
Mulai menikmati lintasan sky yang dipenuhi oleh tumpukan Es, Andreas mulai meluncur dengan papan Sky yang memperlihatkan betapa gantengnya lelaki itu dengan sky wear couple seperti halnya milik Lorine.
Melambaikan sebelah tangannya Andreas berteriak. "Aku menantangmu, lorine!" Entah apa yang sudah dilakukan oleh wanita itu, apakah Lorin benar- benar bersungguh- sungguh dengan semuanya. Wanita itu meluncur dengan derasnya seolah menantang Andreas untuk mengejarnya.
"Aku menunggumu!" Gelombang suara Lorrin tenggelam oleh jarak yang kian membetang. Tidak peduli dengan keberadaan orang lain di sekitarnya, Andreas hanya ingin membahagiakan dirinya sendiri.
"Oh Tuhan, lorine! Kau benar-benar gila!" Melesat bak anah panah, tentu saja Andreas tidak ingin menyerah. Helm sky warna kuning mendominasi siluet tubuh Lorine yang semakin menjauh terlihat begitu kontras terlihat.
'Aku tidak tahu, kapan aku terakhir bermain Sky, tetapi aku mengingat bagaimana kita bertiga pernah melewati arena bermain seperti ini, Key.'
Andreas tersenyum kecut mengingat saat di Negeri Paman Sam Raffael, Key dan juga dirinya sering menghabiskan weekend di lintasan Sky paling populer Park City Mountain Resort di kawasan Utah. Apalagi saat malam hari, tempat ini semakin menarik karena ditemani lampu-lampu romantis dengan kuda luncur otomatis.
"Ayo Andreas! Kenapa kau pelan sekali. Apakah kau lama tidak berlatih?" Lorine mendekat mengulurkan tangannya. Seolah menangkap sinyal yang ada di kirim Lorine, Andreas menyambut uluran tangannya dengan senyum.
"Kau benar-benar, Nona!" Keduanya terlihat bergandengan tangan saat ini, meliuk-liukan badannya dengan gerakan yang sangat teratur. Andreas memperhatikan beberapa buih es mengenai rambut Lorine yang dibiarkan tergerai indah. Wanita itu seperti biasa sangat cuek dan apa adanya.
"Tenang saja aku yang mentraktirmu kali ini!" Gerakan keduanya melambat secara teratur, tidak menyulitkan bagi Andreas mendengar celoteh Lorin.
"Kau terlalu bersemangat, Lorine. Tetapi sungguh, aku benar-benar terhibur dengan semuanya. Jangan memikirkan siapa yang mau mentraktir, tetapi siapa yang tercepat itulah yang akan membayar semua, bagaimana, hah?"
Lorin tertawa renyah mendengarnya. "Dengan senang hati, sepertinya kau berniat sekali menunjukkan kecepatanmu, Andreas?"
"Bisa di bilang seperti itu, Nona!Jadi bersiaplah!" Menepi seolah sedang mencari pole position ala MotoGP 😁, keduanya benar-benar memulainya.
"Kau sudah siap?! Andreas bersuara sedikit keras. Tepat di hitungan ke tiga keduanya meluncur dengan deras. Lintasan es yang terlihat seperti tumpukan salju yang memutih begitu sangat kontras sekali sebagai objek yang paling menarik perhatian di tempat itu. Dan tidak lama kemudian keduanya sudah terlihat saling mendahului untuk beberapa menit terakhir guna mencapai finish.
"Kau luar biasa sekali, sepertinya aku kecolongan kali ini," keluhnya. Tetapi kemudian Lorin ikut tertawa. "Tetapi ini adalah keberuntunganku, Tuan muda. Itu artinya kamu yang harus membayar semua, bukankah ini benar-benar Dewi Fortuna sedang memihakku?" Suara lorine terdengar nyaring.
Mengulurkan tangannya Andreas mengajak Lorine menepi. "Sepertinya kita usai, bagaimana kalau kita makan sekarang?"
"Terserah padamu saja, kau yang mentraktir, kau pula yang menentukan."
Menaikkan sebelah alisnya Lorin menjentikkan jarinya ke udara. "Tepat sekali Andreas. Terserah padamu."
Lorin melebarkan bola matanya, saat tangan Andreas membantu melepaskan helm sky yang bertengger di kepalanya.
"Kau sangat manis sekali kalau begini, Andreas, hemm?" Mendelikan matanya Lorin tertawa menggoda.
"Kamu ini paling bisa untuk menggodaku, Lorin. Bahkan sejak semalam, sepertinya kau masih suka saja seperti itu." Memasang senyum samar Andreas terlihat tampan sekali bagi Lorine.
"Sudahlah jangan basa-basi, sebaiknya kita cepat berganti pakaian. Ingat, kau berhutang untuk mentraktirku!"
"Aku tidak melupakannya, Lorin," ujar Andreas dengan nada rendah. "Dan kau juga berhutang penjelasan malam itu."
"Baiklah. Tunggulah di sini."
Andreas masih memperhatikan Lorin yang berlalu. Sebelum akhirnya dia sendiri melangkah ke ruang ganti. Ia hanya merasa keputusannya kali ini benar, untuk me-refresh pikirannya.
__ADS_1
Bermain sky membuat suasana hatinya lebih baik, walaupun sempat mengingat nama Key di saat yang tidak tepat.
"Dua orang yang sangat berbeda," Andreas menggunam samar. Setelah selesai berganti pakaian dengan sabar ia menunggu Lorine dengan sesekali melihat jam tangannya. Jam tangan yang sempat tertinggal dan mempertemukan keduanya dengan tidak sengaja.
"Kau sudah selesai, rupanya?! teriaknya kecil. Berjalan setengah berlari, ada yang sedikit menarik perhatian Andreas kali ini. Lorine semakin memangkas jarak dengan dress biru laut sedikit longgar dengan sneaker putih yang terpasang di kakinya yang mulus.
"Aku membuatmu sedikit menunggu, rupanya."
"Tidak masalah, Lorine. Mari aku akan mentraktirmu," ucapnya dengan senyum.
Ngomong- ngomong kamu ingin makan apa?" Andreas memperhatikan wajah Lorin yang tampak berpikir. Mata bundarnya mengejap pelan, dengan rambut yang dibiarkan diikat tinggi- tinggi. Sangat berbeda dengan Lorine yang beberapa saat yang lalu lengkap dengan pakaian sky.
"Hahh, kita ke sana!"Lorine menunjuk arah Roof top dengan pemandangan alam terbuka. Food court lantai paling atas Plaza T menjadi pilihan keduanya.
"Apakah kau keberatan kalau di sini."
"Tentu saja tidak, Lorin."
"Haaa, ini siang hari. Sepertinya kita perlu karbo yang sangat tinggi, setelah bermain."
"Terserah kau saja," Andreas menjawab dengan kembali memasang senyum.
"Nasi goreng Thailand bagaimana?"
"Boleh Lorin."
Kurang dari 10 menit akhirnya yang dipesan pun tiba.
"Hemm … rasanya enak sekali," Lorine langsung menyambarnya, menyisakan Andreas yang menatapnya tersenyum masam dengan garpu dan sendok yang sudah di tangannya.
"Makanlah, Andreas."
"Kau lapar sekali, rupanya? Kamu boleh memintanya lagi kalau masih kurang Lorine …" perintahnya dengan nada rendah. Kali ini wanita itu nyengir kuda, memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapi.
"Maaf, dari pagi aku tidak sempat sarapan," berucap jujur Lorinee menyemburkan tawa.
"Kenapa tidak bilang padaku?" Andreas memprotes dengan sedikit menegakkan badannya. Wajar saja, ia paling tidak bisa membiarkan teman wanitanya kelaparan saat bersamanya.
"Aku sudah sangat ingin bermain tadi, heee. Aku benar-benar perlu karbohidrat yang sangat banyak, Andreas." Tangan pria itu melambai pada seorang pelayan.
"Hey, mau apa kau?" menaikan volume suaranya, Lorine memasang wajah sedikit kaget.
"Memesankan lagi untukmu."
"Ini sudah cukup. Porsi yang aku miliki sudah sangat banyak. Jus daun mint saja, rasanya sangat pas," pintanya akhirnya.
Andreas memperhatikan lorine yang sedang mengunyah.
__ADS_1
"Kau benar- benar tidak berubah, Lorine …'
Hening. Yang terdengar hanya bunyi denting sendok keduanya. Di hadapkan pada dua orang yang sangat berbeda di kali ini. Key yang elegan, ramah dan pandai menempatkan dirinya. Wanita itu bahkan akan terkesan malu-malu setiap Andreas menawarkan sesuatu padanya. Wanita cantik itu bahkan akan bekerja keras dari pada menerimanya dengan cuma-cuma.
Berbeda dengan Lorine, wanita itu agak polos dan apa adanya. Terkesan ceplas-ceplos dan ceria, benar-benar bisa mengubah mood Andreas yang cenderung serius.
Ya, Tuhan. Kenapa aku menjadi membandingkan keduanya.
"Andreas, kau tidak berselera makan?"
"Tentu saja aku berselera, lorine … ini sangat enak. Tetapi porsi ini rupanya terlalu banyak untukku. Kau ingin menambahkannya?" tawarnya.
Lorine nyengir kuda untuk ke sekian kalinya. "Aku sudah kenyang." Memperlihatkan piringnya yang sudah kosong, ada rasa malu sedikit mengusik sebagian dari dirinya.
"Apakah kau malu mengajak makan dengan orang sepertiku?"
Andreas terkekeh mendengarnya.
"Mau menghabiskan seluruh restoran pun tidak akan menjadi masalah, Lorine. Bukankah kita membayarnya?" Andreas sangat mengenal wanita itu dan tidak pernah mengingkari Lorine adalah pribadi yang sangat baik dan menyenangkan. Background keluarganya juga lumayan bagus sebagai pebisnis restoran cepat saji yang sudah menjamur di beberapa kota besar di wilayah Negara I.
"Sudahlah Lorine, kenapa kau mendadak serius sekali. Ingat, setelah ini kau berhutang penjelasan padaku." Mencairkan suasana Andreas melihat bagaimana raut wajah Lorine yang sempat berubah.
"Apa itu penting untukmu?"
"Aku hanya ingin tahu darimana kau tahu tentang __"
"Tentang Key … maksudmu?" Potong Lorine dengan tersenyum. Kali ini keduanya benar-benar telah menyelesaikan makannya.
"Hemm …"
"Aku hanya tidak ingin mengulang kesalahan, Lorine ..." Kali ini Andreas menatapnya serius.
"Baiklah. Stevi menceritakan semuanya padaku?" beritahunya cepat. Keduanya menatap pemandangan alam dari rooftop
yang menghijau walaupun ada dominasi gedung- gedung tinggi di sana.
"Stevie?" Mengumam samar, Andreas benar- benar melupakan adiknya itu, dan beranggapan semuanya aman-aman saja.
"Dia begitu mengambil seluruh duniamu, Tuan muda?" Goda Lorine tersenyum dengan mendelikan matanya. "Aku benar-benar tidak pernah melihatmu seperti itu sebelumya." Suara nyaring lorine terdengar menguap saja di udara.
"Apa saja yang kau ketahui, Lorine?"
______________________
sahabat tersayang 😘
terimakasih yang masih setia membaca, jangan lupa untuk like dan komennya, ya?
__ADS_1
terimakasih 😍