Misi Cinta CEO Tampan

Misi Cinta CEO Tampan
80. Balada cinta part 1


__ADS_3

Raffael dikagetkan dengan getaran pesan masuk pada ponsel dalam sakunya. Wajahnya mendadak berubah dengan darah berdesir melirik, Key, yang duduk disampingnya. Foto-foto, Key dengan buket bunga Rosa Alba ditangannya, masuk secara beruntun melalui pesan Whats App miliknya dikuti oleh sebuah pesan misterius.


Seorang perempuan berhati malaikat yang sangat kau cintai itu, tak ubahnya kotoran sampah yang menyamar menjadi bongkahan berlian. Kamu pikir, setelah apa yang dilakukan oleh salah seorang anggota keluargamu, calon istrimu itu, lantas menerima begitu saja? Bersiaplah untuk masuk perangkapnya, Raffael.


Atau kau akan berhenti sebelum  semuanya terlambat. Ha..ha..


Dadanya mendadak bergemuruh dengan rahang mengeras, tetapi Raffael masih mencoba untuk mengendalikan dirinya. Mukanya mendadak tegang dengan sorot mata memerah, sementara Key tampak terdiam menatap jalanan keluar dengan sebelah tangannya yang masih memegang lengannya.


"Cara, apakah selama ini ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman saat berada di Mansion? Raffael ingin menggali kebenaran dari dalam dirinya.


"Tidak ada. Tempat itu sangat nyaman dan aku menyukainya?" Raffael menarik napas berat yang ikuti oleh tatapan ingin tahu, Key.


"Ada apa?" 


"Kalau ada sesuatu yang membuat mu terganggu atau tidak nyaman jangan sungkan untuk bicara padaku. Dan seperti yang sudah aku katakan jauh-jauh hari, hati-hati dengan barang kiriman atau paket yang tidak jelas pengirimnya." Raffael melirik, Key dengan hati berdebar kencang, ingin melihat reaksinya, tetapi hanya anggukan kepala saja yang terlihat olehnya, sesaat membuat dadanya semakin bergemuruh karena kecewa.


Netra indahnya mengerjap. Sekilas bayangan pengirim buket itu menganggu pikirannya.


Apakah saat ini adalah saat yang tepat untuk mengatakan kepada, Raffael? Tetapi sejauh ini tidak ada hal-hal yang mencurigakan dan dirinya juga baik-baik saja.Tidak ada telepon masuk atau pesan yang sangat menganggu dan hanya satu kecurigaannya jatuh pada Andreas dan dirinya yakin sekali lelaki itu tidak akan menyakitinya.


Raffael tidak bisa menahan rasa kecewanya, Key menyembunyikan sesuatu pada dirinya. Pikirannya mendadak kacau, melenyapkan seleranya untuk bermain golf, setelah fitting baju pengantin.Ia berharap Key akan menceritakan padanya tentang  buket bunga itu, tetapi ternyata wanita disampingnya itu hanya merapatkan bibirnya tanpa sepatah kata pun.


Ya, Tuhan, pernikahan tinggal menghitung hari, kenyataan macam apa ini. Jasson, apakah dia tidak tahu ini semua? Apa saja yang mereka lakukan selama ini? Dan buket itu, apakah sekali saja dia tidak melihatnya.


Raffael mulai menggeram dalam hati dengan sejumlah pertanyaan dan menduga Jasson juga mengabaikannya. Bagaimana bisa ada seseorang yang memotret Key saat di Mansion dan semua luput dari penglihatan para pengawalnya.


"Jordy, kita kembali ke Mansion saja," perintahnya. Raffael mulai tidak bisa mempercayai siapapun.


"Baik, Tuan muda."


"Tidak jadi bermain golf?  Key menoleh sedikit heran. Sementara Raffael hanya menggelengkan kepalanya saja. "Lain kali saja. Mami tidak mengijinkannya dan membuat wanita cantik itu tidak banyak bertanya.


Tangannya kembali mengecek ponselnya. Dan memastikan bahwa buket mawar putih itu datang lebih dari sekali, hal ini terlihat dari foto-foto, Key saat menerimanya dengan pakaian yang berbeda-beda. Raffael menoleh kembali perempuan yang sedang duduk disampingnya itu dan kembali pikirannya berperang dalam dirinya.


KENAPA KAU BERBOHONG, CARA.


Key mengkhianatinya, "apa lagi punya motif lain terhadap dirinya secara diam-diam, dalam mimpi pun, Raffael tidak ingin mendengarnya. Tetapi melihat apa yang sudah dilakukan oleh pamannya, dan juga Darriel sastra negara, dalam menghancurkan keluarganya, hati Raffael mendadak kacau balau dan hampir teriak di dalam mobilnya. Tetapi sekuat tenaga dia mengendalikan perasaannya, mengingat ini adalah masalah yang serius dan menyangkut, Key, orang sangat dicintainya dan akan menjadi bagian dari hidupnya.


Aku yang akan menyelidikinya sendiri. Ya, Tuhan pikiran apa ini? Aku mencintainya dan mempercayainya lebih dari diriku sendiri. Mungkinkah dia...." Ah!


Tidak- tidak. Ini tidak benar. Aku sangat mengenalnya. Ini pasti ulah dari segelintir orang- orang yang ingin melihatku hancur. Tidak mungkin, Key seperti itu. Itu sama sekali tidak benar. Aku sangat yakin padanya.


Beberapa kali Raffael menarik napasnya dengan kasar, mencoba meyakinkan dirinya sendiri yang seketika menarik perhatian, Key, yang duduk disampingnya.


"Raffael, apakah ada sesuatu yang kau pikirkan?" Key yang melihat perubahan pada wajahnya, menjadi sedikit heran dan perlahan melepaskan genggamannya untuk mengusap bahunya dengan lembut.


"Tidak ada." Raffael mengambil tangannya lalu menggenggamnya, membuat Key menyunggingkan senyum menatapnya. 


Tatap mata itu, senyum itu masih saja sama. Kalau orang sebaik dan setulus Key mengkhianatinya, "Demi Tuhan lebih baik selamanya aku tidak mengenal saja, "apa itu seorang wanita.


Raffael menyandarkan kepalanya dan memejamkan matanya. Alam pikirannya tidak berhenti untuk mencari tahu, siapa pengirim pesan misterius itu, dan bagaimana bisa tahu nomor ponselnya. Hanya orang- orang terdekatnya yang mengetahuinya dan itu termasuk juga, Andreas.

__ADS_1


 Mendadak ingatannya tetang Rosa Alba di meja kamar, Key, saat tidak sengaja masuk ke dalam kamarnya terbayang dengan jelas. Waktu itu Key tertidur di butik dan dia membopongnya masuk ke kamarnya dan melihat sekuntum mawar putih di Meja secara perlahan, mulai menggoyahkan hatinya dan membuat genggaman tangannya pada wanita itu terurai pelan.


"ANDREAS" Aku juga pernah melihat sekuntum mawar putih di dalam kamar mansion menjelang Key, resign dan waktu itu, aku sendiri yang membuangnya ke tong sampah," Rahangnya mengeras dan berniat mengecek CCTV area Mansion seiring kecurigaannya yang semakin bertambah.


lama berkutat dengan pikirannya yang semakin kacau, akhirnya tiba juga di Mansion. Raffael ijin ke kamar mandi untuk melampiaskan kekesalannya.


"Key dan Andreas main mata dan ___"


"Tidak. Key tidak akan pernah tega melakukan itu. Ku akui, Paman Bayu pernah menghancurkan keluarganya, tetapi Key tidak akan pernah sanggup melakukan itu. Pikiran apa ini, Tuhan !"


"Ahhhh!! Sialll! Teriaknya keras.


Bughhh!! 


Tangannya bergetar saat melayangkan tinjunya ke arah tembok kamar mandi dengan kencang disertai napasnya yang tersengal. Keringat dingin mengucur deras dari keduanya pelipisnya dan menyeka wajahnya kasar, lalu menyalakan keran wastafel untuk membasuh mukanya dan bergegas melangkah keluar dari kamar mandi dengan menarik napasnya dalam-dalam.


Key menyodorkan minumnya ke arah Raffael begitu tiba di meja makan. Seperti biasa mereka makan siang yang sudah terlewatkan bersama dengan keluarganya. Perempuan itu dengan telaten mengambilkan makanan dan meletakkannya dihadapannya. Bahkan seperti biasanya Key menyeka keringatnya yang bercucuran di saat makan.


Tidak ada yang berubah, semua tetap sama," Raffael menatapnya tak berkedip, hatinya kembali bergejolak dan kembali berperang dengan dirinya sendiri. 


Wanita setulus, Key, tidak akan pernah menyakiti hati seorang manusia, dimana untuk membunuh bintang saja dia tidak akan pernah tega.


"Makanlah buahnya," tangannya terulur dengan senyum, menyuapkan potongan buah. Sementara Tuan dan Nyonya Tirtawijaya juga ikut tersenyum melihatnya. Kembali Raffael menatapnya dengan lekat dan membuka mulutnya perlahan.


Key berkhianat, mungkin sulit untuk dipercaya.Tetapi menyembunyikan, kalau ada orang yang mengirimkan buket bunga Rosa Alba, "apakah sedikit saja dia tidak pernah menaruh curiga pada, Andreas?  Mengingat setiap hari, saat di kantor bunga itu selalu singgah di mejanya. Apakah mereka berdua 


Sengaja___"


 Raffael mendadak tersendak tetapi dengan cekatan Key memberinya minum dan mengelapnya secara hati-hati.


"Pelan-pelan saja," nasihatnya dengan menepuk punggungnya pelan.


"Sudah, cukup. Aku sudah kenyang yang diikuti oleh anggukan kepala wanita itu.


Raffael memanggil Jasson secara pribadi dan mengatakan ingin memeriksa CCTV Mansion.


Ia sengaja tidak menceritakan sesuatu pada pengawal andalannya itu, dan dengan cekatan Jasson mengajak Rafael keruangan khusus, tanpa menunjukkan reaksi apapun. Hal ini membuat Raffael semakin curiga ada yang tidak beres. 


Mata Jasson melotot saat mendapati seorang datang ke Mansion dengan buket Mawar putih ditangannya dan terlihat Mitha keluar menerimanya. Bahkan sehari lebih dari dua kali dengan orang yang berbeda-beda. Pengirim bunga itu datang disaat Jasson dan Key tidak berada di Mansion.



"Mereka datang pada saat Tuan dan Nona photo prewedding, atau Nona sedang keluar dengan Tuan muda."


"Sepertinya begitu."


Aneh, tidak ada tanda-tanda orang yang memotret, Key, didalam Mansion, lalu foto-foto itu berasal dari mana?


"Apakah ada CCTV yang terlewatkan?" Tanyanya curiga.


"Tidak ada, Tuan muda. Bahkan setiap ruangan itu masing-masing ada nomornya, kecuali dalam ruangan pribadi saja. Dan tidak ada tanda-tanda rekaman terpotong, hal ini terlihat dari tanda waktu yang merekam dengan jelas."

__ADS_1


"Hemmm.... 


Raffael membuka layar ponselnya dan pikirannya menggelitik, saat ada foto Key dengan buket mawar putih ditangannya saat di luar Mansion.


"Sorot area ini Jasson," perintahnya. Pria itu semakin melotot melihat Nona kesayangan Tuan mudanya itu memegang buket dari pemuja rahasianya itu.


"Tuan muda. Tidak ada tanda-tanda Nona keluar Mansion. Tetapi memang ada buket datang berkali- kali dan terlihat Mitha yang menerimanya."


Bahkan terlihat adik Jasson itu melangkah keluar untuk membuang bunga di tong sampah belakang Mansion atas perintah Key dengan sedikit berdebat.


"Besarkan suaranya, Jasson! Nada suara, Raffael terdengar tidak sabar."


Hati Raffael sedikit lega setelah mendengarnya, tetapi Key menyembunyikan sesuatu darinya tetap saja salah dan membuatnya sangat kecewa. Apalagi saat kecurigaannya pada Andreas semakin kuat.


Jasson yang melihat kejanggalan foto itu, bergegas memanggil Jordy yang banyak tahu tentang telematika.


"Periksa foto ini, Jordy." Tanpa bertanya, Pria itu menyalahkan laptop dan membuka layarnya lebar- lebar sesaat senyum Jordy muncul.


"Foto ini rekayasa, Tuan muda. Tuan muda tahu sendiri, saat ini, banyak sekali aplikasi canggih dengan filter luar biasa, yang bisa mengedit foto, video  dan sejenisnya dengan sangat halus seakan-akan itu sebuah kebenaran.


"Postur tubuhnya memang Nona, Key, tetapi wajahnya berbeda," tangannya dengan cepat mengurai hasil editan itu dan terlihatlah foto yang sesungguhnya.


"Aku bisa percaya itu. Tugasmu cari tahu siapa pengirim buket itu dan jangan bicara apapun kepada Key, atau pun Mitha. Apa motifnya, aku paling tidak suka menuggu! Perintahnya seraya berlalu.


"Tuan muda, bersabarlah. Jangan sampai salah paham dengan Nona." Namun Pria tampan itu menoleh pun tidak.


"Mitha! bisa-bisanya kau tidak bicara padaku! Jasson sedikit kesal dan berniat menegurnya diam- diam.


Raffael mendapati, Key yang sedang asyik menata barang- barang yang baru saja diambil dari rumahnya. Perempuan itu lebih suka mengambil barang lamanya dari pada menghamburkan uang untuk membeli yang baru. Bahkan uang hasil dari usaha butik dan kafe miliknya digunakan untuk menyumbang di beberapa panti asuhan setelah perusahaan keluarganya kembali.


Hatinya begitu yakin, Key tidak mengkhianatinya, hati perempuan itu terlalu putih untuk dinodai dengan hal-hal yang tidak perlu, hal itu tertangkap dari pembicaraannya dengan Mitha saat dia marah, karena Mitha menerima saja paket yang tidak jelas pengirimnya dan menyuruh membuangnya.


Amplop merah jambu yang terletak dikiriman bunga saat pertama kali tiba, apa isinya? Kenapa Key bilang pengirimnya tidak jelas dan terkesan menyembunyikan sesuatu? Seandainya itu benar dari Andreas, apakah pantas dia tidak cerita padanya.


"Kau," senyumnya tidak pernah pudar, yang hanya di balas tetapan datar, Raffael."


"Aku pamit pulang dulu," beritahunya seraya berlalu.


"Raffael? Key yang merasa ada yang berbeda, menatapnya heran dan Pria dihadapannya itu menghentikan langkahnya sejenak.


"Hati- hati."


Hemmm...," jawabnya tanpa menoleh.


_______________________


Catatan penulis:


Sahabat tersayang 🌹


Jangan lupa untuk tinggalkan like dan komentarnya, ya,Terimakasih dear 😍

__ADS_1


__ADS_2