Misi Cinta CEO Tampan

Misi Cinta CEO Tampan
13. Jatuh cinta dan patah hati


__ADS_3

Menyambut mentari pagi dengan senyum cerah. Hatinya mulai membuat sebuah


alasan untuk tidak bersedih. Karena melihat Raffael bahagia adalah kebahagiaan dia yang sesungguhnya. Meski kedengarannya klise, Ia ingin bicara pada hatinya seperti itu.


Jika dunia ini hanya menawarkan jatuh cinta, mungkin semua orang akan bahagia. Dan bila saat ini seseorang harus patah hati, mungkin akan ada seseorang yang mencintamu di lain waktu.


Bila ditanya seberapa besar, aku harus bahagia, bahagia itu sangat sederhana.


Cukup ada kamu di sisiku dan menjadi milikku serta mengukir kenangan indah bersamamu, tetapi jika bersamamu itu


tidak mungkin, aku ingin bahagia dengan caraku.


Langkahnya terayun kecil menyusuri area perkantoran Wiratama Group. Hari masih pagi dan terasa sepi. Dengan segera ia memasuki kubikelnya dan menuju ke pantry untuk membuat secangkir green tea kesukaan Andreas, dan berniat menata ruangan CEO serapi mungkin.


Tangannya meraih remote, menyalakan AC untuk mengatur suhu, lalu menyalakan mesin pengharum ruangan dengan memberikan sedikit sentuhan aromaterapi kesukaan pria itu.


Tidak lupa jemari lentiknya meletakan vas bunga dan satu cangkir marmer green tea Ia letakkan di meja kerjanya.


Senyumannya terukir manis, menatap hasil kerjanya dan dengan cepat berbalik menuju ke ruangannya kembali.


Bugghh...!!


Tubuhnya terhentak menabrak dada bidang milik Andreas, yang sejak tadi diam-diam memperhatikannya tanpa sepengetahuannya.


"Aaaaaa!!" teriaknya keras. Tubuh rampingnya terhuyung nyaris limbung, namun dengan cepat lengan kokoh


Pria tampan itu merengkuhnya ke dalam pelukannya.


Andreas memejamkan matanya, menikmati desiran aneh yang menjalar dalam tubuhnya. Entah sudah berapa lama ia merindukan momen seperti ini. Ia ingin memeluk wanitanya itu, menjaganya dan membuatnya bahagia.


Usapan lembut pada punggungnya menyandarkan Key untuk melepaskan


diri dengan wajah yang merona. Andreas menatap dengan dalam, dengan manik mata hazelnya yang begitu kelam. Ada rasa enggan dalam dirinya untuk melepaskan wanita pujaannya itu, tetapi


cepat-cepat Ia tersadar dan mengurai pelukannya.


"Kau baik-baik saja?" Andreas merapikan lengan bajunya yang sedikit kusut dan tersenyum menatap wajah Key yang terlihat kikuk.


"Emm ... ma___maaf. Aku tidak sengaja.


Aku tidak tahu, kalau kamu sudah datang," jawabnya dengan gugup serta memalingkan wajahnya dengan perasaan


malu.


"Aku yang minta maaf, karena membuatmu kaget ...." ujar Andreas pelan.


"Saya permisi dahulu. Kakinya beranjak cepat masih dengan perasaan tidak enak hati."


"Key?" panggil Andreas lirih.


Wanita cantik itu menghentikan langkahnya sejenak lalu menoleh.


"Terimakasih untuk semuanya," ucapnya dengan senyum yang di kulum.


"Iya, sama-sama," balasnya dengan sedikit malu.

__ADS_1


Andreas menggelengkan kepalanya pelan dan kembali tersenyum, menatap punggung indah Key yang sedang berlalu. Dan melangkahkan kakinya untuk duduk menyadar di kursi kebesarannya.


"Dari dahulu Kau memang tidak pernah berubah, Key. Wajahnya mendadak cerah.


Samar-samar Andreas menghirup Aroma vanilla Lace yang masih menempel pada tubuhnya."


"Lama-lama aku bisa gila memikirkan ini."


Andreas mencoba menepis bayangan Sekretarisnya itu, saat menempel begitu lembut dalam pelukannya dan membuang napasnya dengan berat.


"Oh, My God! Mantra cinta apa yang sedang kau berikan padaku, Jey," ujarnya dengan tertawa seorang diri.


*****


Di kediaman pribadi Raffael.


Waktu terus berjalan, dua hari berselang setelah kepulangan Raffael dari Barcelona untuk urusan bisnis, Jordan tidak berniat kembali ke rumahnya. Seperti biasa Ia akan tetap menginap di Guest house sepulang kerja.


Setelah sempat tertunda sebuah pertemuan rahasia, malam ini, seperti


yang telah ditetapkan, seluruh orang kepercayaan Raffael akan berkumpul mengadakan meeting rahasia.


Selepas Raffael berlalu Jordan tampak


berpikir keras. Raffael banyak berdiam diri di ruang kerjanya. Mukanya selalu tegang memikul beban yang cuma dia sendiri yang menanggungnya.


"Dave, untuk apa dia mengirim penyusup


itu ke kantor Antara. Apa belum cukup


keluarganya menguasai aset ANGKASA GROUP," gumannya pelan. Masih segar dalam ingatan sengketa harta warisan


"Dan foto itu ... dari mana Raffael dapatkan? Foto keluarga Tuan Tirtawijaya tersilang dengan tanda merah darah. Kenapa Raffael belum bersedia bicara?"


Jordan tidak bisa mengistirahatkan pikirannya. Banyak rahasia dalam diri


pria itu, tetapi yang paling mengusik


hatinya adalah kedatangannya calon


istri Raffael yang sama sekali di luar


dugaannya dan sikap Raffael yang sangat tidak suka melihat kedekatan


Key dengan Andreas.


"Kau sangat cemburu, Bos! tetapi kau malah mengatakan akan menikah di hadapan Nona, Key." Jordan bergerak gelisah dengan banyaknya pertanyaan


yang tidak terjawab dalam benaknya.


"Menurut informan yang telah aku kirim, NAM adalah milik Danu purba. Haruskah


aku mengatakan pada Raffael sekarang juga? Bukankah Raffael sangat menunggunya."


"Dan__Danu purba, siapa dia?" desisnya. "Setelah pertemuan malam ini, aku berjanji, akan membantu Raffael memacahkan teka-teki ini," janjinya dari dalam hati.

__ADS_1


Sore menjelang Jordan menghirup udara sore di sebuah taman belakang guest house. Tampak mewah dengan segala fasilitas lengkap di dalamnya. Bahkan lebih tepat disebut Hotel bintang lima yang sedang berjalan, karena betapa lengkapnya fasilitas di dalamnya.


Panggilan telepon membuyarkan segala hal yang telah menggangu pikiran Jordan.


"Ke ruanganku sekarang," terdengar perintah Raffael dari ujung telepon.


"Baiklah." Pria itu bergegas. Langkahnya lebar-lebar seakan tidak sabar untuk cepat sampai. Terlihat Raffael sedang duduk di ruang kerjanya yang tertata dengan rapi.


Sebuah meja besar dan panjang lengkap


dengan semua fasilitas kantor. File-file dalam odner dan box file bindex warna biru tersusun dengan rapi. Sebuah layar proyektor terpasang dan video conference untuk meeting online yang dibiarkan tetap menyala.


"Duduklah," perintahnya.


"Bagaimana, apa ada perkembangan baru?" tanyanya tak sabar. Wajahnya mendadak tegang dengan menanti sebuah jawaban.


"Aku sudah mendapatkan informasi seputar pemilik NAM GROUP."


"Katakan!" potong Raffael cepat. Pria itu berdiri dari kursinya seakan -akan ini adalah bom waktu yang akan meledak


sesaat lagi.


"Pemiliknya adalah Danu purba, Raffael."


Raffael mendekatkan wajahnya, deru napasnya yang terdengar kasar menghangat menyapu wajah Jordan.


"Danu purba?" Raffael memundurkan badannya dengan kening yang berkerut.


Otaknya berpikir dengan keras terlihat


dari wajahnya yang semakin tegang.


"Aku sudah melacak informasi seputar danu purba, tapi semua seakan gelap. Tapi jangan khawatir, anak buahku sedang berjuang untuk bertemu dengannya dengan berbagai cara yang jitu atau minimal mendapatkan foto orang tersebut, Raffael."


"Kau yakin itu Jordan?" tanya Raffael tidak sabar.


Jordan tertawa sinis. "Aku mengirim informan rahasia, yang sama sekali orang


tidak mengenal wajahnya dan tidak mempunyai jejak apapun di media sosial dan sejenisnya," jelasnya.


Raffael tersenyum. "Bagus!" tidak sia-sia aku memberikan bonus yang sangat besar untukmu," jawab Raffael puas.


Danu purba, aku tidak pernah mendengar


nama itu. Bahkan dalam daftar karyawan ANGKASA, ANTARA maupun TIRTA WIJAYA GROUP sekalipun.


"Usahakan kau mendapatkan foto Danu Purba."


_______________


Catatan penulis:


Sahabat tersayang, terimakasih yang sudah setia membaca novel gejeku ini,


jangan lupa tinggalkan jejak, ya! untuk like dan komentarnya. Dan thanks yang sudah vote.

__ADS_1


Cerita ini hanya fiktif belaka dan apa bila ada narasi, penyampaian yang kurang pas mohon maaf yang sebesar-besarnya.


Jaga kesehatan, dan take care .


__ADS_2