
"Jordan...!! berhenti!"
Jordan, pria itu menoleh dan tersenyum ke arah Raffael. "Ada apa, Raffael? Apakah kamu merasa terganggu?" tanyanya dengan nada mengejek.
"Apa yang kau ketahui tentang mereka?" Raffael menatap Jordan dengan tatapan yang begitu kelam. Ia menyenderkan punggungnya dengan setenang mungkin di kursi kebesarannya. Sementara Jordan berjalan sedikit lebih dekat ke arah Bos-nya itu.
"Mereka sedang dekat. Apakah kamu tahu, laki-laki tampan, kaya raya dan perempuan cantik sebaik Nona ,Key, ketika mempunyai intensitas pertemuan yang begitu sering?" Jordan
tersenyum smirk menatap Raffael menegang.
"Tentu saja, mereka sering bertemu, Key
adalah sekretaris, Andreas. Sudah sewajarnya mereka berdua dekat." Dengan santai Raffael mengambil ponselnya dan memeriksa pesan sebentar lalu kembali
menatap Jordan yang berdiri di hadapannya.
"Mereka dekat karena ada cinta yang tersembunyi,Bos! Apakah kau mengerti?"
"Duduklah! Katakan dengan jelas! tidak usah bertele-tele, Jordan!" Tanpa kontrol volume suaranya meninggi. Raffael menatap tajam Jordan dengan sorot mata mengintimidasi.
Jordan tersenyum. "Apa pedulimu dengan semua itu, Bos?".
"Sudah aku perintahkan, jangan bertele-tele!" Raffael memutar kursi kebesarannya dan mengambil air meneral yang terletak di sudut mejanya dan menenggaknya dengan
secepat kilat.
"Sepertinya Tuan muda, Andreas mencintai Nona, Key. Saya menangkap kedekatan khusus di antara mereka berdua." Jordan berbalik mendekat dan mengambil duduk di hadapan, Raffael ingin melihat reaksinya.
"Uhuk! Raffael tersendak.
"Ha..ha..ha.. Slow down! Keep calm,Bos!" Kau bahkan seperti anak umur lima tahun saat minum," Jordan terkekeh tetapi malah mendapatkan amukkan, Raffael.
Pletak!!
Sebuah pulpen meluncur dengan cepat tepat mengenai dahi, Jordan dan membuatnya meringis kesakitan.
"Beraninya kau menertawakanku," protes
Raffael jengah dan kembali membenahi duduknya."
"So_sorry, Boss."
"Dari mana kau tahu, kalau Andreas mencintai,Key, Jordan?" Bukankah dekat tidak mesti, itu adalah karena cinta atau berpacaran?
"Itu hanya berlaku denganmu, Bos!" Lelaki normal melihat Nona, Key, hatinya akan berdebar kencaaang, karena mereka normal," ejek Jordan kesal sekaligus gemas.
"Jadi aku tidak normal maksudmu?" tanya Raffael dengan nada tidak terima.
"Aku bertanya dengan sungguh-sungguh," jelas Raffael dengan tatapan membunuh.
"Aku melihat bagaimana,Tuan muda Andreas menatap Nona, key. Mengapa kau sangat resah, Bos! Apakah kau sedang cemburu?" ejek Jordan.
"Jangan mengguruiku! Untuk apa aku cemburu, dan tahu apa kau dengan cinta?" tukas Raffael sinis.
Jordan balas mengangguk dan tersenyum misterius. "Benar sekali, Bos tidak perlu resah ataupun cemburu, Bukankah Tuan muda, Andreas adalah orang yang sangat pantas untuk Nona, K-e-y? tanya Jordan dengan penuh penekanan.
"Beliau sangat tampan,kaya raya, pasti sangat mampu membahagiakan,Nona Key. Benarkah begitu, Tuan Muda Raffael." Jordan tak berhenti memanasi Bosnya yang keras kepala itu.
Raffael terdiam dan memejamkan matanya dengan deru napas yang memberat. Ia menahan jengkel sejak tadi.
__ADS_1
"Pergilah dari hadapanku sekarang, Jordan," desisnya tajam.
*****
Sementara itu di area perkantoran
WIRATAMA GROUP. Suasana tampak tenang seperti biasa. Semua karyawan kembali disibukan dengan pekerjaan masing-masing.
Otak dan pikiran mereka seakan tiada tempat untuk memikirkan hal yang lain kecuali pekerjaan mereka. Key tampak serius di kubikelnya memeriksa beberapa berkas penting untuk bahan presentasi dengan klien penting. Seperti biasa siang ini Ia harus pergi lagi bersama Andreas.
"Nona key, Pak Andreas memanggilmu ke ruangannya," jelas salah seorang karyawan bagian staf keuangan, yang baru saja keluar dari ruangan CEO.
"Baiklah.Terimakasih," jawab key. Dengan segera ia melangkahkan kakinya menuju ruangan CEO.
"Masuk," terdengar suara Andreas dari dalam ruangannya.
"Silakan duduk,Key," perintahnya tak lupa senyum manis pria itu. "Apakah kau siap menemaniku meeting siang ini?"
"Siap Pak, Andreas," Jawabnya sopan. "Ini berkas penting yang harus Bapak pelajari, semua sudah saya persiapkan."
"Bagus. Terimakasih. Panggil Andreas saja saat cuma ada kita berdua," perintahnya lagi dengan tersenyum.
"Te___ tetapi saya tidak enak hati, bila ada karyawan lain yang mendengarnya, Pak, Andreas." Key beralasan.
"Disini cuma ada kita berdua, Nona Key," dengan senyum kembali di kulum.
Key nampak canggung. Andreas dan Raffael adalah sahabat dekat semasa kuliah, sementara dirinya di bawah satu tingkat dengan mereka berdua.
"Apakah masih ada yang bisa saya bantu?"
"Tidak ada. Lima belas menit lagi kita berangkat, bersiaplah."
"Baik, Saya permisi dahulu, Andreas."
Andreas menggeleng pelan. "Duniaku begitu sempurna dengan keberadaanmu di sini. Tetapi apakah ini semua benar?" Kau begitu dekat denganku tetapi di lain sisi Raffael juga sangat dekat denganmu. Mungkinkah aku dan dia men__"
"Ahhh!!" Andreas menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya. Ada ketakutan luar biasa dalam dirinya bila dugaannya benar.
Waktu terus jejak letih tampak begitu kentara di wajah keduanya selepas meeting yang dilalui dengan alot.
"Terimakasih, Key, semua berjalan lancar berkat dirimu."
"Semua berhasil karena kerja sama semua team dan kamu yang punya kapabilitas untuk meyakinkan mereka," jelas, Key.
Andreas terkekeh. "Aku lupa, kalau kamu adalah orang yang sangat rendah hati,Key," selorohnya sambil terus menyetir.
Key tersenyum. "Berhentilah untuk membual." Andreas kembali terkekeh
mendengarnya.
"Itu kenyataannya, sungguh aku sangat beruntung mempunyai patner kerja sepertimu." Pria itu tak sama sekali berbohong.
"Aku yang berterima kasih padamu."
Apalagi kalau kamu menjadi bagian dari hidupku,Key. Apakah kamu tahu, kamu adalah tipe wanita yang aku cari selama ini.
Waktu di lalui dengan cepat, seiring kebahagiaan hatinya. Tanpa terasa senja kembali tiba. Jam kantor telah usai. Keduanya kembali pulang setelah menyempatkan diri untuk makan lebih dahulu.
"Andreas apa bisa kau menurunkanku di panti Kasih Bunda. Aku ada janji dengan ibu panti." Wanita itu hampir melupakankanya.
__ADS_1
"Ini sudah sore, aku akan mengantarmu kesana," jawabnya yakin.
"Tidak perlu, lagi pula tidak terlalu jauh dari rumahku, sudahlah tidak apa-apa." Key beralasan. Tak enak terus merepotkan pria itu.
"Aku juga ingin mampir ke sana." Tak terhitung sudah seberapa banyak senyum pria itu menghias bibirnya.
"Aku ingin belajar darimu, bagaimana mengasihi sesama," kata Andreas lagi. Benar- benar menyukai sisi positif ini.
"Jangan berlebih-lebihan Andreas, Kau pribadi yang sangat baik, jadi tidak perlu lagi belajar dariku. Kau memang berlebihan.
Keduanya lantas tertawa bersama- sama.
"Kau tidak masalah?" tanyanya memelan. "Maksudku, aku takut merepotkanmu."
"Justru aku sangat senang,Key. Atau kau yang merasa keberatan, karena terus pergi bersamaku?" kelakar pria itu.
"Oh, sama sekali tidak, justru aku sangat senang kau juga berniat bertemu mereka."
"Aku menyukai tempat seperti itu, Key. Tak semua orang hidup berlimpah materi."
"Orang bijak selalu bilang, kasih ibu sepanjang masa, itulah yang tidak pernah dimiliki oleh mereka dan menganggap setiap orang yang datang mengasihi mereka adalah sebagai orang tuanya" beritahu Key dengan binar bahagia. Andreas menatap kagum ke arah wanita yang duduk di sampingnya.
Wahai peri cinta yang baik hati, apakah kelak kau sudi untuk mencintaiku, atau kaulah orang yang akan mematahkan hatiku karena berani berharap cintamu.
Andreas kembali terdiam. Ia tidak menutup mata menangkap ketidak sukaan Raffael, saat ia bersama dengan Key.
Berbagi dengan sesama kepada mereka yang kurang beruntung. Itulah rutinitas bulanan Key. Baginya melihat canda tawa mereka dan bisa berbagi dengannya adalah kebahagiaan tersendiri .Jiwa sosial Key memang sudah terbentuk sejak kecil karena seringnya dia melihat ketidak beruntungan hidup pada mereka yang senantiasa ditempa kesusahan.
"Hemm ... lihatlah mereka sangat lucu dan menggemaskan," gumannya lirih.
Andreas dengan spontan mengendong anak tersebut dan mengangkatnya tinggi-tinggi.
"Hai, jagoan siapa namamu? Apakah kau sangat bahagia," tanyanya. Andreas mengangkat tinggi-tinggi balita lima tahun tersebut dan terdengar tawanya yang sangat lucu.
"Telima kasih uncle," jawabnya lucu.
"Hei kau belum menjawab pertanyaanku?"
"Namaku Dafa"
"Ohhh nama yang bagus, ini untukmu."
Andreas menyodorkan sebuah mainan robot untuk anak tersebut dan diterimanya dengan senang hati.
Key tersenyum mendengar interaksi keduanya. "Walaupun mereka tidak pernah mengenal kasih sayang kedua orang tuanya, tapi setidaknya mereka mendapat perlindungan dari yayasan sosial dan berharap mereka mendapat orang tua angkat yang terbaik."
Tertawa bersama dengan anak-anak panti sampai sebuah notifikasi dari ponselnya kembali mengagetkannya.
๐ฉ Raffael
Apakah kau sudah pulang dari kantor? Aku melihat mobilmu diantar oleh Andreas.
๐ฉ Key
Aku pulang meeting dan langsung pulang bersama Andreas, karenanya orangnya mengantar mobilku ke rumah.
____________
catatan penulis:
__ADS_1
Sahabat tersayang jangan lupa untuk like dan komennya untuk yang menemukan dan membaca novelku,ya.
Terimakasih. Salam sayang dariku ๐๐