Misi Cinta CEO Tampan

Misi Cinta CEO Tampan
Episode 128 Curhat dan kejutan


__ADS_3

"Tentang cintamu, tentang dia dan seberapa besar cintamu padanya," Lorine tergelak sesaat memperlihatkan deretan giginya yang putih. "Ternyata ada juga orang yang mengacuhkanmu, hahh?"


Tertawa getir, Andreas memamerkan muka masamnya. Dengan satu tarikan napasnya manik matanya memperhatikan lorine serius. "Apa yang kau ketahui lagi, Lorine?"


Ko


"Aku tidak pernah melihat kau seserius itu bincara tentang perasaan. Mungkin karena kita lama tidak bertemu, atau kau yang mendadak bucin,akut!"


"Lorine, kau!"


"Stop- stop! Mengangkat tangannya, Lorine memperbaiki posisi duduknya.


Kali ini keduanya saling berhadap-hadapan, tidak hanya untuk berbagi oksigen, tetapi Andreas dibuatnya sesak karena gema suara Lorine.


"Kau bertemu setiap hari dengannya, tetapi kau ketinggalan kereta, hah?! Harus ku akui, kali ini kau mendapatkan Rival cinta yang sepadan, Tuan muda!"


ujarnya dengan mengedikan bahunya.


'Omg, Stevi. Apa yang kau katakan?


Apakah Lorrine juga tahu aku berniat melamar Key malam itu?'


"Hey! Apa yang kau pikirkan? Kenapa malah melamun,hah?"


"Ehh. Ti_tidak. Tidak," jawab Andreas gugup. "Sampai mana tadi ngomong- ngomong pembicaraan kita?"


"Di sini, Tuan muda!" Lorine menunjuk dadanya. "Sampai di hatiku!" kelakar Lorine yang hanya di balas dengan senyum kecut dari sang sahabat.


"Kau ini memang paling bisa, Lorine …" Menggelengkan kepalanya, Andreas lagi- lagi dibuatnya senyum- senyum sendiri. "Kekonyolanmu itu, rupanya sudah mendarah daging padamu, hemm? Terserah padamu, lorine."


"Sudahlah … jangan pernah mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin, karena yang menunggu hanyalah kekecewaan di depannya. Percayalah tidak akan ada jalan lagi, kecuali kau akan semakin sesak mengingatnya," nasehat lorine serius dengan memelankan suaranya.


Semua sudah terjadi, lorine … bahkan lebih dari itu.'


"Kita tidak pernah tahu, kepada siapa perasaan kita akan berlabuh. Kapan, di saat seperti apa akan terjadi. Tetapi terkadang waktu begitu curang mempertemukan orang yang tidak seharusnya dengan kita, tetapi berhasil mencuri seluruh atensi kita. Bukankah begitupun kenyataannya yang terjadi padamu?" Menatapnya serius, Lorine mencoba menembus manik hitam, Andreas.


Sungguh, ternyata kau sangat bijak, sekali, Lorine


Bergeming, Andreas mencoba mencerna ucapan lorine. Angin berhembus kencang memainkan rambut indahnya menimbulkan gelombang-gelombang kecil yang bergerak seirama. Sementara Andreas masih betah menatap objek kosong dengan pandangan lurus ke depan.


"Karena itu, berhentilah berharap sesuatu yang tidak mungkin, atau kau akan tetap merasa kesakitan, Andreas. "Kali ini keduanya berdiri saling berdampingan. Memandang visualisasi gedung- gedung tinggi, pusat kota yang panas, berpolusi menganggu jarak pandang keduanya.


"Kau benar-benar guru yang hebat, harus ku akui itu," tersenyum samar, Andreas mengingat kebodohannya.


"Tetapi semua sudah jauh lebih baik. Sudah berlalu, lorine ..." Mempertegas ucapnya, kali ini Andreas menyelisk pandang mempertemukan kedua manik mata mereka sekali lagi. "Sepertinya Stevie cerita banyak padamu?"


"Hanya sebatas itu saja," ujarnya jujur. Sedetik kemudian kelegaan memenuhi wajah Andreas.


Banyaknya intrik yang mengiringi, setidaknya luput dari perhatian lorine dan membuat Andreas lebih mudah bernapas. Sepertinya wanita itu hanya tahu sebatas kasih tak sampainya saja.


Sungguh memalukan. Kecerobohannya dengan buket bunga itu adalah sesuatu yang amat disesalinya sampai detik ini. Hal itu pula yang membuat Key melihatnya dengan cara yang berbeda.


Pria itu bahkan masih mengingat nada tegas Key malam itu. Walaupun bukan amarah, tetapi perasaan kalut karena kesalah pahamannya dengan Raffael membuatnya benar-benar sangat menyesal.


Menjentikkan jari tangannya, Lorine berseru. "Lagi-lagi kau mendadak diam,hemm? Apakah kau benar-benar jauh lebih baik?!"


Tergagap Andreas memamerkan tawa getirnya. "Tentu saja, lorine. Ini sudah benar- benar berlalu dan semua mengarah ke yang lebih baik. Sepertinya kau terlambat datang kemari untuk menghiburku," goda Andreas tidak ingin lagi-lagi terbaca.


Cinta dalam diamnya yang melewati batasan diri Andreas sendiri yang bahkan tidak pernah terucap, tetapi ia yakin Key mengetahuinya dari Raffael.


"Sesuatu yang sudah aku putuskan untuk di lupakan … tetapi ternyata kau jail sekali mengulik hal ini dengan teleponmu malam itu. Hey, teman masa kecil," Andreas memprotes lorine dengan senyum. Terlebih gairah terlarang tentang Key itu sempat hadir kembali secara lembut tanpa di sadarinya.

__ADS_1


"Sorry … aku sangat mengenal dirimu, siapa tahu kau butuh orang sepertiku, hah!"


Andreas tertawa kali ini. Sungguh ucapan Lorine adalah kebenaran yang harus di akui tuntas, karena cuma akan ada kesakitan dan kekecewaan yang menanti di depannya.


"Kau benar, tetapi apakah kau ada tujuan tertentu kau datang ke Kota J? Mengalihkan pembicaraannya, Andreas ingin menyudahi topik tentang perasaannya.


"Aku hanya kangen untuk bermain Sky. Dan telepon Stevi malam itu, semakin membuatku bersemangat, bahwa kau mungkin saja perlu ikut bermain, ha … ha … dan lihatlah saat ini, Andreas, aku menang besar, kan?!"


"Astaga! Kau ini, Lorine, pelankan suaramu," Andreas mendesis gemas.


"Itu kenyataannya, mungkin dalam beberapa hari ke depan, bobot tubuhku meningkat dua kali lipat," kelakar Lorine lagi.


"Kamu bisa meminta apa saja padaku."


"Benarkah …?"


"Tentu saja! Mumpung kita bertemu."


Tetapi aku yakin, kau tidak bisa menuruti permintaanku kali ini, Andreas.


Lorine tampak berpikir, 'Tidak bisa, karena kau masih menyimpan namanya sampai saat ini.


"Hey, nona! Kau diam saja, dan itu terlihat lucu sekali," seloroh Andreas.


Manik lembutnya melihat lorine yang tertegun dengan memainkan jemarinya.


"Lorine … ?!"


Menegakkan kepalanya, bibirnya mematri senyuman. "Aku menunggumu memberiku sesuatu kali ini. Aku tidak akan meminta lebih dulu, tetapi aku menanti apa gerangan yang akan kau berikan padaku itu, bagaimana? Deal?"


Tertawa kecil, Andreas kali ini yang terlihat berbalik berpikir. Mengingat kesukaan Lorine di waktu kecil membuatnya terlihat kesulitan. Dia tidak mengingat dengan baik kecuali hiasan rumput alang-alang yang suka melingkar di kepala wanita itu saat bermain.


"Apa yang kau minta, Lorine? Kau sudah membuatku terhibur kali ini, katakanlah."


"Berikan apa saja yang ingin kau berikan, sebelum aku kembali Minggu depan," ujarnya pelan.


"Kembali …?" mengumam samar. Ada sepersekian persen dari pada Andreas yang merasakan harinya akan kembali sepi.


"Kenapa cepat sekali Lorine … tinggalah lebih lama, aku ingin mengajakmu keliling kota," cegahnya dengan mimik memohon.


"Kau yakin? Keberadaanku ini tidak akan menganggu pekerjaanmu?"


"Aku bersungguh-sungguh, Lorine. Tinggallah di Apartemenku yang kosong dan tidak perlu menyewa hotel, bagaimana?"


Tertawa, jelas Lorine antusias menyambutnya. Tidak ada sesuatu apapun yang serius menunggu jika ia cepat kembali dan itu membuatnya menganggukkan kepalanya dengan cepat.


"Ok, deal!" Mengulurkan tangannya, keduanya sepakat.


"Keliling kota, tinggal gratis, siapa yang tidak mau," seloroh lorine lagi.


Keduanya memutuskan untuk kembali setelah berbelanja beberapa kebutuhan Lorine. Tidak disangkanya ia akan tinggal lebih lama dari yang dipikirkannya.


"Andreas, ini banyak sekali."


"Untukmu. Sebagai ucapan terimakasiku, tentang jam tangan itu," jelasnya.


Jam tangan hadiah dari Key saat kuliah di negeri Paman Sam waktu berulang tahun. Dan saat itu, Key juga membelikannya untuk, Raffael, karena keduanya yang berulang tahun di bulan yang sama.


Pemberian dari Key masih menyita perhatian Andreas, walaupun hanya sebatas untuk menghargai pemberiannya saja. Sungguh Andreas tidak berniat mengusik kehidupannya. Key sudah tepat untuk memilih Raffael.


*******

__ADS_1


Beberapa bulan kemudian


"Baby … apakah kau di dalam?" Raffael sedikit bersiul kecil untuk mengusir rasa cemasnya. Malam telah larut sebagian lampu sudah dimatikan, tetapi tidak ada siapapun yang menyahut panggilannya.


"Cara? Baby? Apakah kau baik-baik saja? Hey, ini sangat tidak lucu! Raffael berteriak kecil dari dalam ruangannya.


Menekan tombol yang ada di tembok, Raffael dibuatnya kaget. "Lampu tidak menyala?"


Buru-buru mengambil ponselnya, Raffael melakukan panggilan terhadap Jasson. Raffael yakin ada Jasson di rumahnya, itu terlihat dari mobilnya yang di parkir di luar.


"Tidak aktif! Apa-apaan ini? Jassoon!!" Raffael kali berteriak kencang. "Cara!!" Berdegup kencang, Raffael meraih pistol dari balik jaketnya. Malam itu ia keluar sebentar dengan meninggalkan Key di rumah sendirian dalam pengawasan Bodyguard kesayangannya itu.


"Oh my God! Apa yang terjadi sama mereka? Cara …aa! Ini aku datang!"


Raffael berlari menaiki tangga ke arah kamar, dan berniat mendobrak pintu.


Pyaar ….


Lampu menyala terang, memperlihatkan seluruh ruangan dihias dengan sangat indah.


"Happy birthday!" Key berteriak. Berjalan mendekat. Sontak Jasson meraih pistol dari tangan Raffael tepat waktu. Memeluk Raffael dengan erat Key berbisik, "Maaf, sayang mungkin cara ini tidak tepat, semua ide Mami, aku tidak bisa menolaknya …"bisiknya pelan.


Semua orang terkasihnya berkumpul di sana, pelan-pelan membuat Raffael melenturkan rahangnya yang sempat mengetat.


Ini benar- benar gila, aku akan menghukumu Jasson! Apa yang akan terjadi, kalau dia memborbardir dengan peluru panas saat ruangannya menyala.


"Apa yang kau lakukan, Cara?! Raffael mengusap lembut punggung Key yang memeluknya erat. Beruntung pistol dalam genggamannya bisa terkontrol dengan baik karena Jasson. Kalau tidak ia akan benar-benar membabi buta begitu lampu menyala. Peristiwa teror Clara benar-benar masih menjadi trauma Raffael untuk keselamatan Key.


"Mami, papi," Raffael


berujar pelan. Aksinya mengacungkan senjata yang sempat tertangkap penglihatan tuan besar, membuatnya melebarkan manik matanya.


"Raffael, ini rumahmu sendiri, apakah kau pikir ada rampok di sini?" Tuan besar tertawa sekaligus kaget. Tetapi aksi Raffael benar- benar membuatnya terkejut.


Jordan berjalan mendekat ke arah Raffael dan berbisik. "Raffael, aku sudah mengosongkan pistolmu itu saat di kafe.


Semua terkontrol dengan baik, Tuan muda, Nona, dan seluruh anggota besar akan aman- aman saja sekalipun kau mengamuk dengan melesatkan tembakan.


Menggelengkan kepalanya Raffael kali ini bisa bernapas dengan lega dan tertawa.


"Mami memberikanku kejutan, hem?"


"Iya, sayang. Kamu jarang sekali merayakan ulang tahun." Merentangkan kedua tangannya Nyonya besar menyambut Raffael ke dalam pelukannya.


"Thanks, Mam, I love you ," bisiknya pelan. Raffael merasakan usapan lembut sang Mami yang memeluknya erat.


"Semoga selalu sehat dan bahagia, sayang," Kali ini nyonya besar meraih tangan Key dan menyatukannya dengan tangan Raffael. Melihatnya Tuan dan Nyonya besar Tirta wijaya ikut terharu.


Malam itu, kejutan untuk Raffael berlangsung mulus, walaupun sangat sederhana. Hingga rumah itu kembali sepi karena kedua orang tuanya sudah terlelap tidur. Sementara Jordan mengantar Naya untuk pulang malam itu.


"Kau tahu, hukuman apa yang pantas untukmu malam ini, hemm?"


"Raffael …?"


________________________


Sahabat tersayang 😘


jangan lupa like dan komennya, ya!


Terimakasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2