Misi Cinta CEO Tampan

Misi Cinta CEO Tampan
116. Lara Cinta


__ADS_3

"Honey." Key berdiri untuk lebih mendekat dan memangkas jarak diantara mereka. Mempertemukan Iris kelam, Raffael dengan dahi berkerut. Bahkan pria itu menggeleng berulang-ulang, memasang wajah sedikit kesal padanya. Ditariknya napasnya dengan perlahan dan berujar dengan nada rendah.


"Aku sudah bilang... Jangan menugguku. Apakah kau tidak melihat ini sudah sangat larut malam?" Raffael menggapit pinggangnya untuk masuk ke dalam kamarnya.


"Aku mencemaskanmu...." Bibirnya berujar pelan lalu berjalan untuk mengambil segelas air mineral hangat dan memberikannya kepada, Raffael, yang masih berdiri dihadapannya. Jemarinya dengan lentik membantu melepas blazer tebal miliknya. Pria tampan itu kembali mengunci manik hitam milik, Key, menikmati setiap inci wajah cantik istrinya.


Mukanya mendadak menegang. Tangannya terangkat dan gemetaran, saat netranya menangkap keberadaan sebuah Gun yang terselip diantara saku, bagian dalam blazer tebal yang dikenakan oleh, Raffael. Menyadarinya buru-buru tangan pria itu menyingkirkan barang itu dan menyimpannya dalam brankas baja rahasia miliknya.


Berdiri mematung dalam diam. Dadanya kembali bergemuruh. Bayangan aksi teror beberapa saat yang lalu membayang dalam pelupuk matanya. Bahkan, kedua tangan dan kakinya berkeringat, walaupun hawa dingin menyeruak mengintimidasi kulitnya. Tetapi ada satu hal yang membuatnya sangat resah, Ia sangat cemas, Raffael berbuat kesalahan.


Ya,Tuhan, mudahan-mudahan Raffael tidak ada dalam masalah.


Memperhatikan punggung tegap yang sedang berbalik dari belakang, seketika membuat matanya kembali terkesiap, saat Raffael memaku sebuah tatapan yang dalam padannya dan berjalan kembali mendekat kearahnya.


"Maaf... Raffael merengkuhnya ke dalam pelukannya. Tubuh rampingnya masih berdiri mematung ditempatnya, saat dirasakan, usapan lembut Raffael di punggungnya dengan lembut. Dan membisikan sesuatu yang membuat perasaannya lebih lega.


"Aku cuma membawanya untuk berjaga-jaga, baby. Apakah kau berpikir aku bertindak hal yang bodoh?" Raffael mengurai pelukannya pelan dan kembali membawa pandangannya pada netra indah itu, dengan tatapan yang teduh.


"Aku percaya padamu. Aku hanya teringat peristiwa beberapa saat yang lalu itu," jawabnya dengan mimik sendu, lalu mengatur napasnya berlahan.


"Maafkan aku. Maafkan aku..." bisiknya pelan dengan membingkai wajahnya dan menatapnya dengan dalam. Ditariknya tubuhnya ke dalam pelukannya kembali dengan lebih erat. Raffael merasa sangat bodoh. Dia egois. Hanya berpikir, Key tidak mempercayainya, tanpa memikirkan, trauma yang dideritanya,


akibat aksi teror penembakan yang menyerangnya beberapa saat yang lalu.


Kau ini benar-benar bodoh sekali, Raffael.

__ADS_1


"Sorry, baby... "ulangnya lagi.


"Tidak apa-apa. Gantilah pakaianmu."


Tangannya terurai pelan dan kembali, mempertemukan iris mata keduanya dan menatapnya dengan lekat- lekat. Wajah yang sendu tertangkup dengan telapak tangannya, dan mendaratkan sebuah kecupan lembut dikeningnya. Tubuh kekar itu lalu mengangkat bobot tubuhnya dan membaringkan di tempat tidur dengan hati-hati.


Raffael tersenyum memperhatikan Key yang tersipu. "Aku akan cepat menyusul... "ujarnya pelan dan bergegas berganti pakaian di walk in closet.


Malam terasa dingin dan sunyi. Rintik-rintik hujan mulai terdengar. Hawa dingin menyeruak, mereka berdua larut dalam dinginnya malam tanpa suara. Saling mendekap hangat. Seribu pertanyaan terlintas dalam benak masing-masing, tetapi melihat Raffael yang tidak ingin membuka pembicaraan membuat Key memilih untuk diam.


Wajahnya tampan itu mulai menyelami alam mimpinya dengan mata terpejam. Hatinya terus terjaga, hingga rasa kantuk itu akhirnya menyapanya dan membuatnya ikut terlelap.


🍁🍁🍁🍁


Begitu banyak yang ingin aku sampaikan padamu, Raffael, tetapi ternyata kau sudah enggan untuk bicara lagi padaku.


"Iya, kau berhak marah padaku. Karena Aku masih mencintai, Key, yang telah resmi menjadi istrimu," gumamnya lirih.


Andreas menarik napasnya yang masih saja terasa memberat. Tangannya terulur membuka brankas baja rahasia miliknya. Ditekannya sebuah kode rahasia hingga selembar foto keluar, kini ada dalam genggamannya. Diperhatikannya foto itu dengan seksama, lalu diusapnya dengan pelan dan mengulas senyum tipis.


"Apakah kau tahu, perasaan ini mungkin sudah ada sejak masa- masa kita kuliah dulu. Bahkan rasa itu tetap saja sama. Katakan padaku bagaimana cara menghilangkannya, Key?"


Saat kau memilih bekerja dikantorku, aku sangat bahagia. Aku punya perasaan ingin menjagamu sejak saat itu. Memupuk sebuah harapan untuk tetap bersamamu, apapun itu, "asal aku bisa melihatmu, rasanya hati ini sudah tenang." Andreas kembali tersenyum. Memorinya kembali berkelana. Baginya dengan mengingat saja sudah membuatnya jauh lebih baik. Tangannya, kembali mengusap foto itu dengan pelan.


Tetapi rupanya aku harus patah hati, sebelum sempat menyatakan perasaanku untuk pertama kali. Kau menolakku saat mulut ini belum berucap bahwa aku mencintaimu. Kau hanya menganggapku seorang sahabat, walaupun aku melihatmu dengan cinta. Berharap. Apalagi saat kau betah untuk sendiri, aku merasa kau tercipta hanya untukku. Menatap matamu, hatiku hanya ingin mencintaimu. Maaf, membuatmu tidak nyaman dengan perasaanku. Bahkan, saat ini hati masih terus menawanmu.

__ADS_1


Andreas menggelengkan kepalanya dengan pelan. Cinta pertamanya menghadirkan perih yang hanya dirinya sendiri yang bisa merasakannya.


"Apakah kau tahu, aku pernah bertanya kepada, Raffael, "Apakah dia mencintaimu?" Kalian sangat dekat dan Raffael sangat perhatian padamu. Tetapi Raffael tidak begitu jelas menjawabnya. baginya jodoh adalah ditangan Tuhan dan dia tidak ingin mengucapkan apapun yang bmendahului takdir. Aku percaya kalian tidak ada hubungan istimewa dan saat itu, akupun masih terus berharap. Apalagi disaat kau masih saja sendiri, akupun terus dan terus berharap.


Lama Andreas bermonolog dan membatin dengan selembar foto itu. Malam yang kian larut tidak pernah menyurutkan hatinya untuk tidak memikirkan Key, orang yang membuatnya jatuh cinta untuk pertama kalinya dengan sebenar-benarnya.


"Bahkan saat semuanya belum jelas, aku menyiapkan segalanya untukmu. Mungkin kamu berpikir ini kebodohan yang sangat gila.Tetapi itulah cintaku, Key. Sekecil apapun harapan itu, aku menganggapnya tetap sebuah harapan. Hingga pada akhirnya aku harus melihat kenyataan pahit, kau mencintai, Raffael dan menikah dengannya, itupun hatiku masih sulit untuk melihat kenyataan."


"Satu hal yang membuatku mengerti, aku tidak ingin egois. Aku tulus mencintaimu. Aku ingin melihatmu bahagia, sekalipun itu akhirnya bukan denganku."


Ijinkan aku untuk melihatmu sekali saja, setelah itu aku berjanji akan menata hidupku lebih baik lagi. Tetapi jangan memaksaku untuk jatuh cinta saat ini, tetapi aku yakin, akan jatuh cinta kembali di saat yang lain. Aku tidak pernah menyesal, walaupun mencintaimu harus sesakit ini. Bagiku mencintaimu adalah begitu indah yang membuatku berani mempunyai sebuah harapan.


Dan akhirnya... Andreas melipat foto itu dengan senyum getir. Hatinya begitu terasa nyeri. Dadanya menjadi sesak melawan arus, perlahan mengancurkan foto itu dan melangkahkan kakinya keluar untuk membuang kenangan itu.


Foto itu sudah musnah, tetapi di dalam hatinya, semua tentang, Key, masih utuh.


Dia tidak ingin lama-lama terpuruk, ingin sekali dia jatuh cinta lagi, kalau perlu lebih cepat lagi, tetapi hatinya masih begitu keras kepala mengusiknya dengan rasa yang sama.


"Selamat tinggal yang pernah jadi kenangan."


______________________


Sahabat tersayang 😘


Jangan lupa untuk tinggalkan like dan komennya, ya. Terimakasih yang sudah setia membuat πŸ’“

__ADS_1


__ADS_2