
[Hey, apakah pemilik nomor ini masih sama?! Hello ... !!!]
[Kalau masih sama, memangnya Nona mau apa? ] Andreas tersenyum dari ujung telepon.
[ Mengobati luka hati kamu!!]
[Tetapi sayangnya, hati ini tidak sedang terluka, Nona!] Tetap menekan tawanya, Andreas sudah menduga sebuah suara yang mencoba sedang menggodanya.
[ Memang tidak luka, tetapi hanya hancurr!]
Menggelengkan kepalanya, Andreas hanya bisa terkekeh mendengarnya kali ini.
[Apakah kau sedang menghiburku Nona, Lorine?]
[Benar adanya, sepertinya begitu. Sudahlah tuan muda Wiratama, untuk apa patah hati berkepanjangan, aku menunggumu untuk bermain sky, bukankah itu sangat menyenangkan?] tawarnya tanpa basa-basi.
[Jangan bilang sekarang kau di kota J.
Bermain sky?] Andreas kembali tertawa. Tentu saja dia masih mengingat sahabatnya itu terlalu menggilai sky sejak kecil.
[ Tepat sekali! Besok aku ada niat ke Plaza di barat kota, aku rasa kau bisa menebaknya] Tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya lorine terdengar sangat berantusias.
[Bagaimana? Deal?" tanyanya meminta kepastian.
[Enjoy the time, Lorine] Andreas berujar pelan. "Sampai ketemu lagi."
"Lorine ..."Andreas berujar pelan, dengan menurunkan ponselnya.Tidak disangkanya kejadian jam tangan tertinggal pada sebuah Plaza tempo lalu, mempertemukan kembali pada teman masa kecilnya itu.
"Dunia ini terlalu sempit rupanya lorine."
Dia tidak ingat kapan persisnya bertemu.
"Dan tentang patah hati itu, dari mana kau mengetahuinya? Apakah kau adalah cenayang, lorine? Sangat tidak masuk akal, tentang Key hanya Clara yang mengetahuinya. Itu pun karena tidak sengaja dompetku terjatuh dan ada foto Key di sana saat di kantor."
Tidak Ingin dipusingkan dengan banyaknya pertanyaan yang tidak masuk akal, langkahnya terayun pelan kembali masuk ke kamarnya, begitu malam sudah nyaris ke ujung peraduannya. Begitupun rasa kantuk mulai menyerang pria itu memaksa Andreas untuk cepat istirahat.
'Ucapan papa benar, sudah saatnya aku memikirkan masa depanku, tetapi tentu saja menikah bukanlah hal yang sesimpel itu.'
Merebahkan tubuhnya dengan setengah bersandar pada head board, Andreas dikejutkan oleh postingan terbaru Raffael.
"Sepertinya besok kamu kembali dari Dubai Raffael." Tentu saja Andreas berinisiatif bertemu dengannya, walaupun sampai saat ini, tidak membuka percakapan apapun. Andreas sadar Raffael melepas beberapa tender penting untuk menyelamatkan perusahaannya.
"Begitulah kau Raffael! Kamu bukalah orang yang pandai berkata-kata dan menjanjikan apapun. Kau selalu saja susah tertebak," ujarnya dengan senyum.
Tidak dipungkirinya, tindakan kawannya itu memberikan sedikit harapan, bahwa hubungan keduanya mengarah ke yang lebih baik.
Pria itu tersenyum, melihat postingan keduanya yang terlihat bahagia. Wajah Key begitu semakin cantik dengan binar indah matanya. "Walaupun kita sempat berselisih paham, percayalah ada doaku setulus hati yang menyertaimu di sini," gumamnya lirih. Andreas sudah berdamai dengan dirinya sendiri.
Baru saja hendak memejamkan matanya, sebuah pesan masuk membuat matanya kembali terbuka.
Lorine
__ADS_1
π Good night, Tuan muda :)
Sebuah emoticon tawa lebar Lorin membuatnya kembali tersenyum. "Good night, Lorrin ..."menggumam lirih dengan mengetik beberapa kata, Andreas membalasnya.
"Kau memang tidak pernah berubah Lorine," ujarnya lirih.
Lorine Perempuan dengan rambut sebahu berumur 26 tahun, ceria dan apa adanya mau tidak mau Andreas mengingat kepribadian unik
Wanita itu. Rasanya tidak berlebihan menjadi penyeimbang Andreas yang kalem dan sedikit tertutup.
π Ingat, namaku saja. Dia sudah menikah, bukankah itu lebih masuk akal?"
ππ
"Oh, my, God, Lorine! Kau
ini, hah ."
Tidak tahan, karena rasa ingin tahunya yang tinggi, dari mana perempuan itu tahu segalanya, Andreas kembali melakukan panggilan malam itu.
[ Sepertinya kau tahu banyak tentangku, Lorine?] Andreas berujar dengan nada rendah. Bibirnya masih saja terus menyunggingkan senyum, walaupun ada rasa geregetan di sana.
[Apakah aku lancang, Andreas?]
[ Tentu saja Nona, dari mana kau tahu semuanya tentangku? Perasaan kita tidak pernah bertemu setelah bertahun- tahun, hem]
[ Aku adalah cenayang, Andreas. Tidak penting darimana aku tahu, aku baru akan bercerita setelah kita bermain sky akhir pekan nanti] jelasnya dengan terkekeh.
[ Kau mulai bermain rahasia rupanya, tetapi please jangan menceritakan apapun. Sungguh itu sudah berlalu Lorine] Andreas memohon dengan hati- hati. Kecerobohannya beberapa saat yang lalu mengacaukan segalanya dan dia benar-benar tidak ingin mengulang hal yang sama.
[ Aku percaya padamu, Lorine. Sampai jumpa]
Rasa kantuk yang sempat menyerangnya, menghilang begitu saja, setelah perbincangannya dengan Lorine. Dan benar saja Andreas memutuskan untuk bertemu diakhir pekan nanti.
[ See you Lorine, Good night]
Meletakkan ponselnya, pikiran Andreas menerawang jauh. Hidup harus tetap berjalan. Melarikan diri dari patah hati juga tidak akan menyelesaikan masalah.
Saat ini hanya persahabatannya dengan Raffael yang mengganjal hati. Selebihnya semua sudah terasa ringan. Andreas benar-benar sudah mengikhlaskan semua.
"Terkadang sesuatu yang tidak mungkin, bisa menjadi mungkin dan sebaliknya." Entah apa yang sedang melintas di benak Andreas saat ini. Sampai kedua matanya terpejam, senyum samar tetap tersungging di wajahnya.
****
Rasa lelah dan juga kepuasan menghias wajah Raffael dan Key yang hari itu telah kembali dari Dubai. Setelah hampir dua Minggu menghabiskan waktu bersama, kali ini keduanya kembali menginjakkan kakinya di kediaman pribadi Raffael.
"Selamat datang kembali, Nyonya Raffael ..."
"Begitupun denganmu, Baby," balas Key dengan mengulas senyum.
"lelah..?" Raffael meraih jemarinya dan menggandengnya. Seorang security membukakan pintu utama di susul dengan Jasson serta Mitha, menggeret koper mereka berjalan di belakangnya.
__ADS_1
"Letakkan di walk in Closet kamar pribadiku, Jasson," Raffael memerintah.
"Tuan muda," Jasson menatapnya ragu, begitu mereka mencapai pintu kamar utama, Raffael.
"Masuk saja Jasson, biar Mitha yang membereskannya besok dan setelah ini kalian beristirahatlah yang diiringi anggukan kepala Key.
"Baik, Tuan muda. Masuklah Mitha," Jasson melirik adiknya itu dengan sedikit menggeser tubuhnya, membiarkannya masuk lebih dulu.
Sebuah kamar mewah dengan ranjang deluxe yang luas. Aroma mawar khas Prancis kesukaan Key menguar dari dalam bathtub kamar mandi. Dilengkapi cahaya lilin dan aroma terapi terlihat kelopak bunga mawar segar bertaburan di dalam sana.
'Oh, My God! Apa gerangan yang akan terjadi pada keduanya setelah ini.' Meremang Jasson hanya bisa meringis geli.
"Mitha? Kau yang menyediakan semua ini?" bisik Jasson menyapu telinganya.
"Iya, kakak. Nona Key biasa akan berendam dan relaxsasi sehabis perjalanan jauh. Kenapa? Kakak ingin menjadi pengantin juga?" Mitha mendelikan matanya.
"Kau ini?! Sepertinya Jordan yang akan lebih dahulu menyusul," jawabnya sambil terkekeh. "Sudah -sudah, Tuan muda sudah masuk kamar, jangan banyak bertanya lagi.
"Permisi tuan muda, Nona ..." Keduanya berniat keluar kamar.
"Terimakasih, kalian beristirahatlah yang ikuti oleh senyuman, Key. "Thank you Jasson, Mitha."
"Sama- sama Nona."
Raffael tersenyum memperhatikan Key yang sedang berjalan ke walk in Closet.
Diakuinya bobot tubuhnya yang naik efek libur panjang, membuatnya sangat bergairah.
"Kau yang meminta Mitha menyiapkan ini, Raffael?" teriaknya kecil dari walk in Closet.
"Hemm ... bukankah kau terbiasa berendam?" Melepas jam tangannya dan menaruhnya di atas nakas. Perjalanan hampir memakan waktu kurang lebih 8 jam dari Dubai juga membuatnya lumayan lelah.
Melangkahkan kakinya perlahan aroma musk mengusik Indra penciuman Key yang sedang mengaitkan tali bathrob berniat ke kamar mandi. Pundaknya sedikit berjengit, saat merasakan ada kecupan lembut di pundaknya.
"Baby ...," membisik pelan membuat Key meremang. "Aku kegerahan sayang ..."
Tertawa Key, sontak saja menolehkan wajahnya. "Modus!! Wanita itu kini memperhatikan wajah Raffael yang semakin maskulin karena bulu- bulu halus yang tumbuh dengan sangat rapi di wajahnya.
Raffael terkekeh, "Bukankah kau sudah berjanji, hemm?" Kali ini Raffael memeluknya dari belakang, menghirup kuat-kuat aroma Lily yang lembut dari tubuhnya.
"Berjanji ...?" Key mengernyitkan dahinya tidak mengerti. Memutar tubuhnya pelan kedua manik mata mereka menyatu dengan sangat dalam.
"Jambangku, baby ... bukankah kau yang melarangku untuk mencukurnya? Sekarang tugasmu bertambah, kecuali kau menginginkannya aku brewokan saat mulai masuk ke kantor," jelasnya gemas.
"Baik, Tuan tampan. Hanya mencukur jambang, kan?"
"Memangnya kau juga berniat__"
Key membungkam mulut Raffael dengan ke sepuluh jemarinya cepat. "Sudah jelas Tuan muda, sudah sangat gamblang," Melepaskan pelukan Raffael, Key melangkah dengan anggun menuju kamar mandi.
"Tunggu aku, baby ... !!"
__ADS_1
_________________________
Sahabat tersayang π, maaf slow up date, karena keluarga ada yang terganggu kesehatannya, begitu juga RL yang menumpuk. Terimakasih yang masih setia. Mudah-mudahan bisa up setiap hari lagi. Luv--U BESTie β₯οΈ