Misi Cinta CEO Tampan

Misi Cinta CEO Tampan
98. Sweet marriage part 2


__ADS_3

Rafael menggenggam tangan Key yang telah resmi menjadi istrinya. Sehabis jamuan makan para tamu undangan, kedua keluarga besar diijinkan untuk beristirahat diruang tunggu. Beberapa tamu undangan perlahan mulai meninggalkan tempat.Terlihat kedua keluarga dan kerabat dekat saja yang masih tinggal dan asyik berbincang dengan wajah bahagia. Satu tahap prosesi sakral telah terlewati, tinggal menunggu resepsi dimalam harinya.


"Selamat, Tuan muda dan Nona semoga selalu bahagia," Nyonya Ivanka memberikan ucapan dengan senyum . Dirinya merasa sangat lega satu tahap penting telah terlewati. Tidak dipungkiri mengurus perhelatan akbar keluarga yang sangat disegani begitu menguras tenaga dan waktunya, bahkan menjelang detik-detik hari bahagia itu beliau sengaja tidak menerima Job apapun dari pihak lain.


"Terimakasih, Nyonya. Ini semua berkat Nyonya yang sangat luar biasa. Kami benar-benar sangat berterimakasih," puji key sambil tersenyum ramah yang dikutin oleh anggukan kepala, Raffael.


"Tuan dan Nona selalu merendah," pujinya tulus.


"Nona, pukul lima sore, Nona mulai di rias untuk acara resepsi, sebaiknya Nona beristirahat dan makan. Ada waktu kurang lebih dua jam untuk beristirahat." Seorang MUA berkata sopan lalu beranjak meninggalkan kedua keluarga.


"Congratulation sekali lagi, sayang,Key, Raffael, sebaiknya kalian istirahat dan


makan,ok," ganti nyonya besar kali ini yang memberikan perintah dan merangkul keduanya.


"Sekarang kalian sudah resmi menikah, kenapa terlihat malu sekali?" Apa karena ada kita semua di sini," selidik Nyonya besar dengan tidak bisa menutupi rasa bahagianya. Perempuan yang tetap awet muda itu tidak berhenti mengumbar senyum bahagia dan mengedipkan sebelah matanya menggoda putra semata wayangnya. Tawa riuh dari para sahabat yang sengaja menunggu resepsi


terdengar.


"Bersabarlah sedikit saja, Raffael," celetuk


Nick yang terlihat semakin lengket dengan Anne yang sukses membuat Key merona.


"Cepatlah menyusul. Aku rasa, kau sama halnya tidak bisa bersabar," balas Raffael tidak terima. Kemudian berjalan mendekat ke arah orang tuanya. "Papi dan Mami sebaiknya juga istirahat, kami permisi dulu," Pamit, Raffael seraya mengedarkan pandangannya menatap para kerabat yang sengaja masih menunggu.


"Hemm... Iya, sayang. Mami paham kok," godanya dengan mengedipkan sebelah matanya.


Raffael kembali memeluk wanita yang telah melahirkannya itu seraya berbisik. "Kenapa jadi mami yang tidak sabar, hemm?" Raffael sedikit melirik, Key yang kembali tersipu berdiri disampingnya lalu melirik Mita yang sedang membantunya untuk memegang gaun, Key yang menjuntai menyapu lantai dengan beralaskan karpet merah.


"Mita, kamu boleh istirahat, biar saya yang membantu Nyonya, Raffael," Senyumnya tersungging dengan manis dan kembali melirik sang pujaan hati.


"Bukankah begitu Nyonya, Raffael?" tanyanya dengan mengedipkan sebelah matanya menatap, Key yang bersemu merah mendengarnya.


Mitha tersenyum lalu mengangguk.


"Auwwww...!! Pekik Key terkesiap saat Raffael spontan mengangkat tubuhnya ala bridal dan membuat mereka bersorak. Huuu.... so sweeet!! Para sahabat terlihat paling gaduh. Ditatapnya dengan lekat wajah cantik perempuan yang sudah resmi menjadi istrinya itu sambil terus melangkah. Key merona dan sangat gugup dengan degub jantung yang mulai memompa, karena malu dengan sikap spontan, Raffael.


"Apa yang kau lakukan, Raffael? jangan membuatku malu!"


"Kenapa kau segugup ini, Cara?" Apakah kau lupa kita adalah sepasang suami istri sekarang," bisiknya begitu **** ditelinganya.


"Raffael jangan narsis, kau membuatku malu saja, lalu membenamkan wajahnya pada dada bidangnya ingin rasanya dia menghilang saat itu juga tetapi Pria tampan itu hanya bergeming sambil mengulum senyum melangkahkan kakinya. Wajahnya merah padam, Raffael benar-benar tidak tahu malu dihadapan keluarganya.


"Tenang, sayang, biar mereka tidak terus menggoda kita..."ujarnya pelan. Raffael dengan cepat melangkahkan kakinya, menuju kamar pengantin yang terlihat luas dan mewah yang sudah dihias dengan sedemikian rupa. Sebelah tangannya kesulitan untuk membuka pintu kamar hotel dan dengan sedikit menendangkan kakinya, akhirnya pintu itu pun terbuka dan membaringkan tubuhnya dengan pelan, laksana boneka porselen yang takut retak.


"Raffael...


"Cara," tatapnya memuja. Tangannya memainkan helaian rambut yang menjuntai di bawah kungkungan tubuhnya. Key meremang merasakan badannya yang terasa ringan. Hembusan napasnya yang menghangat mulai menghadirkan gelayar aneh dalam tubuhnya. Debaran yang terus merambat menghadirkan sensai lain yang seketika otaknya menjadi sulit untuk berpikir jernih. Wanita itu tidak bisa menutupi rasa gugupnya, apalagi saat Raffael dengan begitu intens terus menatapnya. Alis mata tebal, mata tajam, hidung mancung, bibirnya sangat **** dengan rambut klimis ditambah aroma parfum mahalnya membuat Key terasa membeku di kutub Antartika.


Cup!!


My wife... " bisiknya lirih. Sebuah kecupan sayang begitu lembut mendarat di bibir manisnya, membuat Key darahnya berdesir karena sensasi melayang yang dirasakannya. "Finally, baby. Kita sudah resmi menjadi sepasang suami istri.


Apakah Raffael akan meminta haknya sekarang juga? Bagaimana ini, sejujurnya ini bukan waktu yang pas," batinya panik dengan tidak bisa menutupi rasa gugupnya. Keduanya saling menatap dengan lekat. Perlahan Raffael memainkan jemarinya, menyusuri wajah cantiknya turun kebawah jemarinya menari-nari membelai bibir merahnya yang merekah yang membuat, Raffael menelan salivanya pelan.


"Raffael, apakah semua baik-baik saja?" tanyanya basa-basi sekedar untuk mengalihkan perhatiannya. Key dibuatnya salah tingkah dengan perlakuan manisnya.


"Tentu sayang. Jangan pernah memikirkan apapun kecuali kebahagian kita."

__ADS_1


"Sehabis resepsi kita langsung kembali saja," pintanya. Sepasang netranya mengerjab begitu Indah menampakkan bulu matanya yang sangat lentik dan membuat Raffael menghentikan aksinya seketika.


"Kenapa? Apakah kau tidak menyukainya?" Raffael menarik jemarinya pelan dan menatapnya dengan dalam.


"Aku lebih nyaman tinggal di rumah kita," ujarnya pelan takut Raffael akan kecewa. Raffael tersenyum menangkap arah pembicaraan, Key. Pujaan hatinya itu


begitu jatuh cinta dengan desain rumah pribadi mereka yang akan menjadi tempat tinggalnya.


"Apakah kau sedang menawarkan sebuah ide sayang?" Raffael mengulum senyum dengan sedikit nakal menaikkan sebelah alisnya.


"Raffael kau ini! Tempat itu sangat indah, bahkan lebih dari apapun di dunia ini," ucapnya sambil memberanikan diri menatap iris kelamnya yang terasa menghujum jantung hatinya.


"As you wish baby, apa yang tidak untukmu," jawabnya dengan begitu romantis.


"Maaf___"


Kenapa minta maaf, sayang. "Disitulah, kita akan mengawali segalanya. Kehidupan yang sebenarnya.Tempat berbagi suka dan duka dalam mengarungi bahtera rumah tangga," jelasnya dengan senyum tipis.


"Aku juga berpikiran begitu," jelasnya tertunduk malu.


"Apakah kau sedang tidak ingin diganggu cara, hemm? Baiklah," cubitan gemas mendarat pada dagu lancipnya. "Ok, baby," Pria itu memeluknya sayang, saat dilihatnya Key ingin bangun dan beranjak turun.


"Mau kemana?"


"Aku harus berganti pakaian dan aku sangat lapar." Sejujurnya perasaannya makin campur aduk saat berada didekat Raffael dan sekedar mencari alasan saja.


"Aku akan membantumu untuk berganti pakaian, habis itu kita akan berendam bersama," tawarnya sambil dengan mengulum senyum.


"Ahh! tidak-tidak! Waktunya sangat mepet sekali, pasti kau akan___" ahh! Sudah- sudah," ucapnya gugup sambil berlari meninggalkan, Raffael, menuju kamar mandi. Key menyeret gaunnya yang panjang menjuntai mengekspos punggung indahnya dengan susah payah


sementara, Raffael tertawa puas melihat kegugupan wanitanya itu


Raffael merebahkan tubuhnya dengan merentangkan kedua tangannya. Matanya yang kelam menatap langit-langit kamar. Seperti dejavu saat ini statusnya sudah tidak lagi lajang. Cintanya pada seorang gadis dari masa sekolah mengantarkan, Key sebagai satu-satunya wanita yang membuatnya bisa melakukan apa saja. Dan tidak tergeser sedikitpun dari hatinya, walaupun banyak wanita cantik begitu terang- teranggan mendekatinya.


Sebuah pesan masuk dari Jordan membuyarkan lamunannya dan kemudian menelponnya sebentar. Pria itu termenung sejenak. Pelaku penyerangan tertangkap dan dalam kuasa, Andreas. Mengingat sahabatnya itu membuat pikirannya campur aduk, apalagi saat diantara banyaknya para sahabat yang datang, Andreas tidak terlihat batang hidungnya karena perseteruan keduanya yang memanas membuat, Andreas lebih baik menghindarinya dan itu lebih baik bagi Raffael.


"Siapa pelaku utamanya sebenarnya?"


Terlepas apapun yang terjadi, bukankah Key telah resmi menjadi miliknya.


"Sedang apa dia di dalam?" Kenapa, Key lama sekali," batinnya. Dia sedang tidak ingin memikirkan apapun kecuali Key yang sudah menyandang status sebagai istrinya.


"Apakah dia baik-baik saja?" gumamnnya lirih dan dengan sedikit berpikir beranjak dari tempat tidurnya.


"Sayang, apa kau baik-baik saja?" tanyanya dari luar kamar mandi.


"Iya, sebentar!!"teriaknya dari dalam. Key kesulitan untuk membuka tali pengait bagian belakang pada gaunnya dan begitu gelisah memutar tubuhnya di depan cermin kamar mandi.


"Ughhh!! Kenapa sulit sekali?" tangannya terus mencoba meraih tali yang mengikat bagian tubuh belakangnya, tetapi tidak sampai. Ia sedikit memiringkan tubuhnya dengan menghadap cermin kamar mandi dengan tangan bergerak gelisah tetapi tetap saja tidak sampai.


"Cara, buka pintunya. Aku tahu, kau kesulitan. Biarkan aku masuk," Raffael berucap lirih dengan mengetuk pintu kamar mandi pelan.


"Baby...


Ceklekk.......


Raffael menelan salivanya pelan menatap kegugupan Key. "Hemm... apakah kau sebegitunya takut, sayang?" Raffael berjalan mendekat dengan tatap matanya yang kelam. Wajah cantiknya terlihat panik bercampur gugup saat Raffael memelankan langkahnya untuk lebih mendekat, lalu dengan perlahan memutar badannya kearah cermin dan memeluknya dari belakang.

__ADS_1


Key memejamkan matanya dengan debaran hati yang semakin tidak karuan. Apalagi saat dirasakan hembusan napasnya mulai menghangat menari-nari di antara bahunya yang terexpos dengan jelas, lalu Raffael menciumnya dengan lembut.


"Apakah kau tahu, tanpa inipun, kau sudah terlihat sangat mempesona?" tangannya melepas anting-anting yang dipakainya lalu menaruhnya diatas wastafel kamar mandi. Kemudian dengan pelan, Raffael melepas mutiara indah yang menghias leher jenjangnya.


"Lihatlah," tangannya mematut tubuh, Key untuk menghadap kesebuah cermin yang membuat Key semakin terlihat gugup menampakkan rona merah diwajahnya.


"You are so beautiful," bisiknya **** ditelinganya dengan sedikit memberikan gigitan kecil yang membuat sekujur tubuhnya seperti melambung tinggi. Bahu Key berjengit saat Raffael meletakkan dagunya diceruk lehernya dengan napas yang memberat. Jiwanya terus bergejolak, saat perlahan tangannya mulai menarik tali pada sebuah gaun yang mengikat tubuh bagian belakangnya secara pelan-pelan.


"Raffael..."******* halus mengalun begitu merdu dari bibir mungilnya saat dengan penuh gejolak Raffael melukis, memahat, pada punggung indahnya. Key memejamkan matanya menahan debaran aneh yang lagi- lagi muncul lebih dahsyat mengurungnya. Kakinya melemas dengan tubuh meremang dengan kedua tangannya memegang erat, menyangga gaun bagian depan tubuhnya untuk menutupi sesuatu miliknya.


Ya, Tuhan sihir apa ini," batinnya panik bercampur malu, tetapi naluri dalam dirinya begitu menyihirnya ingin tahu dan membiarkan Raffael berbuat lebih.


"Cara, itu sangat indah kenapa kau menyembunyikannya sayang?" Aku menyukainya, baby," bisiknya penuh hasrat. Raffael menyatukan bibirnya lembut, dengan napas yang memburu. Gejolak asmara itu menginginkan pelabuhan cintnya untuk bersatu dalam dermaga cinta yang sesungguhnya. Suara- suara indah penuh hasrat saling bersahutan, saat sang pemilik cinta itu bergerilya dengan begitu indah menggores kenangan dengan lukisan-lukisan yang tidak akan pernah terlupakan.


"Raffael ... gaun resepsiku sangat terbuka jangan___"


Raffael tersenyum menangkap arah pembicaraan Key dan berjanji tidak akan meninggalkan jejak di sana. "I know baby. Ini pasti sangat indah," suara Raffael mulai parau, apalagi saat dengan perlahan Raffael mengangkat kedua tangannya yang membuat gaun itu meluncur dengan begitu indahnya dari sang pemilik raga.


"Raffael... Key terkesiap, kemudian memejamkan matanya, jiwanya bergetar hebat dan hanya mampu menggigit bibir bawahnya. Namun dengan begitu cepat Raffael menguncinya dengan sebuah ciuman panas yang membuat keduanya kembali bergelora.


"Hentikan, Raffael___"


"Baby," Raffael menghentikan aksinya dengan tersiksa. Key yang begitu malu melihat raganya hendak meraih gaunnya yang teronggok dilantai, tetapi dengan cepat Raffael menahannya. Keduanya saling menatap dengan sayu dengan napasnya yang tersengal.


"Ada yang mengetuk pintu," beritahu Key seraya menunduk malu.


"Aku akan menghukumnya setelah ini," balasnya tidak terima, lalu mengangkat tubuh yang hanya berhias kain berenda itu kedalam bathtub..


"Mandilah," dengan sedikit berbisik mengecup bibirnya dengan manis dan berlalu keluar kamar mandi.


"Tuan, maaf mengganggu. Ini makan siang untuk Tuan dan Nyonya," ucap sang pelayan hotel yang dikhususkaan untuk melayaninya dengan sopan .


Raffael mengangguk dengan tatapan tajam. Pelayan itu dengan gemetar menaruh makanan di atas meja kamar dan buru- buru berlalu. Raffael membaringkan tubuhnya dengan gejolak yang sulit untuk dikendalikan, tetapi dirinya mencoba bersabar dan sengaja tidak menyusul, Key untuk mandi karena, dirinya tidak yakin bisa mengendalikan hasratnya. Raffael ingin mewujudkan semua mimpi indah cintanya dengan melepas sesuatu yang berharga dirumah barunya 😊.


Terdengar pintu kamar mandi terbuka diikuti oleh langkah Key keluar dengan bathrobe yang melekat pada tubuhnya. Rambutnya basah menampakkan wajah polosnya yang tanpa make up. Perempuan itu masih terlihat sangat malu dengan peristiwa panas yang hampir menggulungnya dan dengan ragu berjalan mendekat ke arah Raffael.


"Mandilah, hari sudah sore."


"Iya, sayang. Dengan cepat, Raffael beranjak karena tidak ingin terhipnotis oleh Key yang begitu exotik dengan rambut basahnya berhias buih-buih air yang masih menetes. Berbeda dengan Key, perempuan itu insecure dengan perubahan sikap, Raffael dan berpikir mungkinkah Raffael kecewa dengan bentuk tubuhnya.


Perempuan itu cepat- cepat berganti pakaian dan mengeringkan rambutnya


dengan sedikit termenung, namun kemudian dengan sedikit tersentak Ia tersadar, saat hair dryer itu sudah berpindah tangan dan terlihat Raffael sangat maskulin dengan bathrobe berwarna cream yang membalut tubuh tegapnya membantu mengeringkan rambutnya.


"Kulit kepalamu bisa terkena panas, kalau seperti itu," lalu mematikan hair dryer." Raffael mengecup pipinya dan berlalu ke walk in closet dan tersenyum menyadari Key telah memilihkan baju ganti untuknya dan bergegas untuk makan siang yang sudah sangat terlambat. Tidak lama kemudian terlihat keduanya saling menyuapi dan membuat Raffael tersenyum dalam hati melihat Key yang masih malu-malu menatap wajahnya.


"Semua sangat indah, baby."


🍁🍁🍁


Key begitu terpukau dengan gaun pengantin pilihan Raffael secara diam-diam. Seakan tahu maksud sang kekasih hati,Key memilihnya sebagai gaun pertama untuk acara resepsi. invanka fashion menyulap dirinya laksana ratu sejagad dengan dua Gaun mewah warna sampanye yang mengexpose bahu indahnya. Gaun yang dipilihnya, saat dia akan menjadi tamu istimewa dihari pertunangan Raffael dengan Nova. Dan juga gaun pilihan Raffael. Karena Key hanya memilih dua gaun pengantin saat berikrar dan acara resepsi pernikahan. Sementara diacara pesta dansa, Key memberikan kejutan untuk Raffael dengan gaun rancangannya sendiri yang belum sempat diperlihatkannya, karena perselisihannya dengan Andreas.


___________________________


Catatan penulis:


Sahabat tersayang ada konten mature

__ADS_1


harap bijak membacanya dan jangan lupa untuk like dan komennya ya. Terimakasih


dear 😍


__ADS_2