Misi Cinta CEO Tampan

Misi Cinta CEO Tampan
83. Kabut cinta di tengah derai hujan.


__ADS_3

Key begitu gelisah mendengar laporan Jordy bahwa Raffael pergi menjelang tengah malam. Sedikit saja dirinya tidak bisa memejamkan matanya. Kembali terbangun dan melangkah keluar, duduk di depan Mansion dan berdiri lagi, duduk dan berdiri lagi, berjalan mondar-mandir berharap dia melihat Raffael datang, dengan harapan masalah selesai saat bertemu dengan Andreas. Hatinya yakin sekali Raffael bertemu dengannya malam ini.


"Nona, sebaiknya Nona masuk." Angin malam sangat dingin.Tuan muda akan marah kalau melihat Nona duduk di sini," perintah jasson sambil sesekali melihat kearah sekitar Mansion yang tidak jauh dari rumah pribadi, Raffael.


"Aku hanya ingin memastikan Raffael pulang, Jasson! Jawabnya lirih tidak bisa menutupi kesedihannya. Jemarinya memainkan syal yang melingkar di lehernya dengan gelisah.


"Nona, tidak akan terjadi apa-apa dengan Tuan muda. Nona silahkan masuk, saya khawatir Nona akan sakit nantinya.


"Jasson, tolong hentikan kurir bunga itu, saya cemas kalau besok datang lagi. Aku tidak ingin keadaan semakin rumit. Raffael benar-benar marah padaku. Aku tidak menginginkannya, Jasson," Suaranya bergetar sekelebat ucapan Raffael yang sangat menyakitkan kembali terngiang di telinganya, menghadirkan rasa nyeri dengan hanya membayangkan saja. Wajahnya semakin sendu dengan tatap matanya yang semakin sedih.


"Saya sudah mengatasi kurir bunga itu. Nona tidak usah cemas. Sebaiknya Nona masuk dan beristirahat."


"Raffael sudah tahu semua, saya khawatir dia keluar untuk bertemu dengannya."


"Ada Jordy yang mengikuti Tuan muda. Tuan muda akan baik-baik saja dan dalam perjalanan pulang menuju rumahnya," beritahu jasson dengan pasti yang menghadirkan kelegaan dalam hatinya. Wajahnya tersenyum tipis mengusir sedih, yang menggelayuti pikirannya kemudian mengangguk pelan .


"Apakah Jordy sudah memberi kabar?" tanyanya ingin tahu. Netranya mengerjab menatap bodyguard yang setia mengawalnya tersebut.


"Baru saja Jordy mengirim pesan, Nona." Dengan menunjukkan ponselnya kepadanya.


"Syukurlah." Perasaanya sedikit tenang, walaupun sampai sekarang Raffael belum memaafkannya atau memang tidak akan pernah memaafkannya.


"Maafkan aku, gara-gara ini semua, kau harus membuang waktu istirahatmu. Aku benar-benar merasa tidak berguna," gumamnya lirih namun tidak luput dari pendengaran, Jasson.


"Nona, sangat berharga untuk Tuan muda," hibur Jasson dengan tersenyum.


"Dia tidak peduli lagi padaku.....," bisiknya lirih lalu menunduk sedih.


"Itu hanya perasaan, Nona saja.


Tuan muda seperti ini, karena beliau sangat mencintai, Nona," terang jasson menenangkannya.


"Terimakasih, Jasson," senyuman terlihat samar yang diikuti oleh anggukan Pria bertubuh besar itu.


Angin berhembus kencang, langit terlihat menghitam, namun Raffael belum ada tanda-tanda pulang. Key mendesah panjang, perlahan berdiri mondar mandir dihalaman Mansion yang mengekspos pekatnya malam dengan sesekali mengecek ponselnya.Tetapi belum ada tanda- tanda Jordy memberi kabar.


"Nona, masuklah. Diluar mulai hujan," Terdengar perintah jasson yang mulai cemas karena Key sengaja membasahi dirinya dengan rintik-rintik hujan. Dengan cepat pria itu mengambil payung untuk Nona muda kesayangan, Tuannya itu.


"Nona, aku mohon jangan seperti ini. Tuan Muda akan sangat marah," Suara Pria itu terdengar lebih tegas melarangnya, karena hujan semakin deras diiringi oleh kilatan - kilatan yang menghasilkan suara gemuruh membuat langit malam tampak begitu mencekam.

__ADS_1


Duaaaarrrr.....!!!


"Nona...!! Cepatlah masuk! Saya akan beritahu Nona begitu Tuan muda sampai," janji Jasson dengan meraih tangannya dan membimbing Key untuk beranjak. Suaranya tenggelam oleh bunyi hujan deras dan petir yang menyambar- nyambar menggelegar menghias malam


yang semakin larut.


"Aku disini saja! Aku hanya ingin memastikan Raffael pulang," jelasnya dengan berdiri didepan pintu masuk. Jasson hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan ulah Nona mudanya dengan rasa iba dalam hatinya, apalagi saat melihat bibir yang membiru dengan wajah memucat, karena menggigil kedinginan.


"Nona bisa menunggu pesan dari dalam Mansion yang diikuti oleh gelengan kepala Key.


Tuan muda, kalau kau seperti ini bisa-bisa Nona lelah dan berpaling.


"Kau saja istirahatlah. Aku janji akan duduk di sini saja, yang di balas Jasson dengan sedikit ragu dan memutuskan untuk tetap mengawasi, Key, walaupun dengan jarak sedikit menjauh.


Malam semakin larut, disaat titik jenuh tiba-tiba terdengar ponselnya bergetar. Dan terlihat dalam video durasi pendek yang di kirim Jordy. Sebuah Mobil, memasuki pekarangan cluster mewah rumah pribadi, Raffael. Ada kelegaan dalam hatinya orang yang sangat dicintainya sudah pulang dan terlihat baik- baik saja. Terlihat Raffael dengan blazer musim dingin khas Koreanya membungkus tubuh tegapnya. Dia mempercepat langkahnya setengah berjingkat, menghindari derai hujan dan bergegas masuk dalam rumahnya.


"Syukurlah akhirnya kau pulang," ucapnya lirih sambil menutup pintu dan masuk kembali ke dalam kamarnya. Sesekali dia mengecek ponselnya, berharap ada pesan masuk darinya tetapi rupanya Raffael Lebih suka mematikannya.


Kenapa kau semarah ini, Raffael? batinnya perih. Kristal bening itu kembali menetes dengan sendirinya. Key merebahkan kembali tubuhnya meringkuk dalam sepi. Isak tangisnya kembali terdengar. Dia menumpahkan air matanya dalam kesunyian malam. Air mata yang dijaganya seorang diri, karena dia tidak ingin dikasihani terlebih menunjukkannya di depan orang tuanya. Dengan perasaan lelah batinnya terus berperang, hingga alam mimpi menyapanya dengan air mata yang mengering diwajah cantiknya.


🍁🍁🍁


Sementara itu di rumahnya, Raffael dengan perlahan melangkahkan kakinya untuk membasuh tubuhnya yang terasa lengket. Gemericik air hangat mulai menyapu tubuh atletisnya. Suasana rumah sudah tampak sunyi, beruntung tidak satupun orang mengetahui dirinya keluar menjelang tengah malam untuk bertemu Andreas, kecuali Jordy yang membuntutinya secara diam-diam. Setelah memastikan Tuan mudanya pulang dalam keadaan baik-baik saja, Pria itu akhirnya memutuskan pulang.


yang di bawa Key tadi siang yang tidak disentuhnya.


Hari itu dia sengaja menyuruh pelayan untuk pulang, karena ingin menyelesaikan urusannya dengan Key. Perlahan tangannya membuka dengan pelan. Makanan kesukaannya, Obat, vitamin, salmon teriyaki, salat, buah-buahan segar ada didalamnya dan perlahan memanaskannya dalam microwave dan memakannya sedikit.





Bayangan Key, berlalu dengan Isak tangis saat keluar dari rumahnya membayang dipelupuk matanya menghadirkan nyeri dalam dadanya. Kilasan -kilasan ucapan kekecewaan wanita itu, begitu terngiang dalam benaknya dan kembali dadanya bergemuruh. Raffael sudah mendengar pengakuan, Andreas dan saat ini sedang mencari tahu siapa yang sedang mengadu domba keduanya.


Bahkan disaat aku belum tau kalau kau mencintaiku, aku sudah tidak berniat untuk mencintai yang lainnya, siapapun itu, kecuali kamu, Raffael.


"Cara....." Sebuah kata yang hari ini terasa sangat mahal, untuk keluar dari bibirnya mendadak terucap lirih.

__ADS_1


Aku tidak pernah meragukan cintamu, rasa cemburu yang membutakanku. Malam ini bahkan dia berterus-terang kalau dia masih mencintaimu. Aku jadi merasa kau melindunginya, padahal kau sudah tahu dia mencintaimu.


Raffael gemas dengan sikap key,dia sudah menunggunya untuk berbicara saat datang ke rumah, tetapi sampai


beberapa menit dia mendiamkannya, wanita itu juga tidak ada niat untuk bicara.


"Apakah aku sudah begitu keterlaluan? Terlepas aku tahu foto itu rekayasa. Dan kurir itu datang saat keberadaannya tidak di Mansion." Ada rasa menyesal dalam dirinya sudah bicara terlalu keras padanya. Apa lagi beberapa hari lagi mereka berdua akan segera menikah.


"Sedang apa kau sekarang?" Tangannya tergerak untuk mengecek Cctv yang menyorot Area Mansion. Terlihat dengan jelas Key yang duduk dengan sedih di luar Mansion, seperti sedang menunggu seseorang. Bahkan wanita itu, berhujan-hujanan dengan wajah pucat, bibir kebiruan ditengah kilat yang menyambar- nyambar dan melihat Jasson yang terus menerus membujuknya untuk masuk.


Raffael yang tidak kuasa melihatnya, mematikan layarnya dan duduk menyender dengan mata terpejam menahan nyeri dalam hatinya.


"Apa yang sudah aku lakukan padanya?" Tangannya tergerak untuk menelpon Jasson.


"Jasson, apakah Nona, Key sudah tidur?"


"Nona baru saja masuk ke kamar,Tuan."


"Kenapa kau tidak menyuruhnya masuk,Jasson!! Dan membiarkanya hujan-hujanan," teriaknya penuh amarah.


"Nona bersikeras tidak mau, Tuan! Nona menunggu, Tuan muda."


Raffael begitu teriris mendengarnya dan menutup panggilan teleponnya. Hatinya semakin perih saat dia menghubungi Mitha dan tidak ada tanda-tanda, Key makan malam, karena semua mengira dirinya mengajak makan malam berdua.


Pria itu menyesal, apalagi mereka bertengkar disaat dirinya sedang berada di istana barunya untuk pelabuhan cintanya setelah menikah nanti.


"Bahkan kau juga melewatkan makan malammu. Apa dia masih terjaga..?"


Raffael tidak bisa mengistirahatkan pikirannya. Ucapan demi ucapan yang keluar dari mulutnya, terngiang-ngiang memenuhi seluruh isi kepalanya begitupun saat perempuan itu meneteskan air matanya dan keluar rumah. Dia tidak memikirkan penilaian, Key saat ini terhadapnya, terlebih saat dia melihat bekas makan romantis dan pakaian **** wanita yang membuatnya marah waktu itu.


"Aku terlalu cemburu karena aku sangat mencintaimu. Aku tidak suka orang' lain mengusik milikku, karena aku tidak pernah mengusik milik orang lain," gumannya lirih...


Raffael melangkah pelan menatap foto Key yang terpasang di dinding kamarnya. Jemarinya mengusap pelan dengan penyesalan yang diam-diam menyusup dalam hatinya.


"Bagaimana kalau dia sakit? Pikirannya tertuju pada pintu rahasia yang terhubung dengan Basemant rahasia Mansion dan kemudian menggeleng pelan...


________________________


Catatan penulis:

__ADS_1


Sahabat tersayang 😘


Jangan lupa untuk like dan komennya, ya😊 Thanks dear πŸ’“


__ADS_2