Misi Cinta CEO Tampan

Misi Cinta CEO Tampan
70. Reformasi kejutan


__ADS_3

"Raffael... "sepagi ini kau sudah datang?"


"Baby, Aku akan mengajakmu pergi hari ini."


"Kemana?"


"Nanti kau juga akan mengerti, "Bukankah kita sudah berjanji waktu itu."


"Baiklah." Setelah beberapa saat mereka berbincang, keduanya memutuskan kembali ke Mansion untuk bersiap. Tidak lupa kecupan singkat Raffael daratkan dengan begitu lembut dan membuat pipinya merona merah.


Mentari pagi masih menampakan senyum dan sinarnya. Seperti janji mereka berdua Raffael dan Key pergi untuk menghadiri acara event sosial disebuah tempat yang sama sekali asing untuknya.


"Raffael, tempat apa ini?!! Apakah ini tidak salah tempat?" Key yang di liputi perasaan heran, kaget dan was-was. Hatinya berdegup dengan kencang melihat orang-orang berpostur tinggi besar dengan penuh tato, berjumlah nyaris ratusan orang berjejer dengan rapi di depan sebuah gedung bangunan tua.


"Sayang, tenang saja! Mereka tidak akan menggangu kita,okey. Jangan cemas seperti itu. Tidak akan terjadi apa-apa pada kita. Semua akan tetap baik-baik saja," Raffael berbisik menenangkan. Perlahan diraihnya jemari tangannya dan digenggamnya dengan erat. Raffael tersenyum menatap wajahnya yang  memucat dengan tangan gemetaran.


"Cara, kau baik-baik saja? Sudah aku katakan mereka tidak akan menggangu kita, percayalah."


"Raffael, mereka berjumlah sangat banyak sementara kita, cuma berdua saja. Bagaimana bisa, kau bilang kita akan baik-baik saja," protesnya tetap tidak bisa menutupi rasa takutnya. Bahkan pegangan tangan Key terasa dingin dan kuat mencengkram lengannya membuat Raffael tertawa dalam hatinya.


"Sayang lihat mereka."


"Apa maksudmu?."


"Lihat mereka dengan cermat," tunjuk Raffael kesuatu arah.


"Raffael, apa arti semua ini?Jangan membuatku bingung," tatapnya terkejut. Tidak jauh darinya berjejer orang-orang kepercayaan, Raffael berkumpul. Jasson, Jordy, Jordan beserta anak buahnya dan beberapa karyawan kantor Raffael juga berkumpul di sana. Key semakin kaget, saat mereka dengan sopan membungkuk


memberi hormat kepada keduanya.


"Selamat datang Tuan Muda dan Nona, Key," sapa mereka dengan membungkuk hormat.


"Selamat datang untuk kalian semua," Raffael dan Key berjalan bak seorang  Raja dan Ratu di tengah-tengah mereka yang merupakan para preman, pengangguran dan pelaku kriminalitas lainnya.


"Raffael?" Keduanya saling menatap, tetapi berbanding terbalik dengan Key, wanita itu tetap memperlihatkan wajah bingungnya di tengah genggaman tangan Raffael yang terasa lembut dan hangat.


"Sayang ayo kita masuk," ajaknya dengan melangkahkan kakinya lebih cepat diikuti dengan mereka semua di belakangnya.


Bangunan ini sangat tua, tetapi ternyata  didalamnya masih begitu bagus dan terawat. Desainnya seperti kantor pada umumnya. Apa sebenarnya yang sedang di rencanakan oleh,Raffael," batin key tidak mengerti. Tetapi tidak bisa menutupi rasa penasarannya. Bahkan rasa takutnya mengalahkan rasa ingin tahunya saat ini.


"Sebentar lagi kau akan mengerti," Raffael meraih bahunya dan mendudukkannya disampingnya. Sementara mereka terlihat duduk dengan rapi dan dengan seksama mendengarkan sebuah sambutan dari salah satu staf kantor Antara yang di tunjuk oleh, Raffael.


"Raffael, jadi ini yang kau bilang Event sosial? Bagiku ini lebih dari sebuah event sosial, tetapi sebuah gerakan moral. Kau mencoba mereformasi mental mereka, cara berpikirnya, cara hidup dan bagaimana bersosialisasi dengan semestinya. Aku benar-benar bangga padamu," Wajahnya menatapnya dengan penuh haru.


Raffael tersenyum melihatnya sangat excited dengan rencananya. "Kau berniat untuk membuka lapangan kerja pada mereka dan melakukan pelatihan kerja khusus? Luar biasa, Raffael! Ku akui, hari ini kau bahkan berkali-kali lipat sangat tampan dari biasanya," goda Key tidak bisa menutupi rasa bahagianya, setelah dengan seksama ikut mendengarkan apa yang disampaikan oleh staf kantor itu.

__ADS_1


"Cara, tadi kau begitu ketakutan, sekarang beraninya kau menggodaku. Apakah kau tidak takut calon suamimu ini akan khilaf, hemm?" Kerling mata nakalnya membuat Key mencebikan bibirnya. 


"Ini ide luar biasa, Raffael. Bagaimana bisa kau menjinakan mereka? Aku akui, uang berkuasa di atas segalanya, tetapi kali ini kau menggunakannya dengan sangat tepat," pujinya dengan mengangkat dua jempolnya.


"Kamu pernah bilang kekerasan tidak bisa dibalas dengan hal yang sama, itu yang aku lakukan untuk mereka. Mereka adalah manusia biasa yang punya cita-cita seperti kita, punya kebutuhan, hanya cara hidup mereka saja yang salah. Dan sering melakukan jalan pintas. Tetapi saya berpikir momoknya adalah karena kemiskinan dan minimnya lapangan pekerjaan. Aku hanya ingin sedikit mengubah jalan hidup mereka, saja, sayang.


"Itu sangat luar biasa." Key bertepuk tangan sambil tersenyum manis menatapnya.


"Aku sangat setuju dengan ini semua, Ada kalanya mereka juga berpendidikan tetapi pendidikan saja rasanya juga tidak cukup, kalau tidak mempunyai sebuah ketrampilan. Aku sarankan datangkanlah Rohaniawan sesuai dengan keyakinan mereka. Untuk menyentuh hatinya, karena tidaklah mudah mengubah perilaku mereka, jangan sampai mereka berubah selama ada uang dan pertolongan saja, tetapi tanamkanlah rasa takut kepada Tuhan-nya. 


"Ide brilian yang mulia, sayang," Raffael menatap penuh kekaguman padanya. Diakui olehnya, Key selalu saja menyimpan sesuatu yang istimewa tersendiri dari setiap apa yang diucapkan dan dilakukannya. Benar saja mengubah mentalitas pelaku kriminalitas yang biasa aktif berbuat anarkis tidaklah mudah. Bahkan orang-orang Raffael melakukan pendekatan-pendekatan secara bertahap untuk mengarahkan mereka.


"Jangan menatapku seperti itu."


Raffael tersenyum lalu mendekatkan wajahnya dan berbisik. "Jangan terlalu banyak tersenyum, cara, karena aku cemburu melihat mereka terpesona melihatmu."


"Heem... kau terbaik," jawabnya dengan kembali mengacungkan kedua jempolnya.


🍁🍁🍁


Waktu terus berjalan Raffael dan Key terpaksa harus kembali lebih awal, karena ada jadwal kepanti asuhan diikuti oleh trio J dibelakangnya.


"Sepertinya kau sangat bahagia hari ini, Cara."


Cup


"Kau sedang menyetir, Raffael berhati-hatilah," protesnya kali ini dengan serius.Hingga pada akhirnya sampailah pada suatu  panti ternama. Terlihat anak-anak yang kurang beruntung berjejer menerima mainan, buku bacaan, serta makanan yang telah dipesannya. 


"Apakah kau menyukainya, adik manis," Key sedikit berjongkok dan bertanya dengan menyunggingkan senyum. "Ini untukmu, tetapi kalian harus janji tetap jadi anak yang pintar, penuh semangat dan jangan mudah menyerah, ok?"


"Telimakasih aunty cantik,  temangat!  Suaranya terdengar lucu dan menggemaskan membuat Key terkekeh geli. "Semangat juga! Anak yang lucu," tangannya kali ini mengusap lembut Wajahnya. Hatinya tiba-tiba menjadi trenyuh membayangkan sekecil itu sudah harus berpisah dengan kedua orang tuanya.


Sementara Raffael yang berada disisinya menatap kagum. Hal yang selalu Raffael kagumi, bahkan saat sedang sulit sekalipun Key selalu menyempatkan untuk berbagi. lama mereka mengobrol dan bermain, hingga sepasang netranya menangkap sosok yang tidak asing yang


sedang bertemu ibu panti. 


Caroline, Kau ?" Key menatap tak percaya.


"Hey, calon pengantin. Senang bertemu denganmu di sini lagi, Key. Mereka berdua saling berpelukan dan meminta ijin sebentar untuk mengobrol.


"Kalian sedang berkunjung ke panti juga, rupanya."


"Aku sedang berniat mengadopsi seorang anak," jawab Carroline dengan  tidak bisa menutupi rasa sedihnya. Aku kesulitan untuk memiliki buah hati. Meskipun menikah muda dari masih kuliah. Aku dan Bryan sudah berusaha, Key, tetapi Tuhan sepertinya masih berkehendak lain," suara Carroline sendu dengan mimik sedih.


"Sejujurnya ibu mertuaku tidak menginginkan ini, mereka menginginkan Cucu dari darah daging mereka sendiri." Kali ini air mata Carroline berhasil menetes.

__ADS_1


Key begitu trenyuh mendengarnya. Lama mereka berbicara sementara Raffael asyik bermain dengan anak-anak panti dan sesekali mengobrol dengan Brian suami Carroline.


"Sudahlah, jangan dipikirkan," buru-buru Carroline mengusap air matanya.


"Sebentar lagi kau akan menikah? Sungguh aku bahagia dengan itu di samping orang yang menggelapkan uang perusahaan keluargamu berhasil ditangkap. Raffael luar biasa," pujinya tulus.


"Terimakasih." Key seperti kehabisan kata-kata mendengar curhatan sahabatnya itu. Dan diam-diam Ia juga memikirkan hal itu bila terjadi pada dirinya, tetapi buru-buru Key menghalau


pikirannya.


"Sejak dahulu kalian pantas untuk bersama," Carroline kali ini menampakkan senyum bahagia.


"Brian juga sangat mencintaimu, percayalah, suatu saat akan ada malaikat kecil yang akan meramaikan keluarga kecilmu," Key berujar dengan nada menghibur. "Bersabarlah."


"Bagaimana menurutmu Key, aku harus bagaimana?"


"Kau masih sangat muda, masih banyak harapan, "mungkin itu yang sedang dipikirkan oleh kedua orang tua Bryan. Percayalah tidak ada yang mustahil," hibur Key. Keduanya saling berangkulan sebelum akhirnya berpisah. Seorang anak kecil menghampiri Raffael dan Key


"Aunty, uncle tampan yang satu lagi apakah tidak datang?" Raffael mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan konyol anak kecil itu."


"Hey! Kita ketemu lagi. Aunty, mulai sekarang cuma akan datang dengan uncle tampan yang itu," tunjuk Key ke arah Raffael.


"Uncle," sapanya lirih diikuti oleh anggukan samar Raffael. Sorot matanya yang tajam dengan jambang halus yang tumbuh diwajahnya membuat seorang Raffael terlihat maskulin. Belum lagi bibirnya yang memerah kontras dengan


kulit wajahnya yang bersih dengan rambut yang selalu klimis, membuat mata anak kecil itu menatapnya tidak berkedip.


"Lebih tampan, kan?" Apakah kau tidak ingin berkenalan dengannya?" goda Key menyadari tatapan Raffael yang sedang dongkol, dengan uncle tampan yang di maksud oleh anak kecil itu.


"Namaku, Daffa, Uncle tampan," tangannya terulur memperlihatkan jari-jarinya yang kecil ke arah, Raffael ,dan dengan senyum tipis menyapanya.


"Senang bertemu denganmu."


"Terimakasih Uncle tampan."


"Hemmm ... boleh tahu uncle tampan yang kau maksud?" Raffael menaikan sebelah alisnya dengan sedikit melirik Key yang berdiri di sisinya.


Daffa mengangguk kecil. "Uncle, Andreas," jawabnya polos.


_____________________


Catatan penulis:


Sahabat tersayang 😘


Jangan lupa untuk tinggalkan like dan komennya, thank you.

__ADS_1


__ADS_2