Misi Cinta CEO Tampan

Misi Cinta CEO Tampan
37. Penjara tua


__ADS_3

Di Mansion keluarga Wijaya.


Angin berdesir halus, menawarkan rasa dingin yang menusuk kulit. Walaupun sang surya sudah mulai menampakkan


sinarnya. Sensasi dingin dan hangat dari


hembusan angin dan cahaya matahari pagi, silih berganti menerpa kulitnya yang


halus.


Seakan tidak pernah bosan, untuk mengaggumi panorama alam yang


masih sangat natural, membuatnya betah untuk berlama-lama duduk di luar Mansion.


Rambutnya sedikit berantakan, membuat wajahnya semakin terlihat ****, dengan baju warna putih yang membungkus tubuh indahnya. Matanya terpejam seakan dia menikmati aroma terapi yang


membuat pikirannya menjadi lebih fresh.



Key masih Dejavu dengan keberadaanya saat ini. Raffael membeli Mansion dikawasan yang masih sangat alami, dengan desain kastil Prancis modern impian masa kecilnya. Bermimpi menjadi seorang putri laksana dari negeri dongeng, itulah celotehan masa kecil,Key.


Raffael benar-benar masih mengingatnya


dan itu membuatnya sangat terharu dan sekaligus bahagia. Matanya berbinar terang menampakann iris matanya yang bening. Tidak disangka olehnya, selama ini Raffael diam-diam melakukan


sesuatu yang luar biasa untuk hidupnya, dan juga pada hatinya.


Tanpa semua ini pun, tidak ada yang akan mengubah segalanya. Harta kekayaan adalah titipan Tuhan dan jangan sekali kau mendewakannya, tetapi


memiliki cinta yang sepertimu, aku akan


memanggilmu dewa cintaku.


Seutas senyumnya kembali terbit, dan digelengkan kepalanya dengan perlahan.


Aku tidak tahu, kalau mencintaimu bisa seindah ini. Setiap mata ini terbuka dan


melihatmu di sisiku, aku tidak akan berhenti berucap terimakasih telah memaksaku jatuh cinta padamu saja.


Roda kehidupan yang berubah seratus delapan puluh derajat, membuatnya harus mengubur khayalan masa kecilnya.


Hidup bergelimang kemewahan, kemudian tidak mempunyai apa-apa, membuatnya tumbuh menjadi wanita yang lebih kuat, dan bijaksana dalam memahami misteri kehidupan yang tidak


selamanya indah.


Walaupun sikapnya yang sederhana dan dermawan memang sudah melekat pada


dirinya. Hal ini membuatnya lebih mudah


untuk menyesuaikan dengan keadaan, sesulit apapun yang pernah dialaminya.


"Aku tidak menyangka, kau mengingat, ucapan masa remajaku yang sedikit ngelantur itu," senyumnya tidak pernah pudar dari sudut bibirnya yang tipis. Hidungnya sangat mancung, sepasang


bola mata yang indah, dengan postur tinggi semampai dan mempunyai rambut yang panjang, menghitam serta tebal, membuatnya selalu menonjol menarik


perhatian lawan jenis yang melihatnya. Apalagi otak encernya yang sudah menjadi ciri khasnya, membuat pewaris tunggal Tirtawijaya group itu di gilai pria kaya raya disekitarnya.


Tampak beberapa bodyguard mengawasi dari jauh. Hari ini dia cuti selama tiga hari, sesuai yang di setujui oleh, Andreas.


Walaupun kebebasannya berkurang, tetapi setidaknya Ia sangat bahagia. Ponselnya kembali terdengar sangat sibuk. Teman-temannya, beramai- ramai mencarinya, wajahnya tidak tampak di butik, dan juga tidak terlihat di rumah, membuat teman-temannya berbondong- bondong menanyakannya.


"Aku sedang diluar kota, dengan keluarga, untuk menikmati waktu cuti yang saya ambil," bohongnya. Bibir mungilnya tidak


berhenti berceloteh dan sesekali Ia memamerkan senyum lebarnya yang menampakan deretan giginya yang putih dan rapi.


Key merenggangkan otot-ototya, sehari saja tidak beraktivitas membuat seluruh badannya terasa kaku.



Hari ini rencananya kedua orang tua Raffael akan datang. Dan dia ingin


sekali menyambutnya, dan menyediakan makanan kesukaan untuk mereka. Kegemarannya meracik masakan memang tidak bisa diragukan lagi.


Penyuka masakan oriental dan western food ini paling gemar berlama-lama di pantry, selain kegemarannya mendesain


yang sudah mendarah dagingnya padanya.


"Nona, hari mulai panas, sebaiknya nona masuk."


"Hemm ... kalian tidak perlu mengawasiku, "bukankah ini cuma di luar

__ADS_1


mansion saja?" balasnya ramah. Tanpa protes sedikitpun tubuhnya beranjak dengan malas, kicauan burung yang bersautan sedikit mengalihkan perhatiannya dan menerbitkan senyum yang tidak akan pernah ada habisnya.


Kembali key menatap keluar sebelum pada akhirnya Ia masuk ke mansion.


"Sampai di sini saja.Terimakasih," Para


body guard itu hanya mengangguk lalu


badan tegap mereka berbalik.


🍁🍁🍁


Sementara itu Nova yang merasakan sesuatu yang aneh dengan jalanan yang sedang dilewatinya, beberapa kali menanyakannya dengan berang.


"Apakah kalian tidak salah jalan, lewat sini?! Jalanan sangat rusak dan sangat sempit, tidak mungkin orang seperti Raffael memilih tempat seperti ini!" Kilat amarahnya meluap saat kedua matanya bersiborok dengan Jasson.


"Kenapa Nona? Apakah Nona tidak siap tinggal ditempat yang Jelek? Bagaimana


kalau Tuan muda mendadak bangkrut? Apakah Nona masih mau dengannya?" Jordan memicingkan matanya, sudut bibirnya terangkat dengan senyum mengejek menampakkan wajahnya yang


sangat menyebalkan.


"Dasar bodoh! Beraninya kau bicara seperti itu, padaku! Apakah kau lupa


untuk bercermin dan menunjukkan siapa dirimu?!" Ketusnya. Bibirnya yang tipis


semakin terlihat meruncing saat terkatup


dengan wajah tersungut-sungut.


"Kali ini aku pastikan, Raffael akan memecatnmu, dasar bodoh!"


"Tetapi inilah tempat yang cocok untuk Nona, dan saya hanya menjalankan perintahnya saja!" Tuan muda menyediakan tempat istimewa untuk Nona dan ke empat teman Nona, " ejeknya.


"Apa maksudmu?!" Bola matanya


membeliak seakan mau keluar dari kelopaknya.


"Lihatlah ke depan, Nona, Instana anda sudah siap sedia."


Jasson menurunkan kaca mobilnya dengan pelan.


Sebuah gedung tua, dikelilingi dengan pohon-pohon yang sedang berguguran


mengerikan. Belum lagi penerangan yang


sangat kurang, membuat gedung terlihat


gelap dengan lumut menghijau disetiap


sudut tembok bagian luarnya.


Lokasinya yang sangat terpencil dari pemukiman, hanya menampakkan gedung itu seakan-akan berdiri kokoh


seorang diri saja. Penjagaan sangat ketat


oleh manusia bertopeng gelap membuat Nova bergidik ketakutan setengah mati.


Nova yang menyadari sesuatu yang tidak beres terjadi, meronta-ronta dan hendak


loncat dari mobil tetapi dengan cekatan anak buah jasson memasang borgol ditangannya.


"Diaaamm!! Atau kami akan menyeretmu!" Hardik Jasson dengan suara yang meninggi memenuhi seisi mobil.


"Kurang ajar! Kalian benar-benar brengsek, tidak tahu diri," kakinya


menendang tissue paper box holder


yang terletak pada sandaran kursi yang diduduki oleh Jasson, hingga terpental


mengenai salah satu anak buahnya.


Suara gaduh terdengar, dengan sangat terpaksa jasson dan anak buahnya memborgol kaki Nova dan menyeretnya keluar mobil lalu memanggulnya.


Tubuhnya yang tinggi dan besar tidak sedikitpun menemui kendala. Jasson berjalan dengan langkah lebar menyusuri


lorong-lorong gelap yang menyeramkan.


Bahu anyir karena lembabnya udara, sangat menyengat. Besi-besi tua yang masih terlihat kokoh menjadi pemandangan mencekam ruang bawah tanah dalam penjara.


Nova meronta- meronta tidak karuan. Suaranya terdengar berisik dan sumpah serapah dari mulut jeleknya semakin memekan telinga.

__ADS_1


"Diam!! Atau akan aku jatuhkan tubuhmu


di sini!! Dengar Nona, ini lebih baik dari pada aku harus menyeretmu!" hardik Jasson sekali lagi. Jemarinya yang besar-besar mencengkram tubuhnya dengan kasar memperlihatkan ototnya


yang keluar semua.


"Inilah hadiah spesial dari Tuan muda, Raffael, bicaralah sebelum mulutmu tersumpal, nona!" Jasson melemparkan


tubuhnya pada kursi dan mengikatnya dengan kencang.


"Kurang ajarrrrrr!!! Biadap! dasar bodoh! Orang tidak berguna! Terkutuk kau!" Nova teriak histeris, matanya membeliak-


beliak berkilat amarah. Rambutnya yang panjang berurai berantakan tidak karuan, menampilkan wajahnya yang semakin kacau.


Dengan bibir bergetar menahan amarah, matanya menatap jasson yang berdiri dihadapannya.


Ini tidak mungkin, pasti aku salah lihat.


Raffael menjebakku.


"Sial...!!!!!"


"Hendaknya kau berterimakasih, Tuan muda masih memberimu hidup, terlepas


apa yang dilakukan keluargamu,terhadap


keluarga Tirtawijaya, Bahkan orangtuamu menganggapnya nyawa adalah sebagai mainan saja," Jasson memutar badannya


berjalan mengelilingi kursi yang mengikat tubuh Nova. Tangannya memutar- mutar selambar kain yang akan digunakan


untuk menyumpal mulut kotor wanita tersebut.


"lihatlah mereka, sebentar lagi kau akan


bernasib sama," tangannya meraih saklar lampu dan menyalakannya. Terlihat dua


orang mata-mata yang sedang duduk lemas tak berdaya terikat pada kursi yang sama.


Orang suruhan Dave! Benar-benar bodoh! tidak bisa diandalkan. Kurang ajar kau, Raffael.


"Menyenangkan bukan?" Jasson menautkan sebelah alisnya dan meraih tas Nova. Tawa jasson pecah saat menemukan obat perangsang itu dalam


tasnya dan memutarnya di depan wajahnya.


"Luar biasa Nona! Tetapi sepertinya kau


harus meminumnya seorang diri," sinis Jasson.


"Pengawal!! minumkan ini padanya," teriaknya. Nova meronta- ronta dan


mengatupkan mulutnya rapat-rapat.


Badannya bergerak tidak beraturan, menggesek- gesek pada kursi besi itu


hingga lengannya memerah.


Tawa Jasson menggelegar, setelah anak buahnya itu berhasil meminumkan obatnya ke mulut wanita itu. Dan menyumpal mulutnya dengan cepat.


"Apakah kau masih ingin berbicara?! Ohhh, rupanya kau memilih untuk diam," Seringi Jasson. Wajahnya sedikit mendekat hingga napasnya terasa hangat menyapu wajah Nova.


"Dengar, Nona!" telunjuk jasson menarik dagu Nova dengan kasar, kilatan matanya manatap penuh kebencian saat


iris hezel milik Jasson bersiborok dengannya.


"Darriel sastra negara, Darren sastra negara alias Danu purba sebentar lagi akan menyusulmu dan membusuk dipenjara, bersiaplah!"


Jordan memicingkan matanya dan pergi dengan gaya perlentenya yang amat sangat menyebalkan.


"Awasi mereka dan jangan sampai lengah, tidak lama lagi Tuan muda yang


akan menyeretnya ke dalam penjara," perintahnya tegas.


VISUAL JASSON



_______________


Sahabat tersayang 🌹


Ambil hikmahnya yang baik-baik saja, dan tinggalkan yang tidak baik,ya!

__ADS_1


Jangan lupa like dan komennya Terimakasih πŸ™πŸ™


__ADS_2