
Seorang laki-laki berumur sekitar enam puluh tahun lebih, sedang duduk menatap lurus kedepan. Iris mata birunya terlihat menajam, dengan tangannya memutar memainkan segelas wine yang berada dalam genggamannya.
Hatinya mulai tidak tenang merasa ada, yang sedang mengusik kursi nyamannya.
Napasnya memberat menyadari ada yang mulai mengendus jati dirinya.Dan mengusik masalalunya. Bertahun-tahun,
Darriel sastra negara memperalat seorang adiknya, Darren sastra negara, alias Danu purba untuk mengendalikan
perusahaannya.
Bahkan belakangan dengan tamaknya, memasang jaring melalui putrinya dan berkonspirasi dengan keluarga Bayu,
karena adanya kesamaan tujuan.
Yaitu menghancurkan Antara group dan
meratakannya dengan tanah, seperti yang dialami oleh Tirta wijaya group dimasa lalu.
"Kurang ajar, kenapa ada kejanggalan secara bersamaan? Darriel terganggu
dengan aparat penegak hukum yang mengendus perbuatan tidak terpujinya.
Ia diduga menyalahgunakan wewenang
jabatannya, dengan menerima suap berkaitan dengan kasus perijinan mendirikan usaha beberapa perusahaan,
tanpa memandang keamanan lingkungan
sekitarnya.
"Sial! Ini sangat berbahaya! Belum juga kasus dengan Tirta Wijaya. Mata-mata itu
tiada kembali, begitupun dengan Nova. Kenapa anak itu mendadak tidak mengaktifkan ponselnya?" Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres. Tangan lelaki itu mencoba melakukan panggilan berkali-kali kepada putri kesayangannya itu.
"Ayolah, sayang, angkat teleponnya! Jangan membuat papa cemas! Nova
apa ada sesuatu yang terjadi?" Lelaki
itu mengeraskan rahangnya dan melempar ponselnya ke sofa lalu duduk
dengan gelisah."
Kembali Darriel menenggak wine nya sampai tidak bersisa. Kepalanya disandarkan di sofa dengan berbagai pikiran yang berkecamuk dalam benaknya.
"Ini semua gara-gara Danu purba alias Darren yang ceroboh, tidak menyadari
ada penyusup masuk, sehingga status
perusahaan NAM GROUP dipertanyakan."
"Begitu pun mata-mata yang di kirim oleh
Dave, untuk meretas data penting Antara,
yang mendadak hilang bagai ditelan bumi. Pasti mereka telah buka mulut, "Dan ini benar-benar berbahaya.
Aku harus mencari cara, kalau sampai diketahui NAM GROUP berdiri dari uang perusahaan Tirta Wijaya, tamat sudah riwayatku. Aku harus memaksa Handoko untuk tidak buka mulut, "Bagaimapun
mantan manager keuangan itu adalah saksi kunci satu-satunya yang melihat
perbuatan kotorku.
Alarm bahaya, Darriel berbunyi setiap saat mengingatkan dirinya.
πππ
Di Mansion Keluarga Wijaya
Key berkutat di pantry. Tangannya sibuk
mengeluarkan organic fresh fruits and vegetables dan juga beef tenderloin serta Chiken breast untuk membuat steak dari refigerator.
Hari ini, Ia ingin membuat steak, salat, sayur dan smoothies buah segar untuk menyambut keluarga besar, Raffael. Bahkan, saking sibuknya, beberapa kali Ia
melewatkan panggilan telepon masuk dari orang-orang terdekatnya. Para koki sibuk membantu, walaupun dengan segala upaya sudah mencega Nona muda, Tirta wijaya itu untuk duduk manis saja.
__ADS_1
"Tolong, bantu keluarkan buah segarnya
yang lainnya. Kalian cukup menyediakan bahan-bahannya saja, saya yang akan meraciknya," tangannya sibuk memasang apron dan meneliti bahannya satu persatu lalu memarinasi daging dan Ayam yang akan dipanggang.
"Nona, biarkan saya saja yang memanggangnya," tawar seorang koki,
saat melihat Key memegang hot plate yang terlihat sangat berat.
Key tersenyum. "Baiklah, saya akan menyiapkan sausnya. Kalian yang memanggangnya. Jangan lupa bahan salat dan minuman harus organik semua," perintahnya dengan tersenyum.
"Sudah sedia, Nona. Semua sudah kami persiapkan.
"Welldone, ok. Raffael tidak menyukai segala sesuatu yang kurang matang atau medium rare," terangnya lagi saat melihat koki mulai memanggang.
"Baik,nona."
Tangannya kembali sibuk menyiapkan brown sauce dan mushroom sauce dari kaldu pilihan dan menambahkan sedikit garlic,lada, tepung maizena, pasta tomat dan bawang Bombay. Tidak lupa Key menambahkannya sedikit black paper untuk menimbulkan sensasi sedikit pedas. Tidak lama kemudian, tercium aroma lezat dari aroma makanan menguar yang membuat perut terasa keroncongan.
Key sibuk mengoleskan Oliv oil pada salat sayur yang sedang dibuat, dan menambahkan sedikit rice vinegar dan juga mayonaise. Sementara yang lain,
mencuci buah untuk membuat aneka smoothies.
Lama sibuk berkutat di pantry, akhirnya selesai juga. Key merenggangkan tangannya, senyumnya terbit dengan
begitu manis, saat melihat kreasinya di bantu para koki telah siap sedia. Aneka smoothies, salat dan steak daging dan dada ayam mushroom sauce terhidang di meja. Ia, segaja tidak menambah mixed vegetables frozen pada steaknya,
karena menganggapnya sayuran beku sangat tidak sehat dan memilih salat sayuran segar organik sebagai penggantinya.
"Biarkan tetap hangat untuk steaknya, saya mau mandi, terimakasih sudah membantu. Sebentar lagi keluarga, Raffael tiba," lalu bergegas pergi.
"Baik. Nona, silakan." Koki itu menggeleng pelan. "Nona, ini memang sudah menjadi pekerjaan kami."
πππ
Key mematut dirinya didepan cermin, dengan memakai dress warna putih berkerah lebar dan mengikat sedikit rambutnya dengan jepit ke belakang. Bibirnya tampak merona dengan lipstik
Siang itu, Mansion sangat ramai dengan pertemuan dua keluarga. Raffael tidak
berhenti memandang takjub saat melihat pujaan hatinya. Sehari saja tidak bertemu
seperti ada yang kurang pada dirinya. Tuan besar dan Tuan Tirta wijaya berpelukan dengan penuh haru. Sangat
lama beliau tidak saling bertemu, sejak
memutuskan pensiun dan Tuan Tirta wijaya mundur dari dunia bisnis.
"Apa kabar Bimantara, maaf saya lancang tinggal dimansion mu. Dan
banyak merepotkan putramu," ujar beliau tak enak hati.
"Tidak Tirta. Saya sangat senang kau tinggal di sini, dan kalau memang kasus
ini akan diusut tuntas, dan ada buktinya, itu lebih baik. Jujur saya tidak bisa tidur
nyenyak, siapa dalang kehancuran Tirta wijaya group sebenarnya," keduanya saling berpelukan penuh haru, begitupun
dengan kedua Nyonya besar itu.
Raffael melirik Key yang menyambutnya.
"Aku merindukan mu," bisik Raffael, yang di iringi oleh sikutan manja Key. Nonya
Wijaya yang melihat, Key begitu cantik, tidak lupa untuk tidak memeluknya.
"Sayang, Mami kangen," tangannya seperti biasa menjawil pipinya dengan
lembut.
"Mami, senang rasanya, mami datang kemari."
__ADS_1
"Hemm ... nanti kamu yang gantian
datang kerumah mami lagi, "tawanya
seketika terlihat. Nyonya Wijaya seperti
Mempunyai kedekatan khusus dengan Key. Rumahnya terasa sepi karena Raffael yang seorang diri. Padahal dalam
hatinya Nyonya Wijaya ingin seorang putri perempuan yang meramaikan
keluarga besarnya.
Senyum kedua keluarga itu semakin
sumringah, saat Nyonya Tirtawijaya
mempersilakan untuk makan siang. Raffael air liurnya keluar saat menatap
hidangan di meja. Hari itu Ia pulang lebih cepat dan belum makan siang.
Key mencebik menatapnya. "Bilang saja kau sangat lapar," tangannya terulur menyodorkan hote plate yang masih hangat dan menyuruhnya makan.
"Sayang, ini kau yang memasaknya?" Lidah Nyoya besar mengecap sesuatu yang sangat familiar dimulutnya dan
terlihat seperti memikirkan sesuatu.
"Semoga mami suka," jawabnya dengan tersenyum.
"Pasti, sayang. Tetapi ingat, jangan
terlalu lelah ada koki yang menyiapkan semua."
Key tersenyum mengangguk. Siang itu
suasana pertemuan kedua keluarga sangat semarak dan penuh dengan nostalgia.
πππ
Key dan Raffael berbincang berdua di balkon Mansion. Keduanya menikmati semilir angin dan menatap pemandangan lepas yang menghijau.
Rafael siang itu masih dengan baju kantor, kemeja putih lengan panjang dan menanggalkan Jas hitam kebesarannya.
"Jangan terlalu lelah, percuma aku menyediakan banyak pelayan dan menggajinya," protes Raffael. Tangannya
meraih jemari tangan key dan menggenggamnya dengan lembut.
"Aku cuma memasak saja, mereka yang menyiapkan semua," seperti biasa wanita
akan menjawab pertanyaan dengan jawaban yang sama.
"Andreas tadi pagi datang ke kantor, sepertinya dia benar-benar, tidak biasa tidak melihatmu," Raffael memperlihat kan wajahnya yang cemburu dan berdiri
menatap lurus kedepan membelakangi, Key.
"Aku sudah bilang kau akan resign dalam beberapa hari ini."
Key masih bergeming.
"Sepertinya dia sangat keberatan, mendengar kau akan resign dan menduga aku yang mengintervensi mu."
"Aku memang menyuruhmu, resign, tetapi
saya bilang itu keputusanmu. Sekarang
Semua keputusan ada di tanganmu."
"Aku akan resign," tegas Key yakin.
Raffael menoleh dan berjalan mendekati. Jari telunjuknya mengusap bibir merahnya, menghapus lipstik yang menurutnya terlalu menantang itu.
"Jangan sesekali memakai warna terang,
dihadapannya," protesnya sedikit kesal.
Key meraih tangan Raffael, yang mengabsen bibirnya dengan gemas. "Kenapa, kau mendadak menjadi pencemburu?"
_____________________
Sahabat tersayang π
__ADS_1
Jangan lupa untuk like dan komennya, ya.
terimakasih banyak π