Misi Cinta CEO Tampan

Misi Cinta CEO Tampan
28. Percakapan malam.


__ADS_3

"Mau apa kau!" Key memundurkan langkahnya dan bersiaga. Raffael terkekeh geli dalam hatinya.


"Kamu pikir apa yang akan terjadi, saat seorang pria dan wanita dewasa berada


dalam satu kamar, baby?" Raffael tersenyum menyeringai dan membuat Key terus berjalan memundurkan langkahnya.


"Menyebalkan! Kau Benar-benar sangat menyebalkan!Jangan mentang-mentang


kau melakukan segalanya untuk keluargaku, lantas kau bisa seenaknya saja!" Wanita itu memekik kesal.


"Benarkah?" Raffael terus melangkah memangkas jarak, seolah hendak menerkamnya.


Matanya tidak bergeser sedikit saja untuk


melepas fokus pada wanita yang semakin merapatkan tubuhnya ke tembok itu.


Raffael benar-benar ingin menggoda Key malam itu.


Sebuah bantal kecil yang terletak di ujung sofa melayang degan tepat mengenai wajah Raffael. Dengan sigap pria itu menangkap bantal itu kemudian,


berbalik melempar bantal-bantal yang lain kepada key dengan tanpa ampun.


Tawa Raffael pecah seketika, saat melihat wajah cantik itu kwalahan dari serbuan bantal-bantal yang terus beterbangan, dan dengan susah payah Key mencoba menutupi wajahnya.


"Kenapa kau seperti anak kecil! Hentikan, Raffael!" protesnya. Bukannya berhenti, pria itu terus melempar bantal- bantalnya sampai embuatnya kelelahan. Tangannya memungut satu persatu bantal itu dan meletakkannya kembali ke sofa.


"Stop! Raffael!" Napas Key tersengal- sengal dengan sedikit terseok lemas melangkahkan kakinya duduk menyandar di sofa. Raffael menyusul berjalan mendekat dan duduk di sampingnya.


"Itu hukumannya, karena kau yang


memulai. Itu baru bantal terbang, Key!" Raffael terkekeh. Tangannya terulur memberikan sebotol kecil air minum pada wanita itu.


"Aku cuma melempar satu, sementara kau__"


Wajah Key menegang dan sedikit tercekat, seiring tangan pria itu mengusap lembut keringatnya,


yang membasahi dahi. Keduanya saling menatap dan buru- buru kompak mengalihkan pandangannya.


Setidaknya hal ini jauh lebih baik, dari


pada melihatmu menangis.


"Mulai besok, aku akan mengantarmu ke mansion. Malam ini kedua orang tuamu sudah pindah ke sana."


"Maksudmu?" Key menatapnya bingung lalu menutup botol dan kembali meletakkannya di meja.


"Minumlah yang banyak."


"Apakah keadaannya sedarurat itu?" Dengan was-was, matanya tak berkedip menanti apa yang akan terucap dari bibir pria itu.


Papa, Mama, pindah ke mansion? Malam ini? Bagaimana dengan barang-barangku?


"Hemm ... semua baik-baik saja. Semua demi memudahkanku untuk mengawasi kalian semua," jawab Raffael berbohong.


Raffael terus mengupayakan bahwa semua terlihat baik-baik saja. Dia tidak ingin melihat Key cemas dan meneteskan air matanya lagi.


"Kenapa secepat ini, Raffael? Bagaimana


dengan barang-barangku? Aku juga harus


bekerja baju ganti ku di sana," ujarnya memelas.


"Sudah diangkut oleh Jasson, kalau ada yang tertinggal biar Jasson membantu mengambilnya."


Raffael memegang lengan Key.


"Dengar. Seseorang yang merasa terusik karena kesalahannya, pasti akan serapat mungkin untuk menutupi kejahatannya. Bukan sesuatu yang tidak mungkin, mereka akan melakukan manuver yang membahayakan demi untuk membela dirinya. Kita hanya perlu untuk melakukan antisipasi," terang Raffael untuk sekedar memberinya ketenangan.


Raffael benar-benar melakukan proteksi yang luar biasa untuk keluargaku.


"Apakah keluargaku dalam bahaya, Raffael?" tanyanya dengan sorot mata


menghiba. Sesuatu yang paling tidak di


sukainya saat Key tengah bersamanya.

__ADS_1


"Tidak akan terjadi apa-apa. Aku sudah mengerahkan orang-orangku. Percayalah semua akan baik-baik saja."


Key menatap Raffael dan mencari kebohongan di dalam mantanya, tetapi hanya sorot mata kejujuran yang ia temukan di sana.


Key menganggukkan kepalanya.


"Baiklah. Aku mempercayaimu."


"Bagus, setidaknya kau mulai menjadi seorang gadis penurut."


Raffael memamerkan senyum kemenangan yang membuatnya terlihat semakin tampan di mata Key. lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Netra indahnya menyelisik seperti mencari sesuatu.


Kamar Raffael yang luas, bahkan tiga kali lipat dari kamar tidurnya hingga terasa sedang duduk pada ruang tamu ukuran luas saja.


"Tidur saja kalau mengantuk?" Kembali Raffael melirik tempat tidurnya dengan isyarat naka.


Plakkk!!


"Jangan bermimpi!"


"Kenapa Nona galak sekali?" Pria itu meringis mengusap pundaknya yang terasa panas. Senyum masam Raffael muncul setelahnya membuat mimik wajah Key terlihat sangat lucu dan benar-benar menggemaskan.


"Apa Nova tidak menelpomu?" Pupil matanya mendadak membesar saat kesadarannya kembali pulih. Seharian


ini Raffael cuma mengurusinya saja. Pagi-pagi sudah ke rumah, fitting baju dan berakhir di kediaman Wijaya hingga


malam.


"Itu tidak penting. Sudahlah tidak usah dipikirkan," jawab Raffael sekenanya. Tangannya mulai sibuk membalas pesan yang masuk melalui ponselnya.


"Tidak peting?" Wanita itu menatap heran


Ada rasa jengkel dalam hatinya, Raffael benar-benar kurang peka memahami orang terkasihnya.


"Tidak bisa seperti itu, bagaimanapun dia adalah calon istrimu. Pekalah sedikit saja untuk urusan perasaan. Kenapa kau menjengkelkan sekali kalau sudah berbicara masalah hati. Kamu tidak boleh


seenaknya saja."


"Benar dia calon istriku, tetapi aku tidak ingin membuat dia cemas menjelang hari pertunanganku."


Apakah kau tidak mencintaiku? Sikapnya


datar-datar saja seakan tidak terjadi apa-apa.


Key termenung. Ada benarnya juga tetapi, bagaimana kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan?


Untuk kemudian buru-buru ia alihkan pikiran buruk itu.


"Yang penting kamu berhati- hatilah. Dan sebaiknya berterus teranglah dengan


keluargamu. Aku benar-benar tidak enak


hati. Seakan-akan menjadikan kau sebagai alat untuk melindungi keluargaku Aku keluar sebentar."


Belum juga Raffael menjawab, tubuhnya sudah tenggelam di sebalik pintu.


******


Di tempat yang berbeda Nyonya Wijaya berdiri berjalan mondar-mandir, hatinya risau tidak karuan. lain halnya dengan Tuan Wijaya yang tampak serius melihat tayangan berita pada salah satu Chanel TV.


Menjelang hari bahagia Raffael harusnya aku bahagia tetapi kenapa aku malah menjadi galau seperti ini?


"Pi!! Ada key menginap di sini saja Mami sudah sangat bahagia, apalagi kalau Key menikah dengan Raffael, pasti Mami sangat bahagia," suara tiba-tiba Liliana memecah suasana.


"Kita berdoa saja,Mi! Mudah-mudahan ada mukjizat yang menyentuh hati Raffael. Mami tahu anak itu sangat keras kepala dan susah diatur kalau sudah berurusan dengan hatinya?" jawab Pria bijaksana itu seraya melepaskan kaca matanya.


Diembuskan napasnya kasar, pikiran semakin risau. Bagaimanapun Raffael adalah putra kebanggaannya satu-satunya.


"Memang benar,Pi. Sudah saatnya Raffael menikah dan mempunyai seorang keturunan, tetapi kenapa hati Mami Risau? Anak itu baru mengenal Nova dan dengan keluarganya kita juga belum pernah bertemu, mana mungkin ketemu di saat hari pertunangan,Pi! Ini kan tidak lucu!"


Tuan besar Wijaya mengangkat kepalanya, mengalihkan perhatian dari


dari layar Tv dan memperhatikan istrinya yang mondar-mandir didekatnya.


"Duduklah, kita pikirkan sama-sama."

__ADS_1


Pria itu menyandarkan punggungnya


di sofa. Hanya helaan napas yang kasar


sesekali kembali terdengar dan mengingat masa lalu yang tidak


menyenangkan.


Saudara yang aku kenal setiap hari saja, bisa berkhianat dan sangat jahat. Apa


lagi orang asing yang sama sekali belum


kita kenal? Raffael ada-ada saja.


"Anak itu sangat genius untuk urusan perusahaan, tetapi kenapa mendadak bodoh untuk urusan hatinya?" Tuan Wijaya mengeluhkan sikap yang diambil oleh putra semata wayangnya itu.


Mereka kembali terdiam dengan pikiran masing-masing, sampai tidak sadar Key sudah berdiri didekat mereka.


"Sayang ,ayo duduk. Mana Raffael?" Nyonya Wijaya melirik sekitar saat tidak


ditemukan keberadaan putranya di sana.


"Raffael sedang memeriksa pekerjaannya di privet room," jawabnya sopan.


"Mulai besok tinggalah di Mansion. Jangan menolak. Raffael sudah menceritakan semuanya, bukan?"Tuan dan nyonya besar tersenyum menatap


Key yang sedang bingung.


Jadi Raffael sudah menceritakan semuanya? Kenapa dia bermain petak


umpet, benar- benar sangat menyebalkan.


"Hemm ... Sa__Saya, sungguh sangat berterimakasih kepada Om dan Tante,


Ma__ maksudnya, Mami dan Papi." Key menatapnya tak enak hati. "Maaf, banyak merepotkan."


"Tidak ada yang merasa direpotkan, sayang. Jangan bicara seperti itu. Sudalah temani Mami dan p


Papi menonton dulu, yukk!"


Nyoya Wijaya merangkul pundak Key dan mendudukkannya di sebelahnya. Ia mengusap rambut indah perempuan cantik itu dan seketika membuatnya kembali merona malu.


*****


Drufft.... drufft! Raffael dikejutkan dengan suara dering ponselnya.


"Honey, bagaimana bisa kau tidak meneleponku seharian! protes Nova kesal. Apakah kau sudah tidak mencintaku!" tanyanya ketus dari ujung telepon.


"Hemmm ... sorry, aku sangat sibuk."


"Kau selalu sibuk dan sibuk tetapi kau selalu ada untuk sahabatmu itu. Kau mencintainya?" Nova mulai menaikkan volume suaranya karena kesal.


Raffael memejamkan matanya malas. "Hemm.. ada apa lagi ini, apakah kau sedang cemburu? Raffael membalas dengan santai.


"Dia hanya sahabatku." Hal itu Ia lakukan setelah menyadari kehadiran, Key, yang tidak jauh dari balkon tempatnya berdiri.


"Huhh!! Kau sangat menyebalkan, aku benci kamu!" .


"Aku sudah transfer, kamu bebas beli apapun sesukamu, tetapi jangan meminta waktuku untuk saat ini. Aku sedang banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan menjelang hari pertunangan kita. Tunggu kejutanku yang sedetik saja kamu tidak akan pernah bisa melupakannya.


Sesaat terdengar tawa riang di seberang sana. Sementara Raffael melirik Key dengan ekor matanya.


"Thank you honey, you are the best. Aku merindukanmu." lalu Nova menutup panggilan teleponnya.


Dasar wanita ular, hanya pria bodoh yang mau denganmu.


"Nova yang menelpomu?"


___________________


Sahabat tersayang 🌹


jangan lupa untuk like dan komennya,ya.


terimakasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2