
Sebuah perjalanan malam itu akhirnya
mengantarkan mereka ke kediaman Tirtawijaya. Raffael dibuatnya sedikit bingung, Key belum ada tanda-tanda bangun dari tidurnya.
Bagaimana bisa kau tidur sepulas ini? Apakah setiap malam kau begadang sepulang kerja?
Ada perasaan tidak tega untuk mengusik
mimpi indahnya dan membangunkannya. Beberapa detik, Raffael hanya terpana menatap wajah teduh itu.
"Gendong saja, Bos! Saya akan membantu membukakan pintu mobilnya," saran Jordan menyadari Raffael yang terdiam.
"Pesankan dia makanan," perintahnya.
Jordan meraih ponselnya, dan terlihat
menulis sesuatu yang sudah sangat dihafalnya, pada sebuah aplikasi untuk melakukan food delivery order."
"Belikan dia makanan kesukaannya."
"Sudah,Bos. Sesuai perintah."
Raffael bergerak dengan hati- hati, mengangkat tubuh Key ala bridal. Hal
ini sempat membuat mang Karyo, tukang kebun kebingungan, begitu membuka pintu gerbang utama ada suara mobil hendak memasuki garasinya.
"Tuan muda, selamat datang. Apakah Nona baik-baik saja?" sapanya dengan
membungkuk.
"Nona sedang tertidur, bantu buka pintunya, saya akan mengantarkannya ke dalam," perintahnya.
"Apakah om Tirtawijaya ada di rumah?
"Ada Tuan muda, mari saya bantu."
Tuan besar juga tak kalah kaget
melihat kedatangan Raffael, tetapi setelah mendengar penjelasan Jordan
beliau tidak bisa menahan tawanya. Apa lagi saat melihat Raffael mulai menaiki anak tangga untuk membawa Key menuju kamarnya.
"Astaga! Anak itu, bisa-bisanya. Raffael ... Rafael, apakah kamu tidak bisa membangunkan Key, nak," ucapnya seraya menggelengkan kepalanya.
"Anak muda jaman sekarang, Ma! lebay," kata pria rentang 65 tahun itu yang di iringi oleh anggukkan kepala sang istri.
"Raffael, diam-diam sangat menjaga, Key, Tirta." Sepasang netra nyonya besar itu menatap penuh haru.
"Dia sudah meminta restu padaku untuk menjaga Key dan berniat melamarnya, saat pertama kali minta izin untuk membuka kasus Tirtawijaya." Akhirnya sang Tuan besar buka suara.
"Apakah Key mengetahuinya, Tirta? wanita yang biasa di panggil Laras itu sedikit bingung tetapi beilau tidak bisa menutupi kebahagiaannya.
"Biarkan menjadi kejutan untuk,Key.
Kita sebagai orang tua mengikuti apa mau Raffael saja. Sungguh saya tidak bisa menolak keinginan anak Bimantara yang luar biasa itu."
Larasati tersenyum.
Sementara itu, Raffael membaringkan tubuh indah Key yang terlelap. Dengan gerak pelan tangannya melepas heels dan meletakkannya pada rak sepatu di sudut kamarnya.
Ruangan yang tidak begitu lebar, tetapi
begitu tertata dengan cantik. Setangkai
Rosa Alba ( Bulgarian white rose) begitu
cantik menghias meja riasnya.
Raffael langsung mengernyitkan dahinya. "Sejak kapan kau menyukai white rose? Dan meletakkan kembali pada tempatnya. Senyumnya mengembang sempurna, saat menyadari Key memasang fotonya di ujung meja riasnya.
"Bisa-bisanya kau tidur sepulas ini? Napasnya Key sangat teratur dengan pakaian kerja yang masih melekat pada tubuhnya yang sangat sintal. Betisnya indahnya terekpos dengan jelas membuat Raffael menelan Salivanya dengan kasar.
Shittt ... ini baru betis, Raffael, kendalikan dirimu.
Cepat-cepat mengenyahkan pikirkannya
yang provokatif mengusik sisi lelaki- lakiannya itu. Diusapnya keningnya
dengan sayang. Kedua bola matanya yang Indah, kulit putih selembut sutra,
dengan postur tubuhnya yang semampai
menjadikan Key begitu sempurna dimatanya. Belum rambutnya yang panjang dan lebat seakan dia adalah Dewi cinta yang diturunkan oleh semesta.
Maafkan aku selama ini. Mungkinkah kita saling mencintai? Tetapi kalaupun tidak, akan aku pastikan, kau cuma akan mencintaiku, apapun alasannya, tidak dengan Andreas. Bahkan kalaupun kau
__ADS_1
pada akhirnya mencintainya, aku tidak akan menganggap itu pernah ada.
Raffael tersenyum smirk. "Lama-lama aku bisa gila, berada disini terus menerus." Dan bergegas keluar kamar.
Setelah berbincang sebentar dan berpamitan dengan Tuan dan Nyonya
Rumah, akhirnya CEO tampan ini memutuskan untuk berpamitan.
"Apakah ada kabar terbaru, Jordan?" tanya Raffael saat sudah duduk di dalam mobil.
"Sedang berusaha untuk mencari data Danu purba, Bos," jawab Jordan sambil
menyetir.
"Aku curiga dia menggunakan identitas ganda."
"Sedang dalam penyelidikan,
bersabarlah."
"Hemm ... "
*****
Malam semakin larut, Key sedikit terusik,
merasakan empuknya kasur yang sedang
ia tiduri. Tubuhnya tersentak kaget hingga bangun terduduk dengan napasnya yang sedikit tersengal.
"Dimanakah aku, sekarang? Ingatannya masih tertinggal di butiknya selepas
pulang kerja bersama Raffael. Netra indahnya menatap pada baju yang melekat pada tubuhnya. Setelah dirasa aman, baru ia bernapas dengan lega menyadari telah berada di dalam kamarnya.
"Oh, My, God! Aku ketiduran di butik," ucapnya, saat kesadarannya kembali pulih dengan menepuk jidatnya.
"Buru-buru sepasang kakinya melangkah keluar kamar dan turun ke bawah, berharap masih bertemu dengan Raffael.
"Pasti dia akan menertawakanku."
Nyonya dan Tuan Tirtawijaya terkekeh
menyadari putrinya yang terlihat bingung.
"Sayang, sebaiknya kau mandi dan makan serta istirahat kembali. Kasihan
Apa! Raffael menggendongku, batinnya dengan malu.
Key tersipu-sipu. Mama, Papa apa Raffael _"
"Tidak usah kaget seperti itu, mana ada orang yang sedang tidur bisa berjalan sendiri." Tuan Tirtawijaya menyahut.
"Sudahlah, sayang, mandi dan makanlah, Papa dan Mama sudah makan. Kasian Raffael repot-repot membelikanmu makan."
Key tidak bisa berkata apa-apa,di gendong, dibelikan makanan tak urung
membuatnya sangat malu.
Apakah dia juga melihat aku memasang fotonya. Ihh ... menyebalkan, bisa-bisanya aku ketiduran dan tidak bangun saat Raffael menggendongku.
Langkahnya terayun kembali menuju kamarnya dan menenggelamkan diri dalam bathtub air hangat. Tidak lama kemudian aroma mawar khas Prancis dari shower gel yang ia pakai menguar dari dalam kamarnya.
Buru-buru dia menyempurnakan mandinya, saat menyadari malam sudah larut dan memilih menikmati makan malamnya di kamar sendirian.
Bayangan Raffael sedang menggendongnya membuatnya tubuhnya panas dingin, bahkan sekedar untuk mengirimkan pesan saja, membuatnya sangat begitu malu.
"Bodoh! Bodoh! Kenapa aku ceroboh sekali," sesalnya dengan memukul- memukul pelipisnya."
Apakah kau sudah makan malam? Dia memberiku makan, apa salahnya aku bertanya lebih dahulu.Tetapi bagaimana
kalau dia sedang diinner bersama Nova?
"Bagaimanapun tak pantas rasanya, kalau ada yang melihat. Bagaimana Raffael memperlakukanku tadi.
Pasti Nova akan salah paham dan ini
salahku. Di mana pun seorang wanita
ingin dimengerti, dan lelaki yang dicintainya selamanya hanya akan memikirkannya bukan mengurusi perempuan yang lainnya."
Mengingat Raffael kembali, membuatnya
sangat sedih, tidak enak hati dan serba
salah menyeruak dalam dada.
__ADS_1
"Aku tidak pernah kehilangan perhatiannya, tetapi semakin hari aku
merasa kesakitan karenanya. Apa arti
seorang teman bagimu, Raffael.lalu
bagaimana kamu memperlakukan kekasihmu?"
Suatu saat kau benar-benar terikat, aku akan menyadari, bahwa di dunia ini
tidak akan ada orang setulus hatimu,
memperlakukan aku sebagai sahabatmu.
Tangan Key terulur untuk meraih
ponselnya, dilihatnya Raffael sedang aktif di ujung sana. Tidak ada tanda-tanda dia menelpon atau berkirim pesan.
"Tidak ada masalah, aku berkirim pesan
lebih dahulu. Hitung-hitunng sebagai ucapan terimakasihku."
π© Key
Terimakasih untuk hari ini, maaf
sudah merepotkanmu.
Tidak lama berselang, terdengar sebuah panggilan masuk.
Raffael tersenyum di sudut bibirnya.
lalu menelponnya.
π Raffael
"Aku tidak menyangka, kalau kamu
mempunyai beban tubuh yang tidak main-main," selorohnya sambil terkekeh.
πKey
"Kenapa kamu tidak membangunkanku," sungut Key di ujung teleponnya.
π Raffael
"Siapa bilang? Aku bahkan menyalakan klakson berkali-kali, hanya sekedar untuk
membuatmu terbangun," protes Raffael kesal.
π Key
"Ah, kamu pasti berbohong!" Key memprotes tidak terima.
π Raffael.
"Sudahlah, lebih baik kamu beristirahat, karena aku tidak mungkin menggendongmu setiap hari.
π Key
"Terimakasih, Raffael. Apakah kau sudah makan ..." tanyanya malu-malu.
Raffael Kembali tersenyum di ujung teleponnya, sudah tidak ada niat dalam
hatinya untuk pura-pura tidak peduli lagi, terlebih Raffael merasakan Key menjaga jarak dan lebih banyak diam sejak Ia mengumumkan pernikahannya dengan Nova.
Wanita itu sangat antik, entah apa yang dirasakan Key padanya, dia tidak peduli.
Terlebih menyadari wanita itu diam-diam mengeluarkan air matanya seorang diri, membuatnya sangat sakit.
Sejujurnya Raffael pun merasakan, tidak ada seorang wanita yang sanggup mendengar kemarahannya sesabar,Key.
Dan itu yang membuatnya yakin, wanita
yang dikenal puluhan tahun lamanya itu,
tidak pernah beranjak sedikit pun dari sudut hatinya.
"Boss! Suara Jasson yang sedikit ter buru-buru.
"Ada apa?" Mendadak Raffael mematikan panggilannya.
________________
Sahabat tersayang:
__ADS_1
Jangan lupa untuk like dan komennya,ya!
Terimakasih banyak πππ