Misi Cinta CEO Tampan

Misi Cinta CEO Tampan
97. Sweet marriage part 1


__ADS_3

Mentari pagi masih malas beranjak dari peraduannya, saat dua rombongan datang menuju hotel mewah secara terpisah. Iring-iringan mobil mewah dengan pengawalan super ketat tampak berjalan lancar menuju kesebuah Hotel paling terkemuka di selatan Ibu kota itu. Dua keluarga memutuskan untuk tidak menginap sebelum ikrar suci pernikahan, karena faktor keamanan atas permintaan Raffael secara diam- diam. Sebagai keluarga yang tidak main-main pernikahan ala royal wedding itu mendapat hak siar yang luar biasa. Tidak hanya media milik keluarga Wijaya, tetapi hampir semua media mendapatkan hak siar untuk meliput pernikahan mereka berdua dengan seleksi ketat.


"Nona, silahkan istirahat sebentar, pukul tujuh pagi MUA akan mulai merias," Seorang perias ternama langganan para pesohor dan kaum elit menyambutnya ramah, begitu melihat keluarga mempelai perempuan hendak memasuki ruang istirahat.


"Baiklah, aku ingin berendam sebentar."


"Silahkan, Nona! Itu lebih baik." Key melangkahkan kaki masuk kesebuah kamar hotel presidential suite sebuah kamar paling mewah dan luas bagi tamu hotel yang menginginkan sebuah privasi. Sepasang kaki jenjangnya dengan anggun menuju sebuah bathtub yang sudah dipersiapkan oleh pihak hotel. Tidak lama kemudian aroma mawar khas Perancis dari shower gel yang sangat diminatinya, menguar dari dalam Kamar mandi menimbulkan sensasi damai dalam dirinya. Ditemani lilin -lilin kecil dan taburan kelopak mawar segar serta aroma terapi, membuat tubuh dan pikirannya sedikit lebih rilex begitu menenggelamkan tubuh polosnya.


"Sejujurnya aku nervous sekali, apakah rombongan keluarga, Raffael sudah sampai?"Mereka sengaja tinggal ditempat terpisah walaupun masih satu hotel yang sama.


"Mudah-mudahan semua berjalan lancar. Aku ingin semua cepat berlalu," gumamnya lirih. Betapa peristiwa horor beberapa hari yang lalu masih sangat mengganggu fokus dalam dirinya. Key mencoba untuk kuat dan menghalau ketakutan yang kadang menyerang di saat kesendiriannya dan menutupi demi kedua orang tuanya dan juga keluarga Raffael yang tidak tahu apa-apa. Dipejamkan matanya, menikmati sensasi dari aromaterapi yang membuat pikirannya terasa ringan dan menyegarkan seluruh persendian tubuhnya.


Nervous berlebihan menjelang pernikahannya dan juga trauma akan penyerangan, seakan menyatu menemani dirinya. Setelah dirasa cukup menyempurnakan mandinya, langkahnya tergesa keluar dengan bathrobe yang melekat pada tubuhnya yang ramping. Rambutmya tergerai panjang dan basah, dengan segera tangannya meraih hair dryer untuk mengeringkannya..


Key menatap wajahnya di depan cermin walk in closet sesaat memperhatikan wajahnya. "Apakah, aku sencantik ini? Mereka selalu berlebihan," seraya menggelengkan kepalanya.


Terkadang Ia merasa risi dengan banyaknya pujian yang mengalir dari mereka. Kulitnya yang putih, rambutnya hitam, panjang dan lebat, di tunjang dengan tinggi badan semampai adalah magnet bagi kaum adam saat melihat dirinya. Sepasang netranya begitu indah dengan tatapan yang lembut, seolah sudah cukup menghipnotis siapapun saat kedua manik matanya saling bertaut.


Masih berdiri mematung di depan cermin, saat dengan pelan bathrobe meluncur menampakkan lekuk tubuhnya yang terpahat dengan indah. Begitu ramping, padat dan berisi. Dia tersenyum menatap raganya yang terpampang bak sebuah lukisan yang indah .


"Apakah Raffael akan menyukainya?" Mendadak tubuhnya menegang dengan degub jantung yang tidak beraturan. Key memejamkan matanya, badannya meremang mengingat kencan manis mereka, pada saat Raffael menyatukan bibirnya, mengabsen setiap inci wajahnya, menyusuri leher jenjangnya dengan penuh gairah.


"Ahhh!! Pikiran apa ini? Kenapa aku mesum sekali?!" Dia adalah wanita dewasa yang sebentar lagi akan menuju gerbang pernikahan. Tangannya secepat kilat meraih gaun santai warna cream untuk membalut tubuh polosnya dan bergegas keluar dari walk in closet untuk duduk menyender disebuah sofa kamarnya.


"Bahkan hatiku berdebar kencang hanya dengan mengingatnya saja." Key menutup wajahnya yang merona merah, mencoba menetralkan hati dan perasaannya, yang mulai tidak karuan. Dia benar-benar dilanda nervous berlebihan menjelang hari bahagianya, ditambah serangkaian peristiwa yang beberapa saat terjadi cukup sudah memporak-porandakan hatinya.


"Aku akui, cintamu luar biasa besar untukku, Raffael, bahkan dalam mimpi saja aku tidak menyangka, kau akan melakukan semuanya untukku." Matanya berbinar bahagia sekaligus diliputi rasa haru.


"Aku berjanji akan memasrahkan seluruh


hidupku hanya padamu. Mungkin aku tidak bisa menjanjikan apapun, tetapi aku akan mencoba untuk memberikan yang terbaik," janji Key terlontar dari bibir mungilnya. Sesaat Ia mengingat nasihat yang diberikan oleh kedua orangtuanya seketika membuat senyumnya terbit disudut bibirnya. Ketukan pintu mengangetkannya segera Ia beranjak untuk membukanya dan melihat Mita dengan nampan ditangannya berdiri dihadapannya.


"Nona, saya membawakan sarapan untukmu. Nona makan dulu."


"Mitha mana yang lainnya?"


"Ada diruang istirahat, Nona. Para bridemaids juga sedang beristirahat."


Mitha menemani Key yang sedang sarapan. Beberapa kali perempuan cantik itu terlihat menolak, saat Mitha memaksa untuk menyuapinya.


"Ya, Tuhan, Mitha kau sangat berlebihan hari ini."


"Nona akan menjadi ratu sehari, sudah sepantasnya saya melayani, Nona. Sehabis sarapan, Nona berganti pakaian MUA sudah bersiap." Mitha memberikan


baju berbentuk kimono longgar sebatas lutut, khas mempelai wanita yang hendak dirias.


"Baiklah.Terimakasih, Mitha."


Denting waktu terus berjalan, seorang perias handal menyulap wajah, Key dengan begitu cantik paripurna. Sentuhan make-up flawes yang melukis wajahnya, membuat Key semakin terlihat mempesona walaupun tidak berlebihan.


"Saya tidak ingin memakai softlens," ujarnya tersenyum mengingat permintaan Raffael.


Seorang perias itu ikut tersenyum dan mengangguk. "Nona mempunyai sepasang bola mata yang indah, tanpa softlenspun tidak akan mengurangi kecantikan alami yang Nona miliki," pujinya dengan tersenyum.


"Kalian bisa saja. Terimakasih."


Perias itu bahkan tidak menemui kendala sedikitpun, saat menyulap wajah dan tubuh Key. Make-up flawes begitu natural, tetapi tetap saja menghadirkan kemegahan saat sudah memoles wajah cantiknya. Apalagi saat gaun pengantin berwarna putih dengan motif simple itu melekat pada tubuh indahnya. Aura cantiknya begitu keluar. Pujianpun tidak berhenti dari bibir nyonya Ivanka yang mematut tubuhnya didepan cermin.



"Elegan, simple tetapi tetap terlihat glamor," pujinya tulus. Di saat berikrar mengikat janji, Key ingin sesederhana mungkin dan hanya mengharap kepada pencipta ini adalah pernikahan pertama sekaligus terakhirnya yang akan dipenuhi kebahagiaan.

__ADS_1


"Nyonya, apakah Raffael sudah tiba?"


"Tuan muda sedang bersiap," jawabannya dengan senyum.


"Hemmm... apakah Nona sudah sangat rindu padanya?" Godanya untuk mencairkan suasana dan sukses membuat rona merah diwajahnya. Sebagai calon pengantin Key terlihat tegang seperti layaknya orang kebanyakan.


"Jam sepuluh pagi acara akan dimulai,


Apakah nona sudah nyaman dengan semuaya?" Nyonya Ivanka ingin memastikan. Beliau memberikan sebuah buket bunga warna putih senada dengan gaun pengantinnya yang membuat Key sedikit termenung.


"Nyonya, bolehkah saya meminta beberapa tangkai bunga dengan warna peach. Apakah masih tersedia?" Key masih sedikit trauma dengan tragedi buket bunga Rosa Alba dari Andreas yang memicu kemarahan, Raffael, dan juga penyerangan yang sampai saat ini belum terungkap.


"Ohh, ada. Mari saya tambahkan." Setelah selesai beliau memberikannya kembali kepadanya.


"Terimakasih."


Key kembali terdiam dalam hatinya memanjatkan doa. Dalam beberapa menit lagi dirinya akan menyandang status yang berbeda dengan tanggung jawab yang berbeda pula. Sebuah penantian panjang cintanya dengan liku-liku yang menyertainya, sebentar lagi akan berakhir dengan manis.


"Ya, Tuhan, kenapa hati hamba sangat berdebar-debar?"


🍁🍁🍁


Andreas sedang fokus menatap layar


pada sebuah channel stasiun televisi ternama. Matanya sesekali mengejab dan terdengar hembusan napasnya yang memberat.


"Hari ini hampir semua media menyiarkan secara live pernikahan mereka, selamat berbahagia, Raffael," gumannya pelan. Andreas menyepi dari hingar bingar perhelatan akbar tersebut dan memilih tidak menghadirinya, karena tidak ingin mengacaukan segalanya.


Walaupun pelaku peneror sudah terungkap, Andreas menanti saat yang tepat untuk bicara dengan, Raffael.


"Seperti senja yang pasti terbenam, hari ini akupun akan membenamkan harapan yang pernah ada padamu, Key." Wajahnya begitu muram. Apalagi saat terbayang bagaimana bahagianya, saat dengan sepenuh hati, Andreas ingin melamarnya.


"Seandainya saja kau tahu, hari ini adalah keruntuhan hatiku yang sesungguhnya. Bahkan rasa sakitku semakin berlipat rasanya, saat Raffael mencurigaiku. Aku akui, aku bersalah dengan buket bunga itu, karena aku tidak sanggup untuk mengendalikan perasaanku.Tetapi sejujurnya itu adalah benar-benar ucapan selamat tinggal dariku..." bisiknya lirih.


Kurang apa Andreas dalam memahami hatinya. Dia tidak ingin egois, perasaannya terlalu tulus untuk, Key. Perempuan satu-satunya yang menggerakkan hatinya untuk melamarnya, menjadi pendamping hidupnya dan tidak berniat hanya untuk mengencaninya saja.


Andreas merasakan nyeri yang menusuk di kedalaman hatinya. Ada sesuatu yang hilang, terasa terlepas dalam dirinya, badanya seketika meluruh dengan menyandarkan kepalanya di sofa. Saat menatap detik-detik menjelang Ikrar suci pernikahan mereka berdua terlihat di depan mata. Terasa hampa dalam dirinya, tubuhnya terasa ringan dan bias. Pria tampan itu hanya sanggup memejamkan matanya dan meyakinkan hatinya berkali- kali, ini bukanlah mimpi yang sedang menghias tidurnya.


"Selamat tinggal, Key."


🍁🍁🍁🍁


Patroli besar-besaran dilakukan dari berbagai sisi. Beberapa helicopter terlihat terbang di udara dan riak-riak kecil yang mencoba menghalanginya berhasil disingkirkan dibawah kendali Trio J. Jordan, Jordy dan Jasson dan belakangan Donny atas perintah, Andreas. Sedikit saja dia berharap tidak ada sesuatu yang mencederai hari bahagia, orang yang paling dicintainya. Ia hanya ingin melihat Key tersenyum bahagia.


"Kita tunjukkan kepada mereka bahwa pernikahan ini mendapatkan hak siar yang luar biasa. Mereka berpikir setelah tragedi penyerangan itu, Tuan muda akan berubah pikiran, dengan melakukan pernikahan tertutup," tegas Jordan kepada kedua saudara kembarnya.


"Jasson, pastikan semua alat komunikasi berfungsi dengan sempurna."


"Semua sesuai rencana," dengan mengacungkan dua jempolnya. Beberapa anak buahnya memeriksa monitor -monitor yang terpasang untuk mendeteksi keadaan sekitar hotel tempat berjalannya sebuah perhelatan akbar tersebut.


"Pastikan jangan sampai ada Cctv yang mati," perintahnya lagi.


Detik-detik yang paling ditunggu itupun akhirnya dimulai. Nuansa white floral decoration begitu megah menghias mimbar suci pernikahan yang sengaja di desain ala out door dengan pemandangan terbuka. Didominasi dengan nuansa bunga-bunga berwarna putih memberikan kesan yang suci dan damai. Suasana begitu khikmat. Para pejabat penting, orang-orang paling berpengaruh menjadi tamu kehormatan saat itu. Kilatan-kilatan cahaya kamera berlomba- lomba mengabadikan setiap momen sakral itu seakan tidak ingin ketinggalan.





"Nona, tersenyumlah," Nyonya Ivanka menggoda, Key yang terlihat tegang menuju mimbar suci pernikahan yang didampingi oleh kedua orangtuanya.Tuan dan nyonya Tirtawijaya tidak bisa menutupi rasa bahagianya. Diseberang sana pangeran cintanya sudah menunggu di dermaga cintanya.

__ADS_1


Satu jam, satu menit, satu detik denting waktu berjalan. Sebuah penantian cinta yang sempurna dengan restu Tuhan Yang Maha Pengasih. Penyatuan cinta diantara dua insan manusia dengan janji setianya dan penerimaan yang tulus dan ikhlas dalam suka maupun duka menghiasi janji suci pernikahan mereka. Raffael begitu lancar berikrar menghalalkan bidadari cintanya. Semestapun seakan menunduk memberikan restunya, saat penyatuan cinta berhias kerinduan, mengumumkan kesetiaannya, ketulusan, pengabdian dengan mengatasnamakan sebuah ikatan suci pernikahan dihadapan Tuhan Yang Maha Esa.


Senyumnya terukir dengan sempurna. Keduanya saling menatap dengan penuh cinta. Rasa haru dan bahagia bercampur menjadi satu. Hari itu sebuah takdir cinta bahagia terjadi, Key resmi menyandang gelar sebagai istri seorang Raffael valerio emeraldi Wijaya.


Satu kata yang ingin aku ucapkan, terimakasih sudah memaksaku untuk jatuh cinta hanya padamu saja. Binar terang terpancar dari netra indahnya, walaupun ada kristal bening rasa haru mengembang dipelupuk matanya.



Kedua Tuan dan Nyonya besar itu saling berpelukan penuh haru. "Tirta, akhirnya kita menjadi besan. Semoga putra dan putri kita bahagia," ucapnya yang masih diliputi oleh rasa haru. Begitupun kedua nyonya besar itu terlihat meneteskan air matanya dan saling berangkulan karena bahagia moment bahagia yang hanya akan terjadi sekali dalam keluarga Wijaya.


Sayang, Key, anak papa, tidak ada yang lebih membahagiakan papa saat ini, melebihi yang maha kuasa masih mengijinkan papa untuk melihatmu menikah, sayang.


Tanpa terasa Tuan Tirta Wijaya meneteskan air matanya yang kemudian diusap lembut oleh Nyonya Tirta wijaya. Beliau merasa lega melepas putri semata wayangnya untuk Raffael orang yang mencintainya dengan segenap hatinya.


Ucapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa menggema dalam doa, suasana begitu khikmat, sampai kemudian terdengar tepukan tangan riuh. Tamu kehormatan, para sahabat yang hadir tidak kalah bahagia. Apalagi saat bola kristal berwarna keemasan dengan cahaya yang kemilau berputar - berputar memecahkan diri menampakkan siluet kata-kata yang romantis membuat suasana begitu romantis.


Congratulation, Raffael dan Key


CARA, Mi AMORE. Tuhan mengirimkanmu padaku karena, Tuhan tahu aku paling mencintaimu.


Key menggapit mesra lengan, Raffael, dengan tidak bisa menutupi rasa bahagianya. Wajahnya tersipu menyadari tatapan kelamnya yang dengan intens menyasar wajah cantiknya .


"CARA, hari ini aku tidak akan bertanya lagi, apakah kau sedang bahagia? Karena dari kedua netra indahmu sudah melukiskan segalanya," ucapnya berbisik dengan senyum yang di kulum yang sukses membuat Key menunduk malu.


"Apakah kau merasa lega?" tanyanya kembali sambil mengeratkan genggaman tangannya dan turun dari mimbar suci pernikahan.


Key mengangguk dengan binar bahagia.


"Gaunmu Indah sekali sayang, walaupun sederhana tetapi elegan dan aku menyukainya," pujinya tulus.


"Pada saat ikrar suci, aku ingin sesuatu yang sederhana saja," ujarnya sambil menatap gaun yang sedang dipakainya.


"Karena kita cuma berharap akan satu hal, yang paling istimewa dari sang pencipta. Sungguh, aku pikir kau akan kecewa dengan desainku ini," ujarnya lagi.


Raffael menggeleng. "Aku suka, I love you my wife," bisiknya kembali mesra.


"I love you too,my husband 😊 Keduanya kembali saling menatap dengan penuh cinta.


"Congratulation...!!!" Para calon Bridesmaids berseru.


Ucapan selamat mengalir dari para sahabat, Key dan Raffael begitu ramah bercengkrama dengan mereka para sahabat dan menyapa para tamu dengan sengaja turun berjalan beriringan dengan mesra.


"Selamat, Bos, semoga bahagia," Trio J serentak memberikan ucapan. Mereka yang menjadi saksi bagaimana Tuan mudanya mencintai dan menjaga Nona


kesayangannya ikut merasa terharu cinta mereka bermuara pada pernikahan.


"Terimakasih, semua berjalan lancar berkat kalian juga. Apakah ada sesuatu yang tidak semestinya?" Raffael menatap tajam kearah mereka.


"Semua berjalan sesuai rencana,Bos!"


"Bagus!!"


"Selamat berbahagia sekali lagi, Bos dan juga Nyonya, Raffael," ucapnya lagi secara bersamaan yang diiringi oleh senyum mereka.


"Hemm ... terimakasih persiapkan dengan sebaik mungkin untuk acara resepsi nanti malam."


______________________


Catatan penulis:


Sahabat tersayang 😘 jangan lupa untuk tinggalkan like dan komentarnya ya?! Terimakasih πŸ™

__ADS_1


__ADS_2