
"Apakah kepalamu terasa pusing, Bos?!
"Hemm..."
Dalam perjalanan pulang Jordan tidak perlu dua kali berpikir untuk membawa Raffael ke Rumah sakit terdekat. Walaupun suara pria itu terdengar keras melarangnya.
"Tidak perlu Jordan, saya ingin cepat istirahat di rumah saja, "dan kau bisa panggilkan aku dokter."
"Tuan muda, jangan meremehkan kesehatan sekecil apapun, maaf kali ini saya tidak bisa mengikuti perintahmu." Tangannya bergerak cepat memutar kemudi memasuki kawasan rumah sakit elit yang letaknya tidak jauh dari kantor.
"Jordan! Aku benci rumah sakit!" Raffael di buatnya geram. Kedua tangannya menekan pelipisnya untuk menahan kepalanya yang semakin pusing.
"Tuan muda, hanya untuk pertolongan pertama saja, "lihatlah Tuan muda sangat lemas dan pusing. Dokter Joseph sudah menunggu, tidak akan lama. Percayalah."
"Jordan! Jangan membuatku marah, please," desis Raffael kesal. Beberapa kali dia meringis menahan pusing di sertai badannya yang gemetaran. Bunyi panggilan masuk di abaikannya. Nama Key berkali-kali tertera di layar, namun Raffael tidak berniat mengangkatnya.
"Jangan di angkat! Aku tidak ingin membuatnya cemas."
"Karena itu cepat ke dokter. Nona akan sangat cemas melihatmu seperti ini. Apakah kau ingin terlihat sakit di acaranya tiga hari kedepan? ultimatum Jordan terbukti ampuh dan membuat Raffael pasrah.
"Terserah kamu saja, tetapi saya tidak mau menginap!" Mengingat Key Raffael tidak punya pilihan.
Jordan turun dari Mobil diikuti oleh dua orang anak buahnya yang mengikuti dari belakang. Mereka bergegas memapah Raffael dan menuju kamar VVIP yang sudah dipersiapkan. Dokter Joseph sudah menunggu, menyadari siapa yang datang beliau membungkuk hormat.
"Selamat sore dokter, tolong lakukan tindakan terbaik untuk, tuan muda. Dari siang merasa pusing, letih, lesu dan tidak ***** makan," beritahu Jordan.
"Tuan muda berbaringlah, saya akan memeriksanya." Jordan yang ikut masuk,
berdiri tidak jauh dari Raffael. Bukan hal baru lagi, Tuan mudanya itu bayak protes kalau sudah berurusan dengan rumah sakit dan bau obat-obatan.
Dokter Josep mengangguk-anggukan kepalanya setelah selesai melakukan pemeriksaan dengan seksama. Hal ini membuat Raffael sedikit gerah setelah dokter memutuskan untuk melakukan infus sebentar.
"Saya sakit apa dokter?" Kepala saya pusing dan badan terasa lemas," keluhnya tidak betah.
Dokter Joseph hanya tersenyum. "Tidak ada yang perlu dicemaskan,Tuan muda hanya butuh waktu untuk beristirahat. Tuan muda terlalu lelah, kurang tidur dan mengalami dehidrasi atau kekurangan cairan. Di samping tekanan darahnya yang sangat rendah, "Itu yang membuat kepala pusing dan berkunang-kunang," jelas dokter.
"Saya sudah resepkan obat, berikut vitamin dan hendaknya di minum secara rutin sampai habis."
"Apakah tidak ada suplemen khusus, yang membuat saya tidak perlu harus di infus, " Ekor matanya melirik jengah dengan kondisi slang infus yang menempel pada tangannya.
"Tidak akan lama, supaya tidak lemas saja, "tetapi usahakan untuk beristirahat dengan cukup, jangan terlalu di forsir untuk bekerja," nasihat dokter Joseph.
Setelah sekian lama infus belum ada tanda- tanda habis, dengan sedikit protes Raffael meminta izin dokter untuk membawanya pulang saja. Dokter Joseph hanya geleng-geleng kepala melihatnya. Kalau tidak ingat, hampir seluruh rumah sakit swasta di ibu kota mendapatkan suntikan dana dari keluarga besar Bimantara, tidak mungkin beliau akan mengizinkannya.
"Tuan muda benar-benar butuh istirahat, kalau butuh apa-apa cepat hubungi kami, besok ada perawat yang akan datang mengganti infusnya. Dan harus diperhatikan asupan makannya," pesan dokter kepada Jordan.
"Baik Dokter, terimakasih banyak."
"Jordan ke kediaman pribadi saya saja. Saya tidak ingin melihat mami cemas. Apakah urusan untuk tiga hari ke depan sudah siap?"
"Tidak ada yang perlu di cemaskan. Sudah beres semua, "Sudahlah, tinggalkan urusan kantor sejenak dan mulai sekarang harus istirahat di rumah."
"Hemm ..."
Setibanya di rumah keadaannya sedikit membaik, karena cairan infus yang mengalir dalam tubuhnya. Raffael memutuskan untuk beristirahat demi
surprise tiga hari ke depannya.
πππ
Tiga hari kemudian
Key termenung menatap gedung megah yang pernah menjadi bagian terpenting dari keluarganya dan menjadi simbol kerja keras orang tuanya selama ini. Begitupun tuan Tirta Wijaya, Siapa sangka akan kembali kepadanya setelah sekian lama. Raffael dan keluarganya memberikan aset utama perusahaan Tirta Wijaya yang sempat di akuisisi, kepada key sebagai ahli waris tunggal. Walaupun, dikelola oleh Raffael dan dibantu oleh sepupu lelaki key yang bernama Ferdy.
Siang itu adalah pertama kalinya setelah sekian lama mereka menginjakan kakinya kegedung utama Tirta Wijaya group. Sebuah perusahaan keluarga yang pernah memberikan kenangan yang indah, kenangan yang pahit dan banyak memberikan pelajaran hidup yang sangat berharga.
__ADS_1
Semua terjadi karena kuasa Tuhan. Tidak satupun orang bisa menghalanginya bila
mana yang mahakuasa sudah menunjukkan kebesarannya.
"Papa, simbol kerja keras papa, kasih sayang papa, perjuangan papa yang tidak ringan untuk keluarga sudah kembali.
Saya harap, Papa bahagia, sehat kembali," ucapnya dengan menampilkan senyum terbaiknya.
Keduanya saling berpegangan tangan. Tuan Tirta Wijaya terharu melihat putri semata wayangnya mulai bijak. Dalam hatinya dia bersyukur Key bisa melewati semuanya. Begitu tegar,kuat dan bisa mengambil hikmah dari semua peristiwa yang telah terjadi.
"Sayang, Raffael, sudah melakukan banyak hal untuk keluarga kita. Dengan seizin yang mahakuasa. Ini semua demi cintanya kepadamu. Berjanjilah kamu akan selalu ada untuknya dalam suka maupun duka," nasihatnya kepada Key.
"Tentu saja, pa! Key akan selalu mengingat nasihat Papa. Kehidupan sudah mengajari segalanya, kita hanya mampu berdoa dan mengharap yang terbaik, seperti yang selalu papa katakan. Kehidupan tidak akan selalu sama dan belum tentu sesuai dengan yang kita harapkan."
"Tuan besar tersenyum. Hemm... rupanya kamu sudah dewasa dan bijaksana. Sebentar lagi papa akan melepasmu untuk, Raffael. Tiada yang lebih membahagiakan buat papa melebihi melihatmu menikah dengannya dan hidup bahagia sayang.
"Pa, ayo masuk mungkin Raffael sudah menunggu."
Tampak pengawal berjalan mengiringi Keduanya. Key terperangah mendapati gedung sudah dihias sedemikian rupa. Karangan bunga berjajar sebagai ucapan selamat datang dihiasi dengan pita warna warni disepanjang jalan depan gedung utama Tirta wijaya group.
"Apakah Raffael menyiapkan semua ini," Key tidak bisa menutupi rasa kagetnya. Para karyawan berjajar membungkuk memberikan hormat kepada keduanya.
"Astagaaaa! Raffael! Bagaimana bisa dia memberi penghormatan sebesar ini di perusahaan yang jelas-jelas sudah di belinya," Tuan Tirtawijaya tersenyum menatap Key.
"Maksud papa?"
"Kamu adalah pemiliknya saat ini. Raffael memberikannya kepadamu, sayang. Dan apakah kamu tau, papa menawarkan diri untuk membeli kembali aset yang tersisa berikut biaya operasional perusahaan, tetapi dia menolak dengan alasan hak papa yang telah kembali sebagai jaminan hari tua papa dan mama. Dan dia memberikan perusahaan Tirta Wijaya atas namamu."
"Raffael tidak mengatakan apa-apa kepadaku,pa!"
"Mungkin ini sebagai kejutan untukmu."
Netra indahnya seketika berkaca-kaca. Key tidak tahu harus mengatakan apa, terlepas apa yang telah di dengarnya.
Suara tepuk tangan riuh terjadi. Raffael, Tuan dan Nyonya Wijaya. Nyong Tirta wijaya, tante Lydia serta tante Diana yang merupakan adik keduanya bersama putra- putrinya telah berada disana .
Raffael tersenyum menatap kedatangan mereka berdua dan mempersilahkan Key dan Tuan Tirta wijaya untuk naik Ke podium yang telah disediakan untuknya.
"Raffael!"
"Cara, kenapa kau bingung seperti ini?" Hari ini adalah hari bersejarah untukmu," bisiknya.
Key semakin bingung dibuatnya, manik matanya menatap wajah-wajah bahagia yang tersenyum mengarah kepadanya.
"Apa yang sedang kau rencanakan? Raffael, kenapa kau suka sekali mengejutkanku?" bisiknya dengan tidak bisa menutupi rasa harunya.
Kemudian Raffael dengan segera mengumumkan kepada para karyawan, bahwa pada saat ini status kepemilikan perusahaan Tirta Wijaya group adalah Keyrane Anaya aqueency Tirta Wijaya.
Sebagai pewaris tunggal yang sah.
"Jangan melarangku untuk tidak menangis lagi, kali ini."
Airmatanya tidak kuasa lagi untuk di bendung. Raffael benar-benar membuktikan ucapannya. Tetapi sejujurnya bukan ini semata yang membuatnya bahagia, tetapi keadaan papanya yang semakin membaik pasca hak-haknya yang hilang telah kembali jauh lebih membuatnya bahagia.
Tepuk tangan terdengar semakin riuh, saat peresmian kepemilikan perusahaan resmi dilakukan.Tidak hanya itu saja, hari itu juga untuk pertama kalinya Raffael berbicara kepada awak media, bahwa sebentar lagi mereka akan bertunangan dan akan menikah dalam waktu dekat, serta memperkenalkan Key sebagai calon istrinya di hadapan publik.
Tuhan, tiada kuasa yang melebihi kuasamu. Suatu hari hambamu bersatu dengannya dalam ikatan yang Engkau restui," ijikan aku bersamanya sampai maut memisahkan,janji key dari dalam hati.
Netra indahnya tidak berhenti menatap lekat wajah tampan Raffael yang sedang tersenyum padanya. Tangannya gemetar, saat Raffael dengan lembut menggenggam tangannya.
Para Wartawan tidak berhenti untuk mendokumentasikan moment tersebut.
Kilatan kamera tidak berhenti menyapa wajah bahagia keduanya.
"Terimakasih untuk semuanya," Key menatap haru dan memberikan sambutan pertama, setelah resmi menjadi pemilik perusahaan keluarganya.
__ADS_1
Dengan anggun dan santun sebuah kata demi kata tersusun dengan rapi, terucap dari bibirnya. Perempuan itu sangat tenang dan kelihatan lebih matang dari biasanya.
"Saya merasa sangat terhormat sekali, terimakasih yang tidak terhingga kepada keluarga besar Bapak Bimantara Kusuma Wijaya, bapak Raffael Valerio Emeraldi Wijaya yang berkenan untuk memberikan kepercayaan sebesar ini kepada saya, yang mungkin dalam mimpi saja, saya sudah tidak berani berharap. Mengingat kejadian masa lampau yang tidak mengenakkan, seperti yang kalian ketahui tanpa harus saya sebutkan.
"Untuk hadirin yang terhormat, para karyawan yang tetap mengabdikan diri dan mempunyai dedikasi tinggi kepada Tirta Wijaya group dalam suka maupun duka, saya hanya mampu mengucapkan terimakasih yang tiada terhingga, untuk loyalitas kalian kepada perusahaan."
"Tetap semangat untuk meciptakan suasana kerja yang baik, dengan mengedepankan nilai moral dan integritas tinggi, saya yakin kedepannya akan membawa perusahaan kearah yang lebih baik lagi."
"Terimakasih sekali lagi, kiranya Tuhan yang maha kuasa senantiasa memberkati kita semua Aamiin."
Tepukan tangan kembali terdengar riuh. Selesai acara Key tidak bisa melukiskan
kebahagiaannya, sampai tidak bisa
berkata-kata lagi. Semuanya masih seperti mimpi, sampai sebuah suara yang sangat dikenalnya menghampirinya dan memberikan ucapan selamat.
"Congratulation, sukses untukmu dan semoga bahagia," Seorang pria tampan mengulurkan tangannya. Sesaat keduanya saling menatap dengan cukup lama. Entah apa yang sedang dirasakan oleh Andreas saat ini. Begitupun dengan Key. Ucapan Raffael beberapa saat yang lalu bahwa, Andreas diam -diam mencintainya dan berniat melamarnya membuatnya tidak nyaman saat berhadapan dengannya.
"Terimakasih. Kau disini?" Key terlihat kaget dengan kehadiran, Andreas.
"Raffael yang mengundangku," jawabnya dengan senyum, tetapi tidak bisa menutupi sorot mata terlukanya.
Ini adalah pertama kalinya mereka kembali bertemu setelah Key resmi resign dari kantornya. Wajah yang sudah lama begitu dirindukannya dalam diam.
Ingin sekali Andreas memeluknya kalau saja tidak ada hal yang membentang menghalangi cintanya.
"Sebelumnya aku minta maaf, karena aku harus resign secara tiba-tiba," Key merasa tak enak hati. Terimakasih untuk kesempatan kerja yang telah kau berikan kepadaku,"tambahnya lagi.
"Jangan membuatku malu, bagaimanapun kamu adalah pemilik Tirta Wijaya group saat ini, dan sepertinya perusahaanku telah kehilangan orang secakap kamu," puji Andreas tulus.
"Jangan berlebihan. Masih banyak orang
yang punya cappabilitas tinggi di luar sana, aku tidaklah ada apa-apanya," jawabnya merendah.
Andreas tersenyum. Dalam hatinya tidak memungkiri nama key masih terpatri kuat dalam hatinya. Tetapi Andreas benar-benar bahagia, melihat wanita itu telah kembali ke kehidupannya semula. Masih jelas dalam ingatan saat, awal-awal kehancuran Tirta Wijaya group. Yang mengubah seluruh hidupnya. Dan memaksanya untuk bekerja keras. Andreas adalah sahabat terdekatnya di samping Raffael sebagai calon suaminya.
"Tadinya aku masih berharap, bahwa kamu mau mempertimbangkan surat pengunduran dirimu, tetapi saat ini rasanya mustahil sekali, "bagaimana bisa aku menyuruh pewaris tunggal Tirta wijaya group untuk bekerja di kantorku," canda Andreas. "Raffael benar-benar sangat beruntung, bukan?"
"Kau selalu saja begitu. Kamu sendiri bagaimana? Seharusnya kamu juga mengajak calon istrimu kemari, "bukankah kau sudah berjanji padaku?"
Key mungkin merasakan perhatian tidak biasa Andreas, tetapi mendengar bahwa Pria itu sudah berniat melamarnya hal ini di luar dugaannya.
Melihat Andreas yang lebih memilih untuk memendam perasaannya, Dia juga akan berpikir lebih baik pura-pura tidak tahu apapun. Itu lebih baik, karena kalaupun Andreas berterus terang, itu cuma akan membuatnya sangat kecewa
dan menyakiti hatinya.
Pria itu hanya tersenyum dengan pertanyaan Key dan akhirnya berlalu, dengan luka hati yang dirasakannya sendiri.
Jangan memaksaku untuk mencintai yang lainnya, karena sejujurnya hati ini hanya milikmu.
Key menatap punggung Andreas yang sudah berlalu.Tidak dipungkiri beberapa kali Andreas bertanya tentang sebuah hubungan, tetapi key tidak membuka hatinya dengan alasan belum ingin berkomitmen.
Hari ini Raffael telah mengumumkan bahwa dirinya akan menikah, mungkinkah Andreas kecewa dengan semua ini, "Bagaimanpun Andreas adalah orang yang menerimanya disaat dirinya memerlukan pekerjaan.
"Sepertinya kau masih berminat untuk menjadi sekretarisnya? Atau mungkin, kau menyesal, karena aku telah memutus pekerjaanmu."
Key menoleh mencari sumber suara yang dikenalnya dan berjalan mendekati Raffael yang menatapnya dengan pandangan cemburu. Asyik mengobral membuat Key melupakannya sejenak. Sementara anggota keluarga yang lain masih asyik mengobrol satu sama lainnya dengan keluarga Wijaya.
"Aku hanya mengucapkan terima kasih saja dan minta maaf karena mendadak resign."
____________________________
Sahabat tersayang π
Jangan lupa untuk meninggalkan like dan komentarnya, thank you dear π
__ADS_1