
Raffael bangkit dari tempat tidurnya. Tangannya meraih ponselnnya di atas nakas dan mengecek beberapa pesan
masuk. Jari tangannya terus menggeser
layar, memperhatikan beberapa situs berita, untuk memastikan tidak ada berita
yang memuat peristiwa mencekam sore
itu.
"Mudah-mudahan tidak ada yang bocor. Ini sangat berbahaya, kalau sampai terendus media. Key pasti akan sangat cemas, begitu pun mami dan papi. Kembali Raffael merebahkan tubuhnya.
Ingin sekali dia datang ke mansion tetapi
tubuhnya butuh untuk beristirahat.
Raffael mengecek keberadaan, Key
lewat Jasson. Laki-laki itu sudah tahu persis yang harus dilakukan, apalagi
Jasson melihat dengan mata kepala sendiri, betapa musuh sedang terusik dan
mencoba menghalalkan segala cara.
Sementara di Mansion, Key, terlihat menatap malam melalui jendela kamarnya. Hatinya sejak sore terasa gelisah. Beberapa kali menelpon, Raffael
untuk memastikan kalau dia baik-baik saja. Hatinya terasa lebih ringan setelah mendengar penjelasan Jordan, bahwa Raffael sedang beristirahat di rumah.
Tidak disangka-sangka peristiwa masa lalu yang ingin di lupakan, akan kembali
di usut tuntas oleh lembaga penegak hukum. Sebuah titik balik kehidupan akan dimulai lagi, setelah melewati fase terrendah dalam hidupnya. Kejadian yang
mengajarkan banyak hal, yang tidak akan bisa dibeli dengan apapun.
Kalau kehendak sang pencipta sudah turun, tidak ada yang sanggup untuk menghentikannya. Walaupun seribu cara
sedang dimainkan oleh umat manusia. Dan hari ini babak baru di mulai, Darriel,
Nova, Darren, dan keluarga Dave semuanya telah mendekam di balik jeruji penjara.
"Dave! Apa yang sedang bermain di kepalamu?" Key sangat menyesal menyebutkan nama itu. Key sangat mengenal, Dave, yang dijadikan tumbal
orang tuanya untuk melakukan hal-hal
yang buruk dan dalam sekejap mengubah perilaku pria itu.
Suara pesan masuk membuyarkan segalanya yang sedang berkecamuk dipikirannya. Perlahan melangkahkan kakinya menuju meja di sudut kamarnya, tangan Key mengambil ponselnya yang
bergetar. Sebuah Notifikasi pesan masuk terlihat dari layar yang sedang menyala.
Memperlihatkan nama seseorang yang sangat dikenalnya tertera di sana.
"Andreas. Ya, Tuhan, sejak resign aku bahkan melewatkan banyak pesan darinya," Key menggelengkan kepalanya, saat menyadari ada puluhan pesan tidak terbuka apalagi membalasnya.
Benar saja saat membalas satu pesan, Andreas langsung meneleponnya.
"Aku benar- benar minta maaf, melewatkan banyak pesan darimu."
"Tidak masalah, Key, "Apakah kau baik-baik saja?" tanyanya di ujung telepon.
"Tidak terjadi apa-apa padaku. Semua baik-baik saja.Terimakasih sudah mencemaskan,ku, "bagaimana dengan kabarmu?"
Andreas tertawa di ujung teleponnya. Dirinya merasa miris saat Key tidak membuka pesannya dan sekarang menanyakan kabarnya. lalu, kalau dirinya tidak menelepon, "apakah wanita itu akan
mengingatnya? Seperti halnya dirinya yang tidak berhenti untuk tidak memikirkannya setiap harinya?
"Aku baik-baik saja," akhirnya jawaban itu keluar dari bibirnya.
"Kau pasti menertawakanku. Aku memang sangat keterlaluan, "bagaimana bisa, aku melupakan orang yang pernah begitu baik padaku! sesalnya dengan di iringi tawa yang sama.
Sesaat kemudian terdengar tawa renyah keduanya, di iringi obrolan ringan sampai mereka lelah dan akhirnya memilih untuk
mematikan ponselnya.
Suara ketukan pintu terdengar dari luar mengagetkan,Key. Terlihat Jasson sudah berdiri dihadapannya, saat baru setengah daun pintu terbuka.
"Nona, belum tidur?"
"Jasson?"
__ADS_1
"Tuan muda menelpon, tetapi ponselnya nona terdengar sangat sibuk."
"Oh!! Aku baru saja menerima panggilan masuk, aku akan telepon, Raffael, sekarang," tangannya menutup pintu dengan tergesa.
Tangannya menekan tombol hijau dengan cepat, dan terdengar suara yang selalu dirindukannya terdengar sendu.
"Maaf, aku tidak tahu kau menelpon. Apakah kau sudah makan?"
"Sudah. Ponselmu sibuk sekali, "siapa yang sedang menelpon?"
Key berpikir sebentar, menyadari Raffael yang sensitif kalau berurusan dengan Andreas otaknya mulai mencari akal.
"Honey, aku banyak melewatkan pesan dari Andreas, dan tadi dia meneleponku lalu kami mengobrol," jelas Key was-was. Telinganya menajam menanti reaksi Raffael di ujung telepon.
"Ohh!! Apakah aku menganggu kalian?"
Deg...
"Kenapa bicara seperti itu? siapa yang bisa melarang saat kau menelponku?"
"Hemmm ..."
"Jangan tidur terlalu larut, selamat malam," Raffael segera mematikan panggilannya.
"Raffael...!" panggil, Key. Tetapi sudah tidak ada yang menyahut.
"Hah! Dimatikan? Secepat itu kau
menelpon, "apakah kau marah?" Netranya menatap layar untuk memastikan, tetapi tombol hijau tidak lagi menyala.
"Aku tahu, kalau kau cemburu," Key berinisiatif menelpon, tetapi tidak ada tanda-tanda, Raffael mengangkatnya.
Lalu dengan cepat tangannya menulis
sebuah pesan.
📩 Key
Apakah kau sedang marah? Sesingkat itu kau menelpon. Sejak sore aku menghubungimu, tetapi tidak kau angkat.
Apakah Jordan tidak memberitahumu?"
menyunggingkan senyum.
Tentu saja aku tahu, kau bertanya pada Jordan. Tetapi kau sudah keterlaluan. Apa yang sedang kalian bicarakan? Puluhan kali aku menelpon, apakah sekali
saja, kau tidak mendengar nada masuk di
ponselmu?
"Aku tidak mungkin mengangkat teleponmu, aku sedang bertaruh nyawa
saat peneror itu berusaha untuk melenyapkanku."
Raffael menatap layar ponselnya dan beberapa kali mengabaikan panggilan, Key. Ia tidak pernah meragukan Cinta Key, tetapi terlalu banyak berhubungan dengan Andreas melalui ponselnya, membuat Raffael tetap saja dilanda api cemburu.
Raffael menelpon kembali Jasson untuk mengecek semua fasilitas Mansion.
"Cek semua cctv, jangan sampai ada yang tidak menyala. Periksa sekeliling
Mansion, untuk memastikan tidak ada
alat penyadap yang terpasang. Dan mulai
hari ini Nona, Key, tidak diijinkan keluar sedikitpun, "apapun alasannya, kecuali
berolahraga outdoor di taman Mansion, "itupun Jangan terlalu jauh.
Raffael menarik napasnya dengan berat, dan menyuruh informan rahasianya untuk
menyelidiki siapa yang mencoba melenyapkannya, walaupun sudah bisa
menduganya tetapi Raffael butuh bukti
yang akurat.
Raffael menangkap,Key, yang sedang berusaha terus menelpon dan hanya
menerbitkan senyum kemenangan di
__ADS_1
wajahnya.
"Itu yang aku rasakan beberapa saat yang lalu, sayang. Tetapi bedanya aku
menelpon seseorang untuk memastikan
keberadaanmu dan keluarga aman, bukan asyik mengobrol dengan pecinta rahasiamu, seperti halnya kamu."
Raffael melempar ponselnya ke atas tempat tidur dan berusaha untuk memejamkan matanya. Sementara di
Mansion Key terlihat gelisah, saat Raffael tidak mengangkat teleponnya. Tetapi netranya menangkap halaman pesan Raffael yang selalu online dan terlihat
sangat sibuk.
"Ahhh!! Kau membalas ku!" sungutnya kesal, tetapi dia mencoba berpikiran positif. Dengan resah Key merebahkan tubuhnya untuk tidur tetapi tetap saja matanya sulit terpejam.
Beberapa kali dia mengecek ponselnya tetapi tidak ada tanda-tanda Raffael membalas pesannya.
📩 Key
Kau membuatku tidak tidur malam ini.
Berharap pesannya memancing Raffael untuk membalasnya, tetapi diujung sana, Raffael sudah terlelap pada sebuah mimpi, yang diharapkan bukan mimpi buruk yang menghampirinya.
"Mungkin kau sudah tidur," netranya melihat halaman pesan, Raffael, dan terlihat dua jam yang lalu Pria itu terakhir
melihat ponselnya.
Malam begitu sepi, hanya menyajikan keheningan yang terasa. Key menangkap
penjagaan yang lebih ketat dari biasanya dan membuat hatinya semakin cemas.
Kedua netranya terasa perih karena kantuk yang sudah menyerangnya dan
akhirnya pun terpejam.
Pagi menjelang, Key beranjak cepat membersihkan tubuhnya dan hendak keluar, untuk mencari cahaya matahari pagi di sekitar Mansion. Dengan dress bercorak pelangi yang menutup seluruh tubuhnya, membuatnya nyaman dengan hawa dingin yang menyerangnya.
"Nona di luar sangat dingin," Jasson mendekat mendapati Key yang terus melangkah berjalan keluar."
"Aku hanya ingin berjemur sebentar, mumpung ada cahaya matahari keluar. Tidak perlu mengikutiku, tidak akan jauh," Perintahnya.
Jasson tersenyum dan memperhatikan Key dari jarak aman. Jasson tahu nona muda kesayangan tuannya itu, sedang mencari suasana baru. Raffael tidak bisa
dihubungi dan membuatnya gundah.
Diam-diam Jasson mengambil gambar
lalu di kirimkan kepada Raffael yang masih berada di kediaman pribadinya.
"Tuan muda, apakah kau bisa melewatkan untuk tidak datang kemari, kalau melihat Nona seperti ini?"
"Hey siapa yang menyuruhmu untuk mengambil gambarnya, hapus!"hardik Raffael. Tetapi kemudian terdengar tawa di ujung teleponnya, saat menangkap
nada suara gugup Jasson.
"Tuan muda, kau membuatku takut saja! Saya hanya ingin memberitahukan kepada Tuan muda, bahwa Nona mungkin berharap kedatanganmu."
"Hemmm....
Pasca penyerangan itu,Raffael tidak ke kantor untuk mengambil jeda. Tetapi menolak, untuk tidak datang melihat kekasih hatinya?" Bibirnya tersenyum
menatap,Key, yang sangat cantik sedang duduk menikmati hangatnya sinar matahari.
"Aku benar-benar akan menghukummu dengan sangat manis, karena sudah mengabaikan telepon ku," senyumnya terlihat semakin manis dan bergegas meluncur ke mansion. Ada banyak hal
yang ingin Raffael periksa seputar keamanan Mansion, setelah memastikan
kediaman utama keluarga besar Wijaya aman dibawah pengawasan Jordy.
____________________
Catatan penulis:
Sahabat tersayang, 😘
Jangan lupa untuk tinggalkan like dan komentarnya, ya. Terimakasih🙏
__ADS_1