
Dengan pikiran yang masih sangat kacau, Raffael melangkahkan kakinya untuk
mendekat. Duduk do pinggir ranjang
menatap tak berkedip, wajah cantik itu
yang mulai menyelami alam mimpi.
Hanya dengkuran halus yang terdengar mengisi ruangan yang hanya di isi oleh kesunyian malam. Tangan pria itu membelai lembut rambut indahnya yang menjuntai panjang. Jemarinya bergerak halus mengusap air mata yang telah mengering lalu, pelan-pelan menggeser guling yang masih terasa basah oleh air mata.
Hatinya lagi-lagi berdenyut nyeri dengan menimbulkan rasa sakit yang teramat dalam. Sepahit apapun kenyataan kedepannya, hatinya sudah memutuskan,
untuk tidak bisa berhenti mencintai wanita itu dan tidak bisa untuk tidak memikirkannya walaupun hanya sedetik saja.
"Apa yang selalu membuatmu menangis
di setiap tidurmu? Apakah kamu ternyata sesedih ini? Tidak inginkah kau berbagi sedikit saja denganku, Key?" Raffael tersenyum miris, menertawakan dirinya sendiri. Jemarinya kembali membelai lembut pipi mulus milik Key yang masih terlelap.
"Mungkin aku bukanlah orang yang pandai untuk memahamimu, tetapi kau
selalu terbaik memahami segala hal tentangku," bisiknya lirih.
Tetap matanya menggelap dan sedikit berkabut. Perasaan bersalah, kecewa, haru, kesal dan letih berbaur menjadi satu. Raffael seperti tidak mengenali dirinya sendiri.
"Sepertinya mencintaimu sama rumitnya dengan semua yang terjadi." Raffael menahan diri untuk tidak tercekat.
"Bahkan aku harus pura-pura bertunangan dengan Nova. Apakah kamu tahu, kau adalah alasan satu-satunya, terlepas semua yang kau lihat dan terlewati sampai detik ini."
Raffael sudah tahu rasanya mencintai wanita itu, dan seperti apa yang akan dirasakan bila terlepas. Melepas Key sama saja mencabut separuh hidupnya yang telah membuatnya berdiri tegak sampai sekarang ini.
Wanita pertama yang tidak pernah berubah melihatnya, walaupun
tanpa se sen pun uang di tangannya. Key Anaya Aqueency Tirtawijaya jelas berbeda.
Raffael tersenyum kecut. Sepuluh tahun yang lalu dia bukanlah apa-apa, walaupun terlahir sebagai taipan kaya raya. Bahkan merasa tidak berguna hanya sekedar berdiri disampingnya saja.
Apalagi ketika keluarganya harus menerima uluran tangan keluarga besar Key, karena ulah Bayu seorang pamannya yang tamak. Kehidupan Raffael berubah total.
"Bolehkah aku memaksamu untuk jatuh cinta padaku saja, meskipun kamu tidak ingin? Atau mungkin suatu hari nanti kamu malah akan membenciku.
?"
__ADS_1
iris mata hitam legam itu masih enggan berkedip untuk tidak menatap cintanya. Tangannya kembali membelai lembut wajah Key menyusuri setiap jengkal pahatan indah yang selalu memikat hatinya lalu dengan ragu mendaratkan sebuah ciuman di keningnya dengan penuh kasih.
"Cara, mi amour. Dunia boleh saja berubah karena cinta, tetapi tidak akan aku ijinkan semesta mengubah cinta dan ketulusan hati yang telah kau miliki. "I love you," bisik Raffael lirih.
Pria itu merebahkan tubuhnya dan mendekapnya dengan sayang untuk sesaat. Menikmati setiap debaran jantungnya yang mulai tidak beraturan. Aroma vanilla Lace yang menjadi ciri khas wanita itu terasa begitu memabukkan dan membuat Raffael tidak tahan untuk tidak menghidunya dalam diam.
Setelah sekian menit berperang melawan gejolak dan pikiran yang begitu provokatif
menghipnotis, mengusik sisi liar dalam dirinya, akhirnya dengan malas pria itu pun beranjak.
"Good night"
Kembali langkahnya berhenti lalu kembali menoleh, menyadari kebodohannya.
"Kau selalu saja ceroboh, bagaimana bisa tidur tidak memakai selimut dan tidak berganti pakaian, heem?"
Tidak peduli esok hari Key akan marah atau mencurigainya masuk, buat Raffael melihat setiap saat wanita itu dan
memastikan dia baik-baik saja, sudah lebih dari cukup.
Dengan setengah berjingkat Raffael berlalu. Namun sesaat kemudian, Ia merasakan aliran darahnya berhenti mengalir. Dadanya bergemuruh. Sebuah panggilan lirih terdengar.Tidak ada jeritan karena keberadaannya. Kembali dipejamkan matanya untuk mencoba menetralkan hati dan perasaannya.
sama sekali, mencintaimu tetap saja
satu hal yang ingin aku akui saat ini.
Raffael memutar badannya perlahan. Tatap matanya begitu kelam mengunci netra indah yang sedang penuh derai air mata di hadapannya. Key terduduk menatap nanar dengan bibir sedikit
bergetar. Jemari tangannya gelisah mencengkeram kuat selimut tebal yang menutupi sebagian tubuhnya.
"Raffael ...."
Tidak tahan dengan pemandangan ini. Nalurinya begitu kuat mendorongnya
untuk lebih mendekat dan memberi perlindungan pada wanitanya itu.
Sebuah dekapan hangat kembali dia
lakukan.Tidak peduli anggapan Key pada dirinya, Raffael berpikir Key akan enamparnya atau kalau perlu memukulnya dengan kecang. Untuk
menyadarkan otaknya mengingat status
__ADS_1
palsunya sekarang ini.
"Kenapa selalu menangis, saat tertidur? Berapa kali aku harus katakan, aku membenci ini semua," jemarinya menghapus jejak air mata yang mengalir
semakin deras. Key mendongakkan wajahnya menatap wajah yang begitu kelam, sesaat manik mata mereka saling
mengunci dengan dalam.
Tangannya sedikit terangkat memberanikan diri untuk mengusap wajah tampan itu. Terlihat kedua mata Raffael berembun dan wanita itu mengusapnya perlahan dengan ekpresi Raffael yang sedikit terkejut.
"Aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu padaku. Aku sudah mendengar
semua dan aku tahu, aku sedang tidak bermimpi.
Pemilik manik mata indah itu, mengejap memperlihatkan bulu matanya yang lentik. Key mengenal Raffael tidak pandai mengekpresikan perasaanya dan cenderung hanya dengan perbuatan saja.
Kedua hati mereka ikut bergetar hebat. Raffael memejamkan matanya, meraih tangan Key, lalu menggenggamnya dengan kuat. Menciumnya di sudut bibirnya dengan dalam dan penuh perasaan.
"Aku adalah alasanmu satu-satunya, terlepas apa yang aku lihat dan terlewati selama ini dan nova bukan tunanganmu?" Key menuntut sebuah jawaban.
"Kau mendengarnya?"
Kepalanya mengangguk lemah. "Aku ingin mendengarnya saat mataku terbuka, untuk memastikan saat ini aku sedang tidak bermimpi," lirihnya sambil tersipu.
"Seumur hidupku aku hanya mencintaimu dan selamanya akan tetap seperti itu," Raffael menangkup wajah cantik itu dan kembali menatapnya dengan lekat-lekat.
Seperti ada beban berat yang terlepas dalam dirinya, hal ini berbanding
terbalik dengan Key. Wanita itu hatinya
kembali bergetar, seperti ada jutaan bintang turun menyapanya, hidup dengan Raffael, sekarang adalah nyata baginya.
____________________
Sahabat tersayang 🌹
jangan lupa like dan komennya ya 😘
terimakasih.
__ADS_1