
Donny mengendap- mengendap menangkap kejanggalan yang terjadi
di sekitar bangunan tua ditengah rerimbunan pohon tempat Clara disekap. Setelah hampir satu jam sepasang matanya tanpa lelah mengikuti sekelebat bayangan hitam yang mencoba merangsek masuk, berharap Ia menemukan sebuah titik terang.
Clara begitu sulit untuk berbicara, bahkan saat Donny mengancamnya hendak meledakan peluru panas dipelipisnya, dengan lantang wanita itu malah menantangnya. Malam itu juga, hampir semua lampu dimatikannya menyisakan gelap yang mencekam dengan suara gemuruh ombak di sertai angin malam menderu- deru menyapu dedaunan terbang dikegelapan yang menambah aura kelamnya malam semakin mencekam.
Pengamanan disekitar bangunan tua dilonggarkan. Sebuah lampu di lorong masuk dibiarkan menyala dengan cahaya temaram, untuk memudahkan anak buah Donny yang mengawasi dari balik semak belukar, bahkan sebagian mengintai dari balik ketinggian. Hal ini sengaja dia lakukan untuk memancing seseorang datang menemui Clara setelah menangkap sinyal pergerakan seseorang yang tidak henti- hentinya mencoba untuk menghubunginya. Setelah beberapa hari disekap, ponselnya sepi tanpa notifikasi dan hanya terdapat satu nomor kontak rahasia.
Bagus dengan mudah bayangan hitam itu mengetahui tempat ini, Pasti dia mendeteksi sinyal dari ponsel Clara yang sengaja aku nyalakan. Bodoh! Bersiaplah untuk masuk perangkap, ini luar biasa mengingat bangunan tua ini berada terpencil ditengah pulau kecil terasing, tanpa sinyal, dan alat ransportasi apapun.
Donny sengaja meminta bantuan terkait untuk memberi akses jaringan telekomunikasi dan menyalakan ponsel Clara untuk menjebaknya mendekat atas saran Jasson secara diam-diam, setelah Jasson sendiri belum berhasil membuat kurir bunga itu buka suara dan tetap saja menyebutkan nama, Andreas. Keduanya sudah tidak tahan dengan perseteruan yang terjadi, diantara kedua Tuan muda, Bos mereka. Bahkan, aksinya sudah amat sangat membahayakan keselamatan Raffael dan calon istrinya. Keduanya sangat yakin orang misterius itu pasti akan berusaha mencari keberadaan Clara dan sudah saatnya menggunakan cara yang lain walaupun sangat berbahaya.
Beberapa saksi mata melihat sebuah helicopter terbang rendah diikuti oleh dua orang yang meluncur dari ketinggian dengan tali sling baja dan berkelebatan menuju bangunan tua tempat Clara disekap. Donny mengirim sinyal kepada para anak buahnya yang sudah dipasang berjaga di titik- titik vital akses keluar dan masuk dari bangunan termasuk dipinggiran laut yang memisahkan jarak mereka dari atas pulau.
"Bagus! Terus mendekatlah setelah lama aku menunggunya." Begitu mereka menyelinap masuk pintu masuk terkunci puluhan anak buah Donny yang disiagakan mendekat mengendap- endap masuk melalui pintu- pintu rahasia dan sebagian yang lain tetap berjaga di luar, dan tempat- tempat yang dianggapnya sangat vital.
Bayangan hitam dengan lampu senter kecil ditangannya terdengar beberapa kali menendang barang yang dibiarkan berserakan di lantai menimbulkan suara yang berisik.
Prankkkkk.....!!!
Sialan tempat apa ini? Apakah Clara benar-benar disekap di sini?
Terus berjalan mengendap-endap hingga, langkahnya memelan karena telinganya yang begitu tajam mendengar rintihan suara yang sangat dikenalnya dan memacu langkahnya untuk semakin mendekat. Sebuah ruangan bawah tanah yang gelap gulita menjadi tujuannya, setelah hatinya menyakini asal suara yang sangat dikenalnya, terdengar dari arah itu.
"Clara," bisiknya. Keduanya saling berpandangan dan mengangguk.
Siluet bayangan hitam itu menoleh ke belakang, tertangkap cahaya kecil lampu senter ditangannya dan menyorot sekitar Donny, buru-buru Pria itu merapatkan tubuhnya pada tembok yang tidak jauh darinya.
__ADS_1
Sekilas ekor matanya menangkap sosok tinggi besar dengan penutup wajah yang hanya menyisakan kedua matanya saja. Tetapi Donny mempunyai keyakinan orang itu adalah laki-laki bertubuh tinggi besar dengan jubah hitam yang melekat pada tubuhnya.
Dam it! Jangan sampai mereka mendeteksi keberadaanku. Bayangan hitam itu berjalan mendekat kearahnya dan muncul lagi satu orang yang sama, yang keberadaannya jauh lebih dekat. Donny sedikit tersentak dan menggeser pelan tubuhnya dan kakinya setengah berjingkat mundur ke belakang dengan bersandar pada dinding tembok dan kembali merapatkan tubuhnya.
Clerap... pyaaar
Sorot lampu senter mengarah persis kearahnya, tetapi Donny yang sudah bisa menebak apa yang akan terjadi lebih dulu secepat kilat menyelinap masuk pada ruang sempit yang sangat dikenalnya.
Mendadak gelap gulita sunyi senyap tanpa pergerakan apapun tidak pernah kehabisan akal, Anak buah, Andreas
itu menggunakan teropong canggihnya untuk mendeteksi keberadaannya.
Masih ditempat yang sama, kurang ajar.
Sepertinya mereka memastikan semuanya aman atau sedang curiga dengan keberadaanku. Dan benar saja mereka berdua memegang senjata api.
Sementara ditempat terpisah, anak buah Donny yang telah siaga ditempat tidak kalah tegang, begitu menerima kode rahasia dari atasannya dan hanya akan menuggu perintahnya saja.
Lampu senter menyala kembali ditangannya dan menampakkan keduanya berjalan mendekat untuk melakukan perbincangan rahasia dengan berbisik- bisik. Donny bisa saja menembaknya tetapi apa yang akan keluar dari mulutnya lebih berharga dari nyawa penyusup itu sendiri. Bisa saja begitu tertangkap mereka tutup mulut dan tidak takut mati seperti halnya yang Clara lakukan.
Pria itu menunggu mereka melakukan percakapan dengan Clara dan sengaja memasang alat penyadap di sekitar bangunan tua termasuk diruangan tempat Clara disekap dan sengaja memberikan akses kemudahan penyusup itu berjalan untuk menemukannya dengan membuka pintunya.
Monster tanpa suara? Yang mereka lakukan mirip pelaku penyerangan yang
terjadi pada Tuan, muda Raffael.
"Aku tidak yakin, Clara dibiarkan seorang diri tanpa pengawasan. Kita harus waspada dan hati-hati," bisik mereka berdua nyaris tak terdengar yang diikuti oleh anggukkan kepalanya.
__ADS_1
Sesaat kemudian terlihat langkah keduanya mulai merangsek masuk dengan pemandangan begitu mencekam. Ruangan terletak di Basement gedung tanpa penerangan, tanpa Jendela dan terasa begitu pengap.
Clara yang mendengar derap langkah kaki mendekat diluar dugaan bereaksi dengan keras.
"Siapa kau!! Lepaskan aku!" teriakannya terdengar sengau seperti terhalang sesuatu.
Wanita itu membelikan matanya saat sorot lampu senter mengenai wajahnya. Dengan cepat keduanya mendekat dan menarik paksa kain peyumpal pada mulutnya.
"Diam ini aku," bisiknya. Dengan cepat tangan salah satu diantaranya, melepas dengan cekatan ikatan Clara pada kursi besi. Mereka bertiga mengendap-endap ingin keluar namun sesaat kemudian terdengar pintu baja tertutup dengan lesatan dan hentakan sangat kuat.
Brakkkk.....!!!!!!
Ketiganya panik serentak menoleh ke belakang mendapati pintu tertutup dengan rapat. Suasana mendadak mencekam. Bau menyengat memenuhi seluruh ruangan dan membuat ketiganya terbatuk-batuk dan sesak napas. Dua orang berjubah itu mau tidak mau membuka penutup kepalanya sekedar untuk mencari oksigen.
"Hey! Siapa di luar?! Buka pintunya! Kurang ajar mereka menjebak kita." Tidak lama kemudian terdengar bunyi pintu baja di dobrak di sertai bunyi tembakan
berunntun tetapi pintu itu tidak bergeming sedikitpun.
"Sial kita bisa mati lemas di sini! Gunakan ponselmu kita harus memberitahu Bos," perintahnya.
"Bos! Bos! Apakah kau lupa bos ada dalam penjara."
________________________
Catatan penulis:
Sahabat tersayang ๐
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan like dan komentarnya. Terimakasih ๐