
Matahari semakin panas. Jalanan sangat berkabut debu. Lalu lalang kendaraan terasa begitu menyesakkan, ditambah kemacetan yang tidak dapat dihindarkan.
Key masih betah dengan keterdiamannya,
dan hanya berpikir akan mengikuti apa saja garis takdir yang Tuhan berikan padanya. Tidak akan berharap lebih kecuali kebaikan untuk orang-orang terkasihnya dan keluarga yang begitu ia cintai dengan segenap hatinya.
Kalau meminta lebih, belumlah pantas
untukku, saat ini aku akan berbesar hati untuk menerima tanpa adanya sedikit rasa penyesalan .
"Kenapa diam saja?" Raffael meliriknya yang tak berucap sepatah kata pun. Sepanjang perjalanan menyapukan pandangannya ke arah luar.
"Sedang tidak ada yang ingin aku bicarakan, lagi pula kalau aku berbicara,
apakah kau akan mendengarkanku?" ucapnya lelah tak sedikit pun menoleh.
"Sepertinya kau sedang marah padaku?"
Raffael menurunkan kecepatan mobilnya,
bersiap untuk mendengarkan cecaran kata dari wanita itu.
"Aku tidak ada alasan untuk marah padamu. Hari ini aku mendapat gaun
yang luar biasa mewah, pindah ke mansion, makan sangat enak, bukankah
Dewi keberuntungan sedang berbaik hati menaungiku? Lalu untuk apa aku marah?" imbuh Key tanpa menoleh.
"Aku minta maaf." Raffael menyadari
arah pembicaraannya yang terdengar ambingu, begitu yakin perempuan itu
sedang gondok karena ulahnya.
Key menoleh sekilas. "Untuk?"
"Semuanya. Aku tidak memberimu kesempatan untuk berbicara dan terlalu
memaksakan kehendakku," kata Raffael bersungguh-sungguh.
"Itu sudah menjadi ciri khasmu. Jangan pernah kau lakukan pada yang lainnya cukup diriku saja," ejeknya dengan senyum smirk.
Memang aku tidak akan pernah melakukan itu seumur hidupku, kecuali hanya kepadamu saja, Key.
Raffael bergeming dan terus menaikkan laju kecepatan mobilnya. Tangannya yang kekar ditumbuhi dengan bulu-bulu
halus semakin terlihat maskulin dan luwes saat mengendalikan jet darat miliknya dengan harga fantastis.
"Apakah aku boleh bertanya sesuatu?"
"Tentu saja!"
"Kapan kamu akan membawa Nova ke rumah?"
lelaki itu terlihat bingung, tetapi dengan segera ia memutar otaknya. "Aku sedang menunggu waktu yang tepat."
"Apa aku tidak salah dengar? Bagaimana bisa seorang tamu undangannya sudah
bersiap, sementara calon pengantinnya
terlihat santai saja?" Dengan kedua alis sakknho tertaut Key terlihat bingung melihat cara berpikir Raffael.
"Aku menyuruh Jordan untuk mengatur segalanya," jawabnya enteng.
__ADS_1
"Bagaimana dengan gaun pengantin kalian? Apakah Jordan juga yang mengatur?" Wanita itu menatap malas Raffael.
"Kenapa kau memusingkan hal itu, Nova saja tidak banyak bertanya," ucapnya kembali cuek.
"Seperti halnya kau yang sangat memusingkan gaun untuk tamu mu ini?!" protesnya menohok."
Raffael kembali diam. Percuma saja berdebat dengan Key, dia akan terlihat semakin salah di matanya. Waktu yang diisi dengan perdebatan kecil tadi, tanpa terasa sudah membawa keduanya di kediaman utama keluarga besar
Wijaya. Custer mewah yang sangat exclusive di kawasan Utara Ibu Kota.
Sebuah gerbang besar terbuka secara
otomatis. Security tampak berjaga-jaga dan membungkuk hormat, mendapati
tuan mudanya telah datang.
Tatapan matanya yang lembut menoleh Key yang sedikit gugup, dengan parcel ditangannya. Sejak Raffael mengumumkan hubungannya dengan Nova ia merasa sedikit aneh untuk datang ke rumah megah itu.
"Ini sangat berat, biar saya saja yang membawanya. Dalam sekejap parcel itu telah terambil alih, membiarkan Key melenggang dengan bebas.
******
"Selamat malam, Tuan dan Nyonya."
Key sedikit membungkukan badannya memberikan hormat.
"Sayang, kau datang?" Wanita bernama Liliana itu memeluk erat tanpa aba-aba.
"Sudah saya bilang, jangan kami Tuan dan Nyonya, tetapi Papi dan Mami saja. Kamu seperti tidak mengenal om dan Tante saja!" protes nyonya besar.
Beliau sedikit melonggarkan pelukannya
dan menatap wajah cantik yang tersipu
Perempuan yang masih terlihat awet muda itu, kembali memeluknya dengan erat. Entah perasaan apa yang sedang berkecamuk di dalam hatinya.
Nyona besar itu, tidak bisa merasa sedekat ini dengan Nova. Seperti yang dirasakan kepada Key. Air matanya menetes. Dari lubuk hatinya yang terdalam, Key adalah wanita yang sangat tepat untuk mendampingi Raffael.
Mengingat Raffael adalah anak tunggal dari keluarga yang tidak main-main, Key dianggap wanita yang paling pantas untuk bersanding dengan putra semata wayangnya itu.
Bahkan diam-diam nyonya Wijaya, menyuruh Lydia adik kandungnya, yang berada di New York, untuk mengundur hari keberangkatannya. Karena beliau berharap Raffael akan berpikir ulang
untuk membatalkan semua rencana pertunangan dan juga menikahi Nova yang di anggap terlalu sembrono itu.
Wanita cantik itu hanya sanggup untuk memaku. Mendapati perlakuan yang
tidak biasa. Bibirnya mengulum senyum lalu tangannya terulur mengusap air mata itu, saat menyadari wanita yang melahirkan Raffael itu menangis.
"Nyonya, kenapa menangis?" Key sedikit keheranan lalu melirik Raffael yang berdiri di tangga hendak menuju ke kamarnya.
"Mami, sayang. Panggil Mami saja," perintahnya lirih.
Key tersipu lali menganggukan kepalanya pelan.
"Ini semua karena anak nakal itu. Mami sangat kesepian," bohongnya dengan menunjuk Raffael yang sedang berdiri
ditangga.
"Mami yang melupakan keberadaanku." Raffael berbalik berlahan menyadari protes dari orang yang telah melahirkannya itu lalu memeluknya dengan kasih.
"Dasar anak Nakal! Teganya kau tidak pulang beberapa hari ini, kalau hari ini
tidak ada Key di sini, Mami benar- benar
__ADS_1
akan menghukummmu." Dengan tangan memukul pundak putranya.
"Bagaimana Mami berpikir aku akan meninggalkan Mami,hemm? Banyak pekerjaan kantor mendesak yang harus diselesaikan, Mom. Mami tidak boleh bersedih, ok?" Kembali Raffael memeluknya dengan kasih.
"Tetapi kamu sudah terlanjur membuat
Mami bersedih! Nyoya Wijaya merajuk
seperti seorang anak kecil masih dalam pelukan putra semata wayangnya itu.
Melihat interaksi keduanya, wanita yang sejak tadi berdiri di hadapannya itu merasa bersalah mengambil seluruh waktu wanita bersahaja itu.
Ini semua pasti gara-gara Raffael, yang terlalu sibuk untuk mengungkap kembali kasus Tirtawijaya.
Raffael mengusap lembut punggung perempuan itu dengan rasa bersalah dalam hatinya. Dengan sebelah tangan Nyonya besar itu kembali merengkuhnya.
Maafkan saya,Mam. Saya belum bisa menceritakan semuanya kepada kalian. Suatu saat kalian pasti akan sangat bahagia, mendapati wanita yang aku cintai adalah yang sedang Mami peluk sekarang ini.
Kakinya beranjak naik ke kamar pribadinya membiarkan Key asyik sedang mengobrol bersama kedua orang tuanya dan juga Stella adik Dave
yang beberapa hari ini rajin datang ke kediaman keluarga besar Wijaya.
Di tempat yang berbeda, Andreas tampak kecewa setelah mendapati Key tidak berada di butiknya. Sehari saja tidak melihat wanita pujaannya ada yang kurang dalam dirinya. Beberapa kali Ia
menghubungi Key tetapi ponselnya
tidak aktif.
"Mungkin aku saja yang kelewatan, sudah menganggu waktu liburnya." Dan akhirnya berlalu setelah hanya melihat beberapa Karyawan di butik milik Key.
"Kerumahnya? Ahh! kali saja dia ingin beristirahat. Kenapa aku mendadak tidak
biasa dengan ketidakhadirannya?"
Andreas menggeleng pelan. "Aku harus
mengungkapkan perasaanku padanya, sebelum semuanya terlambat." Ia tidak
menampik wanita itu banyak peminatnya,
tetapi Key terlihat cuek dan biasa saja.
"Ada apa denganmu? Tidak biasanya
kau mematikan ponselmu."
Langkah kakinya langsung berhenti. Saat menyadari ada pergerakan yang tidak biasa. Sebuah mobil seperti sedang mengawasi butik milik Key dari jauh.
Andreas pura- pura tidak melihatnya dan
mencatat nomor polisi yang tertera dalam memory otaknya sebelum akhirnya mengirimnya
kepada Donny untuk melacaknya.
"Siapa yang berani mengusikmu?"
__________________
Sahabat tersayang ๐
jangan lupa like dan komennya,ya!
Terimakasih ๐๐
__ADS_1