
Bertahun-tahun aku mengenalmu, tetapi kenapa aku sangat sulit memahamimu. Kau selalu berpikir menurut caramu dan harus mendengarkan mu. Semuanya adalah tentang mu.
"Kau boleh melarangku apa saja. Tetapi jangan sekali-kali melarangku untuk menghentikan membuka kasus Tirtawijaya group ..." ujarnya dengan nada rendah.
Perempuan yang sedang diajak bicara itu, sesaat bergeming tanpa suara lagi. Bukan apa-apa, Key hanya memikirkan kesehatan orang tuanya.
Maklum saja semenjak berhenti dari
hingar bingar dunia bisnis,Tuan Tirtawijaya sering sakit-sakitan dan
beliau tidak berminat lagi terjun ke dunia bisnis yang membesarkan namanya itu.
"Apakah kau tahu sesuatu, Raffael? Mak_ maksudku, dengan kau berani membuka
kasus ini, paling tidak kamu sudah mengantongi bukti yang sangat kuat."
"Suatu saat kau akan tahu," jawabnya singkat. Raffael melirik jam tangan pada
pergelangan tangannya dan mengajak Key untuk pulang.
Tidak memiliki alasan lagi, Key hanya bisa menurut. Walaupun sepanjang jalan diisi ruang sunyi. Mobil mewah miliknya
membelah jalanan sore dengan sedikit
kemacetan. Tidak jarang keduanya,
harus berpacu dengan rasa sabar menunggu lampu hijau kembali menyala. Dengan harapan cepat terhindar dari kebekuan ini.
Senyum manis key mendadak terbit. Sudut bibirnya yang mungil sedikit terangkat, disaat sepasang bola matanya melihat sepasang muda-mudi yang
sedang dimabuk asmara.
Menikmati sore pada taman pinggran kota. Tertawa bersama, saling menggoda dan menciptakan perhatian-perhatian
kecil terlihat begitu manis dan bahagia.
Apa jatuh cinta seindah itu. Ada yang menjaganya, membelanya dan menghapus air matanya disaat sedih.
bukankah Raffael juga bersikap seperti itu, tetapi___"
Mendadak wajahnya berubah muram, merenggut senyum manisnya yang tersungging di wajahnya tadi berganti dengan kesedihan dan kekecewaan.
"Turunkan aku di butik sebentar. Ada yang ingin aku ambil," pintanya saat kesadarannya kembali pulih.
"Jangan bilang, kamu akan mendesain
sampai malam. Aku tidak punya banyak
waktu untuk menunggumu."
"Kamu bisa langsung pulang, tidak perlu menungguku. Maaf aku membuatmu repot, salam untuk Nova." Langkah kecilnya mulai menyusuri trotoar jalanan, bahkan Key tidak menoleh lagi.
Astaga! Sikap wanita kenapa selalu mengujiku.
Sejak Raffael mengumumkan hubungannya dengan Nova, hatinya merasa canggung untuk satu mobil bersama Raffael.
Ada jarak yang membentang membentengi hatinya. Senyum, canda tawa, kekonyolan- kekonyolan yang
biasa terdengar saat mereka bersama- bersama hilang pergi tanpa warna.
__ADS_1
Tadinya aku berpikir, hanya akan turun sebentar saja untuk mengambil kertas desain. Tetapi mendengar nada ucapan Raffael yang kurang bersahahat, membuat aku berpikir pulang sendiri tanpa dirinya adalah yang terbaik. Bodoh! Kenapa aku selalu berharap dia akan menghentikan langkahku dan berharap kamu menungguku.
Raffael menatap punggung key, yang berlalu semakin menjauh. Tangannya masih mencengkram stir dengan mesin yang dibiarkan menyala. Setelah beberapa saat tidak ada tanda-
tanda Key kluar, Raffael memutuskan untuk turun dan melihatnya ke butik.
"Bagaimana bisa kamu berpikir, aku akan meninggalkanmu dan pulang seorang sendiri. Dasar perempuan keras kepala Raffael mendengkus sebal.
Raffael bergegas masuk ke dalam butik. Baju-baju tampak terdisplay dengan begitu indah. Suasana sangat sepi, hanya sorot lampu meja yang tetap menyala menerangi ruangan yang tidak terlalu besar.
Dilihatnya wanita itu sedang tertidur dengan kepala yang menyandar di atas meja. Jemari tangannya masih memegang pena dan berteman lembaran-lembaran kertas yang
berserakan di atas meja.
Raffael melangkah perlahan dan mengambil duduk di sampingnya. Tangannya terulur merapikan anak rambut yang menjuntai menutupi wajahnya. Sesaat Ia dibuatnya tertegun
dengan air mata yang menetes dengan perlahan.
Bahkan, saat sedang tidur pun kau menangis? Apakah kau sesedih ini?
Apakah aku sudah terlalu kasar padanya tadi dengan memaksakan kehendaknya.
Tiba-tiba ada yang mencelos dalam hatinya. "Kamu tahu, aku benci air mata ini saat kau sedang bersamaku. Wanita memang keras kepala. Apa yang kamu pikirkan? Aku menunggumu, sementara kau malah tertidur di sini dan membiarkan pintu butik tidak terkunci? Bagaimana kalau ada orang asing mendadak masuk?" Raffael benar tak habis pikir.
Mengusap lembut wajahnya yang
tampak pulas. Jemari tangannya membersihkan sisa-sisa air mata yang
sebagian hampir mengering. Dadanya terasa sesak. Ia ingin sekali mengatakan
pada dunia bahwa, Ia adalah miliknya dan tidak ada satu orang pun yang boleh menyentuhnya, apa lagi meneteskan Air
"CARA," bisiknya dengan tersenyum. Kamu tahu, aku memanggilmu Cara?"
Cara mi amour." Raffael menundukkan wajahnya lalu mengecup keningnya dengan dalam.
Di pejamkan matanya menikmati debaran jantungnya berdegup kencang, tetapi juga merasakan perih yang menjalar merasuki sel-sel tubuhnya.
Aku berjanji akan mengungkap misteri
Tirtawijaya dengan cepat. Dan Setelah itu
tidak akan lagi teror-teror aneh yang
mengelilingimu, setelah memastikan orang-orang yang terlibat itu membusuk
di penjara.
Selama ini Antara menguasai sektor media penting dan sekuat tenaga mengendalikan pemberitaan yang
bersifat anarkis dan mengancam
keberadaan pewaris tunggal Tirtawijaya
Group.
Kalau terbukti NAM GROUP berdiri di atas uang haram dari aset Tirtawijaya,
maka tamatlah riwayatmu Danu purba.
__ADS_1
Raffael mengangkat tubuh Key dengan perlahan.Tanganya meraih hand bag yang tergeletak di meja dengan susah payah dan melangkah keluar. Tetapi ia
merasa kebingungan bagaimana mengunci pintu pintu butik miliknya itu.
"Bos," panggil seseorang dengan lirih. Raffael mencari sumber suara tersebut dan mendapati Jordan tengah tersenyum
masam ke arahnya, yang sedang membopong tubuh Nona mudanya dengan susah payah.
"Bagus, setidaknya kau datang pada saat yang tepat. Raffael melempar kunci butik dan memberikan isyarat Jordan untuk cepat-cepat menguncinya. Sementara dirinya berjalan ke arah mobil, menyenderkan tubuh Key yang tampak terlelap itu pada jok mobil mewah miliknya.
Raffael menuggu Jordan yang sedang berjalan ke arahnya. " Bagaimana bisa kamu tahu aku ada di sini? Raffael menaikan sebelah alisnya menyadari Jordan mungkin saja membuntutinya.
"Raffael kamiy pikir tidak berbahaya kalau ada mata-mata yang melihat kebersamaanmu dengan nona, Key?" Jordan kali ini menatap cukup serius.
"Hemm ... kamu benar. Kau yang menyetir," perintahnya.
"Jangan ganas-ganas, Raffael! kasihan Nona pingsan dalam sesaat," seloroh Jordan mencairkan suasana. Sekarang semua sudah terbuka bagi Jordan, Raffael melakukan segalanya
demi cintanya, demi Nona muda mantan
pemilik Tirtawijaya group itu.
"Dasar! Apa yang sedang bersarang di otakmu," tukas Raffael dengan kesal.
Ia melempar kunci mobilnya dan Keduanya bergegas masuk ke dalam mobil. Sementara mobil Jordan yang
digunakan untuk membuntuti Raffael, dibawa oleh anak buahnya yang lainnya.
"Jangan mengebut, pelan-pelan saja!" Raffael melirik Key yang tampak pulas
tertidur di sampingnya.
Apakah kau selelah itu? Dasar ceroboh! bagaimana kalau yang bersamamu bukan aku? Apakah kau pernah seperti ini
saat Andreas bersamamu?
Raffael mengepalkan tangannya dengan kuat. Andreas memang sahabatnya dan
dia tidak menampik, dia adalah lawa sepadan untuknya. Tetapi Key adalah miliknya.
Gawat, aku tadi melihat mobil Tuan muda, Andreas, melintas di depan butik, Nona Key. Tetapi begitu melihat mobil
Raffael terparkir di depannya, beliau memilih melintas begitu saja. Gila alamat
ada perang dunia ketiga ini.
Jordan menggelengkan kepalanya dengan perlahan, menyadari mungkin
tugasnya yang akan semakin berat.
Raffael akan uring-uringan kalau suasana
hatinya sedang tidak baik-baik saja.
_______________
Catatan penulis:
Sahabat tersayang, jangan lupa
__ADS_1
like dan komennya, ya! Terimakasih 😍