanya tidak akan pernah ada rahasia. Aku atau kamu karena yang ada adalah Kita menjadi satu.
"Sayang, itu adalah kodrat semua wanita. Kebanggaan yang luar biasa yang selalu dinantikan oleh seorang wanita begitu mereka menikah," jelasnya seraya memberanikan diri menatap wajah Raffael yang menunggu manik matanya.
"Apakah kau tidak takut sedikit saja?"
"Bahkan, aku lebih takut suamiku kelak mendiamkan ku," dengan senyum yang di kulum di ikuti oleh gelengan kepalanya pelan.
"Aku milikmu." Raffael membalas senyum yang sama.
__ADS_1
"Ayo kita kembali, pasti mereka sedang menunggu kita," ajak key.
Raffael mengangguk paham, lalu bangun dan dengan cepat membopong tubuh Key ala bridal menuju ke villa.
"Tidak ada penolakan," ancam Raffael saat terlihat wajahnya sedikit memprotes, namun kemudian berubah menjadi senyum manis, seraya melingkarkan kedua tangannya di leher Raffael yang menatapnya dengan penuh cinta.
Terus melangkah dengan pelan sesekali dirasakannya hembusan napas hangatnya menyapu wajahnya.
"Sayang, kalau lelah turunkan aku disini. Aku tidak ingin sifat lebaymu ini menarik perhatian mereka dan beramai-ramai mereka mendokumentasikannya."
"Apakah kamu pikir aku selemah itu, hemm?" Persetan dengan mereka," bisiknya yang diikuti kecupan sayang pada bbibir manisnya.
"Jangan konyol, Raffael. ini sudah dekat villa, aku malu!"
"Kau akan terbiasa dengan semuanya," sudut bibirnya terangkat menahan senyum dengan terus melangkah. Para kru dan anak buah, Raffael, menatap heran dengan ulah Tuan mudanya begitu memasuki area villa.
"Apakah Nona baik-baik saja?"
"Nona terkilir dan sedikit tidak enak badan," jawab Raffael enteng. Salah satu anak buahnya membukakan pintu kamar untuk akses masuk dan merebahkan tubuh Key dikamarnya.
"Raffael!! Apa maksudmu."
"Istirahatlah, sebentar sebelum kita kembali," perintahnya dengan tegas.
"Tapi aku sudah baikan, Raffael"
"Ini perintah, jangan keras kepala," tangannya menarik selimut sebatas leher hingga menutupi tubuhnya, sebelum Raffael melangkah keluar, sementara para kru hanya bisa menunggu dengan sabar.
"Bukankah pemotretan sudah selesai?" Raffael berjalan mendekat mengambil duduk diantara mereka para Kru.
"Sudah cukup,Tuan muda! jawab salah satu diantara mereka.
"Cetak dengan kualitas terbaik." Raffael melihat hasil capture dari kameramen yang khusus dibawanya dan menandai foto terbaik Key untuk di cetak karena akan dipamerkan saat hari pernikahan mereka.
"Ini adalah gaun hasil desain calon istri saya, saya ingin kalian memberikan bingkai yang indah, warnanya sesuaikan dengan tema pernikahan kami," perintahnya kepada para kameramen tersebut.
"Kalian biasa saja bicara kepadaku!"
"Bagaimana dengan ini,Tuan muda?" Kameramen yang lain dengan senyumannya, menunjukkan hasil bidikannya. Saat Raffael membopong key ala bridal di depan villa, dengan pose yang begitu Romantis.
"Siapa yang menyuruhmu mengambil gambar itu! Raffael menaikkan intonasi suaranya yang seketika membuat kameramen itu menciut.
"Maafkan saya,Tuan Muda." Dengan cepat kameramen itu bergerak berniat untuk menghapusnya, tetapi buru-buru Raffael menahannya.
"Siapa yang menyuruhmu menghapus?" Tatapan matanya sangat tajam, namun kemudian Raffael berubah menyungingkan senyumannya.
"Ini, sangat bagus! Saya suka. Kali ini sepertinya aku mengampunimu, tetapi jangan sekali-kali mempublikasikan foto atau apapun itu, yang berkaitan dengan keluarga Wijaya ataupun keluarga Nona Key tanpa seijinku," perintahnya dengan tegas.
"Baik, Tuan muda!" Kameramen itu bernpas dengan lega karena ulah Raffael.
"Ini buat kalian semua, karena kerja kalian yang bagus." Pukul 20.00 kita kembali ke kota. Persiapkan dengan sebaik-baiknya, jangan sampai ada yang ketinggalan," kemudian berlalu pergi.
Para kru hanya geleng-geleng kepala dengan sifat Tuan mudanya dan tersenyum senang dengan besarnya bonus yang diterima oleh mereka.
"Hahh...!! Tuan muda paling bisa!"
"Apakah, Nona Key kembali sakit?" Tanya yang lain lagi.
"Aku tidak tahu dengar-dengar kemarin diperiksa oleh dokter di Mansion," jawab salah satunya.
"Biarkan Nona istirahat, kita bersiap-siap saja untuk kembali pulang nanti dan terlihat para kru mulai menyibukkan diri.
πππ
"Apakah ada sesuatu pergerakan yang mencurigakan?" Raffael memutar badannya.Tatapan matanya menyelidik menatap Trio J yang ada dihadapannya.
__ADS_1
"Sejauh ini semua baik-baik saja.Tuan Muda tenang saja. Penjagaan kami perketat menjelang hari pernikahanTuan muda dan Nona."
"Bagus!!
"Terimakasih, kalian beristirahat, sebentar lagi kita kembali." lalu Raffaelpun berlalu untuk melihat Key dikamarnya.
Terdengar hembusan napas halus dan begitu teratur. Key terlelap dalam mimpi yang indah. Raffael tersenyum menatap bidadari cintanya itu, begitu pulas lalu mencium keningnya dengan sayang.
"Sangat cantik," pujinya seketika bayangan seorang perempuan yang kesakitan akan melahirkan dalam pelupuk matanya. Ada rasa yang mengganjal dalam dirinya, apa lagi selama ini kedua orang tuanya begitu over protective menjaga asupan makanannya supaya begitu mereka menikah akan cepat memiliki buah hati.
"Cara, tangannya mengusap rambut indah Key dengan sayang.Tidak ada ***** yang menggebu, tetapi rasa ingin memiliki dan menjaga dan memastikan Key baik-baik saja lebih menguasai dirinya saat ini.
"Apakah kau sebegitu mengantuknya, hemm?"
Raffael meraih gawainya dan mengirimkan sebuah pesan kepada Jasson untuk memesankan makan malam dan camilan kecil, karena Key dan dirinya melewatkan makan malamnya. Malam itu seperti yang sudah direncanakan mereka kembali pulang dengan pengawalan khusus.
Saatnya kembali pulang, tetapi Key belum ada tanda- tanda bangun dari tidurnya. Tidak punya pilihan lain Raffael membopongnya untuk masuk ke dalam pesawat helikopter yang sudah menunggu.
πππ
"Sayang, Bangun, sudah sampai," bisiknya lirih sambil menggoyangkan badannya dengan pelan.
"Hemmm... Tubuhnya menggeliat dengan matanya mengerjab-ngerjab menampakkan bulu matanya yang lentik. Raffael berbisik kembali seketika membuat Key tersadar dan cepat-cepat untuk duduk dengan netranya menatap tak percaya, bahwa dirinya sudah tiba di Mansion.
"Kita sudah pulang? Bagaimana bisa kau tidak membangunkan ku? Iris matanya menoleh ke kanan dan kiri untuk memastikan penglihatannya bahwa sekarang dirinya benar-benar ada di kamarnya.
"Nyonya, Raffael yang terlalu nyenyak tidur. Seperti tidak tidur berbulan- bulan lamanya," seloroh Raffael dengan mengulum senyum. Ini adalah kedua kalinya Key tidak terbangun saat Raffael membopongnya dan membuat Key tersipu malu mengingat kebodohannya.
"Cepatlah ganti pakaian dan makan malam, aku membelikanmu makan untukmu. Berharap Nyoya bangun
saat kita sedang naik Helikopter tetapi, sepertinya Nyonya sangat lelah dan mengantuk.
Key merona mendengar kata "Nyonya" yang diucapkan oleh Raffael dan beranjak ke kamar mandi, tetapi saat Raffael pamit pulang wanita yang dihadapannya itu melarangnya.
"Tunggu!!
"Kita akan makan bersama, kamu pasti juga belum makan, karena melihatku belum makan. Raffael, jangan berbohong, aku sangat mengenalmu," tebaknya.
"Nyonya pintar, aku tunggu diluar dan akhirnya berlalu."
Malam menuju larut key menikmati makan malamnya yang sudah terlewatkan berdua dengan Raffael.
"Lain kali kau boleh menyiramku dengan air, kalau aku tidak bangun-bangun," ucapnya merasa bersalah, yang akhirnya hanya dibalas dengan senyum masam oleh Raffael dan dengan gemas menjejalkan makanan ke mulutnya dengan protes kecil sang pujaan hati.
"Raffael, pelan-pelan."
"Hemm... perutnya masih sakit?" Tanyanya Ingin memastikan.
"Aku tidak apa-apa." Aku cuma merasa sangat bahagia saja."
"Harus tetap seperti itu."
"Terimakasih untuk semuanya. Kenapa kau sangat perhatian, aku benar-benar sangat beruntung," puji Key dengan penuh haru. Dirinya juga tidak sabar ingin memperhatikan Raffael dengan statusnya sebagai istri.
"Cara, sebentar lagi kita akan leluasa untuk saling memperhatikan. Aku pamit pulang ," setelah mendaratkan kecupan sayang pada dahinya.
"Hati-hati dijalan."
"See you baby."
________________________
Catatan penuli:
Sahabat tersayang jangan lupa untuk tinggalkan like dan komennya, ya!
__ADS_1
Terimakasih π