
Langkahnya tergesa setengah berlari, pikirannya cuma satu, ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi dengan Raffael dan bagaimana keadaannya.
Jordan dan Jasson mengikutinya dari belakang. Wanita itu tetap Anggun dengan Blazer warna cream pemberian dari Raffael yang begitu pas membalut tubuhnya. Rambutnya tergerai indah melambai- lambai mengikuti langkah kakinya yang setengah berlari tanpa menoleh sekitarnya.
Seorang perempuan berseragam perawat tersenyum menangkap kedatangannya, membuat jantungnya berdegup kencang, bahwa apa yang di pikirkan tidak pernah meleset.
Raffael sakit, Oh Tuhan...
"Selamat datang, Nona?" Sapanya ramah dengan sedikit membungkukkan badannya. Perawat itu sangat mengenali wajahnya dari berbagai media massa dan elektronik yang beberapa hari ini menghiasi wajah keduanya.
"Apa yang terjadi dengan Raffael?"
Tangannya menggenggam erat lengannya, membuat perawat sedikit membelalakan mata karena kaget. Tetapi kemudian mengambil senyum untuk menenangkannya.
"Tuan muda agak terganggu kesehatannya dan memintanya di rawat di rumah saja. Sekarang Tuan muda sedang di ruang makan, Nona. Tetapi sangat sulit untuk mengembalikan ***** makannya."
Tanpa berpikir panjang lagi, Key berlari mencari keberadaan Raffael dan mendapati pria itu duduk termenung dengan muka pucat serta tiang infus yang berdiri di samping tempat duduknya.
Sebuah pemandangan yang tidak ingin dilihatnya. Perasaannya campur aduk antara sedih, kecewa dan merasa tidak berguna. Key memajukan langkahnya dengan tangan sedikit gemetar. Sementara Raffael memejamkan matanya, menarik napasnya dengan dalam mendapati siapa yang telah datang ke rumah. Dan bersiap di cecar dengan sejumlah pertanyaan.
Perhatiannya kemudian tertuju pada Jasson dan Jordan yang mengikuti dibelakangnya. Raffael tidak berucap sepatah katapun, hingga perempuan yang paling dicintainya mendekat dan memeluknya dengan sayang.
Di pejamkannya matanya, merasakan hatinya perih. "Sebegitunya aku tidak berarti bagimu, Raffael. Bahkan, saat kau dalam keadaan seperti ini, sedikitpun kau tidak berniat mengabariku. Apa yang kau pikirkan? Iya, mungkin aku tidak berarti, aku terlalu memikirkan diri sendiri, hingga tidak peka dengan kesehatanmu. Jadi sah-sah saja kau tidak bilang apa-apa padaku."
Dia ingin marah, tetapi lidahnya kelu, saat dirasakan badan Raffael sedikit demam. Dengan telaten tangannya melonggarkan syal yang melingkar di lehernya, sementara Raffael hanya menatapnya tak berkedip tanpa bicara. Dia memberikan isyarat kepada yang lainnya, untuk meninggalkannya dan ingin berdua saja.
"Sayang?" sapanya lemah.
"Apakah aku masih kekasihmu?"
"Kau istriku."
"Seorang istri akan ada disamping suami, dan seorang suami akan selalu bilang kalau sakit pada isterinya, "aku adalah orang lain," Tangannya mengusap dengan lembut, keringat dingin yang mulai merembes dan membuat hati Raffael terasa damai. Iya, dia merindukan kekasih hatinya, sentuhannya, melihatnya saja semangatnya timbul dan ingin cepat-cepat kembali pulih.
"Sorry, baby."
"Aku tidak akan memaafkan mu." tangannya meraih mangkuk soup dihadapannya dan menyuapinya dengan telaten. Raffael membuka mulutnya perlahan, matanya sedikit berair menahan suhu tubuhnya dengan tidak berhenti menatap wajah cantik calon istrinya.
"Makan yang banyak dan minum obatnya."
kepalanya menggeleng pelan. "Sayang, jangan terlalu banyak, rasanya aneh sekali dan membuatku ingin muntah," keluhnya malas sekali.
"Itu karena kamu sering terlambat makan, "kamu ingin makan apa?" Aku akan membuatkannya.
"Tidak perlu, sayang. Sudah malam."
"Galbitang hangat. Kau pasti berselera makan. Aku akan membuatkan untukmu."
Key sangat mengenal Raffael, saat sedang sakit nyonya besar akan memasaknya untuknya.
__ADS_1
Raffael tersenyum dan menggeleng sekali lagi. Walaupun hatinya sangat menginginkannya, tetapi menyuruhnya masak malam-malam seperti ini, dirinya tidak tega. "Sudah malam sayang, besok saja."
"Ada banyak pelayan yang membantuku, aku tinggal meraciknya, "tidak akan lama." Tangannya melambai, memanggil seorang pelayan dan menyuruhnya untuk mempersiapkan bahan yang di perlukan.
Raffael mengusap lembut pipinya yang masih menampakkan rasa kesalnya dan itu karena kesalahannya."
"Sorry, Baby."
"Berhenti minta maaf, kalau kau berpotensi mengulang lagi." Perempuan itu beranjak ke Pantry karena Raffael harus makan dan minum obat malam ini.
Raffael terkekeh mendengarnya, ini adalah tawa yang hilang sejak dia di rawat di rumah.
Berbagai bahan tersedia di meja pantry. Tangannya dengan cekatan mulai beraksi, pelayan yang melihatnya tersenyum, tidak di sangkanya putri tunggal pengusaha ternama Tirta Wijaya itu begitu lihai meracik makanan. Raffael tekanan darahnya sangat rendah dan Key berpikir Instant poot Galbitang ( Beef short rib soup ) tidaklah terlalu buruk. Pria itu sangat menyukainya tidak lupa Ia menambahkan Wortel, kentang dan irisan dau bawang untuk menambah aroma.
"Semuanya harus organik, kalian mengerti,kan?
"Iya, Nona. Di rumah ini semua bahan makanan Tuan muda serba organik."
"Terimakasih. Raffael tidak menyukai sesuatu yang instan, jangan di berikan padanya," perintah Key diikuti oleh anggukan kecil dari pelayan.
"Bantu aku membawa makanan, Raffael sudah menunggu." Key datang dengan semangkuk galbitang ditangannya, diikuti oleh pelayan yang membawakan nasi hangat untuknya. Dengan telaten Key menyuapi Raffael dan rasa lelahnya terbayarkan, karena dengan lahap Raffael memakannya. Tidak lupa potongan buah segar menjadi penutup makan malamnya.
"Hemm... anak pintar!" Key memperlakukan Raffael seperti seorang anak kecil, dan membuatnya mengerutkan keningnya.
"Anak pintar?"
"Bahkan seorang anak pun akan bilang pada Ibunya kalau sedang sakit."
"Jangan terlalu banyak bicara, sebentar lagi saatnya minum obat," potong key cepat.
Seorang pelayan tersenyum melihatnya, tetapi dalam hati mengakui, pantas saja Tuan Mudanya begitu mencintai Nona cantik calon istrinya itu.
Setelah beberapa saat Key memanggil perawat dan menanyakan obat yang harus di minum oleh, Raffael. Dan meminumkannya dengan telaten satu persatu. Dari penjelasannya Raffael kelelahan, dehidrasi, kurang tidur dan terserang Anemia parah sehingga letih,lesu, pusing kepala, disamping asam lambungnya yang sedikit terganggu menyebabkannya tidak berselera makan.
Pasti karena terlalu fokus menangani kasus itu, Aku benar- benar tidak berguna dan tahu hasilnya saja. Pasti Ia sering melewatkan makannya. Beruntung Raffael sangat rajin berolahraga. Fisiknya tidak seburuk yang aki pikirkan.
Key mendekat dengan segelas air putih ditangannya, rasa haru menyergap hatinya. Hatinya semakin sedih dan merasa bersalah saat berselisih paham dengannya beberapa saat yang lalu. Dalam hati, Ia akan menemani Raffael sampai sembuh. Key tidak lagi memikirkan apapun, kesehatan Raffael adalah yang utama dan di atas segalanya.
"Sayang, rasanya pahit sekali," Raffael meringis menahan rasa pahit yang menyerang tenggorokannya.
"Kalau manis itu gula, bukan obat, Honey." Raffael menatapnya dan tersenyum, dia yang biasanya sangat rewel untuk minum obat,
sedikit menurut karena tidak ingin mengecewakan kekasihnya.
"Aku berharap akan berubah rasanya, saat melihatmu," Senyumnya mulai terlihat. Jordan dan Jasson yang melihat pemandangan indah, dari jauh ikut merasa senang. Raffael mulai ***** makan dan berharap besok
semakin membaik.
"Teruslah menggombal, seisi rumah akan terlihat begitu manis, "bukankah begitu Tuan muda?" Tetapi jangan berpikir aku sudah memaafkanmu.
__ADS_1
"Baby, aku sudah meminta maaf," wajahnya terlihat memperotes.
"Tidurlah."
Malam semakin larut. Key menuntun Raffael, kembali masuk ke ruangan yang sudah di setting laksana sebuah kamar rumah sakit. Hal ini diluar dugaannya dan semakin membuatnya merasa bersalah dalam hatinya. Selama ini, Ia tidak mengontrol makanan, Raffael kecuali ketika datang ke mansion saja.
"Nona, kalau ada apa-apa, panggil saya," ujar perawat berlalu setelah mengganti infusnya."
"Terimakasih. Banyak." Netranya beralih menatap Raffael yang mulai berbaring untuk tidur. Tangannya menggenggam jemarinya dan mengusapnya dengan lembut. Key duduk menyandar di sofa memanjang yang cukup luas di pinggir ranjang Raffael.
"Apakah sudah lebih baik?"
"Tidak perlu cemas, aku akan baik-baik saja."
"Raffael, kalau kamu tidak ingin membuat mami, cemas, setidaknya bilanglah kepadaku, atau aku akan melakukan hal yang sama, kalau terjadi apa-apa padaku.
Aku tidak akan menganggap kamu ada," ultimatumnya yang di iringi oleh senyum tipis Raffael.
"Kau mengancamku, sayang?"
"Tidak. Siapa bilang, semua terserah padamu," jawabnya seraya memalingkan wajahnya.
"Baby?! Key menoleh sekilas.
"Tidurlah. Mulai besok aku yang akan mengatur seluruh makananmu. Dan di saat aku tidak ada, pekerjaan Jordan akan bertambah untuk mengingatkan mu, "jadi naikkanlah gajinya," ancam, Key, yang kembali membuat Raffael tertawa.
"Nyonya mulai posesif."
"Sama seperti dirimu."
"Tidurlah, aku akan menunggumu di sini."
"Jangan tidur di sofa, nanti badanmu sakit," Raffael menarik Key keranjang yang sama dan merebahkan kepalanya di pangkuannya untuk menahan Key tidak kembali ke duduk di sofa.
"Raffael..!!!
"Tetap di sini. Jangan pergi."
Key mengusap wajahnya dengan sayang dan sesekali menempelkan handuk kecil di keningnya untuk cepat menurunkan demamnya. Raffael tersenyum di dalam hatinya. Kehadirannya benar-benar membuat perbedaan.
"Bilang padaku, kalau ada keluhan yang lain."
_________________________
Catatan penulis:
Sahabat tersayang 🌹
Jangan lupa untuk tinggalkan like dan komentarnya, ya. Terimakasih 🙏
__ADS_1