Misi Cinta CEO Tampan

Misi Cinta CEO Tampan
66. Kencan kilat


__ADS_3

Kamu bilang ada yang ingin kamu bicarakan? Raffael mendekat ke arah Key yang duduk dengan mata menerawang jauh. Mereka berdua sedang menikmati birunya pantai yang terlihat begitu indah. Ini adalah pertama kalinya mereka berkencan keluar dengan status Key sebagai tunangan resminya.



"Hemm... maksudku, Aku ingin  membantumu dengan bekerja di kantor, "apakah kau mengijinkan?" tanyanya hati-hati.


Raffael tersenyum menatap Key dan perlahan meraih jemari tangannya dan menggenggamnya dengan lembut.


"Apakah semua ini karena perkataanku waktu itu?" Cara, maafkan aku. Aku tidak bermaksud___"


"Bukan begitu maksudku,"potongnya cepat. Mungkin ini terlambat, tetapi setelah aku pikir-pikir, kamu benar. Aku sama sekali tidak peduli padamu, padahal kamu sudah bekerja keras untuk keluargaku, dan aku membiarkanmu berjuang sendirian, "ucapnya menundukkan kepalanya.


"Tidak sayang, untuk urusan pekerjaan aku tidak benar-benar mengucapkannya begitu. Itu adalah kecemburuanku pada Andreas semata. Sudah saatnya kamu beristirahat, selama ini kamu sudah bekerja keras mengambil tanggung jawab untuk keluargamu, setelah papa Tirtawijaya sakit-sakitan," Raffael menatap lembut kedua netra key.


"Tapi kamu akan semakin sibuk, Raffael."


"Itu adalah tanggung jawabku sebagai seorang laki-laki," jawabnya tegas. Memang, aku akui, "aku ingin kau bekerja dikantorku saat itu. Membantuku, karena semata-mata, aku tidak ingin melihatmu susah,  Aku sangat kecewa waktu itu, karena kau lebih memilih bekerja dengan Andreas di banding aku," ujar Raffael jujur.


"Raffael, jangan membuatku merasa bersalah terus... ujarnya pelan."


"Sayang, aku tidak benar-benar mengucapkannya begitu dari dasar hatiku. Aku bahkan lebih suka kau tidak bekerja dan menggantungkan hidupmu padaku," Keduanya saling memeluk dengan sayang dan saling mengecup dengan lembut.


"Perusahaan itu tetap milikmu, tetapi aku yang mengendalikannya dan hasilnya akan aku transfer ke rekeningmu dan juga papamu setiap bulannya," jawab Raffael lagi."


"Kamu membiarkanku enak-enakan di rumah, sementara kamu semakin sibuk dengan semua urusan kantor."


"Akan ada ferdi yang akan membantuku untuk mengurusnya. Bukannya aku mengekangmu, tetapi istirahatlah. Cukup jadi istri yang baik untukku dan anak-anakku," ucapan, Raffael membuat


matanya berkaca-kaca. Pipinya bersemu merah dengan degup jantung yang semakin kencang.


"Maafkan ucapanku waktu itu. Aku tahu itu sangat keterlaluan dan menyakitimu. Setelah kita menikah, aku hanya ingin kau beristirahat total, dengan mendampingiku. Memberikan dukungan dan setiap saat selalu ada untuk ku. Itu sudah lebih dari apapun."


Key terharu mendengarnya.Tidak disangkanya, Raffael selama ini diam-diam begitu mencintainya dan selalu mengutamakan kebahagiaannya dan keluarganya. Dalam hati, Ia juga sudah menduga Raffael tidak akan mengizinkannya untuk bekerja lagi.

__ADS_1


"Pasti ingin menangis lagi."


"Terimakasih sudah begitu mencintaiku," ucapnya dengan air mata yang sudah mengembang di pelupuk matanya.


"Karena hati ini cuma ingin mencintaimu, dari dahulu, saat ini dan yang akan datang," jawabnya pasti. Raffael tersenyum lalu dengan lembut dia mengusap air matanya yang sudah tidak sanggup dibendung lagi, lalu memeluknya dengan sayang.


"Baby, Mami, menginginkan kita periksa kesehatan sebelum menikah." 


"Periksa kesehatan?" Raffael sedikit menarik dirinya. Netranya tidak terlepas dari tatapan mata elang, Raffael.


"Maksudku,hemm ...  supaya begitu kita menikah, kita jauh lebih siap menjadi orang tua," Raffael tersenyum yang seketika membuat, Key kembali tersipu malu mendengarnya.


Orang tua? Anak? Apakah akan secepat itu.


"Mami sudah menjadwalkan kita, bertemu dengan seorang dokter kandungan untuk konsultasi besok," jelasnya.


"Besok ...? Key menatap heran sementara Raffael terlihat santai saja.


"Bukan begitu. Maksudku. Terserah padamu mu saja, aku menurut," jawabnya


malu-malu.


Sepertinya mereka sudah sangat merindukan seorang cucu, apakah akan secepat itu? Oh, Tuhan, "kenapa kalau sudah berurusan dengan keturunan, aku sangat nervous sekali. Semoga semua baik-baik saja cuma itu yang mereka harapakan dariku. Yang membuat kedua orang tua Raffael dan orang tuanya bahagia,"batin key. Jantungnya berdegup kencang hanya dengan membayangkan saja.


Apakah Raffael akan ....ahh! Pikiran apa ini! Buru-buru Key mengalihkan pikirannya, saat bayangan malam panas yang bakal mereka lewatkan bersama. Key pipinya bersemu merah dan menarik perhatian Raffael yang duduk disampingnya.


"Sayang, apakah kau baik-baik saja?"


"Hemm... aku baik-baik saja," jawabnya gugup.


"Apakah kau sedang membayangkannya sayang," goda Raffael dengan terkekeh. Tidak dipungkiri dalam dirinya, membayangkan Key hamil dan mengandung buah hatinya, pasti akan membuatnya sangat bahagia dan terasa sempurna untuk dirinya begitupun keluarga besarnya.


"Tidak perlu segugup itu, Cara, aku akan pelan-pelan di malam pertama kita," bisiknya ****.

__ADS_1


Blusshh... wajah key seketika memerah, tidak dipungkiri juga olehnya, ia begitu nervous, bahkan hanya mengingantnya saja sudah membuat jantungnya berdebar-debar tidak karuan seperti hendak melompat keluar.


Plakkk!


"Ahh, Kau selalu saja mesum!"


"Apakah kau tidak merindukannya, Cara," seloroh Raffael sambil tersenyum smirk."


"Raffael, jangan keras-keras! Tidak enak kalau ada yang mendengar," Key memasang wajah cemberut dan membuat Raffael semakin gemas melihatnya. Raffael terkekeh dan menarik kepala key untuk menyandar di bahunya.


"Baby aku menyewa pulau ini untuk kencan kita berdua saja." Key menoleh sekitar dan benar-benar sepi. Hanya ada penjaga yang terlihat sangat jauh, bahkan nyaris tidak terlihat. Ombak pantai bergulung pelan dan memecahkan buih-buih berwarna putih yang kontras dengan warna air laut yang sangat biru.


"Tenang saja. Apapun hasilnya, pemeriksaan besok tidak akan sedikitpun, mempengaruhi rasa cintaku kepadamu. Itu hanyalah sebuah proteksi atau preventif, bila ada hal-hal yang tidak diinginkan," Raffael menenangkan Key


dengan sayang. Bagaimanapun keinginan memiliki buah hati sangatlah kuat karena keduanya terlahir sebagai anak tunggal.


Begitupun keluarga Raffael, mengadopsi seorang anak sudah bukan pilihan, mungkin tidak akan terjadi, setelah peristiwa masa lalu yang begitu kelam dan menyakitkan.


"Cara, kita cuma berusaha untuk membahagiakan mereka, jangan terbebani dengan semua itu, bukankah kita belum mencobanya, sayang," bisik Raffael yang seketika membuat key meremang seluruh tubuhnya.


Key memejamkan matanya, Raffael benar-benar membuatnya panas dingin. Cintanya dan keluarganya yang begitu besar, tidak dipungkiri terkadang membuatnya terbebani. Ada rasa yang membuncah dalam dirinya ingin senantiasa membuat mereka bahagia dan menyakinkan diri sendiri bahwa Raffael menikahi dirinya adalah tidak pernah salah. Karena itu key sangat berhati-hati menempatkan dirinya di depan keluarga Raffael yang bukan orang sembarangan karena tidak ingin mengecewakannya.


"Apakah malam ini kita perlu menginap di sebuah resort sekitar sini, sayang."


"Raffael! Key menatapnya horor."


______________________


Catatan penulis:


Sahabat tersayang 🌹


Jangan lupa untuk like dan komennya, ya!

__ADS_1


__ADS_2