
Terdengar bunyi derap langkah kaki memasuki sebuah gedung pencakar langit area perkantoran Wiratama group. Wajahnya terlihat sedikit sendu memadang lurus kedepan. Hanya anggukan kepalanya saja, mewakili jawaban berbagai salam dari para karyawan yang menyambutnya pagi itu. Andreas mempercepat langkahnya untuk cepat sampai ke ruang kebesarannya. Ada Perasaan tidak nyaman dengan mereka yang pagi itu menatap dirinya sebagai bos besar, dengan cara yang berbeda. Entah apa yang dipikirkan oleh mereka, yang pasti pria itu seperti dikuliti saat para karyawannya memperhatikannya.
"Pak Bos lagi patah hati, jangan sampai membuat kesalahan, bisa gawat," bisik salah satu karyawan.
"Iya, kantor ini terasa berbeda sejak Nona Key resmi mengundurkan diri."
" Hemm... Aku paling suka lihat senyumnya dan matanya yang indah itu. Pokoknya Nona key adalah paket lengkap limited edition," ujar yang lainnya sambil terkekeh. "Semakin diexpos kehidupannya dengan CEO ANTARA itu, aku semakin tertarik. Kisah cinta mereka berdua bikin melting saja."
"Ya, begitulah. Pantas saja pak, bos kita naksir berat padanya."
"Jujur selama Nona, Key, kerja di sini saya tidak pernah melihat pak, Andreas mengandeng wanita yang lainnya. Alamat patah hati berkepanjangan ini he..he..he
"Issshhh... aku siap menyembuhkan lukanya," bisik salah seorang karyawan yang bernama Sasi.
"Jangan terlalu mengharap, selera pak, Bos seperti Nona, Key.
"Huss! Stopp bergosip! lebih baik kita bekerja kalau masih ingin berumur panjang di sini." Sementara itu diruanganya Andreas terlihat menyandarkan kepalanya pada kursi kebesarannya. Kepalanya masih terasa berat karena efek minum wine yang terlalu banyak. Dipijitnya pelipisnya dengan pelan dengan memejamkan matanya. Andreas menarik napasnya yang terasa berat, kalau tidak ingat hari ini ada janji dengan Hansen, rasanya lebih baik dirinya tidak ke kantor saja.
Dibukanya matanya perlahan mempertemukan kubikel tempat Key biasa bekerja, melalui celah kaca transparan yang berhadapan langsung dengannya. Andreas tersenyum tipis mengingat betapa seriusnya, Key kalau sudah berurusan dengan pekerjaannya, dan akan sangat cerewet kalau sudah menyangkut kesehatannya. Andreas tersenyum getir, dia mengira itu cinta tetapi kenyataannya Key hanya mencintai Raffael sepanjang umurnya.
"Key... desisnya lirih. Bayangan tentangnya masih begitu kuat membelenggu hati dan pikirannya, hingga terdengar ketukan pintu membuyarkan segala tentangnya pagi itu.
"Masuk!!" perintahnya.
"Pagi Bos, Pak Hansen sedang menunggu," terang Donny orang kepercayaan Andreas.
"Suruh dia masuk!" jawabnya singkat.
Tidak lama kemudian seseorang yang sangat dikenalnya masuk dengan senyum yang terukir diwajahnya.
"Hi,bro!! Makin kaya saja!!" goda Hansen mencairkan suasana.
"Silahkan duduk, Hans!"
"Hemm... bagaimana kabarnya? Kenapa lesu begitu. Masih mengantuk?" godanya lagi. Hansen memasang tatapan menyelidik pada wajah yang sedang duduk didepannya itu.Tidak dipungkiri sorot mata itu masih menyimpan luka dan kekecewaan yang begitu kentara.
Kau benar- benar patah hati, Bro.
"Jangan mengasihani aku," ujarnya sambil tersenyum getir menatapnya dan mempersilakan duduk.
"Aku bisa memahami itu. Kita bersahabat bro!! Hansen beranjak dan menepuk pundak, Andreas dengan pelan.
"Apakah ada yang ingin kau bicarakan?" Tidak biasanya kau datang sepagi ini."
"Aku cuma ingin melihat saudaraku. Apakah dia baik-baik saja atau masih patah hati?" Seloroh Hansen sambil menarik kursi yang berhadapan dengan Andreas. Tidak dipungkiri Hansen adalah sahabat yang selalu bijak melihat sesuatu apapun itu.
"Aku baik-baik saja. Aku yang salah," ujarnya Andreas tidak bersemangat.
"Cinta tidak pernah salah, waktu yang terkadang begitu kejam mematahkan hati kita." Hansen menatap Andreas yang sedikit termenung.
Memang benar adanya, mencintai Key saat sudah terikat adalah kesalahan. Tetapi sebelum key terikat itu bukan salahnya. Bukankah Raffael tidak pernah menunjukkan perasaannya sebelumnya," batin Andreas.
"Hey, kenapa diam saja!! Move on, Bro, Move on!"
"Emm....itu pasti! Jawab Andreas sedikit gugup. Sudahlah lupakan," perintahnya kemudian.
Keduanya berjalan duduk disebuah sofa yang terletak di ruangan Andreas dengan secangkir teh sebagai teman mengobrol.
"Kamu tidak usah khawatir. Raffael tidak seperti yang kau pikirkan. Hatinya masih mempercayaimu perihal penyerangan itu. "Yah, aku tahu kalian bersitegang, tetapi Raffael bahkan tidak berniat cerita tentang peristiwa itu apalagi berniat memblowupnya. Dia hanya bercerita padaku, Nick dan Brian saja, itupun aku yang bertanya, setelah kau tidak terlihat batang hidungnya," Tegasnya. Pria itu menatap hans dengan wajah getir. "Dia pantas membenciku. Kalau aku ada di posisi dia, mungkin aku sudah lupa diri.
__ADS_1
"Maksudmu?"
"Aku mengajaknya bertemu sebelum hari pernikahannya dan dia meladeni permintaanku," ucapnya masam. Hansen mengernyitkan dahinya sambil menatap wajah Andreas, namun tidak ditemukan bekas bogem mentah ataupun sejenisnya.
" Kalian tidak____"
"Aku yakin, Key berhasil menyakinkan, Raffael," potong Andreas cepat.
Hansen menganggukan kepalanya. Ada perasaan lega dalam hatinya. Dirinya tahu betapa eratnya hubungan Andreas dan Raffael sebelumnya. Terkadang dia menyesalkan adanya peristiwa ini dan hubungan keduanya merenggang.
"Lalu apakah kau sudah bisa membuktikan kepada, Raffael?"
"Clara!" ujar Andreas geram. Hansen bisa melihat raut wajah Andreas yang mendadak berubah memerah menahan amarahnya dan lebih mempertajam pendengaran dan penglihatannya.
"Maksudmu? Hansen lebih mendekatkan wajahnya, sehingga dapat merasakan hembusan napas kasar, Andreas yang terasa hangat hampir menyapu dirinya.
"Clara adalah dalang dari semua ini, Hans. Aku menyekapnya di penjara bawah tanah dan akan menyeretnya kehadapan, Raffael sepulang dari berbulan madu," tegasnya.
"Bagus. Rupanya aku kalah cepat. Perempuan itu kurang ajar sekali! Hansen ikut mengepalkan tangannya, dia tidak habis pikir dengan kenekatan wanita itu yang tidak terduga.
"Penyerangan dengan bahan peledak? Bagaimana bisa dia brutal dan menggila seperti itu?"
"Itu alasanku kenapa aku dan orangku
memantau Mansion tengah malam itu. Orang-orang Clara menerorku akan mencelakai, Key. Namun rupanya itu memicu Raffael semakin mencurigaiku, apalagi saat orang-orang Clara menyebut namaku." Andreas rahangnya kembali mengeras, sorot mata yang biasa teduh terlihat sangat menakutkan.
"Sabar-sabar." Hans mengusap lembut pundak Andreas. "Kamu tahu Raffael pasti melakukan proteksi yang luar biasa untuk, Key." Hansen masih bisa merasakan, Andreas benar-benar masih mencintai perempuan yang sudah resmi menjadi istri Raffael itu.
"Iya, aku percaya itu. Tetapi hatiku tidak tenang karenanya aku ingin memastikan sendiri, aku bersalah, Hans."
"Aku akan bantu kamu untuk bertemu Raffael. Sudahlah lupakan. Berhenti untuk memikirkan yang tidak penting lagi."
"Lebih cepat, lebih baik, Bro!"
"Dan buket mawar putih itu?" Goda Hansen terkekeh. "Apa yang kau pikirkan?" tanyanya sambil tersenyum, tetapi Hansen sangat bijak pada Andreas.
Andreas termenung dan kemudian kembali tersenyum getir. "Aku akui,
itu salahku. Mungkin kalau tidak ada peristiwa itu, sedikitpun Raffael tidak akan pernah mencurigaiku. Sungguh aku tidak berniat cerita pada siapapun tentang perasaanku padanya."
"Kalau itu Raffael berhak marah padamu. Jujur aku sulit untuk percaya kau senekat itu," ujar Hansen kembali terkekeh.
"Key calon istri sahabatmu, bro!"
Andreas terdiam mencerna ucapan Hans.
Itu karena kau tidak pernah merasakan betapa aku sangat mencintai Key, Hans.
Bahkan aku rela menunggu sampai Key siap untuk berkomitmen tanpa berniat melangkahi Raffael. Yang aku tahu Key orang yang tidak terikat waktu itu.
Andreas bahkan sangat yakin Dirinya mampu menaklukkan hati wanita cantik itu pada akhirnya. Namun cinta adalah cinta yang pemiliknya lebih suka misterius diakhir cerita.
"Sorry, bro. Jangan tersinggung. Aku bisa memahamimu," Kembali hansen merasa tak enak hati melihat keterdiaman, Andreas.
"Apa yang kau pikirkan, sehingga perempuan itu tahu perasaanmu pada Key, kalian curhat?"
"Itu kebodohanku, aku minum di club, dan tidak sadar ada Clara saat itu, mendengar ocehan ku. Beruntung Donny datang tepat waktu, sebelum wanita itu merekamnya." Jujurnya dengan sedikit malu.
"OMG, Andreas, sedalam itu kau mencintainya?"
__ADS_1
"Terimakasih, masih menganggapku kawan." Andreas menatapnya dengan perasaan serba salah. Guratan patah hati itu masih terlihat jelas dimatanya tanpa mampu dirinya sembunyikan.
"Jangan bicara seperti itu,kita selalu menjadi sahabat," hibur Hansen.
" Ingat, kau berhak bahagia, lupakan yang sudah tidak mungkin. Bukankah adakalanya melihat orang yang kita cintai bahagia, hati kitapun ikut bahagia?" nasehatnya sambil kembali menepuk pundaknya pelan.
"Sekali lagi, Terimakasih. Aku beruntung mempunyai seorang sahabat sepertimu, Hans, "Maaf sudah membuat gaduh untuk semuanya.
Setelah sekian lama berbincang akhirnya Hansen pamit pulang. Selepas kepergiannya, Andreas beranjak dari tempat duduknya. Tubuh tegap itu berdiri menatap keluar melalui Jendela kaca ruang kebesarannya. Cahaya mentari yang mulai menghangat menerpa wajahnya yang tampan yang masih diselimuti oleh rasa kehilangan.
"Sudah berulang kali aku mengucapkan selamat tinggal padamu, Key. Tetapi hati ini masih saja mencintaimu. Apakah cinta sebodoh ini?" gumamnya pelan. Andreas memejamkan matanya menahan nyeri dalam hatinya, mengingat begitu banyak hal yang sudah dipersiapkan untuk membahagiakan key secara diam-diam. Rumah impian, sebuah yayasan sosial, ressort mewah ditempat kesukaannya, karena Andreas sangat ingin membahagiakan wanita murah hati itu. Sekian lama dia mengenal Key, Ia mengetahui secara pasti apa yang menjadi kesukaannya dan kebiasaan wanita cantik itu.
"Andreas Alterio Wiratama apa yang terjadi dengan hatimu?" Kembali duduk dan mencoba mengistirahatkan tubuh dan otaknya dan berniat pulang lebih cepat karena semangat bekerjanya yang mengendur sebelum bertemu, Raffael.
πππ
Ditempat terpisah Raffael dan key yang masih menikmati hari bahagianya kembali menghabiskan waktu bersama dipinggiran pantai. Key termenung menatap ombak sementara Raffael asyik bermain jet sky bersama jasson yang siang itu bergabung dengannya.Tidak disangka olehnya Raffael diam-diam mendatangkan seorang dokter dan psikolog untuk menyembuhkan traumanya. Bersyukur sesuatu yang dicemaskan tidak terjadi. Dirinya tidak mengalami shock, cemas dan gangguan traumatis yang berkepanjangan dan bisa hilang seiring berjalannya waktu.
"Mungkin karena aku sangat bahagia saat ini," gumannya lirih sambil tersenyum menatap Raffael yang sedang berselancar.
"Apakah kau tidak ingin mencobanya?" ajak Raffael yang kembali duduk disampingnya.
Key menggelengkan kepalanya pelan." Bukankah kau tahu aku tidak menyukai segala bentuk permainan yang terjadi dilautan lepas."
"Itu artinya kamu tidak menyukai tempat ini?"
"Aku suka menatapnya dari jauh. Bukankah kamu selalu menyenangkanku ditempat kesukaanku, saat ini adalah giliranku untuk menyenangkanmu." Kedua netra mereka saling bertaut. Raffael meraih jemari tangan dan menggenggamnya dengan begitu erat.
"Ayo kita kembali, matahari mulai panas," Raffael berdiri tanpa melepas genggaman tangannya. Key begitu seksi dengan rok pantai yang menampakkan betis indahnya dengan atasan T-shirt warna cerah dipadu dengan topi pantai lebar yang bertengger di kepalanya membuat Raffael tidak berhenti memujanya.
"Raffael, dimana dokter dan psikolog yang kau datangkan itu menginap?"
"Mereka aku sewakan tempat disebuah ressort yang tidak jauh dari," jelasnya.
"Ohhh....!!"
"Kenapa?"
"Banyak kamar kosong di Palace."
"Aku tidak ingin diganggu oleh mereka."
Key mengerucutkan bibirnya dengan gemas. "Aku sudah menduganya jangan diteruskan," ujarnya sambil tersenyum smirk menatap Raffael.
"Apakah kamu tidak sadar,cara?!"
"Apa?!"
"Setiap saat kau mendesah dengan begitu kencang," bisik Raffael dengan gemas, seketika pukulan kecil mendarat pada lengannya. "Menyebalkan. Bukankah kau menyukainya?" Baiklah mulai sekarang aku akan seperti orang mati saja." protesnya seraya melepas genggaman tanganya dan berjalan mendahuluinya.
"Ha...ha.. ha.. cara, tunggu!!"
Raffael berlari mengejar pujaan hatinya dan menyambar tubuh ramping itu dan menggendongnya sampai mobil dan melaju cepat kembali ke palace.
________________________
Catatan penulis:
Sahabat tersayang π
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan like dan komennya, ya! Terimakasih π