
Key jatuh terduduk di pinggir ranjang. Beberapa kali dia mencoba menjernihkan pikirannya, bahwa apa yang telah didengar adalah bukan mimpi, melainkan sebuah kebenaran. Pikiranya kembali mengingat beberapa pertemuannya dengan Pria yang pernah menjadi Bosnya itu.
Andreas, kau melakukannya semua itu untukku? Berapa kali, aku harus menujukan padamu, bahwa kau hanyalah, seorang sahabat untukku. Ya... seorang sahabat, tidak akan pernah berubah apapun itu. Karena aku hanya mencintai, Raffael dalam hatiku. Kenapa kau sangat keras kepala dengan perasaanmu itu. Kenapa! Kenapa kau menyakiti dirimu sendiri.
"Rumah mewah, resort, Arkey dan apa lagi yang kau lakukan?" Key menggelengkan kepalanya tidak mengerti. Ia boleh berbangga hati, diperebutkan oleh dua pria mapan, kaya raya yang mampu memberikan segalanya, tetapi itu bukan takaran untuk sebuah kebahagiaan. Raffael sudah mengunci hatinya bahkan saat Pria tampan itu belum sesukses sekarang.
Saat beberapa kali aku menunjukkan sikap yang biasa saja, kau hanya tersenyum.Tiada kebencian.Tiada kemarahan. Kau tersenyum dalam kekecewaanmu, saat hampir setiap saat aku tidak menunjukkan respon yang baik, atas sikapmu dan kebaikanmu.
Key bukanya tidak peka dengan semua itu, ada yang berbeda dan tidak biasa dari tatap matanya yang berbicara dan cara Andreas memperlakukannya. Memang Ia tidak pernah mengungkapkan perasaannya dan itu membuatnya lebih lega, karena tidak harus berhutang jawaban yang hanya akan berubah kekecewaan semata.
"Raffael, inikah yang membuatnya mendadak uring-uringan, merancau tidak jelas? Apakah dia marah padaku?" Wanita itu meminta maaf dalam hatinya, merasa terlalu berlebihan menyukai resort Arkey dan pasti membuat Raffael kecewa dalam hatinya waktu itu.
Segera langkah kakinya berjalan menuju wastafel kamar mandi untuk membasuh wajahnya yang mendadak panas. Dadanya kembali bergemuruh. Netranya memperhatikan buih- buih air yang meluncur deras pada Wajahnya. Cermin besar kamar mandi itu beberapa kali, kembali menjadi saksi bisu Key untuk mengurai ketegangan dalam dirinya.
"Rasanya sulit untuk dipercaya. Pantas saja Raffael lebih banyak diam saat masih di Palace. Pasti dia sangat kecewa dalam hatinya. Bodoh! Bener-bener bodoh!" Kenapa aku menyukai resort ARKEY dan terang-terangan menunjukkannya dihadapan, Raffael. Pantas saja kalau Raffael kesal." Key memukul- mukul kepalanya merasa sebal sendiri.
"Dan... ternyata resort itu milik, Andreas yang diam-diam Raffael juga telah mengetahuinya?" Apa maksud Raffael mengajakku untuk menginap di sana? Menyebalkan! Kenapa Raffael tidak berterus terang? Apakah dia ingin mengujiku? Apakah Raffael tidak mempercayaiku? Benar-benar menyebalkan!" gerutu Key dengan kecewa. Tangannya kembali membasuh wajahnya untuk menetralkan perasaannya dan bergegas keluar.
Raffael pantas marah dan kecewa. Coba kalau Raffael memuji wanita lain dihadapanku, apakah aku akan baik-baik saja," batinnya.
"Apakah dia benar-benar baik-baik saja?" Langkahnya sedikit lesu, menyadari keberadaan Raffael di dalam kamarnya. Tetapi dia mencoba untuk bersikap biasa saja. Pria itu memperlihatkan mimik mukanya sedikit heran, menyadari Key sudah bangun dari tidurnya.
"Sudah bangun, sayang?"
"Aku hanya habis mandi," beritahunya berbohong. Raffael kembali memperhatikan wajahnya yang basah dengan handuk kecil ditangannya.
"Kau mandi dengan handuk kecil?" Raffael menatapnya heran.
"Aku memakai handukmu di kamar mandi," ujarnya kembali berbohong yang seketika menerbitkan senyum di wajahnya.
"Ohhh...
"Kau habis dari mana?" Key pura-pura tidak mengetahui.
"Jordan datang untuk urusan kantor." Wanita itu mengangguk lalu duduk di depan cermin, untuk memberikan sedikit makeup diwajahnya dengan tipis. Raffael berjalan mendekat kearahnya. Memperhatikan seksama wanita yang telah menjadi miliknya. Dalam hati dia bersyukur telah mengikat Key dalam ikatan suci pernikahan, dan tidak ada yang berhak atas wanitanya itu selain dirinya. Sepasang lengan kekarnya memeluknya dari belakang dengan menenggelamkan wajahnya diantara ceruk leher miliknya, lalu menghirup aroma vanilla lace pada tumbuhnya dalam-dalam
__ADS_1
"Jangan mengganti aroma tubuhmu?" bisiknya. Key tersenyum sebelah tangannya terangkat untuk mengusap lembut rambut cepak milik, Raffael.
"Sudah pasti kau menyukainya," ejeknya dengan senyum.
"Sangat enak. Ini bahkan lebih enak dari apapun," ujarnya sambil terkekeh dan mengurai pelukannya dengan pelan.
"Malam ini aku akan keluar sebentar. Cuma sebentar," izinnya ulang saat melihat nada memprotes Key dari sudut matanya.
"Kalau ada sesuatu cepatlah kau mengabariku," perintah Raffael lalu mengajaknya untuk duduk di sofa kamarnya.
"Jangan lama-lama, aku tidak mau sendirian. Kau ingin pergi kemana?" Jangan pergi seorang diri, ajak, Jordan bersamamu. Jangan suka membuatku cemas," cecarnya. Hatinya mengatakan malam ini Raffael akan bertemu, Andreas. Dua orang yang mencintainya.
"Hanya sebentar."
"Mau pergi kemana?" tanyanya berulang seraya tangannya terangkat untuk mengusap lembut wajahnya yang mendadak terdiam.
"Kenapa harus malam ini?" protesnya merajuk menangkap kebimbangan, Raffael.
"Aku ingin bertemu dan membuat perhitungan dengan, Clara. Ia dalam pengawasan, Andreas."
"Apapun itu selalu gunakan hatimu. Jangan terpacing emosi. Untuk apa kau mengotori tanganmu. Tuhan tidak akan pernah diam dan punya caranya sendiri. Begitupun dengan hukum yang berlaku. Biarkan jalannya sendiri yang akan menentukan, Clara bersama takdirnya," nasehat Key dengan hati-hati.
Raffael meraih jemari tangannya dan menciumnya dengan lembut.
"Dan__ Key sedikit menjeda ucapnya sejenak. Raffael menurunkan tangannya perlahan dan meremasnya dengan lembut. Hatinya berdesir menanti arah pembicaraannya yang sudah diduganya.
"Dan...? tatap mata Raffael berubah dingin.
"Dan___ maksudku. Maksudnya, Andreas," Raffael melepas tangannya perlahan. Namun dengan segera Key meraih tangan Raffael kembali lalu menggenggamnya dengan erat. Pria itu sedikit memalingkan wajahnya dan menarik napasnya dengan kasar.
"Honey, kau pernah bilang cinta kita terbentuk oleh kerasnya hidup dan waktu. Waktu yang tidak sebentar. Bukan cinta yang sesaat. Kita saling mencintai karena ikhlas hati, meskipun jalannya terjal dan berliku. Meskipun harus menunggu dalam waktu yang lama untuk sampai di sini." Raffael memeluknya tanpa aba-aba.
"Tidak ada yang bisa mengambil hatiku..." bisiknya lirih.
"Aku mempercayaimu. Tetapi aku tidak suka orang lain mengusik milikku," tegas Raffael.
__ADS_1
"Dia sudah tidak mengusikmu."
"Berjanjilah, jangan mengotori tanganmu itu," ultimatum Key yang membuat, Raffael tersenyum menatapnya dan menyatukan kening mereka dengan begitu lama.
"Aku tidak sebodoh itu."
"Jangan terpancing kalau Clara, mengatakan apapun itu. Itu hanya usahanya untuk membuatmu tersulut emosi dan kau melakukan kesalahan. Kendalikan dirimu," nasehatnya lagi.
"Aku pergi dulu, tidak usah menungguku, kalau mengantuk, tidurlah."
"Aku tidak bisa tidur sendiri," sungutnya yang hanya diikuti oleh tawa smirk Pria tampan itu.
"Jangan keras kepala."
πππ
Key tidak bisa menutupi kegundahannya. Hatinya berdenyut nyeri mengingat Andreas. Lelaki yang sangat baik memperlakukan dirinya.Tetapi ia hanya menganggapnya seorang sahabat. Tidak lebih dari itu. Dan malam ini keduanya kembali bertemu. Beberapa kali wanita cantik itu mengecek ponselnya. Sebuah pesan terkirim pada Jasson untuk mengikuti Raffael dari jauh. Bukan tidak mempercayai, Raffael, Key hanya ingin memastikan Raffael baik-baik saja dan keduanya berdamai dengan hati masing-masing.
Wanita itu termenung sejenak. Menatap langit malam yang tanpa bintang. Hanya gelap berteman sepi. Malam terasa begitu mencekam. Tangannya kembali menutup Jendela kamarnya dan menuggu Raffael dalam diamnya dengan
pikirannya yang kembali melayang kepada dua orang yang sedang bertemu.
Raffael, Andreas, keduanya adalah orang yang menjaganya. Keduanya punya tempat disudut hati yang berbeda.
Pasti semua menyakitkan. Mengecewakanmu, tetapi kau harus mengerti, aku tidak memberikan harapan untukmu, Andreas. Kenapa kau sangat keras kepala. Aku berharap suatu saat nanti, kau akan menemukan orang yang benar-benar mencintaimu, yang menghargai seluruh pengorbananmu, karena aku ingin juga melihatmu bahagia," batinnya seraya kembali menggelengkan kepalanya. Mengingat beberapa hunian mewah yang diperuntukkan bagi dirinya sudah dipastikan Pria itu benar- benar serius mencintainya.
"Aku tidak menyangka sedalam itu kau mencintaiku. luka itu pasti akan begitu dalam. Apakah ini juga alasanmu untuk pindah Ke L. A ? Kenapa Raffael belum juga kembali? Apakah mereka baik-baik saja?" wanita cantik itu bergerak gelisah dengan ponsel ditangannya. Jangankan tidur, mengantukpun rasanya juga tidak. Pikirannya berkecamuk tidak karuan dan benar- benar tidak bisa tenang sebelum melihatnya kembali pulang.
" Huhh! Honey, kalau kau sedang cemburu semua terasa begitu menyusahkanku," gerutunya gemas.
_________________________
Catatan penulis:
Sahabat tersayang π
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan like dan komennya, Terimakasih ππ