Misi Cinta CEO Tampan

Misi Cinta CEO Tampan
94. Siaga


__ADS_3

Pagi menjelang mentari menampakkan dirinya. Senyum itu begitu merekah menatap sang surya yang berwarna keemasan. Satu hari lagi bila semesta mengijinkan segalanya akan berubah. Hari itu dimana segalanya akan diawali. Hidup sesungguhnya akan dimulai. Key tidak bisa menutupi rasa gugupnya. Sejenak peristiwa yang mengerikan itu ditepisnya jauh- jauh dan ingin fokus dengan hari bahagianya.


"Tuan muda dan nyonya Raffael," gumamnya sambil tersenyum seorang diri.


Raffel, Pria tampan dengan segala pesonanya yang seumur hidupnya mengenalkan pada sebuah rasa yang dinamakan cinta. Bersamanya tidak hanya merasakan indahnya jatuh cinta, tetapi sekaligus patah hati saat cinta tidak tahu akan bermuara entah kemana.


"Dahulu menikah denganmu hanyalah sebatas anganku," Key tersenyum menatap setangkai bunga dan dengan pelan memainkan dengan jemari tangannya.


"Saat cinta datang dengan begitu kuat dari dalam hatiku, saat itu juga aku harus menguburnya dalam diamku. Disaat cinta lain begitu gigih untuk memenangkan hatiku. Aku bergeming karena hati hanya ingin mencintaimu." Wanita itu mengulum senyumnya.


Siapa pernah menyangka, saat kau memperkenalkan Nova, itulah titik awal misi cintamu. Aku seharusnya bahagia, tetapi apakah kau tahu, disaat itulah aku merasakan kehilanganmu yang sesungguhnya. Aku patah hati. Kaulah yang terdekat yang tidak bisa aku gapai.


Pagi itu seakan sedang menawarkan sebuah nostalgia, mengenang awal mula perjalanan cintanya bersama, Raffael. Dengan segala intrik yang menyertainya. Orang yang akan menjadi penjaga Sukmanya dan menemani hari- harinya dan berharap menerimanya di saat suka maupun duka.


"Nona, hari mulai terik. Nyonya dan Tuan sedang menunggu," beritahu, Jasson.


"Baiklah, tidak usah mengawasiku,


aku tidak akan kemana- mana," lalu dengan pelan Key masuk kembali Mansion.


"Mama," panggilnya seraya memeluk orang yang senantiasa memberikan segenap hatinya untuknya.


"Mama berkemas?" Netranya melihat sekeliling tampak tumpukan kardus berjejer dengan rapi.


"Sayang sebentar lagi adalah hari pernikahanmu. Setelah kau resmi menikah, Mama dan Papa juga harus pulang. Ada rasa sedih yang bergelayut dalam hatinya. Raffael sangat berharap kedua orang tuanya pindah satu cluster dengan kediaman utama keluarga Wijaya.


"Apakah harus secepat itu, Ma?"


"Sayang, kau akan pulang kerumah Raffael. Dan Mama dan Papa juga akan pulang kerumah kita," ujar beliau bijak.


"Mama menolak rumah yang diberikan oleh, Raffael?" tanyanya dengan mimik sedikit kecewa.


"Sayang, rumah itu adalah rumah kenangan Papa dan Mama. Disitulah semuanya dimulai, menawarkan berbagai kenangan dan berakhir dengan sangat indah. Mama tidak bisa melupakan apapun yang terjadi di rumah itu, sayang."


Nyoya Tirtawijaya mengusap lembut wajah putrinya. Tetapi hatinya benar-benar bahagia melepas putri semata wayangnya untuk, Raffael.


Key mengangguk. Itulah arti dari sebuah kenangan. Sebenarnya hatinya berharap kedua orangtuanya tinggal dirumah yang baru, tetapi keputusan orang tuanya adalah yang harus dihormatinya.


"Tanggung jawab Raffael adalah hanya dirimu, sayang. Selama kau bahagia Mama dan Papa juga bahagia. Mama dan papa akan melepasmu sepenuhnya untuk Raffael. Hormati dia, cintai dia dengan segenap hatimu. Jangan pernah tidak patuh padanya, dia adalah suamimu," nasehatnya yang seketika meruntuhkan pertahanan Key untuk tidak meneteskan air matanya.


"Ingatlah, Raffael mencintaimu lebih dari dirinya sendiri. Jangan kecewakan dia," Suasana mendadak penuh haru, lalu ketiganya berpelukan dengan tangis bahagia.


"Papa selalu jaga kesehatan....," ucapnya lirih dengan derai air mata bercucuran.


"Tentu, sayang. Papa pasti sehat dan panjang umur, karena papa dan mama masih ingin menimang cucu dari putri tercinta papa he..he. Sore nanti semua teman-temanmu kemari. Besok pagi sekali kita menuju ke hotel untuk persiapan pernikahanmu, "Istiratlah."


"Baiklah. Papa dan Mama sebaiknya juga beristirahat." Tuan Tirtawijaya kembali mengusap kepala putrinya. Beliau tidak berhenti untuk bersyukur, setidaknya putri


yang selalu dicemaskannya dan disayanginya jatuh di tangan yang tepat. Tidak ada seorang yang lebih tepat melebihi Raffael disisinya.


🍁🍁🍁🍁


Sebuah luxury Hotel di kawasan Capital place di selatan Ibu kota di booking secara full untuk perhelatan akbar selayaknya royal wedding. Pengaman dilakukan secara ketat dan berlapis. Hotel dengan ciri empat musim itu sudah disterilkan. Hanya orang tertentu yang bisa masuk. Semua sudah dipersiapkan dengan sempurna. Nuansa floral dekorasi yang megah dan indah begitu mendominasi disepanjang pintu masuk sampai kesebuah ballroom utama hotel.


Jordan bersama orang-orang kepercayaan Raffael dengan seksama memeriksa setiap ruangan khusus yang akan dipakai untuk perhelatan akbar tersebut. Ruang untuk ikrar suci pernikahan. Ballroom utama untuk acara resepsi, Ruang tunggu, Ruang untuk beristirahat dan sebuah kamar pengantin kategori presidential suite menjadi perhatian khusus Jordan.


"Saya rasa semua sudah sempurna, ayo kita periksa yang lainnya."


Jordan tersenyum melihat sebuah helicopter yang sedang berpatroli disekitar tempat perhelatan berputar- berputar di udara. Pasca penyerangan pengamanan diterapkan siaga penuh.


"Bagus!! Semua sesuai perintah. Jangan ada kesalahan sedikit saja. Kita kembali," perintahnya.


Berbagai media begitu gencar menyiarkan perhelatan akbar yang digadang-gadang sebagai pernikahan of the year. Berbeda dengan kalangan pebisnis handal yang kebanyakan tertutup, keluarga Raffael begitu welcome dengan semua kalangan. Baginya kabar bahagia harus diberitahukan terlebar Raffael adalah Putra satu-satunya.


Siapa yang tidak mengenal Bimantara Kusuma Wijaya orang yang sangat disegani, dihormati dan sangat berpengaruh di negara ini, yang mempunyai seorang putra yang begitu genius didunia bisnis dengan reputasi yang sangat mentereng dengan rekam jejak yang tanpa cela. Apalagi sejak mengenal Nona muda Tirtawijaya group itu, Raffael begitu mendapat simpati yang sangat luar biasa. Dirinya tidak hanya pebisnis yang handal tetapi dia juga dikenal dengan sifat dermawannya yang membuat orang yang mengenalnya semakin mencintainya.


"Apa yang kalian lakukan disini," tanya Jordan yang mendapati sekerumunan masyarakat yang berkumpul di pinggir- pinggir jalan. Jordan terpaksa turun dari mobilnya .


"Kami memberikan santunan, Tuan. Santunan Kepada mereka yang membutuhkan, besok adalah pesta rakyat dari Nona muda Tirtawijaya," Jawabnya.


"Maksudmu?"


"Kami memberikan bantuan sosial kepada mereka yang membutuhkan dari nona, Key,Tuan. Kami dari yayasan sosial milik beliau." Jordan melihat orang-orang tersebut membagikan kotak makanan amplop untuk para pengemis jalanan, tukang parkir, para pemulung dan anak-anak jalanan yang keadaannya sangat memprihatikan.


Hari itu key juga menyantuni ratusan anak-anak yatim yang kurang beruntung dengan mendonasikan hampir semua penghasilannya dari usaha yang tengah dirintisnya.


Jordan mengangguk lalu tersenyum.


Nona, Key memang paling bisa.


"Hemmm...bagus-bagus. Baiklah, hati-hati, begitu selesai cepat kembali pulang dan jangan membuat keributan," Pria itu menoleh sekeliling dan kembali tersenyum melihat para mantan pembegal itu begitu tertib mengatur mereka yang sedang berbagi dan akhirnya dia kembali ke mobilnya untuk menuju kekediaman Raffael.


🍁🍁🍁🍁


"Key....!!! Darling!" Para calon bridmaids berseru telah datang dengan begitu bahagianya.


"Tinggal selangkah lagi, Key. Apakah kau sangat berdebar-debar, heemm..? Anne si cerewet yang baik hati itu merangkul Key yang sedang menyambutnya. Nyonya Tirtawijaya hanya tersenyum melihat tingkah mereka dan mempersilakannya untuk masuk dan istirahat.


"Bersabarlah, setidaknya tanyakan itu di dalam saja," protesnya gemas seraya mencubit gemas pipinya dan melirik Nick yang sedang tersenyum sebelum akhirnya pria itu menuju ke rumah pribadi Raffael.


"Dimana Naya?" Key melihat sekeliling namun tidak menemukan keberadaan Naya dan juga rossaline.


"Tadi dia bilang kejebak macet," Jawab Maura. Kalau Rossaline dia on the way juga dijemput Hansen.


Key mengangguk paham lalu mereka meneruskan perbincangan mereka di dalam.

__ADS_1


Sementara itu ditengah jalan yang sepi Naya terlihat cemas. Ban mobilnya kempes. Dia menolah kesana kemari untuk mencari bantuan namun jalanan begitu lengang, karena sterilisasi yang dilakukan oleh aparat menjelang hari pernikahan mereka.


"Masih lumayan jauh. Bagaimana ini ?" Gadis manis itu terlihat bingung, apalagi saat senja menjelang sore itu semakin terlihat kemerahan pertanda malam akan segera tiba.


"Apa sebaiknya aku beritahu, Key? Ah...!! Tidak, aku tidak enak hati," lalu berpikir untuk mencari taxi.


"Tetapi bagaimana dengan mobilku? Bahkan tidak ada bengkel sekitar sini," wajahnya mendadak cemas berjalan mondar-mandir kebingungan.


Tit- tit.. tit sebuah mobil mewah melintas. Naya semakin bingung saja, karena mobilnya terhenti ditengah jalan raya. Dia meminta maaf dengan memberikan isyarat, hingga mobil itu berhenti dan terlihat seorang lelaki berpostur tinggi besar keluar dari mobilnya.


"Nona! Apakah kau bisa meminggirkan mobilmu?" Pria tampan itu dengan sopan menyuruh Naya meminggirkan mobilnya.


"Hemm, maaf, Tuan, ban mobil saya kempes dan saya belum menemukan bengkel. Maaf mengganggu," ucapnya tak enak hati.


"Apakah Nona tahu, ini adalah jalan yang disterilkan jadi tidak ada aktivitas disekitar sini."


Naya mengangguk. "Maafkan saya, saya lewat sini atas seijin sahabat saya, karena ini adalah jalan pintas menuju tempat tinggalnya."


Pria itu mengernyitkan dahinya.


"Tolong dorong ke pinggir mobil Nona ini," perintahnya. Para pengawal bertubuh tinggi besar itu dalam sekejap telah memindahkan mobilnya.


"Terimakasih banyak, Tuan."


"Panggil saja saya, Jordan," perintahnya.


Mereka saling menatap sesaat membuat Jordan bertanya- tanya.


"Saya Naya," seraya mengulurkan tangannya memperkenalkan diri.


"Mari saya antar," tawarnya. Tidak perlu khawatir mobil Nona aman, biarkan orang-orang saya yang mengurusnya.


"Tapi, Tuan__"


"Tidak apa-apa. Disini tidak akan ada taxi dan sejenisnya, karena masuk kawasan steril," terangnya.


"Mungkin teman Nona tidak mengetahuinya."


"Terimakasih sekali lagi".


Naya berjalan menuju mobil Jordan. Tidak ada pilihan lebih cepat sampe lebih baik, karena hari yang sudah semakin sore dan mereka pun akhirnya berlalu.


"Nona?" tanya Jordan heran, karena Naya menunjukkan arah tujuannya searah dengan dirinya menuju Mansion.


"Iya, Tuan. Perempuan itu menoleh Jordan yang sedang fokus menyetir duduk disampingnya.


"Panggil saja, Jordan!" perintahnya.


Tadi Nona bilang, ada temen Nona yang menyuruh untuk lewat jalan yang disterilkan, "apakah boleh saya tahu namanya?"


"Tidak usah khawatir, saya bukan orang jahat, kok.. He..he..", ujarnya diiringi tawa


karena perempuan itu terlihat cemas.


"Ohh..!! Ma__maaf bukan begitu maksudnya," jawabnya sedikit gugup.


"Saya diundang untuk kepesta pernikahannya, dia teman waktu saya masih SD dan SMP," tanpa berniat menyebut nama, Key.


Jordan kembali menoleh gadis itu.


Aku tidak pernah melihatnya.


Penampilannya sangat sederhana, sopan bahkan tanpa polesan make up yang berlebihanpun tidak mengurangi wajah manisnya. Ishh...!! Perasaan apa ini?


Jordan terdiam dia tidak ingin bertanya lebih, karena membuat wanita yang duduk disampingnya itu terlihat gelisah.


Teman yang sedang menikah? Kenapa kebetulan sekali?


"Jadi sekarang ketempat sebuah pernikahan?" tanyanya Ingin memastikan.


"Ti__tidak. Besok adalah hari pernikahannya. Naya semakin tidak nyaman karena Jordan terus bertanya mendetail. Dia takut orang itu sedang memata-matainya.


"Maaf, Nona ! Jangan salah paham. Jalan yang Nona lewati tadi adalah jalan yang disterilkan oleh pihak yang berwajib . Arah lalu lintas sedang dialihkan. Hanya orang tertentu yang boleh melewatinya.


"Apakah saya melakukan kesalahan?" Tetapi sungguh saya disuruh oleh sahabat saya," tegasnya.


"Nama sahabat, Nona?" Jordan menatapnya serius. "Maaf, Saya juga sedang menjalankan tugas," Jelasnya.


Naya menoleh pria yang duduk disampingnya. Posturnya tinggi, kekar, rahang tegas dengan rambut potongan pendek memperlihatkan ototnya. Menunjukkan kalau dia adalah orang yang selalu peduli dengan kebugaran dan bentuk tubuhnya. Naya menelan salivanya pelan.


Sangat tampan


"Tidak perlu ketakutan begitu, saya bukan penjahat, kok." dengan sedikit tersenyum


mencairkan suasana.


"Ma__ maaf, bukan begitu. Sa__ saya hanya___"


"Tidak perlu cemas. Saya hanya ingin memastikannya, yang berkaitan dengan tugas saya." Mobil meluncur deras dan membuat Jordan semakin penasaran.


"Nama sahabat saya, Key."


"Nona, Key?" tanyanya terkejut setengah mengerem.


"Kau mengenalnya?"

__ADS_1


"Keyrane Anaya Aqueency Tirtawijaya?"


Naya tidak kalah kagetnya. Sepasang netranya menyelisik postur yang tampak gagah yang memberikan pertolongan padanya itu.


"Jadi Nona adalah sahabat Nona, Key!" Kita searah," tegasnya.


"Maksud, Tuan?"


"Jordan, saja!!"


"Iya, maksudku. Apakah kau mengenalnya?"


"Nona, Key. Dia adalah calon istri sahabat saya, Tuan muda, Raffael teman kuliah saya juga.


Naya tersenyum menatap Jordan bagaimana bisa dia menyebut nama sahabatnya Tuan muda. Sopan sekali dia," batinnya.


"Saya biasa juga memanggilnya, Raffael! Ujarnya sambil tertawa.


"Maaf, saya jadi banyak bertanya. "Sudah sampai, Nona."


Dengan cepat Jordan membukakan pintu untuk Naya membuat Key yang melihatnya senyum-senyum sendiri. Dirinya cemas Naya tidak juga sampai dan hari semakin sore.


"Kalian bersama?" Key menatapnya heran. Pantas saja hari terasa lama," godanya sambil tersenyum menatap Naya yang terlihat malu-malu.


"Sorry, Key. Ban mobilku kempes. Untung ada sahabat Raffael yang menolongku," jawabnya dengan menunjuk ke arah Jordan.


"Maaf, Nona! Membuat Nona menunggu," ujarnya tidak enak hati.


"Saya permisi dahulu."


"Jordan! Terimakasih," ucap Key sementara Naya hanya tersenyum melihat punggung, Jordan yang sedang berlalu.


"Kau tidak mengucapkan terimakasih padanya, Nay?"


"Aku juga terimakasih,"ucapnya sedikit malu yang diikuti oleh senyum tipis Jordan ketika sedikit menoleh.


"Ciee.. Naya! Akhirnya." Rossaline yang ikut mengekor Key dibelakang berniat menggodanya.


"Lama tidak bertemu denganmu, sayang," Rossaline memeluknya.


"I Miss you, Sorry orang tuaku baru saja di rawat. Bahkan aku sampai tidak sempat datang dihari pertunangan mu Key.


"Tidak apa-apa sekarang kau di sini." Dan mereka pun masuk dengan wajah bahagia


🍁🍁🍁🍁


Malam merayap jauh. Raffael lebih suka menghabiskan waktunya dengan sahabat terdekatnya dan rekan bisnis terdekatnya.


"Andreas tidak datang kemari," Bryan menatap heran. Matanya melihat kesekeliling, namun yang dicarinya tidak juga menampakkan batang hidungnya.


"Itu terserah dia," Jawab, Raffael singkat. Tidak ada niat untuk membahasnya.


"Kalian berselisih?" Raffael sedikit bercerita tentang peristiwa yang terjadi yang sedang ada kaitannya dengannya.


"Oh my God. Bagaimana bisa kau mengalami teror mematikan itu?"


"Untuk peristiwa penyerangan itu, aku harap, aku salah duga! jelasnya malas.


"Andreas?"


"Mereka menyebutnya begitu"


"Ahhh....!!! Gilaaa..!!! Ini benar-benar gilaaa!" Pria itu mendadak berdiri berjalan mengitari mereka dengan sekaleng minuman ditangannya.


"Bagaimana bisa, dia mengaku masih mencintai, Key dihadapanmu," selorohnya sambil tertawa.


"Aku tahu dia menaruh hati pada Key sejak lama," sahut Hansen yang mendengarnya. Mungkin, karena mereka terlalu sering bertemu, yang diikuti oleh tatapan tajam Raffael. Hatinya berdesir sejujurnya dia merasakan cemburu.


"Misi Cintamu terlalu panjang, Raffael!" sehingga memakan korban perasaan," Bryan tertawa terbahak- bahak.


"Competitor mu kali ini sepadan juga."


"Saya sangat mengenal, Andreas,"


Hans bermaksud menengahi. Mereka melakukan pesta bujang hanya berkumpul-kumpul dan sesekali menikmati makanan kecil dan minuman yang jauh dari alkohol.


"Coba Raff!! Kita ke club pasti sangat menyenangkan," suara Evans


dengan menyesap sebotol minuman miliknya.


"Kau ini, tidak tahu suasana lagi darurat? Hans melempar botol minumnya ke arah Evans dan hanya meringis menunjukkan giginya.


"Sorry. sorry, aku lupa. Tuan muda besok sudah tidak bujang lagi!" Pencapaian cinta, Bro! Semangat 45 biar Raffael junior segera launching ha..ha..


"Dan kau sendiri kapan menikahya," Steve menyela ucapan Evans .


"Ahhh, Kau juga belum solt out, kenapa banyak bertanya?" mereka saling melempar kaleng minuman dan sebagian yang lain asyiek dengan memainkan games.


"Mari bersulang....!! Mereka kompak untuk minum, walaupun tanpa ada alcohol yang menemaninya. Berbeda suasana, saat mereka banyak menghabiskan malam pada sebuah club mewah di benua biru, para pengusaha muda itu, bahkan kelihatan seperti anak kecil bersenda gurau menikmati masa kecilnya yang banyak tersita.


__________________________


Catatan penulis:


Sahabat tersayang 😘

__ADS_1


Jangan lupa untuk like dan komennya, ok? Thanks dear πŸ’“


__ADS_2