Misi Cinta CEO Tampan

Misi Cinta CEO Tampan
103. Ucapan terimakasih.


__ADS_3

Jordan tersenyum menatap, Raffael yang sedang turun dari tangga dengan rambut setengah basah. Sore itu sang Big Bos, terlihat begitu bahagia dari biasanya. Dengan kaos santai dan celana pendek yang melekat pada tubuh tegapnya, berjalan mendekat ke arah Jordan yang sudah menunggunya duduk di ruang tamu. Panggilan telepon sore itu mengantarkannya kembali kekediaman pribadi, Raffael untuk mengantarkan sepasang pengantin baru itu kekediaman Tuan besar Wijaya.


"Selamat sore Tuan muda, Bos," sapanya dengan tersenyum.


"Sore! Sorry aku merepotkanmu lagi," ucapnya sedikit basa-basi dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Raffael terlihat salah tingkah dengan cara Jordan menatapnya.


OMG, Bos happy sekali. Seumur-umur belum pernah saya melihat Raffael wajahnya secerah ini. Efek, Nona Key memang luar biasa.


"Biasa saja, Bos! Santai saja, sudah menjadi pekerjaan saya, tidak masalah." Jordan senyum- senyum menatap Raffael, sementara Pria tampan itu balik menatapnya kelam dan terlihat tidak nyaman.


"Jordan aku ingin kau menjual mobil yang kita pakai saat terjadi penyerangan itu. Kamu ganti Bugatti versi terbaru saja," perintahnya sambil menyenderkan kepalanya di sofa. Raffael tidak masalah mobil kesayangannya itu dijual karena masih ada koleksi mobil serupa.


"Baik, Bos."


"Aku rasa kau paham alasanku," ujarnya lagi. Jordan terlihat berpikir sejenak dan menganggukkan kepalanya .


"Demi Nona, Key!" Jawabnya pasti.


"Singkirkan semua. Jangan sampai ada sedikitpun jejak penyerangan yang tersisa. Saya tidak ingin melihat Key, tidak nyaman dengan semuanya," Wajah Raffael seketika menjadi muram. Ada gurat penyesalan dalam dirinya setiap mengingat kejadian itu. Betapa Raffael sangat menyesalinya dan tidak bisa menyembunyikan lagi keadaan yang sesungguhnya, karena sejak kejadian itu, Key begitu kritis bertanya apapun yang menyangkut dirinya setiap saat.


"Aku juga minta maaf atas kejadian itu." Jordan menatap Raffael dengan perasaan tidak enak hati. Peristiwa yang masih ditutupi dari keluarga besar Raffael dan juga orang tua, Key. Peristiwa yang bisa saja melenyapkan nyawa mereka kalau sampai terjadi kesalahan sedikit saja.


"Bukan salahmu. Kau sudah bertindak tepat waktu. Saat ini bukan waktunya untuk saling menyalahkan tetapi saling mencari solusi dan mawas diri."


"Apakah, Nona, Key saat ini sudah lebih baik?"


"Mimpi itu sering hadir bahkan disiang hari sekalipun, aku baru mengetahuinya tadi siang." Raffael melihat sendiri bagaimana Key mengigau meneriakkan namanya dengan wajah ketakutan dan berkeringat dingin. Beruntung dia bisa menenangkannya tanpa harus membangunkannya dan lagi- lagi perasaan bersalah menyelusup dalam hatinya.


"Satu lagi kau urus manusia bodoh tak berguna itu," Dengan sedikit menggeser duduknya rahangnya mengeras, tangannya lagi- lagi mengepal menahan amarah mengingat penyerangan itu.


"Kamu tenang saja. Semua beres dalam pengawasan anak buah Jasson dan Donny. Mereka berdua berduet untuk menjebak anak buah, Darriel. Untuk Nona Clara masih dalam pengawasan, tetapi saya sudah melakukan blacklist untuk memastikan dia tidak bisa pergi atau kabur keluar negeri.


"Bagus!" Kau dan saudaramu memang bisa diandalkan. Terimakasih."


"Tuan muda, Andreas diam- diam juga membantu mengamankan hari pernikahanmu melalui orang- orangnya. Aku sudah melarangnya, tetapi beliau bersikeras, karena tidak ingin ada ulah orang yang tidak bertanggung jawab itu kembali mengacaukan segalanya. Sepertinya beliau benar- benar sangat menyesal dan merasa bersalah." Jordan berterus terang pada Raffael.


Raffael terdiam sejenak. Antara ingin marah atau berterimakasih. Sejujurnya tetap saja Ia tidak nyaman ada campur tangannya karena tetap saja, Andreas masih mencintai, Key. Alasan Andreas juga merupakan korban dari keonaran yang di buat Clara yang pada akhirnya diam- diam sedikit menurunkan egonya.


"Lain kali katakan padanya tidak perlu repot-repot lagi."


"Siap, Bos!"

__ADS_1


"Kita berangkat sekarang, persiapkan mobil diparkiran bassement bawah tanah. Key masih tertidur," Raffael beranjak untuk bersiap sementara, Jordan bergegas menuju bassement.


Raffael menatap wajah yang masih begitu pulas itu dan mengusapnya dengan lembut. Baginya lebih baik Key tidak terbangun karena dalam kesendiriannya Ia masih trauma untuk naik kendaraan.


"Percayalah, tidak akan ada lagi peristiwa semacam itu. Aku berjanji, semua akan baik-baik saja," bisiknya lalu mencium keningnya dengan sayang.


Disisi lain Jordan sedikit kaget melihat Raffael membopong perempuan cantik yang telah resmi menjadi istrinya itu, dalam keadaan terlelap. Dia berpikir Raffael akan membangunkan Nona mudanya untuk bersiap, tetapi lagi-lagi Jordan harus disuguhi adegan romantis yang seketika kerinduannya pada Naya,


wanita yang mulai mengisi hatinya sedikit mengusiknya dan membuatnya senyum- senyum sendiri.


"Buka pintu mobilnya," Raffael sedikit memberikan isyarat kepada Jordan yang sudah menunggu.


"Jordan, lebih cepat lebih baik. Jalanan sepertinya sangat lengang," Raffael membiarkan Key tertidur pangkuannya.


"Okey, Bos! Jordan menaikan kecepatannya, Key, yang merasakan ada pergerakan halus tidurnya terusik, dengan membuka matanya pelan mengejap indah. Dia sangat kaget mendapati dirinya berada di dalam mobil yang sedang melaju dengan cepat. Dengan spontan dia terduduk dan nyaris berteriak kalau saja Raffael tidak buru-buru mendekapnya.


"Hey, amour, ini aku," bisiknya. Raffael memindai wajahnya yang terlihat bingung dan mengusapnya dengan lembut lalu menatap kedua netranya dengan dalam untuk menegaskan kalau, Raffael yang sedang bersamanya .


"Kau terbangun?" Maafkan aku,sayang membawamu pergi saat kau tertidur." Raffael merengkuhnya ke dalam pelukannya seakan ingin memastikan semua baik-baik saja.


"Aku sangat takut, kalau itu bukan kau..." ucapnya lirih dengan merapatkan tubuhnya. Key sangat bersyukur ternyata dia ada di dalam mobil, Raffael. Sejenak dia menajamkan ingatannya, bahwa sore itu dia akan mengantarkan pulang kedua orangtuanya dan kembali mengeratkan pelukannya.


"Semua baik-baik saja. Akan baik-baik saja, okey," Raffael memenangkannya kembali yang diikuti oleh anggukan pelan kepalanya. Jordan yang melihat pemandangan romantis dari kaca spion mobil mewah bergaya sport jenis Bugatti centodieci itu hanya mampu tersenyum dalam hati. Sekaligus memahami bahwa efek penyerangan itu lantas tidak membuat istri Tuan mudanya baik-baik saja.


Jordan terharu mengingat perjuangan, Raffael untuk mengembalikan perusahaan keluarganya, diam-diam menjaganya dan melakukan apa saja untuk Nona muda putri tunggal Keluarga besar Tirtawijaya tersebut dengan tidak main-main.


"Sudah sampai, sayang," ujarnya pelan yang pada akhirnya tangannya melepaskan dekapannya, lalu keduanya beranjak turun dengan berjalan bergandengan tangan.


"Key, sayang!" Seperti biasa Nyonya besar begitu bahagia menyambut kedatangan keduanya dan memeluk hangat Key yang tersipu karena mertuanya itu tidak kalah over protectivnya dengan, Raffael.


"Mami lagi- lagi melupakanku," Raffael sedikit memprotes sambil tersenyum melirik wanita yang telah membesarkanya itu dan membuat Nyoya besar berjalan kearahnya. Sementara Tuan dan Nyoya Tirtawijaya, tersenyum tidak bisa melukiskan kebahagiaannya melihat pemandangan sore itu.


"Apakah sekarang Mami bahagia?" Saat dirasakan usapan lembut wanita itu pada punggungnya. Dan Nyonya besar kali ini yang memeluk erat putranya.


"Jangan bertanya lagi, sayang. Mami benar- benar sangat bahagia. Terimakasih sudah membawa Key menjadi bagian penting dalam keluarga kita," Nyonya besar terharu tetap saja melepaskan Raffael dan Key keluar rumah terasa sangat berat untuk beliau.


Tetapi beliau berpikir bijak. Mereka berdua butuh privasi untuk membangun keluarga kecil mereka.


"Maaf, membuat Papa menuggu." Raffael dengan sopan menjabat tangan Tuan Tirtawijaya dan memeluknya dengan hangat.


"Papa yang harusnya minta maaf karena mengganggumu, nak! Tidak seharusnya kau repot-repot untuk mengantarkan Papa dan Mama," ujar Tuan Tirtawijaya sambil mengusap pelan punggung, Raffael.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Papa dan Mama mulai sekarang juga tanggung jawab, Raffael."


"Sayang rumah ini akan begitu sepi. Apakah kamu tidak bisa merayu Papa dan Mama untuk tinggal di rumah yang telah disediakan oleh, Raffael?" Nyonya Wijaya merajuk kepada Key sambil melirik besannya tersebut.


"Iya. Apa tidak sebaiknya Papa dan Mama pindah di cluster sini saja," tawar Raffael seraya mengedarkan pandangannya ke arah mereka berdua.


"Iya, Tirta! Kita sudah tua, saatnya kita menikmati kebersamaan keluarga kita." timpal Tuan Wijaya yang hanya dibalas dengan senyuman besannya.


"Bimantara, putramu sudah terlalu banyak membuat saya bahagia. Dimana saja asal mereka bahagia itulah kebahagiaan saya. Saya sangat berterimakasih untuk semuanya."


"Nak! Bukannya menolak. Papa terlalu berat melepaskan rumah kenangan masa muda Papa dan mama," ujarnya sambil tertawa menepuk pundak, Raffael.


"Rumah ini pasti akan sangat sepi setelah kalian semua kembali." Nyonya besar terlihat sedih.


Kami akan sering kemari dan berkumpul bersama. Mami tidak perlu khawatir," Timpal Raffael dengan menatap Key lalu mengangguk.


"Dan kau sayang, jangan terlalu capek, ok!" Tidak baik untuk kesehatanmu, supaya cucu Mami cepat datang," nasehatnya yang membuatnya sedikit malu-malu.


"Kita akhirnya sama-sama ditinggalkan oleh putra putri kita, Tirta! He..he..he


Kita tunggu saja cucu-cucu kita supaya kita tidak kesepian. Raffael janjimu papi tunggu!" Ingat son buat calon cucu papi sesering mungkin," ujarnya sambil kembali tertawa.


Tentu saja! Raffael lebih perkasa dari pada papi," balasnya sambil menautkan sebelah alisnya. "Bukankah begitu, sayang? tanyanya seketika membuat Key bersemu merah dan diam- diam mencubit gemas, Raffael.


"Raffael..." bisiknya kesal.


Sore itu kedua keluarga besar saling berpamitan dengan penuh haru. Mansion kembali sepi, namun kebahagiaan memancar dari wajah-wajah mereka karena semua berjalan dengan lancar. Kedua keluarga sepakat menjadikan setiap weekend untuk berkumpul di Mansion untuk melepas rindu kedua keluarga.


🍁🍁🍁


Key menatap wajah Raffael yang terbaring di atas tempat tidurnya. Keadaan masih terasa sama setelah sekian lama ditinggalkan.


"Cara, kau ingin kita menginap di sini?" tanyanya tanpa menoleh dengan kedua tangannya yang bertumpu untuk mengganjal kepalanya. Sementara Key terlihat sibuk memeriksa beberapa barang koleksinya di seberang tempat tidurnya.


"Bagaimana kau bisa tahu, Apakah kau merasa keberatan?" Keduanya saling menatap dan tersenyum.


"Apa yang aku tidak tahu, baby. Bukankah kau juga ingin melukis kenangan indah malam ini di sini?" tatapnya dengan sorot mata berkabut gairah.


_______________________


Catatan penulis:

__ADS_1


Sahabat tersayang 😘


Jangan lupa untuk like dan komennya ya, guys. Terimakasih πŸ™πŸ™


__ADS_2