Misi Cinta CEO Tampan

Misi Cinta CEO Tampan
Episode 119. Honeymoon kedua


__ADS_3

Naya semakin tersipu menyadari ada bekas bibir Jordan di pipinya. Tangannya dengan lembut merabanya dan membuat Jordan semakin gemas melihat tingkah Naya yang polos, walaupun usia wanita itu sudah cukup umur untuk menikah.


"Ayo kembali, sepertinya cuaca mendadak mendung," Jordan mengulurkan tangannya, berinisiatif menggenggam tangan Naya dan berjalan beriringan dengan saling bergandengan. Sampai pada akhirnya sebuah mobil mewah membawa keduanya melesat dengan cepat, membelah jalanan yang masih setia memperlihatkan pemandangan yang masih sangat alami untuk mengantarkan Naya pulang.


Berbeda halnya dengan Jordan yang menghabiskan waktunya dengan hal sederhana yang romantis. Raffael dan Key hari itu, untuk pertama kalinya setelah mereka kembali dari bulan madu, bersua ke kediaman untuk Tuan besar. Nyoya besar senyum- senyum menangkap kedatangan keduanya. Seperti biasanya, wanita cantik itu selalu menjadi magnet tersendiri untuk Nyonya besar dan buru-buru merangkul keduanya dengan sayang.


"Papi dan Mami bagaimana kabarnya?" Key berucap lirih sambil memperhatikan wajah keduanya secara bergantian. Tangannya terulur memberikan buah tangan kepada seorang Asisten rumah tangga untuk menaruhnya di meja.


"Mami selalu bahagia, sayang. Tetapi Mami kangen dengan kalian berdua. Bagaimana, apakah bulan madu kalian sangat menyenangkan?" senyum nyonya besar kali ini lebih merekah dengan tatapan menyelidik ke arah keduanya, yang masih dirangkul dengan kedua tangannya.


"Mami... kalau Raffael bercerita, Saya takut, nanti papi meminta kembali muda," goda Raffael yang sukses membuat Tuan besar yang berdiri di depannya tertawa dengan pandangan tidak terima.


"Anak muda! Apakah kau meragukan papamu ini walaupun sudah tua?" seperti biasa Tuan besar tidak bisa menutupi rasa bahagianya. Putra semata wayangnya sudah menentukan pilihan hidupnya dan kali ini beliau melihat Raffael terlihat sangat bahagia dengan wanita pilihannya.


"Semoga kalian selalu bahagia, sayang. Raffael, Key, kita akan makan bersama sekarang," ajak beliau. Dengan bahagia mereka menuju ke ruang makan. Wanita cantik itu seperti biasa mengambilkan makanan untuk Tuan dan Nyonya besar, Raffael baru kemudian mengambil untuk dirinya sendiri. Key yang lebih cantik dari biasanya membuat nyoya besar terus memperhatikannya dan mengulum senyum. Manik matanya yang indah berbinar terang. Sangat terasa keduanya benar- benar lagi menikmati saat- saat indah pernikahan mereka.


"Key, makan yang banyak, nak. Raffael tidak mungkin membiarkanmu istirahat begitu saja, kan?" Goda nyonya besar lagi seraya melirik keduanya.


"Mami selalu saja begitu. Biarkan mereka makan," protes tuan besar.


"Karena mami benar-benar sangat bahagia, Pi!"


"Jangan terus menggodanya. lihatlah, Key sampai merah begitu mukanya," seloroh Tuan besar.


Mendengarnya keduanya hanya tersenyum. Mereka bercengkrama dengan bahagia, menikmati kebersamaan yang mungkin mulai berkurang, setelah mereka menikah dan berpisah rumah. Nyonya besar sangat bahagia mendapati kain rajut yang sudah diinginkanya sejak lama ada di tangannya. Beliau juga senang mendengar keduanya berencana ke Dubai dalam waktu dekat ini. Raffael harus menyisakan banyak waktunya untuk dirinya sendiri, terlepas hampir seluruh waktunya tersita untuk urusan pekerjaannya.


"Jadi kalian berniat ke Dubai? Bagus sayang, nikmati waktu kalian dengan baik, ok?"

__ADS_1


"Raffael ada urusan bisnis dan mengajakku, mam."


"Itu sangat Bagus, kalian bisa sekalian jalan-jalan. Iya, kan?" Lagi pula Mami lebih suka Raffael membawamu di sela- sela perjalanan bisnisnya yang sering menyita waktunya itu. Wanita yang tetap anggun dan berwibawa, diusianya yang tidak mudah lagi itu, benar-benar tidak bisa menutupi kebahagiaannya. Hal ini juga membuat Tuan besar senang melihat istrinya. Hampir setiap hari orang yang sudah menemani dan mendukung kesuksesannya puluhan tahun itu memamerkan senyumnya.


Hingga waktu yang terus berjalan membawa keduanya untuk berbulan madu kedua tiba. Raffael memperhatikan Key yang sedang terlelap. Sebuah privet jet membawanya terbang tinggi ke kawasan Uni Emirate Arab. Sebuah negara yang terkenal kaya minyak itu menjadi tujuan Raffael untuk melebarkan sayap bisnisnya. Kali ini keduanya berkesempatan mengunjungi tujuh emirat bagian dari negara federasi itu. Tetapi dari kesemuanya Dubai menjadi magnet tersendiri bagi, Key. Wanita cantik itu sangat memimpikan miracle garden sebuah taman bunga yang menjadi surganya dunia saat ini.



50-60 Tahun lalu, tak ada yang membayangkan kota metropolis yang luar biasa itu hanya sebuah gurun pasir. Selama ratusan tahun, penduduknya menetap di sebuah pemukiman kecil di tepian sungai. Menyambung hidup menjadi nelayan dan penyelam mutiara.


Tetapi sekarang Dubai adalah magnet dunia yang terkenal dengan gedung- gedungnya yang tinggi dengan sentuhan artistik yang luar biasa. Tidak hanya tingkat kesulitannya yang tinggi dalam pembangunannya, tetapi kecanggihan teknologi yang dimilikinya juga luar biasa. Menjadikan Dubai selalu saja menarik dan menakjubkan bagi pebisnis atau traveler's yang ingin menjelajah merasakan kemegahan kota itu.


"Kau tidur sepanjang perjalanan, baby," goda Raffael. Wanita itu hanya tersipu malu menatapnya. Seakan kejutan tidak berhenti disitu saja begitu turun, sebuah helikopter telah menunggunya kembali membawanya terbang ke sebuah hotel paling mewah di kota itu. Kamar presidential suite selalu menjadi langganan, Raffael saat menjelajah untuk urusan bisnisnya, karena pria tampan itu selalu menginginkan sebuah privasi yang lebih.


Hamparan gedung- gedung tinggi dan megah di sepanjang pesisir pantai dan juga infrastruktur, yang membentang di tengah lautan, menunjukkan betapa negeri kaya minyak itu sedang memamerkan kedigdayaannya.




"Ini luar biasa, Raffael! Kau merencanakan semuanya?"


"Apa yang tidak untukmu, cara... "ujar Raffael pelan.


"Terimakasih, honey. Ingin rasanya aku berteriak, betapa aku adalah wanita yang paling beruntung saat ini," Key biasanya


merasa bosan dengan pemandangan gedung Tinggi kali ini mendadak menyukainya.

__ADS_1


Berapa lama kita di sini? seperti biasanya wanita itu membantu melepaskan jaket yang digunakan oleh Raffael dan merapikannya. Kamar yang sangat luas seperti halnya sebuah rumah dengan connecting rooms, membuat keduanya tidak perlu repot-repot keluar untuk menuju kamar yang lainnya. Pelayanan khusus dari pihak hotel juga luar biasa dan membuat keduanya betah.


Keduanya juga menikmati lunch yang hampir terlambat dengan menu khas hotel itu. Tetapi pilihan Raffael tetap jatuh pada western dish yang selalu menjadi kegemarannya.


"Apakah kamu berencana mengadakan meeting di sini?"


"Iya. Besok akan ada rekan bisnis datang kemari. Tidak akan lama, jadi jangan khawatir menganggu malam panjang kita," Raffael menautkan sebelah alisnya berniat menggoda Key yang duduk di depannya.


"Hello honey bunny... kau ini! Untuk urusan yang satu itu memang tidak mau merugi," Key mengerucutkan bibirnya dan hanya mendapat kekehan geli, Raffael.


"Bukankah itu tujuan utama kita, sayang."


"Terserah padamu! Selesaikan makanmu itu!"


"Hemm.... sepertinya kau sedang memberikan kode setelah ini, baby."


_____________________


Catatan penulis:


Sahabat tersayang 😘


Jangan lupa untuk like dan komennya, ya.


Maaf slow up date, karena RL yang membelenggu 😊, thanks yang sudah setia menunggu karya recehku ini.


Take care, dear😘

__ADS_1


__ADS_2