
Di Mansion keluarga Wijaya.
Angin berdesir halus, menawarkan rasa dingin yang menusuk kulit. Walaupun sang surya sudah mulai menampakkan
sinarnya. Sensasi dingin dan hangat dari
hembusan angin dan cahaya matahari pagi, silih berganti menerpa kulitnya yang
halus.
Seakan tidak pernah bosan, untuk mengaggumi panorama alam yang
masih sangat natural, membuatnya betah untuk berlama-lama duduk di luar Mansion.
Rambutnya sedikit berantakan, membuat wajahnya semakin terlihat ****, dengan baju warna putih yang membungkus tubuh indahnya. Matanya terpejam seakan dia menikmati aroma terapi yang
membuat pikirannya menjadi lebih fresh.
Key masih Dejavu dengan keberadaanya saat ini. Raffael membeli Mansion dikawasan yang masih sangat alami, dengan desain kastil Prancis modern impian masa kecilnya. Bermimpi menjadi seorang putri laksana dari negeri dongeng, itulah celotehan masa kecil,Key.
Raffael benar-benar masih mengingatnya
dan itu membuatnya sangat terharu dan sekaligus bahagia. Matanya berbinar terang menampakann iris matanya yang bening. Tidak disangka olehnya, selama ini Raffael diam-diam melakukan
sesuatu yang luar biasa untuk hidupnya, dan juga pada hatinya.
Tanpa semua ini pun, tidak ada yang akan mengubah segalanya. Harta kekayaan adalah titipan Tuhan dan jangan sekali kau mendewakannya, tetapi
memiliki cinta yang sepertimu, aku akan
memanggilmu dewa cintaku.
Seutas senyumnya kembali terbit, dan digelengkan kepalanya dengan perlahan.
Aku tidak tahu, kalau mencintaimu bisa seindah ini. Setiap mata ini terbuka dan
melihatmu di sisiku, aku tidak akan berhenti berucap terimakasih telah memaksaku jatuh cinta padamu saja.
Roda kehidupan yang berubah seratus delapan puluh derajat, membuatnya harus mengubur khayalan masa kecilnya.
Hidup bergelimang kemewahan, kemudian tidak mempunyai apa-apa, membuatnya tumbuh menjadi wanita yang lebih kuat, dan bijaksana dalam memahami misteri kehidupan yang tidak
selamanya indah.
Walaupun sikapnya yang sederhana dan dermawan memang sudah melekat pada
dirinya. Hal ini membuatnya lebih mudah
untuk menyesuaikan dengan keadaan, sesulit apapun yang pernah dialaminya.
"Aku tidak menyangka, kau mengingat, ucapan masa remajaku yang sedikit ngelantur itu," senyumnya tidak pernah pudar dari sudut bibirnya yang tipis. Hidungnya sangat mancung, sepasang
bola mata yang indah, dengan postur tinggi semampai dan mempunyai rambut yang panjang, menghitam serta tebal, membuatnya selalu menonjol menarik
perhatian lawan jenis yang melihatnya. Apalagi otak encernya yang sudah menjadi ciri khasnya, membuat pewaris tunggal Tirtawijaya group itu di gilai pria kaya raya disekitarnya.
Tampak beberapa bodyguard mengawasi dari jauh. Hari ini dia cuti selama tiga hari, sesuai yang di setujui oleh, Andreas.
Walaupun kebebasannya berkurang, tetapi setidaknya Ia sangat bahagia. Ponselnya kembali terdengar sangat sibuk. Teman-temannya, beramai- ramai mencarinya, wajahnya tidak tampak di butik, dan juga tidak terlihat di rumah, membuat teman-temannya berbondong- bondong menanyakannya.
"Aku sedang diluar kota, dengan keluarga, untuk menikmati waktu cuti yang saya ambil," bohongnya. Bibir mungilnya tidak
berhenti berceloteh dan sesekali Ia memamerkan senyum lebarnya yang menampakan deretan giginya yang putih dan rapi.
Key merenggangkan otot-ototya, sehari saja tidak beraktivitas membuat seluruh badannya terasa kaku.
Hari ini rencananya kedua orang tua Raffael akan datang. Dan dia ingin
sekali menyambutnya, dan menyediakan makanan kesukaan untuk mereka. Kegemarannya meracik masakan memang tidak bisa diragukan lagi.
Penyuka masakan oriental dan western food ini paling gemar berlama-lama di pantry, selain kegemarannya mendesain
yang sudah mendarah dagingnya padanya.
"Nona, hari mulai panas, sebaiknya nona masuk."
"Hemm ... kalian tidak perlu mengawasiku, "bukankah ini cuma di luar
__ADS_1
mansion saja?" balasnya ramah. Tanpa protes sedikitpun tubuhnya beranjak dengan malas, kicauan burung yang bersautan sedikit mengalihkan perhatiannya dan menerbitkan senyum yang tidak akan pernah ada habisnya.
Kembali key menatap keluar sebelum pada akhirnya Ia masuk ke mansion.
"Sampai di sini saja.Terimakasih," Para
body guard itu hanya mengangguk lalu
badan tegap mereka berbalik.
πππ
Sementara itu Nova yang merasakan sesuatu yang aneh dengan jalanan yang sedang dilewatinya, beberapa kali menanyakannya dengan berang.
"Apakah kalian tidak salah jalan, lewat sini?! Jalanan sangat rusak dan sangat sempit, tidak mungkin orang seperti Raffael memilih tempat seperti ini!" Kilat amarahnya meluap saat kedua matanya bersiborok dengan Jasson.
"Kenapa Nona? Apakah Nona tidak siap tinggal ditempat yang Jelek? Bagaimana
kalau Tuan muda mendadak bangkrut? Apakah Nona masih mau dengannya?" Jordan memicingkan matanya, sudut bibirnya terangkat dengan senyum mengejek menampakkan wajahnya yang
sangat menyebalkan.
"Dasar bodoh! Beraninya kau bicara seperti itu, padaku! Apakah kau lupa
untuk bercermin dan menunjukkan siapa dirimu?!" Ketusnya. Bibirnya yang tipis
semakin terlihat meruncing saat terkatup
dengan wajah tersungut-sungut.
"Kali ini aku pastikan, Raffael akan memecatnmu, dasar bodoh!"
"Tetapi inilah tempat yang cocok untuk Nona, dan saya hanya menjalankan perintahnya saja!" Tuan muda menyediakan tempat istimewa untuk Nona dan ke empat teman Nona, " ejeknya.
"Apa maksudmu?!" Bola matanya
membeliak seakan mau keluar dari kelopaknya.
"Lihatlah ke depan, Nona, Instana anda sudah siap sedia."
Jasson menurunkan kaca mobilnya dengan pelan.
Sebuah gedung tua, dikelilingi dengan pohon-pohon yang sedang berguguran
mengerikan. Belum lagi penerangan yang
sangat kurang, membuat gedung terlihat
gelap dengan lumut menghijau disetiap
sudut tembok bagian luarnya.
Lokasinya yang sangat terpencil dari pemukiman, hanya menampakkan gedung itu seakan-akan berdiri kokoh
seorang diri saja. Penjagaan sangat ketat
oleh manusia bertopeng gelap membuat Nova bergidik ketakutan setengah mati.
Nova yang menyadari sesuatu yang tidak beres terjadi, meronta-ronta dan hendak
loncat dari mobil tetapi dengan cekatan anak buah jasson memasang borgol ditangannya.
"Diaaamm!! Atau kami akan menyeretmu!" Hardik Jasson dengan suara yang meninggi memenuhi seisi mobil.
"Kurang ajar! Kalian benar-benar brengsek, tidak tahu diri," kakinya
menendang tissue paper box holder
yang terletak pada sandaran kursi yang diduduki oleh Jasson, hingga terpental
mengenai salah satu anak buahnya.
Suara gaduh terdengar, dengan sangat terpaksa jasson dan anak buahnya memborgol kaki Nova dan menyeretnya keluar mobil lalu memanggulnya.
Tubuhnya yang tinggi dan besar tidak sedikitpun menemui kendala. Jasson berjalan dengan langkah lebar menyusuri
lorong-lorong gelap yang menyeramkan.
Bahu anyir karena lembabnya udara, sangat menyengat. Besi-besi tua yang masih terlihat kokoh menjadi pemandangan mencekam ruang bawah tanah dalam penjara.
Nova meronta- meronta tidak karuan. Suaranya terdengar berisik dan sumpah serapah dari mulut jeleknya semakin memekan telinga.
__ADS_1
"Diam!! Atau akan aku jatuhkan tubuhmu
di sini!! Dengar Nona, ini lebih baik dari pada aku harus menyeretmu!" hardik Jasson sekali lagi. Jemarinya yang besar-besar mencengkram tubuhnya dengan kasar memperlihatkan ototnya
yang keluar semua.
"Inilah hadiah spesial dari Tuan muda, Raffael, bicaralah sebelum mulutmu tersumpal, nona!" Jasson melemparkan
tubuhnya pada kursi dan mengikatnya dengan kencang.
"Kurang ajarrrrrr!!! Biadap! dasar bodoh! Orang tidak berguna! Terkutuk kau!" Nova teriak histeris, matanya membeliak-
beliak berkilat amarah. Rambutnya yang panjang berurai berantakan tidak karuan, menampilkan wajahnya yang semakin kacau.
Dengan bibir bergetar menahan amarah, matanya menatap jasson yang berdiri dihadapannya.
Ini tidak mungkin, pasti aku salah lihat.
Raffael menjebakku.
"Sial...!!!!!"
"Hendaknya kau berterimakasih, Tuan muda masih memberimu hidup, terlepas
apa yang dilakukan keluargamu,terhadap
keluarga Tirtawijaya, Bahkan orangtuamu menganggapnya nyawa adalah sebagai mainan saja," Jasson memutar badannya
berjalan mengelilingi kursi yang mengikat tubuh Nova. Tangannya memutar- mutar selambar kain yang akan digunakan
untuk menyumpal mulut kotor wanita tersebut.
"lihatlah mereka, sebentar lagi kau akan
bernasib sama," tangannya meraih saklar lampu dan menyalakannya. Terlihat dua
orang mata-mata yang sedang duduk lemas tak berdaya terikat pada kursi yang sama.
Orang suruhan Dave! Benar-benar bodoh! tidak bisa diandalkan. Kurang ajar kau, Raffael.
"Menyenangkan bukan?" Jasson menautkan sebelah alisnya dan meraih tas Nova. Tawa jasson pecah saat menemukan obat perangsang itu dalam
tasnya dan memutarnya di depan wajahnya.
"Luar biasa Nona! Tetapi sepertinya kau
harus meminumnya seorang diri," sinis Jasson.
"Pengawal!! minumkan ini padanya," teriaknya. Nova meronta- ronta dan
mengatupkan mulutnya rapat-rapat.
Badannya bergerak tidak beraturan, menggesek- gesek pada kursi besi itu
hingga lengannya memerah.
Tawa Jasson menggelegar, setelah anak buahnya itu berhasil meminumkan obatnya ke mulut wanita itu. Dan menyumpal mulutnya dengan cepat.
"Apakah kau masih ingin berbicara?! Ohhh, rupanya kau memilih untuk diam," Seringi Jasson. Wajahnya sedikit mendekat hingga napasnya terasa hangat menyapu wajah Nova.
"Dengar, Nona!" telunjuk jasson menarik dagu Nova dengan kasar, kilatan matanya manatap penuh kebencian saat
iris hezel milik Jasson bersiborok dengannya.
"Darriel sastra negara, Darren sastra negara alias Danu purba sebentar lagi akan menyusulmu dan membusuk dipenjara, bersiaplah!"
Jordan memicingkan matanya dan pergi dengan gaya perlentenya yang amat sangat menyebalkan.
"Awasi mereka dan jangan sampai lengah, tidak lama lagi Tuan muda yang
akan menyeretnya ke dalam penjara," perintahnya tegas.
VISUAL JASSON
_______________
Sahabat tersayang πΉ
Ambil hikmahnya yang baik-baik saja, dan tinggalkan yang tidak baik,ya!
__ADS_1
Jangan lupa like dan komennya Terimakasih ππ