Misi Cinta CEO Tampan

Misi Cinta CEO Tampan
117. Ada cinta, cemburu dan juga rindu.


__ADS_3

Raffael memperhatikan, Key yang sedikit gelisah. Wajah cantik itu beberapa kali mencuri pandang ke arahnya yang sedang sibuk di depan laptopnya. Key juga menangkap keterdiaman, Raffael, walaupun sikap hangatnya tidak pernah berubah. Tetapi Pria tampan itu lebih banyak diam seperti ada yang dipikirkan.


Perlahan kakinya melangkah mendekat, dan memeluknya sayang dari belakang. "I love you," bisiknya. Seakan ingin menegaskan hatinya hanya untuk mencintainya. Key mengerti Raffael terganggu dengan cinta dan perhatian diam-diam yang Andreas berikan padanya. Dan apa saja yang sudah dilakukan oleh karibnya itu.


"Apakah kau sedang merayuku, sayang...?"


"Kurang lebih seperti itu," bisiknya **** sembari memamerkan senyumnya yang di kulum.


Raffael menghentikan pekerjaannya dan menoleh, mempertemukan kedua manik hitamnya yang bening. Keduanya menatap dengan tatapan kelam tetapi ada kelembutan di sana.


"I Love you too," balasnya dan mengecup bibirnya sekilas. Seakan tidak akan pernah habis, keromantisan yang sedang ingin mereka ciptakan. Raffael menariknya untuk duduk di sampingnya dan lagi- lagi mencium keningnya dengan sayang.


"Duduklah di sini saja."


Keduanya kembali saling menyatukan pandangan dan tersenyum. "Ada apa? Dari tadi aku melihatmu gelisah. Sepertinya ada yang ingin kau sampaikan?"


Wanita cantik itu terdiam. Tadinya dia sendiri yang menginginkan Raffael untuk bicara, tetapi saat dia mulai menanyakan sesuatu mendadak hatinya berdebar- debar kencang.


"Hemm... ma__ maksudku, tetang penyerangan itu. Benarkah, Clara ada kaitannya dengan, Darriel? Raffael, bukankah mereka sudah di dalam penjara?"


"Darriel memiliki mata-mata yang sangat banyak, tetapi mereka sudah diasingkan dalam penjara, disebuah pulau terpencil mulai besok. Jadi tidak perlu cemas lagi. Sekarang adalah saatnya untuk kita berbahagia," tegasnya untuk menenangkan.


"Kau harus berhati-hati," Key merapatkan tubuhnya yang langsung mendapatkan usapan lembut pada pucuk kepalanya.


" Kita akan baik- baik saja. Ada aku di sini. Mulai sekarang kamu tidak boleh memikirkan, apapun yang akan membuatmu bersedih...," Raffael berujar pelan.


Kepalanya mengangguk dan kembali terdiam. Raffael kembali berkutat dengan layarnya dan menyuruhnya untuk tetap duduk di sampingnya. Wanita itu mulai berselancar dengan ponselnya dan berkirim pesan pada teman- temanya.


Raffael tidak berniat menceritakan ressort Arkey padaku. Tetapi ya, sudahlah. Mungkin lebih baik begitu.


Untuk sesaat ingatannya, membawa pada singgasana cinta yang dibangun oleh, Andreas, diam-diam untuknya. Bagaimana, Ia tidak bisa melepas fokus darinya dan terang-terangan memujinya di hadapannya.


Raffael yang sangat sensitif, entah apa yang sedang bergejolak dalam hatinya saat itu. Tetapi kembali lagi dia memuji prianya itu, yang dinilai lulus dari cemburu buta yang suka berlebihan dan membelenggunya.


"Kau ingin teh hijau hangat?" tawarnya memecah kesunyian yang sedang terjadi.


"Tidak perlu repot-repot. Cukup air putih hangat saja." Mengingat kebiasaannya yang diam-diam mirip dengan, Andreas, yang menyukai teh hijau, makanan western dan juga hunian mewah, membuat Raffael sedikit termangu. Keduanya memang memiliki banyak kemiripan dan kembali membawa pandangannya dengan melirik ke arah Key secara diam- diam.


"Itu lebih sehat. Aku lebih menyukaimu hanya minum air putih saja," Key melangkah pelan dan mengambil air mineral pilihan, yang sudah tersedia di sudut ruangan tempatnya bekerja, lalu memberikan padanya.


Pemilik iris kelam yang sangat tajam dan menawan itu, kembali menyelisik pandang pada, Key, yang duduk kembali dengan menyender mengenai sedikit bahunya. Bibirnya yang merah muda, hidung mancung, memiliki sepasang netra yang sangat indah. Mahkota hitam, panjang dan lebat, dengan kulitnya yang putih selembut sutra. Bahkan Key selalu terlihat stuning, tanpa polesan make up sedikit pun di wajahnya, membuatnya tidak berhenti mengagumi kecantikan fisiknya. Tetapi tidak hanya itu saja, Raffael mengagumi cara berpikirnya, hatinya dan keluwesannya saat berhadapan dengan orang lain.


"Apakah kau mulai bosan?"


"Kita baru pulang dari bulan madu, aku sekarang merindukan rumah kita lebih dari apapun," ujarnya dengan menegakan tubuhnya.


Raffael tersenyum dan kembali menarik pucuk kepalanya untuk tetap menyandar. Sungguh kalau mengingat ressort itu, moodnya akan kembali hancur berantakan. Terlebih kalau mengharuskannya untuk tinggal di Palace lebih lama lagi. Tetapi meskipun demikian, dia mencoba berdamai dengan dirinya dan juga hatinya. Perasaannya memang terganggu, terlebih Andreas adalah orang yang paling dekat dengannya, di antara teman-teman yang lainnya.


Raffael juga menyadari, sahabat karibnya itu, sedang patah hati, lebih dari sekedar jatuh cinta biasa. Bahkan kalau hal itu terjadi padanya, belum tentu dia semudah itu untuk bisa menerimanya. Terlepas apa yang sudah dilakukannya secara diam-diam untuk orang yang dicintainya dan hancur berantakan.

__ADS_1


"Minggu depan kita akan ke Dubai. Aku ada sedikit urusan di sana."


Palace yang seharusnya menjadi tempat yang tenang dan penuh keromantisan mendadak tidak membuat Raffael bergairah. Tetapi dia berjanji akan melawan hal itu, mengingat Key sangat menyukai tempat itu.


"Kau mengajakku?"


"Aku tidak mungkin meninggalkanmu sendirian di sini."


"Ada Mitha, Raffael."


"Ada yang tidak biasa untuk berlama-lama jauh darimu. Dan kau harus bertanggung jawab setiap saat," ucap Raffael memperlihatkan senyum smirknya.


Key mencebikan bibirnya menyadari arah pembicaraannya. "Tuan mesum kembali kumat," ejeknya dengan gemas.


"Biarkan saja! Percuma aku punya istri cantik, kalau aku harus meninggalkannya dengan waktu yang lama."


"So sweet. Benarkah aku secantik, honey?" godanya dengan suara manja yang hanya disambut oleh tatapan memuja, Raffael.


"Berapa lama kita akan di sana?"


"Sampai kamu bosan."


"Kita akan datang ke miracle garden?"


"Tentu saja"


Key tidak berhenti mengulum senyum. Seketika bayangan sebuah taman terbaik


"Can't wait."


"You are so, beautiful."


"Kau juga sangat tampan. Karenanya penggemar rahasiamu itu sungguh sangat menyeramkan," ejeknya.


Raffael mengacak rambutnya dengan sayang dan kembali mempertemukan netra indahnya. Bulu matanya yang lentik bergerak- gerak Indah, membuat Raffael tidak berhenti untuk memujanya, seakan dia adalah Dewi cinta.


"Bagaimana dengan pemuja rahasiamu itu?"


"Kau yang bertemu dengannya, kenapa bertanya padaku?!" protesnya. Pria itu mendadak diam dan pura-pura kembali memperhatikan ke layar monitornya.


"Raffael...."


"Hemmm..."


"Tidak ada yang bisa mencuri hatiku."


"Aku percaya. Sudahlah. Jangan dibahas lagi."


"Memang harusnya seperti itu, sayang. Hemm... Aku sudah lama tidak menyapa butik ku."

__ADS_1


"Aku sudah menaruh orang- orang yang kompeten di bidangnya di sana, termasuk penjahit yang kau datangkan ke Mansion waktu itu."


"Bukankah itu orang- orang dari Ivanka fashion?"


"Aku memintanya, dan kebetulan mereka tidak keberatan. Tenang, hanya untuk sementara waktu saja. Selebihnya kamu bisa mengaturnya sendiri nantinya. Tetapi tidak boleh terlalu lelah. Sesekali saja datang untuk memantaunya."


"Terimakasih. Kau selalu penuh kejutan."


Key memeriksa beberapa pesan masuk dan mendapati mertuanya sedang berkirim pesan.


"Mami mengirimkan sebuah pesan. Besok kita datang ke sana, ok?"


"Ok, baby. Pasti mami menagih oleh- oleh dari kita."


"Aku sudah membelikannya sebuah kain rajut yang indah. Aku pernah melihat mami begitu menginginkannya dulu, sebelum kita resmi berpacaran," Key kembali memamerkan senyumnya.


"Menantu yang sangat baik," pujinya.


"Kamu juga selalu terbaik," Keduanya kembali mengunci tatapan dengan penuh cinta. Raffael sudah enggan memikirkan yang lainnya. Waktunya hanya ingin dia ciptakan dengan keromantisan- keromantisan dengan bara cinta yang semakin meluap indah.


Sementara di luar sana percikan cinta yang semakin besar, juga terjadi dengan Jordan. Di luar hari kerjaannya orang kepercayaan, Raffael itu menikmati kencan romantis sederhana, dengan perhatian- hatian kecil yang sedang mereka berdua ciptakan.


"Kau ingin bertemu Nona, Key?" Naya tersenyum mendengar bagaimana orang yang dicintainya itu memanggil sahabatnya itu.


"Dia baru kembali dari berbulan madu. Aku tidak ingin mengaggunya. Lain kali saja."


"Nona Key dan Tuan muda Raffael," seloroh Naya yang diikuti oleh senyum malu-malu Jordan.


"Jangan bilang kau menyuruhku untuk memanggil namanya saja. Aku benar-benar tidak bisa," ujar Jordan serius.


Naya kembali terkekeh mendengarnya. "Padahal mereka berdua tidak masalah. Kita juga bersahabat dengan mereka dari dulu."


"Aku memanggilnya, Raffael, saat dia sudah marah padaku atau suasana sedang sangat tegang. Tetapi semua masih terasa aneh bagiku. Terlebih untuk Nona, Key. Sekali saja aku tidak pernah bisa memanggil namanya saja," jujur Jordan.


"Kau pria tampan yang kelewat sopan," pujinya tulus. "Lalu, apakah kau juga punya panggilan khusus untukku?" tanya Naya dengan menaikkan sebelah alisnya.


Jordan tersenyum mendengarnya. "Apakah kau juga menginginkan hal seperti itu?"


"Tentu saja. Panggilan sayang dari orang yang kita cintai, selalu saja terdengar sangat manis," ucap Naya malu-malu.


"Naya hartawan dan Jordan louis darmawan... Apa yang cocok untuk kita?" tanyanya yang diiringi oleh senyum lepas keduanya.


_____________________


Catatan penulis:


Sahabat tersayang 😘 terimakasih untuk like dan komennya dan yang masih setia untuk baca. Maaf slow update, karena RL yang tidak pernah habis- habis 🤭


Happy new year, wishing you all the best.

__ADS_1


Take care, jaga kesehatan. Thanks, dear 😍


__ADS_2