Misi Cinta CEO Tampan

Misi Cinta CEO Tampan
64. Engagement day


__ADS_3

Satu Minggu kemudian....


Nuansa floral begitu menyihir sebuah ballroom hotel terkemuka di pusat kota. Suasana begitu meriah dengan layar monitor besar yang terpasang di dalamnya.


Ruangan megah yang sebagian di dominasi oleh nuansa blossom sakura, seolah mewakili hati mereka yang sedang berbahagia. Hari ini sebuah langkah awal dari sebuah ikatan suci hubungan mereka, untuk kejenjang yang lebih serius lagi di mulai.




Penjagaan sangat ketat dimana-mana. Sesekali terlihat para wartawan yang diijinkan masuk mengabadikan momen istimewa itu dengan membidik objek yang di anggap menarik. Kedua belah pihak anggota keluarga besar telah berkumpul. Tidak jarang kedua Nyonya besar itu saling melempar senyum bahagia.


Suasana begitu sakral dan penuh hikmat. Berbagai harapan dan doa dipanjatkan dalam hati-hati masing-masing dengan harapan, ini adalah titik awal kebahagiaan Raffael dan Key yang sesungguhnya.


"Pi, mami sangat bahagia dengan hari ini. Bagaimana nanti dengan hari pernikahan mereka berdua, mami benar-benar tidak sabar, pi!" Antusias Nyonya besar dengan menyikut lengan suaminya, karena tidak bisa menutupi rasa bahagianya yang terpancar diwajahnya.


"Liliana, setidaknya kau tidak menangis lagi dengan rencana tunangan, Raffael kali ini. Putra kita memang luar biasa, hobynya bikin orang spot jantung," Tuan besar tertawa menggoda istrinya


"Apakah papi tahu, tadinya mami berpikir Raffael melamar dan akan menikah dengan key adalah mimpi mami semata. Ternyata putra kita mempersiapkan kejutan yang luar biasa untuk kita semua, Pi. Sudah saatnya mereka bersatu dan berbahagia. Satu langkah lagi, Raffael dan Key akan bersatu dalam sebuah ikatan suci pernikahan."


"Makanya mami harus bahagia. Jangan seperti kemarin, yang menagisi keputusan Raffael, ketika akan bertunangan dengan anak Darriel itu," Goda Tuan Wijaya sambil terkekeh. Sementara, Nyonya Wijaya hanya tersenyum sambil tersipu malu mengingat kebodohannya.


"Bagaimana mami tidak menangis, Pi! Kalau anak mafia sekelas, Darriel itu yang akan menjadi besan kita! Oh my God! Amit-amit. Membayangkan saja rasanya mami sudah mau mati."


Tuan Wijaya kembali terkekeh melihat tingkah istrinya itu. "Papi juga tidak mau.


Sekarang calon menantu kita adalah Putri Tuan Tirta Wijaya. Perempuan yang sudah mencuri hati keluarga kita dan kita pantas bersyukur, dia adalah cinta sejati putra kita. Kita akan berbahagia setelah ini, kita lupakan yang sudah berlalu."


"Benar,Pi! Terlepas dengan apa yang terjadi, Mami semakin menyayangi mereka berdua."


"Key. Dia paling bisa memahami, Raffael


yang terkenal keras kepala. Kejamnya kehidupan kita di masa lalu bagaimanapun berperan mengubah karakter, Raffael menjadi semakin keras.


Tetapi sekarang?" Tuan besar melirik istrinya yang mendengarnya dengan seksama.


"Lihatlah bagaimana,tidak, "Raffael sekarang punya kepedulian sosial yang tinggi untuk sesama, setelah ketidakadilan hampir mengeraskan hatinya. Raffael memang terkenal tegas dan punya ambisi yang kuat untuk urusan pekerjaannya, tetapi dia amat sangat manis dengan seorang wanita. Ini benar-benar mengejutkan," dengan tidak bisa menutupi rasa bangganya.


"Itu menurun dari sifat papi juga," tambah Nyonya besar. Tangannya menyikut gemas Tuan besar dengan kerlingan mata nakalnya yang seketika menimbulkan gelak tawa keduanya.


"Ihh! Papi!"Jangan keras-keras, banyak kamera yang mengarah ke kita," protesnya.

__ADS_1


"Sebentar lagi acara akan dimulai," beritahu Tuan Wijaya. Kali ini dengan menggenggam tangan istrinya.


Acara satu persatu dimulai dengan seksama. Hari itu semua teman-teman Raffael dan Key berkumpul. Para kolega, clien penting dari berbagai petinggi perusahaan terkemuka dan pejabat penting menjadi tamu kehormatan saat itu.


Kilatan cahaya camera dari para pemburu berita menyambar-nyambar. Mereka tidak berhenti membidik objek, untuk mengabadikan setiap momen yang sangat istimewa tersebut. Tidak jarang mereka saling berebut momen indah dengan sedikit bergesekan.


Raffael dengan segala pesonanya dan kedidagyaannya, menghipnotis siapa yang melihatnya saat itu. Sebagai CEO dari perusahaan raksasa dan paling berkuasa di Negeri ini, dengan segala sifat heroiknya, berhasil menjadi trending di berbagai media. Pencapaiannya sangat luar biasa diusianya yang belum genap dua puluh tujuh tahun.


Begitu juga dengan Key. Wanita itu terlihat cantik dan anggun berbalut gaun simple dan terkesan unik tetapi tidak bisa menghilangkan kesan mewah dan elegan saat sudah melekat ditubuhnya. Makeup


flawes yang melukis wajahnya begitu natural memancarkan kecantikan wanita itu yang sesungguhnya. Berdiri dengan penuh kharisma, menatap dengan penuh kasih bidadari cintanya, Raffael tidak berhenti untuk tersenyum mengagumi betapa mempesonanya Key saat itu.



Keduanya berdiri dengan saling berhadapan-hadapan. Key sesekali terlihat tegang tetapi dengan luwes dia menyesuaikan diri dengan keadaan. Hingga pada akhirnya, niatan suci untuk melamar sang kekasih hati itu terucap begitu menawan dari bibirnya.


"Hari ini adalah, hari dimana aku mengerti arti dari cinta sejati. Karena sejak pertama melihatmu, aku tahu mencintaimu adalah istimewa," Raffael tersenyum menatap netra indah yang berbinar begitu indah. Gurat bahagia terpancar membingkai wajah cantiknya.


"Mencintaimu adalah anugerah terindah dalam hidupku dan aku berharap begitupun juga denganmu," tangannya memegang kotak merah berbentuk persegi dan sesekali mengulum senyum menatap Key yang tersipu dengan mata berkaca-kaca.


"Kita mencintai dari dalam hati tanpa pernah berjanji. Menjaga rasa yang sudah terpatri di dalam hati. Begitupun cinta kita adalah keikhlasan dari kemurnian hati, karena sejatinya kita hanya ingin saling menjaga satu dengan lainnya," tepukan tangan terdengar riuh. Teman- teman Raffael yang berkumpul saat itu terdengar saling berbisik.


"Aku tidak tahu beruang kutub itu berapa lama menghafal teks untuk berlaku romantis. Ini benar-benar kejutan. Rasanya tidak sia-sia aku datang jauh-jauh dari Paris kemari," Nick menggeleng tak percaya dengan apa yang di dengar dan di lihatnya.


"KEYRANE ANAYA AQUEENCY TIRTA WIJAYA WILL YOU MARRY ME?" Raffael kembali tersenyum dengan manis menatapnya yang sedang berkaca-kaca.


Sebuah kotak terbuka memancarkan kemilau cincin berlian the perfect pink pilihannya, yang sesaat memorinya berputar kembali. Waktu itu Key berpikir Raffael membeli cincin untuk tunangannya, Nova.



Key begitu terharu mendengar bait demi bait yang terucap begitu menyentuh relung hatinya. Mereka lama saling menatap dengan syahdu. Seakan malaikat cinta sedang mengepakkan sayapnya, gayung pun bersambut dengan begitu manisnya.


"YES I Will," jawabnya pasti.


Tepukan tangan meriah terdengar kembali. Bibirnya tidak kuasa untuk berkata-kata lagi. Kristal bening kebahagiaan itu meluncur begitu saja dari wajah cantiknya.


Apa lagi saat cincin berlian the perfect pink itu dengan begitu indah menghias jari manisnya, Key merasa seisi dunia sedang menunduk memberikan restunya.


"Terimakasih sayang," Raffael mengulum senyum. Keduanya saling menatap dengan dalam dan penuh cinta. Tangan mereka saling menggenggam dan dengan lembut Raffael mencium keningnya dengan penuh kasih. Cahaya Camera dari berbagai media berkilat-kilat untuk sesaat lamanya, di sertai tepukan tangan yang kembali meriah.


Kedua keluarga besar larut dalam kebahagiaan, saling berangkulan penuh rasa haru. Begitupun para sahabat dan tamu undangan mereka tidak bisa menutupi rasa bahagianya.

__ADS_1


"Cara tanganmu dingin sekali," bisiknya lirih di telinganya. Wanita itu masih dalam suasana haru karena bahagia.


Begitupun kedua Nyonya besar itu saling berpegangan tangan karena bahagia.


"Liliana, aku cuma mempunyai seorang putri, tetapi Aku Ikhlas memberikannya kepadamu," ucapnya terharu mereka akhirnya saling berpelukan.


"Larasati, kau seperti tidak mengenalku saja. Aku juga cuma punya satu putra. Kita akan berbagi dengan adil, tetapi aku yakin mereka akan memberikan cucu untuk kita yang sangat banyak," candanya yang diamini oleh Nyonya Tirta wijaya.


"Dari dahulu sampai kapanpun, Key sudah ku anggap sebagai putriku. Kalau saatnya tiba putraku mengambilnya untukku, itu adalah kebahagiaanku. Aku sangat menyayangi putrimu, tetapi kau tidak usah khawatir, kita akan berbagi bersama untuk putra-putri kita, Laras."


"Liliana, akulah yang seharusnya sangat berterimakasih untuk semua yang sudah dilakukan oleh putramu. Sungguh kami merasa sangat tersanjung."


"Dan putrimu adalah lentera yang menerangi keluargaku. "Raffael bisa seperti ini adalah karena putrimu," keduanya lalu tertawa bersama.


"Kau sangat berlebihan, Lili."


"Tirta, lihatlah istri-istri kita, kalau mereka sudah berbicara, kita dilupakan seakan tidak pernah ada," Protesnya Tuan Wijaya. Beliau berdua saling melirik dan tertawa bersama.


"Semoga semua berjalan lancar dengan seizin-Nya, aamiin." Kedua Tuan besar itu kali ini merasa lega. Masalah demi masalah berhasil di lewati. Setidaknya hari ini yang maha kuasa masih memberinya kesempatan untuk berbahagia dan mereka pantas bersyukur.


Acara pertunangan Raffael berjalan sebagaimana mestinya. Teman-teman dekat Key dan Raffael bergerombol penuh suka cita dengan menikmati hidangan mewah yang tersaji. Namun dari sekian wajah-wajah bahagia tampak Andreas yang tidak bisa menutupi rasa kehilangan diam-diam dari dalam hatinya.


Pria tampan itu, lebih banyak diam dan hanya mendengarkan ocehan teman-temannya saja.


"Raffael, rasanya aku tidak sia-sia datang jauh-jauh dari Berlin. Aku benar-benar tidak percaya, baru saja kau jadi pujangga cinta yang romantis dadakan," Nick, Bryan dan Calvin terus menggodanya.


"Betul sekali, aku sampai harus memakai kaca mata tebalku untuk memastikan apakah itu benar-benar dirimu," sambung


Hansen tidak mau kalah.


"Terimakasih sudah berkenan datang"


Key menoleh Andreas dan tersenyum. "Aku juga berterimakasih, kau sudah datang."


___________________


Catatan penulis:


Sahabat tersayang 🌹


jangan lupa untuk like dan komennya, ya.

__ADS_1


Terimakasih.🙏


__ADS_2