
Suasana terasa hening, pagi itu Raffael menerima kedatangan Andreas di kantor Antara. Bahkan dia terpaksa harus melewatkan beberapa meeting penting dan mewakilkannya kepada Jordan.
Raffael duduk menyandar di kursi kebesarannya dan mepersilakan Andreas
untuk duduk. Pria itu tampak rapi dengan stelan jas warna hitam, rambut klimis dengan jam tangan mewah yang melingkar dipergelangan tangannya.
Terlihat tampan membuat Raffael darahnya berdesir, menyadari kalau Andreas adalah rival sepadan baginya,
untuk memenangkan hati, Key.
Tetapi kemudian bibirnya melengkung sempurna, senymnya menghias sudut bibirnya dan mengeleng pelan.
Bukankah Key dan dirinya sekarang adalah sepasang kekasih. Mengapa aku mencemaskan sesuatu yang tidak seharusnya.
Raffael cepat-cepat menghalau pikiran- pikiran yang tidak pada tempatnya itu, walaupun diakui dirinya sangat terganggu
dengan perhatian Andreas kepada kekasih hatinya itu.
"Ada apa? Sepertinya ada yang penting, sampai harus membuatmu datang sepagi ini?" Raffael menggeser duduknya
sedikit dan menatap Andreas dengan dalam. Untuk beberapa saat Ia menanti mulut Pria itu untuk berbicara. Walaupun dalam hatinya, Ia sudah menduga pasti ada kaitannya dengan kepindahan keluarga Key di mansion.
"Sorry, kalau aku mengganggumu sepagi ini. Aku hanya ingin menanyakan keberadaan, Key, dan keluarganya saat ini," tanyanya to the point.
"Maksudmu?" Raffael mengernyitkan dahinya dengan mata sedikit menyipit, pura-pura tidak memahami pertanyaan Andreas.
"Beberapa hari ini dia sulit sekali dihubungi dan saat aku datang ke rumahnya, sepertinya dia dan keluarganya pergi atau mungkin pindah
tempat. Karena cuma ada beberapa orang yang berjaga-jaga di sana.
Raffael tampak berpikir sejenak. Sebelah tangannya menggeser laptopnya sedikit kesamping dan mematikan layarnya.
"Key baik-baik saja, kamu tidak perlu khawatir," ujarnya dengan nada rendah.
"Aku mencurigai seseorang tengah mengawasi butik miliknya. Apakah dia
sedang dalam masalah, Raffael?"
"Aku sudah katakan, Key baik-baik saja.
Terimakasih sudah mencemaskannya," jawab Raffael mengambang. Sebelah tangannya menggerak-gerakkan
pulpen untuk menghalau rasa kesalnya.
"Maaf, aku tidak bisa, mengatakan apapun saat ini, tetapi intinya Key dan
anggota keluarganya sedang baik-baik saja."
"Maaf kalau saya juga berlebihan, saya hanya ingin memastikan saja, kalau dia baik- baik saja. Bagaimanapun Key
adalah karyawan yang sedang bekerja di perusahaanku," dalih Andreas yang menangkap suasana kurang enak pada
wajah Raffael.
"Kemungkinan Key akan resign beberapa hari lagi. Mungkin terkesan mendadak. Kalau kau butuh sekretaris pengganti, saya bisa merekomendasikannya untukmu," beritahu Raffael tidak sabar.
Hatinya tetap saja cemburu walaupun sekarang ini Key sudah resmi menjadi
kekasihnya, bahkan calon istrinya.
"Apa!" Andreas terperanjat. Sorot matanya menajam menuntut sebuah penjelasan karena bingung.
"Tolong Andreas !" Saya benar-benar, minta maaf, suatu hari nanti kau akan mengerti.
__ADS_1
"Tetapi, Key, tidak pernah mengatakan apa-apa, Raffael," tegas Andreas.
Key ingin resign? Ada apa? Selama ini dia
kelihatan baik-baik saja.
"Raffael, kenapa kau terkesan mengatur kehidupan, Key. Apakah ini adalah murni keputusannya?" terdengar suara Andreas
yang sedikit menuntut.
"Aku tidak mengaturnya, Andreas. Tetapi
ini mutlak keinginan, Key!" Tolong hargai
keputusannya, mungkin ini terkesan mendadak dan suatu hari nanti kau akan
melihatnya," tegasnya berulang dan sekuat tenaga meredam amarahnya.
Andreas diam sejenak, otaknya dipenuhi dengan berbagai pertanyaan. Sesekali dia melirik Raffael yang kembali berkutat dengan pekerjaannya.
Raffael bukanlah orang yang suka bercanda, kalau dia sedang tidak ingin
membicarakan apapun, itu artinya memang ada sesuatu yang sedang terjadi, tetapi apa?
"Baiklah. Saya minta maaf mengganggu waktu mu. Terimakasih, Raffael. Saya permisi dahulu."
Pria itu dengan perasaan tidak puas, berdiri dan melangkahkan kakinya.
"Maafkan saya, kalau membuatmu bingung. Tidak perlu cemas. Key baik -
baik saja," ujarnya lagi. Kalau saja tidak
ingat bahwa Andreas adalah sahabat
dekatnya, rasanya Raffael sudah tidak sabar untuk bicara, bahwa mencemaskan Key adalah bukan kapasitasnya.
Sepertinya aku harus mencari tahu sendiri, sebenarnya ada apa mereka.
"Silahkan."
Dalam perjalanan pulang, Andreas tidak berhenti untuk memikirkan wanita itu. Bahkan hatinya berbisik bahwa ,Key, akan
semakin jauh dari jangkauannya.
Suasana hatinya mendadak buruk, membayangkan Key tidak lagi bekerja di kantornya. Hanya tarikan napasnya yang kasar saja, yang terdengar dan sesekali memukul stir mobilnya karena jalanan yang macet.
Key resign. Aku berharap, aku bisa bertemu dengannya dalam waktu dekat
ini. Aku benar-benar tidak biasa dengan
ketidakhadirannya lagi. Sebenarnya apa
yang disembah oleh Raffael.
πππ
Diappartemen, Nova terlihat sangat marah, Karena Jasson terlambat untuk memberi tahu, kalau Raffael pagi ini ingin menemuinya.
"Harusnya kau bilang lebih awal, karena aku harus berdandan!" Mukanya semakin terlihat galak dengan rambut yang masih
acak-acakan.
"Apakah, matamu tidak melihat! Menyebalkan! Benar- benar kalian sangat menyebalkan!" Dengan tidak tahu diri, Nova menyorotkan lampu senter ke arah
mata salah satu bodyguard yang diketahui anak buah Jasson.
__ADS_1
"Aduhh! Nona, saya minta maaf. Tangannya menghalau sorot lampu yang
menyilaukan matanya."
"Saya akan bersiap-siap! Gara-gara kalian
aku harus buru- buru," ucapnya dengan
ketus. Kilatan matanya menyiratkan amarah dan kebencian.
Perempuan itu berlalu dengan cepat setengah berjingkat. Nova yang merasakan gelagat aneh Raffael, yang tidak menemuinya sama sekali, sebisa mungkin untuk menarik perhatiannya.
Bahkan dengan sengaja Ia menyemprot rambutnya dengan warna hitam legam dan dibiarkan tergerai dengan begitu indahnya.
"Dia tersenyum miring, mematut dirinya didepan cermin. "Bukankah dengan seperti ini, aku sudah mirip dengan putri tunggal Tirta wijaya itu?" seringainya dengan wajah sinis menampakkan bola matanya yang semakin galak
"Aku tidak sebodoh itu, Raffael."
Nova memutar-memutar badannya dengan baju serba hitam mirip dengan foto, Key, yang diam-diam diambilnya.
"Apakah kau pikir aku percaya, kamu tidak ada hubungan apa-apa dengan putri
tunggal Tirtawijaya itu?" Wajahnya menyeriangi dengan senyum mengejek. Nova tertawa terbahak-bahak dan dengan nakal tangannya memasukkan obat perangsang ke dalam tasnya.
Ha..ha..ha.. benar-benar menyenangkan!"
tawanya semakin pecah.
"Malam ini, Kau akan menjadi milikku saja, Raffael, dan kau, "Siapa namamu?" Oh iya, Key! Kenapa aku sampai melupakannya, setelah bertahun-tahun keluargaku, menikmati harta kekayaanmu! Dengan cepat tangannya menyobek foto Key, foto yang penampilannya di tiru olehnya, karena Nova menyadari Raffael menyukai segala sesuatu yang natural, termasuk rambut hitamnya
"Apa istimewanya,dia?! Kau bahkan lebih
memilih mengurusinya dari pada, kau berkencan denganku, cihh!!" Mulut wanita itu mengeluarkan sumpah serapahnya, untuk melampiaskan kekesalannya.
"Nona! Apakah Nona sudah siap?" Kali ini
Jasson yang mengetuk pintunya. Tidak lama kemudian terdengar suara pintu berderit, dengan muka juteknya Nova keluar.
"Bantu bawa ini!" Tangannya melempar koper kecil yang telah disediakan untuk bermalam dengan, Raffael.
Dasar nenek sihir, mau bertemu nyamuk dan kecoak dipenjara bawah tanah saja,
pake harus berdandan segala.
Jasson tidak sabar, untuk melihat reaksi Wanita ular itu begitu sampai di penjara
bawah tanah.
"Kenapa diam saja!" Bentaknya lalu ngeloyor menuju mobil yang telah di
sediakan oleh jasson. Malam itu Jasson
mengendarai Mercedes Maybach S class, S 600 warna silver, supaya tidak menarik perhatian Nova. Walaupun terlalu bagus untuk ukuran wanita licik seperti Nova.
_____________________
Sahabat tersayang πΉ
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan like dan
komennya ya! Terimakasih π